Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas Sosial

Riwayat 5 Bioskop Mati di Jogja, Ada yang Berubah Jadi Teras Malioboro

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
11 Agustus 2023
A A
bioskop di jogja mojok.co

Bioskop Soboharsono yang kini berubah menjadi Jogja Gallery (arsipdan perpustakaan.kotajogja.go.id)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Yogyakarta dulu punya banyak bioskop. Namun, seiring waktu bioskop-bioskop klasik tersebut tutup dan berganti dengan yang lebih modern.

Sejak 1970-an, Jogja terkenal sebagai “kota nonton”. Wajar saja, pada masa-masa tersebut, Jogja memiliki belasan gedung bioskop yang menayangkan film-film lokal maupun mancanegara.

Sayangnya, dinamika perbioskopan di Jogja mengalami perubahan sejak awal 1990-an. Hal itu dimulai sejak jaringan bioskop Empire-21 memasuki pasaran. Bioskop ini tercatat sebagai bioskop jaringan 21 pertama di Jogja yang memiliki total 8 teater.

Sejak masuknya Empire-21—yang menawarkan modernitas, jumlah teater lebih banyak, tata suara lebih bagus, dan film lebih up to date—bioskop-bioskop “klasik” pun mulai kalah saing.

Akhirnya, tak sedikit yang mengalami pasang surut dan mati total karena sepi pengunjung. Lantas, bioskop-bioskop mana saja yang kini sudah mati dan berubah jadi apa bangunannya hari ini? Berikut Mojok telah merangkumnya.

#1 Bioskop Soboharsono

Gedung bioskop pertama adalah Soboharsono Theatre. Salah satu tempat nonton tertua yang pernah berdiri di Jogja. Soboharsono berlokasi di Jalan Perkapalan No. 47, pojok timur laut Alun-alun Utara.

Menurut laman Arsip dan Perpustakaan DIY, Bioskop Soboharsono sudah berdiri sejak 1929. Saat itu, gedung ini menjadi lokasi nonton para sosialita masa kolonial.

Namun, sejak 1980 gedung ini sudah tidak dipakai lagi. Nasibnya sama dengan gedung bioskop lain yang telah berubah fungsi.

Sejak 2006, Sri Sultan HB X mengalihfungsikan Soboharsono menjadi Jogja Gallery dan Royal Garden Restaurant. Meski demikian, bangunan aslinya saat ini masih dipertahankan, cuma fungsinya saja yang telah berubah.

#2 Bioskop Permata

Siapa yang tidak mengetahui Bioskop Permata? Pada 1980-an, bioskop ini menjadi yang paling beken, bahkan bisa mendominasi tempat-tempat nonton lain di Jogja.

Berdiri sejak 1940-an, Bioskop Permata awalnya bernama Luxor. Gedungnya terletak di Jalan Gajah Mada, Pakualaman.

Meski sempat menjadi bioskop termegah pada masa jayanya, ia mengalami pasang surut sejak memasuki medio 1990-an. Saat bioskop lain mulai berbenah, Permata malah tak melakukan inovasi maupun memperbarui alat-alat penunjangnya.

Alhasil, sejak awal 2000-an bioskop ini mulai ditinggalkan dan puncaknya pada 2012, ia benar-benar mati total. Kini, bekas gedung Bioskop Permata tetap dibiarkan utuh berdiri karena termasuk Bangunan Cagar Budaya.

Saat melintas di Jalan Gajah Mada, kalian masih bisa melihat bangunan ini yang belum berubah bentuknya.

Halaman selanjutnya…

#3 Bioskop Indra

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 10 Agustus 2023 oleh

Tags: bioskopBioskop di JogjaFilmfilm indonesia
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Sinefil.MOJOK.co
Urban

Orang Nggak Mau Dijuluki “Sinefil” karena Tahu Itu Ejekan, tapi Tetap Banyak yang Mengaku “Si Paling Film”

9 Februari 2026
Film "Surat untuk Masa Mudaku" tayang di Netflix. MOJOK.CO
Catatan

Film “Surat untuk Masa Mudaku”: Realitas Kehidupan Anak Panti dan Lansia yang Kesepian tapi Saling Mengasihi

5 Februari 2026
Bioskop NSC Rembang, bangunan kecil di tanah tandus yang jadi hiburan banyak orang MOJOK.CO
Catatan

Bioskop NSC Rembang Jadi Olok-olokan Orang Sok Kota, Tapi Beri Kebahagiaan Sederhana

1 Desember 2025
Film Tukar Takdir Nggak Sekadar Adegan Mesra Nicholas Saputra dan Adhisty Zara dalam Mobil! Mojok.co
Pojokan

Film Tukar Takdir Nggak Sekadar Adegan Mesra Nicholas Saputra dan Adhisty Zara!

8 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pertama kali merantau ke Jogja: kerja palugada di coffee shop dengan gaji Rp10 ribu MOJOK.CO

Pertama Kali Merantau ke Jogja: Kerja di Coffee Shop 12 Jam Gaji Rp10 Ribu Perhari, Capek tapi Tolak Pulang karena Gengsi

24 Februari 2026
Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Sambut Cherrypop 2026, Cherry District Hadirkan Kolaborasi Ekosistem Kreatif di GIK UGM.MOJOK.CO

Sambut Cherrypop 2026, Cherry District Hadirkan Kolaborasi Ekosistem Kreatif di GIK UGM

3 Maret 2026
merantau di Jogja.MOJOK.CO

Cerita Perantau Jatim: Diremehkan karena Tinggal di Kos Kumuh Jogja, Bungkam Mulut Tetangga dengan Membangun Rumah Besar di Desa

25 Februari 2026
kelemahan honda beat, jupiter z.mojok.co

Menyesal Ganti Jupiter Z ke Honda BeAT: Menang “Rupa” tapi Payah, Malah Tak Bisa Dipakai Ngebut dan Terasa Boros

27 Februari 2026
Hijau miskin, warna yang tidak disukai gen Z

Warna “Hijau Miskin” Dianggap Norak, Tidak Disukai Gen Z padahal Dipakai Banyak Orang dan Harganya Murah

2 Maret 2026

Video Terbaru

Budaya Tionghoa Jogja dan Rahasia yang Jarang Dibicarakan

Budaya Tionghoa Jogja dan Rahasia yang Jarang Dibicarakan

28 Februari 2026
Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.