Para pemudik dari Jakarta ke Jawa Tengah dan Jawa Timur tentunya bersorak-sorak bergembira ketika tol Cikopo-Palimanan dibuka. Ruas 116,75 km ini adalah jalan tol terpanjang di Indonesia. Memotong jarak tempuh lebih kurang 40 km, dan menghemat waktu tempuh 1,5-2 jam perjalanan.

Semua bersuka cita. Saya, sebagai neolib yang dididik kapitalis sejak dalam pikiran, juga turut berbahagia. Arus barang dari dan ke Jatim-Jateng ke Jakarta dan sekitarnya maupun sebaliknya jadi makin efisien, dan waktu tempuhnya relatif bisa diprediksi.

Mungkin pengaruh ramadan dan keseriusan saya menjalankan One day one Juz (walau hanya bertahan tiga hari), terjadilah keajaiban dalam pemikiran saya. Saya mendapat bisikan gaib, bahwa ternyata, pembangunan infrastruktur besar ini tak ubahnya mencampakkan mantan. Seperti meninggalkan kekasih yang selama ini menemani  hari-hari yang berat saat mudik beberapa tahun lalu.

Kekasih yang dicampakkan itu bernama ekonomi rakyat kecil.

Apa hubungannya? Bukankah karena tol, perekonomian akan makin efisien? Sebentar. Sabar. Jangan buru-buru mengambil keputusan seperti situs berita abal-abal.

Selama ini arus lalu lintas Pantuta telah memberi penghidupan bagi ribuan usaha kecil yang terserak dari Cikampek hingga Cirebon. Mereka mendapat berkah dari belanja orang-orang lewat yang jumlah kendaraannya puluhan ribu setiap hari.

Diperkirakan Lalu Lintas Harian Rata-rata (LHR) exit Cikampek berkisar 15 ribu kendaraan. Saat mudik jumlahnya bisa mencapai 50 ribu di arus puncak. Jika setiap kendaraan yang lewat belanja Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu, maka untuk LHR biasa akan ada potensi ekonomi Rp 1,5 miliar sampai Rp 3 miliar per hari. Saat musim mudik, jumlah potensi belanja mencapai Rp 7,5-15 miliar. Ini saya melakukan penyederhanaan, kalau dihitung lebih rinci, sebuah bus yang berhenti di jalur pantura akan memberikan dampak besar belanja penumpang. Dari sekedar beli makanan kecil, minum, buah, minyak angin hingga yang paling kecil: numpang kencing.

BACA JUGA:  Trik Melakukan Pembelaan Lebaran

Sementara Tol Cipali, diperkirakan akan memiliki LHR 25 ribu dengan titik tertinggi jelang lebaran mencapai 75 ribu kendaraan. Betapa luar biasa potensi ekonomi dari kendaraan tersebut.

Sayang seribu sayang, potensi tersebut tak dinikmati oleh usaha kecil pantura. Nasibnya mirip banget dengan pacar lama yang ditinggalkan.

Padahal dulu, sebelum ada Cipali, orang-orang selalu menunggu exit Cikampek untuk beli peyeum, rambutan, mangga, makan di restoran Padang, jajan sate, dan masih banyak lagi. Kini bablas. Kepala mendongak sombong sembari menginjak pedal gas di tol. Tak peduli lagi dengan usaha kecil yang dulu kerap saling sapa, membantu kita menghapus dahaga atau makan saat berbuka H-4 hingga H-1.

Ada berapa tempat usaha, pengasong, pedagang yang berharap dari lalu lintas Pantura Cikampek-Cirebon? Ya musti research dulu. Ayo cari donor dan sponsor, haha.

***

Cipali memiliki delapan tempat peristirahatan. Cukup banyak. Siapa yang akan mengisi tempat istirahat tersebut? Siapa yang memiliki cukup modal untuk mengakses lokasi dengan potensi ekonomi demikian melimpah setiap hari?

Yang pasti, waralaba modern pasti berebut. Mereka punya modal, punya standar, dan sudah memiliki rekam jejak. Dengan mudah mereka bisa berhitung berapa modal yang akan keluar untuk biaya sewa, produk fast moving apa yang menjanjikan volume penjualan tinggi dan margin bagus, butuh berapa waktu untuk break even point.

Lalu bagaimana dengan puluhan ribu, bahkan mungkin ratusan ribu orang, yang bergantung hidup dari arus lalu lintas Pantura? Akankah dianggap kelompok usaha tak bermodal dan tak layak dapat akses masuk rest area? Bagaimana asongan tahu, telor asin, kacang yang dengan lincah meliuk-liuk masuk bus antarkota di exit Cikampek dan Simpang Jomin? Akankah mereka dianggap pemalas yang tak punya produktivitas?

BACA JUGA:  [MOVI EPS 7] Menjawab Pertanyaan-Pertanyaan Lebaran yang Menyebalkan

Semoga setidaknya dipikirkan satu-dua rest area dibangun khusus untuk mereka. Diatur kepemilikannya dengan sewa harian sesuai pendapatan. Ditata keamanannya dan terintegrasi dengan tempat ibadah yang besar, parkir luas dan SPBU.

Rasanya harus ada upaya keras menyelamatkan usaha kecil yang terlindas pembangunan. Jangan cuma bisa berseru: rejeki sudah diatur Gusti Allah.

  • kasamago

    Cipali mmeng fenomenal.. Smg Pemerintah memperhatikan dmpk sosial n ekonomi masyarakat..

  • Haha bener itu, saya yang tinggal deket jalur pantura ngerasain banget efeknya.

  • Semleho

    maaf saia cuman bisa ikut nyampah saja karena trayek mudiknya dari utara keselatan hehehe btw masukan dan ide bagus juga dari penulis adakan restarea usahakecil.

  • Ardi Supardi

    Enaknya diapain?

  • Petrisanno

    Menarik sebagai hipotesis, ayo diriset biar angkanya pasti, dan gak sekadar ngawang-ngawang 🙂

    Ini mirip nasib pedagang sepanjang Cipatat-Cianjur sewaktu jalannya Cipularang.

  • Gita Pratiwi

    sebentar lagi tol cisumdawu hadir. Rumah makan dan pedangan di subang, sumedang, majalengka, cirebon sudah kena dampaK adanya tol cipali. (sumber: HU Pikiran Rakyat) Sepi bos. Menyusul cisumdawu, nasibnya mamang tahu sumedang telur puyuh dan cangcimen akan lebih apes. Semoga ada ruang di rest area buat ummkm (usaha maha mikro kecil dan menengah) kita di cisumdawu

  • IndriDella Puspita

    Harus lebih ditata dan tentu bakal lebih rapi jika pedagang lama disediakan kios di rest area dgn harga sewa terjangkau

  • rozan

    resiko bisnis, kalau kita tidak tertarik beli bakso, entar pedagang baksonya kan bisa bangkrut.

  • Agung Herdiansyah

    Justru dari sinilah akan tercipta kreativitas dari para pedagang kecil, produk-produk yang dijual dan strategi pemasaran mereka akan menjadi fresh meski bakal banyak juga yang beralih profesi… 😀

    Lihat kawasan di seputar Cipularang atau Jakarta Cikampek, banyak kawasan yang menjadi semakin mandiri… hidup Kapitalis Neolib…

  • slamet gundono mc quin

    seng tak senengi artikele cak kokok lhr sampai dibahas detail jiannnn kapitalis kamprettt hahhahaenemukanm

  • Black Baaz

    Asik nih artikelnya…ngingetin mojok yg dulu, bermutu, gak ngesatir mulu & ngomongin agama tertentu

  • lala

    pesan inti dari artikel ini, jika tingkah para neolib dan neokapitalis gk diatur dg baik oleh pemerintah, maka yang kaya maikn kaya, yang miskin makin miskin

  • smurfin

    ini yang namanya move on, mantan itu gk perlu ditengok2 ….

No more articles