Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Komen Status

Dua Macam Kiai

Redaksi oleh Redaksi
24 Juli 2017
A A
kondisi cak nun mojok.co

Ilustrasi Cak Nun (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Emha Ainun Nadjib atau akrab disapa Cak Nun punya pendapat sendiri tentang pembubaran HTI, yang ternyata membuat gerah warga Nahdlatul Ulama (NU). Dalam video yang merekam pernyataan Cak Nun tersebut, ia mengatakan,

“Perppu itu lahir, meskipun akan ditentang. Sekarang kalau umat Islam menentang itu, Anda akan bertengkar di antara umat Islam. Karena pada saat HTI, FPI, dan lain-lain dibubarkan, NU dapat 1,5 triliun untuk pengembangan ekonomi.”

Iklan

Video itu diunggah pada 20 Juli. Keesokan harinya, Kiai Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus membuat status di Facebook-nya yang tampaknya menanggapi pernyataan Cak Nun di video tersebut.

“Kataku, suatu ketika, menyindir diriku: Mereka yang memiliki potensi diikuti oleh orang banyak (orang awam), sudah semestinya lebih berhati-hati dalam bertindak, termasuk dalam berbicara di hadapan publik,” tulis Gus Mus.

Keponakan Gus Mus yang Katib ‘Aam PBNU serta pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang, Yahya Cholil Staquf, punya pandangan lain tentang sikap Cak Nun tersebut.

Yahya Cholil Staquf: KYAI NGGATHILUT DAN KYAI LÈLÈS

“Lèlès” (vokal e dibaca seperti pada “Menteng”) artinya memunguti apa-apa yang tercecer untuk diambil manfaatnya atau dirawat.

“Nggathilut” artinya kenyamanan yang diperoleh tanpa susah-payah.

Saya ini kyai nggathilut. Begitu ayah saya meninggal, orang langsung mengkyaikan saya tanpa fit and proper test. Gus Dur mencomot dan menggelandang saya ke Jakarta hanya karena saya ini keponakan temannya dan teman keponakannya. Kemudian hanya karena reputasi saya sebagai mantannya Gus Dur (mantan jubir, mantan ini dan mantan itu) pemimpin NU memasukkan saya dalam jajaran kepengurusan begitu saja.

Saya menikmati kedudukan, otoritas, previlege dan pengaruh publik secara instan tanpa ikhtiar, bahkan tanpa terlebih dahulu berusaha menjadi pintar ataupun terampil. Saya pun tak perlu mencari-cari pengikut, karena dimana-mana ada saja orang yang siap menjadi pengikut saya, atas nama Gus Dur, NU atau status kekyaian saya. Bikinlah panggung dan biarkan saya naik keatasnya. Begitu sound system dihidupkan, orang-orang siap menyimak apa saja yang saya omong-kosongkan.

Yang begitu itu, apa namanya kalau bukan nggathilut?

Tapi ada kyai seperti almarhum Mbah Sungeb di Kragan. Beliau telah menginvestasikan seluruh masa muda lunas-tuntas tanpa sisa untuk ngaji dan tirakat. Seandainya beliau mau, bisa saja beliau menyuwuk atau mengikuk madu dengan hasil produk yang pasti jauh lebih berkualitas ketimbang yang sekarang ini diperdagangkan. Seandainya beliau mau membuka kitab di rumahnya sendiri dan membacanya dengan mengeraskan suara walaupun tanpa panggung dan tanpa sound system, pasti orang-orang yang ngebet pada ilmu akan berduyun-duyun datang bersimpuh dibawah dulinya.

Tapi Mbah Sungeb memilih keluyuran di lokalisasi pelacuran di pinggiran Rembang. Nongkrong berjam-jam di warung-warung mesum. Bergaul dengan orang-orang yang tidak tahu dan tidak perduli dengan keluhuran maqomnya.

Mbah Sungeb memilih mendatangi orang-orang yang tak akan mau mendatangi ataupun mendengarkan kyai mana pun dan kyai mana pun akan merasa tak pantas mendatangi mereka karena kehinaan maqom mereka. Orang-orang yang tersingkir dari terangnya sinar lampu-lampu, dari leganya jalan lapang, dari harumnya taman-taman.

Mbah Sungeb memilih melèlès sampah-sampah untuk siapa tahu bisa didaur-ulang menjadi sesuatu yang lebih berharga.

Kenyataannya, komplek pelacuran itu bubar tak lama sesudah Mbah Sungeb wafat. Saya beriman bahwa secara ruhaniyyah Mbah Sungeb punya andil atas kebubaran itu.

Untuk menjadi kyai nggathilut nyaris tak perlu investasi maupun usaha. Tinggal nangkring saja. Untuk menjadi kyai lèlès yang sukses, dituntut keteguhan jiwa dan mental wiraswasta yang dhukdhèng.

“Kyai Muhammad Ainun Najib”, begitu saya menyebut namanya ditengah walimah pengantin sepupu saya, Bisri Mustova bin Mustofa Bisri dan Ines, isterinya.

Iklan

Dan saya katakan dihadapan hadirin bahwa “entah Cak Nun itu kyai beneran atau tidak, dia sudah biasa ngelakoni pekerjaannya kyai”.

Saya memang dari dulu mengkategorikan Cak Nun sebagi kyai lèlès. Dan dia mungkin punya ambisi dan vitalitas bisnis yang lebih besar dari Mbah Sungeb. Itu sebabnya Cak Nun mau melakukan sofistikasi gaya, metode dan teknologi dalam usaha lèlèsnya.

Terkait dengan kontroversi yang dibikin Cak Nun terhadap NU dan Ansor belakangan ini, saya menduga dia cuma sedang mencoba melèlès HTI dan kalangan Islam gagap lainnya.

Terakhir diperbarui pada 20 Mei 2026 oleh

Tags: Cak NunEmha Ainun Nadjibgus musHTImustofa bisrinuyahya cholil staquf
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Lahir di lingkungan NU tapi justru menemukan kedamaian di Muhammadiyah. MOJOK.CO

Tumbuh di Desa dengan Tradisi Keagamaan yang Kental, Saya Justru Menemukan Kedamaian di Muhammadiyah dengan Rasionalitasnya

3 Agustus 2026
Organisasi Nahdlatul Ulama (NU) perlu menghidupkan kembali adab yang selama ini menjadi ciri khas pesantren, tidak cukup perbaikan sistem MOJOK.CO

NU Perlu Hidupkan Tata Krama Organisasi di Tengah Dinamika yang Semakin Kompleks, Perbaikan Sistem Saja Tak Cukup

7 Juni 2026
Muhammadiyah vs NU di Rumah Kami: Dua Hati, Beda Hari Lebaran, Selesai di Meja Makan yang Sama MOJOK.CO

Muhammadiyah vs NU di Rumah Kami: Dua Hati, Beda Hari Lebaran, Selesai di Meja Makan

9 Maret 2026
Muhammadiyah selamatkan saya dari tabiat buruk orang NU. MOJOK.CO

Saya Bukan Muhammadiyah atau NU, tapi Pilih Tinggal di Lingkungan Ormas Bercorak Biru agar Terhindar dari Tetangga Toxic

25 Februari 2026
Awal Ramadan Ikut Muhammadiyah atau Pemerintah? Yang Lebih Dulu Puasa Wajib Kirim Kolak ke Orang Tua MOJOK.CO

Awal Ramadan Ikut Muhammadiyah atau Pemerintah? Yang Lebih Dulu Puasa Wajib Kirim Kolak ke Orang Tua

18 Februari 2026
Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers MOJOK.CO

Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers

6 Februari 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Motor Honda Verza tua itu 12 tahun menemani saya mengejar rezeki MOJOK.CO

Jok motor Honda Verza tua itu sudah sobek, tangki penyok, spion patah diserempet truk, tapi menolak pensiun menemani saya 12 tahun mengejar rezeki menembus pegunungan Banjarnegara

27 Agustus 2026
Saya dan Istri Sama-sama Lulusan S2, tapi Sama-sama Tak Punya Pekerjaan Tetap MOJOK.CO

Saya dan Istri Sama-sama Lulusan S2, tapi Sama-sama Tak Punya Pekerjaan Tetap

21 Agustus 2026
Jangan remehkan antrean Stasiun Lempuyangan, Jogja, di jam pagi untuk keberangkatan Kereta Api (KA) Ekonomi Sri Tanjung MOJOK.CO

Antrean Pagi Stasiun Lempuyangan Jogja Selalu “Keos” dan Bikin Tegang, Datang Lebih Awal Tak Jadi Solusi

21 Agustus 2026
tol Jogja-Solo

Tol Jogja-Solo: Rumah Tak Kena Pembebasan Lahan, Tapi Tetap Kena Debu dan Bising

22 Agustus 2026
Alfamart dan PGMM beri bantuan seragam ke 7 madrasah di Magelang sebagai wujud kepedulian sosial MOJOK.CO

Alfamart dan PGMM Beri Bantuan Seragam Sekolah di 7 Madrasah Magelang, Jadi Penunjang Semangat dan Kepercayaan Diri Siswa

24 Agustus 2026
Alma Odai "Cucurella" Diburu Fans, Pemain Thailand Disukai karena Lucu-lucu MOJOK.CO

Alma Odai “Cucurella” Diburu Fans di Srikandi Merdeka Cup, Pemain Thailand Disukai karena Lucu-lucu

22 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.