Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Sejarah Pramuka Indonesia, Dibawa Belanda hingga Dipimpin Raja Jogja Selama Belasan Tahun

Kenia Intan oleh Kenia Intan
23 September 2023
A A
Sejarah Pramuka Indonesia

Sejarah Pramuka Indonesia (pramuka.or.id)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Sejarah Pramuka di Tanah Air memang dimulai sejak zaman kolonial Belanda. Namun, gerakan kepanduan ala Indonesia berkembang dan menemukan ciri khasnya di bawah kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono IX (Sultan HB IX).

Cikal bakal Pramuka di Indonesia adalah gerakan kepanduan yang dibawa Belanda pada 1912. Pada saat itu mulai ada latihan sekelompok pandu di Batavia. Kelompok itu kemudian menjadi cabang dari Bederlandsche Padvinders Organisatie (NPO). Dua tahun berselang atau pada 1914, NPO berubah nama menjadi NIPV atau Netherland Indische Padvinders Vereeniging (Persatuan Pandu Hindia Belanda).

NIPV hanya beranggotakan keturunan Belanda. Kemudian, pada 1916 Pemimpin Keraton Solo Mangkunegaran VII membentuk organisasi kepanduan pertama yang beranggotakan bumiputera. Organisai kepanduan itu bernama Javaansche Padvinder Organisatie alias JPO.

Kepanduan yang sepenuhnya berisi bumiputera itu mendorong munculnya organisasi kepanduan lain. Ada organisasi yang berbasis kesukuan hingga agama. Organisasi kepanduan bumiputera juga pernah mengikuti jambore kepanduan dunia. Perkembangan organisasi kepanduan di Hindia Belanda menyita perhatian Bapak Pandu Sedunia, Lord Baden Powell. Pada 1934, Lord Baden Powell bersama istri dan anak-anaknya mengunjungi organisasi kepanduan di Batavia, Semarang, dan Surabaya.

Di masa-masa itu, perkembangan kepanduan di Hindia Belanda memang berkembang pesat. Pemerintah kolonial Belanda sebenarnya sempat khawatir dan melarang kemunculan kepanduan-kepanduan bumiputera. Namun, tokoh-tokoh pejuang Indonesia justru membuat kepanduan semakin berkembang.

Kepanduan di Indonesia semakin kuat dengan berlangsungnya Kongres Kesatuan Kepanduan Indonesia di Surakarta pada Desember 1945. Kongres tersebut menghasilkan Pandu Rakyat Indonesia sebagai satu-satunya organisasi kepramukaan di Indonesia. Sayangnya, perkembangan kepanduan di Indonesia sempat melorot ketika Agresi Militer. Belanda melarang Pandu Rakyat berlangsung di daerah-daerah yang sudah dikuasainya.

Organisasi kepanduan di Indonesia kembali terpecah-pecah. Setidaknya menjadi 100 organisasi kepanduan pada saat itu. Kondisi diperburuk dengan adanya rasa golongan tinggi antar kelompok. Soekarno dan Sultan HB IX yang prihatin dengan kondisi ini kemudian menggagas peleburan berbagai organisasi kepanduan dalam satu wadah.

Peran Sultan HB IX dalam sejarah pramuka

Soekarno menetapkan 14 Agustus 1961 sebagai lahirnya kepanduan Indonesia atau Pramuka. Sejarah Pramuka  ini tidak bisa lepas dari peran Sultan HB IX. Ia adalah salah satu panitia dari proses peleburan organisasi kepanduan. Sosok lain yang terlibat adalah Prijono, Azis Saleh, Achmadi, dan Muljadi Djojo Martono.

Penamaan Pramuka sebagai pengganti Kepanduan Indonesia adalah ide dari Sultan HB IX. Pramuka berarti pasukan terdepan dalam perang. Kata ini juga menjadi singkatan dari Praja Muda Karana berarti rakyat yang berjiwa muda yang suka berkarya.

Bicara soal sepak terjang di dunia Pramuka, Sultan HB IX memang tidak diragukan lagi. Beliau adalah Baden Powell-nya Indonesia. Sejak belia, ia sudah aktif di gerakan kepanduan yang ada di setiap jenang, mulai dari sekolah dasar hingga perkuliahan. Di masa perjuangan, Sultan HB IX juga tetap menyebarkan semangat kepanduan.

Selain ditetapkan sebagai hari lahirnya Pramuka, pada 14 Agustus 1961 Soekarno juga menetapkan Sultan HB IX sebagai Ketua I Ketua Kwartir Nasional (Kwarnas) sekaligus Wakil Ketua 1 Majelis Pimpinan Nasional (Mapinas pada 14 Agustus 1961. Sultan HB IX kemudian menduduki posisi itu selama empat periode atau sealam 13 tahun.

Selama belasan tahun memimpin, Sultan HB IX mencatatkan banyak hal hingga menadi bagian penting dari sejarah Pramuka. Salah satunya,  keikutsertaan gerakan Pramuka dalam membangun masyarakat. Terobosan ini mendapat sentimen baik dari masyarakat, bahkan kepanduan di tingkat dunia. Ia pun kemudian mendapat penghargaan World Organization of Scout Movement (WOSM) bernama Bronze Wolf Award di tingkat internasional.

Penulis: Kenia Intan
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Tugu Gamping, Kembaran Tugu Jogja yang Bernasib Sial
Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 23 September 2023 oleh

Tags: pramukasejarah pramukaSultan HB IX
Kenia Intan

Kenia Intan

Content Writer Mojok.co

Artikel Terkait

Di Era Digital, Gerakan Pramuka Perlu Terus Digalakkan  MOJOK.CO

Di Era Digital, Gerakan Pramuka Perlu Terus Digalakkan 

14 Agustus 2025
Plengkung Gading Jogja Ditutup, “Takhta untuk Rakyat” Mati MOJOK.CO

Plengkung Gading Jogja yang Ditutup, “Takhta untuk Rakyat” yang Mati

21 Januari 2025
Orang UGM Sebut Ada Ekstrakurikuler yang Lebih Penting dari Pramuka MOJOK.CO

Bagi Orang UGM Wajib Pramuka Dihapus Tak Masalah karena Ada Ekstrakurikuler yang Lebih Penting, tapi Pembina Pramuka Nelangsa Tak Punya Pemasukan Tambahan

5 April 2024
Nasib Pembina Pramuka Tak Kalah Pahit dari Guru Honorer MOJOK.CO

Pembina Pramuka, Profesi Penyelamat dari Ngenesnya Jadi Guru Honorer tapi Terancam Bernasib Pahit Gara-Gara Pemerintah

3 April 2024
Pembina Pramuka Rezekinya Dimatikan Pemerintah MOJOK.CO

Cuma Ngajar Pramuka di Surabaya Bisa buat Bertahan Hidup, Gaji Jauh Lebih Layak dari Guru Honorer

1 Maret 2024
pramuka bisa kuliah di UNS hingga IPB.MOJOK.CO

Bisa Masuk UNS, IPB, hingga UNJ Berkat Jalur Khusus Pramuka, Kegiatan yang Konon Mulai Ditinggal Anak Muda

28 Januari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tinggal di kos dekat kampus niat cari kemudahan di awal menjadi mahasiswa baru (maba), malah jadi pemicu konflik sosial yang merepotkan diri sendiri MOJOK.CO

Kos Dekat Kampus Memang Beri Kemudahan, Tapi Jadi Pemicu Rangkaian Konflik Sosial yang Merepotkan Diri Sendiri

10 Agustus 2026
fisiologi pohon, walhi kerusakan lingkungan mojok.co

Hadapi Krisis Iklim, Ilmu Fisiologi Pohon Jadi Kunci Selamatkan 12 Juta Hektare Lahan Kritis

13 Agustus 2026
Natalius Pigai Menyarankan Buku Karangan Orang Barat, Baiklah Saya Pilihkan MOJOK.CO

Natalius Pigai Menyarankan Buku Karangan Orang Barat, Baiklah Saya Pilihkan

10 Agustus 2026
lestarikan budaya.MOJOK.CO

Rayakan HUT ke-81 RI, InJourney Tebar Diskon 81 Persen dan Gelar Pesta Budaya di Destinasi Sejarah Nusantara

10 Agustus 2026
Pegawai Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih pinggir kuburan harus dibekali dengan keahlian supranatural hingga ilmu sosial MOJOK.CO

Keahlian-keahlian Vital untuk Pegawai Kopdes Pinggir Kuburan, Berguna buat Diri Sendiri dan Pembeli

13 Agustus 2026
Beban ekspektasi orang desa di Rembang yang merantau kerja di luar negeri: dipandang kalau bisa menggelar dangdutan setiap tahun MOJOK.CO

Beban Pemuda Desa Kerja di Luar Negeri: Demi Dipandang Harus Gelar Dangdutan Tiap Tahun buat Hibur Warga

12 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.