Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Pramodawarddhani, Perempuan Pendiri Candi Borobudur yang Terlupakan

Yvesta Ayu oleh Yvesta Ayu
24 November 2022
A A
pramodawarddhani mojok.co

Para penari menampilkan salah satu contoh busana Sendratari Pramodawarddhani dalam Kajian Sendratari Maharatu Pramodawarddhani di Yogyakaerta, Rabu (23/11/2022).(yvesta ayu/mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Semua orang tahu Candi Borobudur terkenal seantero dunia. Namun banyak orang yang tak tahu pendiri candi yang dibangun sekitar abad 8-9 Masehi tersebut adalah Pramodawarddhani, ratu Kerajaan Medang pada masa Dinasti Syailendra bertahta.

Prasasti Kayumwungan menyebutkan, Pramodawarddhani bersama suaminya, Maharaja Rakai Pikatan, raja keenam Kerajaan Medang, bahkan sempat meresmikan Candi Borobudur. Putri mahkota Wangsa Syailendra ini juga menjadi Ratu yang banyak membangun ratusan candi di Jawa Tengah.

Iklan

Kisah cinta mereka pun tak kalah dari cerita Rama-Sinta. Rakai Pikatan membangun Candi Plaosan demi cintanya pada Pramodawarddhani.

“Namun sayangnya tidak banyak orang tahu, termasuk generasi muda akan sosok Pramodawarddhani. Permaisuri yang punya kisah cinta romantis dengan Rakai Pikatan ini kalah dari cerita cinta Rama-Sinta. Padahal Rama-Sinta berasal dari India, bukan dari Indonesia,” papar pemerhati budaya sekaligus perwakilan Medang Heritage Society, Budiono Santoso Setradjaja dalam Kajian Sendratari Maharatu Pramodawarddhani di Yogyakarta, Rabu (23/11/2022).

Budiono mengungkapkan, Pramodawarddhani dalam Prasasti Kayumwungan dikenal sebagai sosok perempuan pemersatu Wangsa Syailendra dan Dinasti Sanjaya. Pernikahannya dengan Rakai Pikatan berdampak positif terhadap toleransi beragama antara pemeluk Buddha dan Hindu di Jawa.

Bahkan perannya di sektor publik tak kalah dari RA Kartini. Permaisuri yang digambarkan memiliki kecantikan yang melebihi rembulan tersebut perperan dalam membebaskan pajak beberapa desa di kawasan Candi Borobudur.

Sendratari Pramodawarddhani

sendratari pramodawarddhani mojok.co
Para penari menampilkan salah satu contoh busana Sendratari Pramodawarddhani dalam Kajian Sendratari Maharatu Pramodawarddhani di Yogyakaerta, Rabu (23/11/2022).(yvesta ayu/mojok.co)

Berawal dari keprihatinan akan sosok Pramodawarddhani yang kurang dikenal publik, Medang Heritage Society, Yasatri, Sanka Heritage, dan Benawi Enterprise membuat kareografi sendratari Pramodawarddhani. Sendratari ini melibatkan lebih dari 50 penari dalam kareografinya.

Sendratari ini dibuat berdasarkan catatan sejarah relief-relief yang berada di Candi Prambanan dan Candi Sewu. Tarian kolosal itu diharapkan menjadi salah satu cara yang menarik untuk memberikan informasi tentang Pramodawarddhani sebagai seorang tokoh perempuan yang penting dalam sejarah Nusantara.

“Sendratari sedang dipersiapkan untuk ditampilkan pada pertengahan tahun 2023. Nantinya sendratari akan ditampilkan di salah satu venue yang dekat dengan situs warisan budaya keluarga Syailendra, yaitu di area Candi Plaosan dan Candi Sewu,” paparnya.

Sementara, perempuan pencipta sendratari Pramodawarddhani, Nurkotimah mengungkapkan, sendratari Pramodawarddhani dibuatnya berdasarkan beragam kajian sejarah pada abad 8 dan 9 Masehi. Juga didasarkan pada penggambaran relief yang ada di Candi Prambanan dan Candi Sewu.

“Ada tarian-tarian Syiwa di relief-relief candi prambanan dan candi sewu yang bisa kami pelajari untuk kareografi tarian baru ini,” ujarnya.

Musik yang ditampilkan dalam sendratari tersebut pun berdasarkan data dari relief di kedua candi. Alat musik tersebut nantinya akan dipadukan dengan alat musik modern.

Busana yang dikenakan penari dalam sendratari Pramodawarddhani yang didasarkan pada pahatan relief dengan warna alam. Selain itu didasarkan pada pakaian-pakaian kerajaan yang menggunakan batik tulis dengan motif arca Dewa Syiwa.

“Untuk tokoh bangsawan dalam sendratari nantnya juga bisa menggunakan batik jumputan, sedangkan pemain bisa dengan motif sibori,” jelasnya.

Iklan

Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) DIY, Bobby Ardyanto Setya Aji mengungkapkan, sendratari Pramodawarddhani bisa menjadi alternatif wisata malam baru di DIY. Dengan demikian bisa melengkapi Sendratari Rama-Sinta yang ditampilkan di Candi Prambanan.

Sebab selama ini wisatawan yang datang ke Yogyakarta tidak banyak memiliki pilihan menikmati wisata malam saat berada di kota ini. Hal ini yang membuat lama tinggal wisatawan di kota ini tak lebih dari dua hari.

“Sendratari Pramodawarddhani ini bisa jadi salah satu pilihan wisata baru yang bisa dinikmati. Namun yang terpenting peran semua pihak untuk menjadikannya sebagai pilihan wisata yang bisa dinikmati secara daily,” paparnya.

Reporter: Yvesta Ayu
Editor: Purnawan Setyo Adi

BACA JUGA Mengenal Sesar Cimandiri Penyebab Gempa Cianjur, Wilayah Mana Saja yang Dilewati?

Terakhir diperbarui pada 24 November 2022 oleh

Tags: candicandi borobudurkerajaanpramodawarddhani
Yvesta Ayu

Yvesta Ayu

Jurnalis lepas, tinggal di Jogja.

Artikel Terkait

Waisak 2026 di Candi Borobudur Magelang jadi momentum bagi sebuah keluarga Buddha asal Temanggung untuk meluruhkan ego diri MOJOK.CO
Eksplor

Waisak di Borobudur untuk Meluruhkan Ego Diri, Menerima Kesadaran atas Renungan “Hidup untuk Apa di Dunia Fana?”

31 Mei 2026
Arca Unfinished Buddha yang ada di Candi Borobudur. MOJOK.CO
Kilas

Ketika Patung “Cacat” Buddha di Lapangan Kenari Borobudur Justru Jadi Pusat Spiritual dan Magnet Doa Saat Waisak

27 Mei 2026
Merawat Nilai Luhur di Dalam Candi Plaosan agar Tak Memudar Seiring Zaman Mojok.co
Eksplor

Merawat Nilai Luhur di Dalam Candi Plaosan agar Tak Memudar Seiring Zaman

27 April 2026
Imlek 2026 di Candi Prambanan dan Candi Borobudur. MOJOK.CO
Kilas

Tahun Kuda Api Imlek 2026: Mencari Hoki Lewat Kartu Tarot di Antara Kemegahan Prambanan dan Borobudur

15 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

orang kota slow living di desa, jakarta, norak.MOJOK.CO

Standard Ganda: Orang Kota Sok Lebih Berkelas, Padahal di Mata Orang Desa Sama Noraknya

21 Juli 2026
Curhat kasir Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di jalanan desa sepi. Sepi pembeli, sekali ada pembeli bukan karena butuh tapi iseng dan bikin kesel MOJOK.CO

Derita Kasir Kopdes di Desa Pelosok: Hari-hari Sepi, Pembeli Datang Bukan karena Kebutuhan tapi Sengaja Bikin Kesal

21 Juli 2026
Konten Kreator Perjalanan dapat pelajaran hidup di Lombok. MOJOK.CO

Konten Kreator Perjalanan Nyaris Luntang-lantung karena Tak Punya Uang, Malah Menangis Saat Meninggalkan Lombok

21 Juli 2026
Lulusan s2, susahnya legalisir ijazah setelah wisuda.MOJOK.CO

Nasib Lulusan S2 di Jakarta: Kuliah Dianggap Nggak Guna karena Kalah Saing dengan Tamatan SMA, tapi Tetap Merasa Bangga

23 Juli 2026
Pakai jastip Mie Gacoan di Jombang: bayar lebih mahal untuk menu membagongkan MOJOK.CO

Pakai Jastip Mie Gacoan Ala Orang Jombang Pinggiran: Niat Hindari Kenorakan, Yang Datang Menu Membagongkan

20 Juli 2026
Akhiri Kemitraan Semu, Saatnya Lindungi Hak Ojol melalui Kategori Pekerja Ketiga MOJOK.CO

Akhiri Kemitraan Semu, Saatnya Lindungi Hak Ojol melalui Kategori Pekerja Ketiga

25 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.