Pertumbuhan Ekonomi dan Swasembada Pangan Jawa Tengah Mendongkrak EKonomi dan Pangan Nasional

Swasembada pangan Jawa Tengah tuai pujian. (Dok. Jateng)

MOJOK.CO –  Pada 2026 ini, Jawa Tengah mencapai pertumbuhan ekonomi dan kinerja program swasembada pangan yang dinilai memuaskan. Tak ayal, capaian itu menuai pujian berbagai pihak.

Pujian terhadap Jawa Tengah mengemuka dalam acara Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah bertajuk “Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi Daerah Melalui Sinergi Kebijakan Lintas Sektor” yang digelar di Balai Kartini Grand Ballroom Jakarta, Senin (25/6/2026).

Swasembada pangan Jawa Tengah dukung ketahanan pangan nasional

Dalam kacamata Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Frederica Widyasari Dewi, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi memiliki program swasembada pangan yang disusun berdasarkan pemetaan potensi daerah. Setelah itu, Pemprov Jawa Tengah dinilai telah menyusun program yang tepat untuk mendukung keberhasilannya.

“Pak Luthfi punya program padi dan jagung (swasembada pangan) yang mendukung ketahanan pangan nasional,” kata Frederica saat membuka acara tersebut.

Swasembada pangan Jawa Tengah tuai pujian MOJOK.CO
Swasembada pangan Jawa Tengah tuai pujian. (Dok. Jateng)

Menurut Frederica, strategi yang dijalankan oleh Pemprov Jawa Tengah merupakan wujud komitmen kuat memajukan wilayah sesuai dengan potensi yang dimiliki. Karenanya, OJK juga mendorong sektor jasa keuangan ikut serta mendukung program yang telah dijalankan di daerah.

Untuk diketahui, capaian produksi padi di Jawa Tengah hingga April 2026 pun tergolong tinggi. Per Triwulan I 2026 telah mencapai 4.696.422 ton atau sekitar 44,48 persen dari target tahunan sebesar 10,5 juta ton. Sementara berdasarkan data BPS, prognosa padi Jateng periode Januari – Juni 2026 sebesar 5.674.991 ton GKG. Angka ini menduduki peringkat 2 setelah Jawa Timur.

Berbagai upaya untuk pertumbuhan ekonomi dan swasembada 

Dalam kesempatan itu, Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi mengatakan, untuk mencapai swasembada pangan 2026, pihaknya melakukan berbagai upaya yang untuk menggenjot produktivitas. Sebab, di 2026 ini, musim kemarau diprediksi lebih panjang dibanding pada 2025. Untuk mengatasinya, Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait sudah diintruksikan untuk menjamin ketersediaan air.

Langkah berikutnya adalah menyiapkan petani milenial. Caranya, dengan melatih petani-petani muda melalui Program Kecamatan Berdaya. Langkah itu dilakukan dengan cara berkolaborasi bersama Kementerian Pertanian.

Selain itu, papar Luthfi, Pemprov Jawa Tengah juga mengangkat UMKM agar naik kelas melalui pelatihan, permodalan hingga pendampingan penjualan produk.

Swasembada pangan Jawa Tengah tuai pujian. (Dok. Jateng)

Keberhasilan program swasembada pangan secara tidak langsung turut mendongkrak pertumbuhan ekonomi daerah, yang berkontribusi pula pada pertumbuhan ekonomi di level nasional.

Sebagai catatan, pertumbuhan ekonomi Jateng pada Triwulan I – 2026 sebesar 5,89%. Angka ini di atas pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat 5,61%.

Sementara itu, Menteri Koordinator Perekonomian, Airlangga Hartarto pun memberikan pujian atas pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah. Sebab, pertumbuhan ekonomi Jateng di atas nasional.

“Kalau daerah (pertumbuhan ekonomi) di bawah nasional, akan jadi bandul (memperberat),” ujarnya.***(Adv)

BACA JUGA: Gerbang Masuk Jawa Tengah Melalui Udara di Lanud Adi Soemarno Dipercantik, Jadi Wajah Keramahtamahan dan Kemajuan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version