Zainal Arifin Mochtar: Perlawanan Masyarakat Sipil Perlahan Telah Dibunuh

Mas Uceng sebagai narasumber Festival Melawan-Melawan. Ia menyampaikan perlawanan masyarakat sipil perlahan telah terbunuh oleh rezim.

Mas Uceng sebagai narasumber Festival Melawan-Melawan. Ia menyampaikan perlawanan masyarakat sipil perlahan telah terbunuh oleh rezim. (Istimewa)

MOJOK.CO – Pakar Hukum Tata Negara, Zainal Arifin Mochtar (Mas Uceng), menegaskan bahwa perlawanan masyarakat sipil perlahan telah dibunuh sejak rezim sebelumnya, dan mencapai puncak kematiannya di tangan rezim baru saat ini. Ia mengingatkan publik untuk waspada terhadap trik penguasa yang disebutnya sebagai “mistifikasi hukum”.

Hal tersebut disampaikan Mas Uceng saat menjadi pembicara Festival Melawan-Melawan, Rabu (17/6) di Akademi Bahagia EA. Hadir sebagai pembicara lainnya, penulis Muhidin M. Dahlan (Gus Muh).

Lebih lanjut Mas Uceng mengatakan, rezim saat ini menggunakan jargon populisme dan mistifikasi hukum. Mereka membenarkan segala sesuatu lewat jalur formal institusi hukum, seperti Mahkamah Konstitusi, padahal caranya merusak konstitusi itu sendiri. 

“Bagaimana mungkin kita percaya rezim ini berpihak pada rakyat ketika proses pemilihannya merusak konstitusi?” papar Mas Uceng dalam siaran pers yang terima Mojok. Ia juga menyoroti bahwa agenda reformasi seperti pemberantasan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) serta kembalinya TNI ke barak kini praktis tak bersisa.

Di sisi lain, Muhidin M. Dahlan (Gus Muh), seorang Penulis, memberikan kerangka pandang taktis bagi masyarakat sipil dengan merujuk pada konsep historis Aqabah (lempar jumrah). 

Hilangnya aksi mogok di masyarakat sipil

Gus Muh memecah aktor penyokong otoritarianisme menjadi tiga musuh utama. Ini yang tak pernah terpisahkan dan beroperasi dalam satu paket kekuasaan, yakni penguasa atau pemerintah yang otoriter (Firaun), kaum oligarki pemburu rente (Qorun), serta kaum akademisi maupun ulama yang ilmunya digunakan demi melayani kepentingan penguasa.

“Yang paling puncak pernah kita lakukan (dan diksi ini hilang dari narasi kita sekarang) namanya: Mogok. Cuma dua diksi yang selalu keluar: demonstrasi dan diskusi. Yang dilupakan adalah Aksi Mogok. Dulu anak SD saja bisa mogok belajar karena tidak sepakat dengan gurunya,” kata Gus Muh.

Menurutnya, tokoh seperti Suryopranoto mengabdi sebagai tokoh mogok; beliau menolak bekerja sama dengan pemerintah Hindia Belanda, padahal lulusan institusi yang bagus. “Beliau bersumpah seumur hidup tidak akan mengabdi kepada pemerintah,” jelas Gus Muh menjawab salah satu pertanyaan dari peserta. Festival Melawan-Melawan akan berlangsung hingga Jumat (18/6/2026). (*)

Exit mobile version