Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Komen Versus

Penulisan Ke yang Disambung, Dipisah, atau Malah Tidak Perlu

Prima Sulistya oleh Prima Sulistya
19 Januari 2020
A A
penulisan ke di pun disambung dipisah penulisan huruf kapital apa lagi apalagi mojok.co

penulisan ke di pun disambung dipisah penulisan huruf kapital apa lagi apalagi mojok.co

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Selain di dan pun, penulisan ke juga suka bikin bingung perkara disambung atau dipisahnya. Sobat PUEBI pasti udah tahu jawabannya.

Satu lagi pelajaran bahwa dunia ini nggak hitam-putih. Penulisan ke adalah contoh bahwa sesuatu bisa dipisah dan disambung sekaligus.

Kalau yang sedang kamu tulis adalah kata “kesempatan” atau “jangan kentut sembarangan, Ega”, jelas dong penulisan ke harus disambung. Iya, aku tahu kamu udah siap-siap ngetik komen “Kembalikan kuota guaaa!”, tapi sek tho, ini namanya sedang membangun logika.

Kalau kalian udah tahu logika bahwa di, pun, dan ke itu merupakan bagian dari sebuah kata, alias bukan kata tersendiri, ya jelas kudu digabung.

Maksudku gini. Di pada diambil kan sebenernya imbuhan yang ngasih tanda bahwa si ambil itu kata pasif. Kalau di dibuang, ambil menjadi kata aktif. Contoh lain-lainnya kayak gini.

Disikat (pasif), menyikat (aktif)
Disuruh (pasif), menyuruh (aktif)
Dirampok (pasif), membohongi (aktif)

Jadi jelas ya, kenapa ada orang yang rese bahwa beda penulisan dikontrakkan dan di kontrakan itu bisa bikin artinya beda banget.

Dikontrakkan, satu kata (kata kerja pasif, sesuatu itu dijadikan sebagai objek kontrak.)
Di kontrakan, dua kata (oh, jadi dia tuh sedang ada di tempat tinggal sewaannya.)

Sama kayak penulisan pun. Kata ini akan dipisah alias berdiri sendiri kalau kata ini bisa ditukarkan dengan saja.

Siapa pun —> siapa saja —> oke fiks, pun-nya dipisah.
Apa pun —> apa saja —> idem.
Di mana pun —> di mana saja —> yoih.

Logika yang sama berlaku untuk penulisan ke. Ada tiga fungsi kata ke yang harus dibedakan satu sama lain:

(1) Ke– sebagai awalan yang disertai akhiran -an sehingga ditulis tersambung. Konfiks ini (konfiks: awalan dan akhiran yang ditambahkan sekaligus).

(2) Ke sebagai kata depan/preposisi dan karena itu ditulis terpisah. Contohnya, ke sana.

(3) Ke yang diikuti angka.

Iklan

Dalam fungsi yang ketiga, ke yang diikuti angka, ada dua cara menuliskannya.

(1) Jika diikuti penulisan angka, diberi setrip. Contoh: Presiden ke-7. Anak ke-3. Perubahan ke-2.

(2) Jika angka itu ditulis dalam huruf, penulisannya digabung. Contoh: Presiden ketujuh. Anak ketiga. Perubahan kedua. Kesepuluh orang itu.

Tapi lain cerita ketika kasusnya adalah “Kamu pergi ke dua rumah itu” atau “Kamu pergi ke 2 rumah itu”. Penulisannya dipisah karena ada hubungannya dengan logika DM (diterangkan-menerangkan). Soal ini, NKCTDMMD aja lah ya.

Jadi sampai sini jelas, kita punya dua pilihan untuk menuliskan “Perang Dunia ke-2” atau “Perang Dunia Kedua”. Kenapa huruf “K” dalam “ke-2” ditulis kecil, itu juga urusan NKCTHK. Yang perlu jadi catatan, ketika jumlah ditulis dalam angka Romawi, ke jadi nggak penting lagi sehingga adanya “Perang Dunia II”. Melafalkannya ialah dengan “pe-rang du-ni-a ke-du-a”, bukan “pe-rang du-ni-a i-i”.

Semoga cukup mudah untuk memahami logikanya. Jika pelan-pelan sudah bisa menguasai perkara ini, memahami kenapa kadang apalagi, tapi di lain waktu jadi apa lagi juga akan terasa gampang.

BACA JUGA Penulisan Di dan Pun: Harusnya Dipisah atau Digabung, Sih? dan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Langsung disini, eeeh, di sini.

Terakhir diperbarui pada 12 Januari 2022 oleh

Tags: penulisanPUEBItata bahasa
Prima Sulistya

Prima Sulistya

Penulis dan penyunting, tinggal di Yogyakarta

Artikel Terkait

penggunaan huruf kapital dalam bahasa indonesia contoh huruf kapital panduan umum ejaan bahasa indonesia puebi ivan lanin mojok.co
Versus

Penggunaan Huruf Kapital: Panduan, Contoh, dan Catatan Perkecualian

3 Mei 2020
surat andi taufan garuda putra kepada camat di seluruh indonesia mojok.co
Versus

Mengedit Surat Andi Taufan, Stafsus Milenial yang Gaya Suratnya Masih Bau Orba

15 April 2020
Versus

Memahami Bedanya Sang dan Si Tanpa Sangsi

3 Desember 2018
Versus

Koma Serial alias Oxford Comma: Kaidah Tanda Baca yang Mengajari Arti Perpisahan

12 November 2018
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pocong Itu Cuma Hantu Kemarin Sore di Jagad Demit Indonesia, tapi Mengapa Ia Paling Menyeramkan.MOJOK.CO

Pocong Itu Cuma Hantu Kemarin Sore di Jagad Demit Indonesia, tapi Mengapa Ia Paling Menyeramkan?

25 Mei 2026
Pentingnya keamanan siber di dunia digital. MOJOK.CO

Idul Adha: Refleksi untuk Kita yang Rela Mengorbankan Data Pribadi Dijual Secara Bebas Tanpa Tahu Kefatalannya

28 Mei 2026
Melihat semarak event lari Tidar Borobudur 10K yang diikuti 8000 pelari, Magelang punya potensi jadi jujukan sport tourisme MOJOK.CO

Rute Lari Sejuk dan Nyaman di Magelang, Jadi Destinasi Sport Tourism seperti Tidar Borobudur 10K yang Diminati Banyak Orang

24 Mei 2026
Jingle MBG Mas Bahlil Ganteng: ejekan ke figur politik tapi jadi alat reproduksi popularitas, buktinya Partai Golkar senang MOJOK.CO

MBG Mas Bahlil Ganteng Sudah Over-eksposur: Bahasa Kritik tapi Jadi Alat Reproduksi Popularitas, Bikin Golkar Senang

28 Mei 2026
Skandal Kopenhagen dan Travel Grant: Mengapa Sistem Akademik Indonesia Justru Melahirkan Conference Hunter Palsu? MOJOK.CO

Skandal Kopenhagen dan Travel Grant: Mengapa Sistem Akademik Indonesia Justru Melahirkan Conference Hunter Palsu?

29 Mei 2026
Arca Unfinished Buddha yang ada di Candi Borobudur. MOJOK.CO

Ketika Patung “Cacat” Buddha di Lapangan Kenari Borobudur Justru Jadi Pusat Spiritual dan Magnet Doa Saat Waisak

27 Mei 2026

Video Terbaru

Antara Stabilitas Kerja dan Jalan Berkarya, Cerita Perunggu Menjadi Musisi Penuh Waktu

Antara Stabilitas Kerja dan Jalan Berkarya, Cerita Perunggu Menjadi Musisi Penuh Waktu

14 Mei 2026
Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.