Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Komen Nyinyir

Membalas Caption Instagram Felix Siauw

Kalis Mardiasih oleh Kalis Mardiasih
29 Mei 2017
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Postingan Felix Siauw di Instagram-nya 5 Mei lalu berjudul “Masih Setia #BelaQuran Hingga [sic!] Hari Ini” membuat saya tak bisa menahan diri untuk membalasnya. Masih seputar kasus penistaan agama, yang saya bermasalah dengan istilah ini, saya mencoba membalas pernyataan-pernyataan Felix yang bermasalah. Tentu saja tetap dalam koridor perspektif Islam, bukan KBBI. Sebab ini yang menulis Kalis, bukan Ivan Lanin.

  1. Karena Islam adalah ancaman dan musuh bagi kedzaliman dan kesewenang-wenangan, ketidakadilan dan penjajahan, maka bagi mereka yang jahat, Islam itu berbahaya

Jawab: Islam adalah rahmat bagi semesta alam. Yang mengoyak Islam: adu domba, nafsu berkuasa, dan kejumudan umat Islam yang tidak mengembangkan ilmu pengetahuan. Kemudian, kalau sedang kalah dan terdesak sebab tidak mengembangkan wacana politik, ekonomi, dan pengetahuan, harusnya tidak merasa terzalimi, tetapi malu dan mengoreksi diri, kenapa kok “Yahudi” dan “kafir” itu cemerlang-cemerlang.

Iklan
  1. Ini yang dirasakan oleh mereka yang tak suka kepada Islam, lalu berusaha singkirkan Islam lewat para pengemban dakwahnya, dengan mengkriminalisasi para ulamanya

Jawab: “Ulama” tidak bebas hukum ketika bersalah.

  1. Lihatlah citra yang ingin dibentuk, bahwa siapapun yang berpikir dan berbuat berdasarkan Islam, akan dikesankan sebagai orang yang radikal, ekstrim dan berpotensi teroris

Jawab: Yang memahami Islam, baik sebagai alat kekuasaan maupun sebagai doktrin yang menyerang dengan kekerasan memang layak disebut radikalis, ekstremis, dan teroris.

  1. Sementara mereka yang tidak menginginkan agama, selalu disebut-sebut dengan pro-kebhinekaan, keberagaman, toleran, pancasilais, nasionalis, dan pro-NKRI

Jawab: Definisi Islam Indonesia dalam konteks politik ialah Islam yang pro-kebinekaan, toleran, pancasilais, nasionalis, dan pro-NKRI.

  1. Kampanye si penista agama jadi buktinya, bagaimana mereka yang tak suka Islam membuat kesan “Kalau kamu ber-Islam, berarti kamu radikal dan ekstrimis”

Jawab: Tidak semua umat sepakat dengan istilah penista agama. Belakangan, istilah itu dan kofar-kafir malah dijadikan pop culture baru yang enteng sekali digunakan. Mereka yang tidak sepakat Islam dipolitisasi/dijadikan alat untuk memenangkan politik identitas tak berarti tak suka Islam.

  1. Dan sebaliknya, “Kalau kamu toleran, pancasilais dan pro-NKRI, artinya kamu harus dukung penista agama”. Itu yang diulang-ulang dalam berbagai kesempatan

Jawab: Istilah penista agama sedari awal sudah provokatif. Logika toleran, pancasilais, dan pro-NKRI memiliki konteks luas, tidak bisa dikerucutkan semata sebagai alat untuk melegitimasi istilah penista agama.

  1. Itu yang menjadi inti pesan dalam kasus penistaan “Jangan mau dibodohi pakai Al-Qur’an”, atau seolah mengatakan “Jangan pakai agama dalam kehidupanmu!”. Jelas.

Jawab: Peristiwa itu terjadi dalam situasi yang begitu politis. Buni Yani yang jadi sumber adu domba sedang diproses secara hukum.

  1. Maka saat semangat ummat bangkit, nyata ditunjukkan lewat aksi #BelaQuran 411 dan 212, mereka yang benci Islam dan munafik komplotannya lalu gerah

Jawab: Islam harusnya bangkit lewat demokrasi sehat, politik dan ekonomi yang berkeadilan, kemajuan pengetahuan yang berdampak baik buat manusia maupun alam raya, serta penuntasan persoalan-persoalan yang Allah tidak membatasinya untuk umat tertentu seperti kemiskinan dan kebodohan.

  1. Mulailah mereka dengan pengaruhnya mengarahkan opini, bahwa aksi ummat #BelaQuran itu motif politis, anarkis, ekstrimis, dibayar, sangar, makar, dan harus bubar

Jawab: Sekali dua kali bolehlah bela Islam, tapi spektrumnya ternyata makin melebar. Daerah-daerah lain yang adem ayem dengan perekonomian stabil dan tradisi masyarakat yang toleran dan damai ikut dipanasi. Proses hukum tak dihargai. Dan memang banyak ujaran berbau makar.

  1. Tidak hanya itu, ulama-ulama mulai dikiriminalisasi dengan alasan yang dibuat-buat, dibesar-besarlan, dikarang-karang, agar ummat ini tak bangkit ke-Islamannya

Jawab: Ada bukti-bukti yang mengindikasikan mereka bersalah, jadi silakan sistem peradilan. Dan lagi, ulama yang tidak politis, tidak ikut ribut—ulama yang fokus mengembangkan ilmu lewat pengajaran dan pendidikan, juga mereka yang berkiprah dalam demokrasi dengan cara-cara elegan jumlahnya lebih banyak dan tidak bermasalah dengan hukum.

  1. Mereka lupa bahwa kebangkitan Islam itu bukan hajatan kita melainkan hajatannya Allah. Cahaya Allah akan disempurnakan walau mereka yak menyenanginya

Jawab: Allah tidak butuh hajatan apa pun. Kita ini hanya memohon-mohon berkah dan kasih sayang Allah, dan Allah menghisabi masing-masing diri, nggak pakai hajatan. Kebangkitan Islam adalah terwujudnya kehidupan yang baik buat semua manusia. Semua perbedaan ini Allah-lah yang menciptakan.

  1. Mari kita sampaikan kembali pada hari ini, bahwa kita masih terus #BelaQuran, apapun kata mereka, kita akan tetap ada di jalan dakwah ini sampai kapanpun jua

Jawab: Iya, kalau sekali dua kali bolehlah. Tapi kalau nggak sudah-sudah, itu menimbulkan kecemasan. Selanjutnya belalah Quran dengan cara yang tak teriak-teriak terus. Capek taug.

Dah ah 😐

Terakhir diperbarui pada 29 Mei 2017 oleh

Tags: Felix SiauwInstagramIslamivan laninKalis Mardiasih
Kalis Mardiasih

Kalis Mardiasih

Artikel Terkait

Lahir di lingkungan NU tapi justru menemukan kedamaian di Muhammadiyah. MOJOK.CO
Sehari-hari

Tumbuh di Desa dengan Tradisi Keagamaan yang Kental, Saya Justru Menemukan Kedamaian di Muhammadiyah dengan Rasionalitasnya

3 Agustus 2026
Tawadhu Tidak Seharusnya Membuat Santri Diam saat Menjadi Korban MOJOK.CO
Esai

Tawadhu sebagai Pisau Bermata Dua: Santri Tidak Seharusnya Dibungkam saat Menjadi Korban

26 Juli 2026
WNI tergabung ke GSF menuju Gaza diculik militer Israel dan renungan kegagalan pemerintah dunia hentian genosida Palestina MOJOK.CO
Kabar

Di Balik Penculikan WNI-GSF oleh Militer Israel: Sipil Berlayar karena Pemerintah Dunia Gagal Stop Genosida Palestina

19 Mei 2026
Zero post di Instagram cara hidup tenang Gen Z. MOJOK.CO
Urban

Gen Z Lebih Tenang Tanpa Feed Instagram (Zero Post), Aslinya Bukan Misterius Cuma Capek Mengejar Validasi dan Ingin Melindungi Diri

7 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

belanja di MR DIY. MOJOK.CO

Celingak-celinguk di MR DIY sambil Dengarkan Jingle yang Candu, Rasanya Damai Sekalipun Tidak Beli Apa-apa

5 Agustus 2026
Modal 2 juta bisa untung cepat dari usaha rumahan cuci sepatu MOJOK.CO

Modal 2 juta bisa untung cepat dari usaha rumahan cuci sepatu

11 Agustus 2026
Lomba Agustusan di desa jadi toxic dan merusak moral anak muda gara-gara paparan kreator konten di media sosial MOJOK.CO

Lomba Agustusan di Desa Jadi Toxic dan “Merusak” Anak Muda karena Terpapar Konten Kreator, Tidak Seasyik Dulu

8 Agustus 2026
77 persen lulusan sekolah vokasi (sarjana terapan) tembus dunia kerja. Lebih dari dari lulusan S1 MOJOK.CO

Lulusan Sekolah Vokasi (Sarjana Terapan) Lebih Laris di Dunia Kerja dari S1, Industri Butuh yang Berketerampilan

7 Agustus 2026
Derita jadi topping tongkrongan: niat bergaul biar tidak dicap nolep, tapi sering tidak dianggap saat nongkrong MOJOK.CO

Serba-serbi Jadi Topping Tongkrongan: Ikut Nongkrong biar Tak Dicap Nolep, Cuma Jadi Pelengkap dan Tak Dianggap

4 Agustus 2026
Tangan-tanga pembuat apem ya qowiyyu: alasan kue tradisional khas Jatinom, Klaten, tak lekang waktu MOJOK.CO

Tangan-tangan Pembuat Apem Ya Qowiyyu: Alasan Kue Tradisional Jatinom Klaten Tak Lekang Waktu

4 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.