Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Pelibatan TNI-Polri dalam Mengawal New Normal Justru Dianggap Sebagai Ketidaknormalan

Redaksi oleh Redaksi
29 Mei 2020
A A
Mall di Malang Bikin Syok Orang Surabaya karena Ngaca di Toilet Saja Bayar dan Pelit Tisu, Kalah sama Indomaret.MOJOK.CO

Ilustrasi - Mall di Malang Bikin Syok Orang Surabaya karena Ngaca di Toilet Saja Bayar dan Pelit Tisu, Kalah sama Indomaret (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Melibatkan tentara dan polisi dalam pengawalan masa new normal oleh beberapa pihak justru dianggap sebagai sebuah ketidaknormalan. Kalau normal, ngapain pakai tentara?

Dalam menyongsong era new normal, pemerintah bakal mengerahkan militer (tentara dan polisi) untuk mengawal kedisiplinan masyarakat. Setidaknya bakal ada 340 ribu personel gabungan TNI-Polri yang akan ditempatkan di berbagai pusat keramaian yang berisiko tinggi seperi pasar, mall, dan juga obyek-obyek pariwisata.

“Sesuai arahan Presiden Jokowi kemarin untuk memastikan menuju normal baru, Presiden perintahkan TNI dan Polri ada di setiap ‎keramaian untuk lebih mendisiplinkan masyarakat untuk mengikuti protokol kesehatan sehingga masyarakat bisa tetap beraktivitas, namun aman dari penularan Covid-19,” kata Kepala Bagian Penerangan Umum Polri Kombes Pol Ahmad Ramadhan, Rabu, 27 Mei 2020 lalu.

Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen Sisriadi mengatakan walau pihak TNI ikut dilibatkan, namun mereka akan tidak banyak menggunakan cara-cara kemiliteran. Menurutnya, langkah-langkah yang akan diambil oleh TNI dalam mengawal new normal lebih kepada “pendekatan yang persuasif dan edukatif”, sehingga menurutnya, masyarakat tidak perlu khawatir dengan keberadaan unsur militer saat era new normal nantinya.

Kendati demikian, banyak yang mengkritik langkah pemerintah yang melibatkan unsur militer dalam mengawal new normal ini.

Pegiat Hak Asasi Manusia (HAM) Haris Azhar, misalnya, menganggap pelibatan militer ini justru menjadi tanda sebuah ketidaknormalan.

“New Normal diterapkan dengan kekuatan TNI-Polri. Hmmm, Justru, ada yang tidak normal. Kalau normal, buat apa ada tentara polisi dimana-mana.” Begitu kata Haris melalui akun Twitternya. “New Normal dengan aparat di mana-mana akan mengarah pada State Immunity terhadap rakyatnya.”

Sementara itu, pakar epidemiologi dari Universitas Indonesia Pandu Riono menyatakan bahwa yang terpenting dalam menyongsong new normal sebenarnya bukan masalah pendisiplinan dengan melibatkan unsur TNI-Polri, melainkan lebih kepada masalah komunikasi.

“Masalahnya bukan hanya masalah disiplin, masalahnya komunikasinya belum jalan. Komunikasinya ke publik selama ini belum dijalankan dengan baik. Itu dulu yang harus dijalankan,” terangnya.

Setali tiga uang dengan Haris, Pandu Riono juga mengatakan bahwa pelibatan TNI-Polri justru merupakan hal yang tidak normal.

“Tentara dan polisi diturunkan kalau keadaannya abnormal. Katanya mau menuju normal, sekarang kita normal atau abnormal? Jadi kalau kita mau menormalkan ya melakukan dengan usaha-usaha yang normal, supaya masyarakat paham.”

Kritik dengan nada serupa juga dilontarkan oleh Peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW) Lalola Easter. Ia mengatakan pemerintah seharusnya lebih banyak melibatkan ahli epidemiologi dan virologi ketimbang militer.

“Ngapain militer, ngapain ke polisi, ketika kita harus dengar pakar epidemologi atau virologi atau orang-orang yang memang kompeten di bidangnya,” ujar Lola dalam diskusi ‘Menjaga Integritas Solidaritas’ pada Kamis, 28 Mei 2020 lalu.

Ah, memang sudah memisahkan negara ini dari unsur militer. Lha gimana, Menkesnya saja tentara, kepala gugus tugasnya juga tentara, juru bicara pemerintah soal covid-19 juga militer. Pokoknya semuanya sudah militer banget.

Iklan

Tampaknya lebih susah menjauhkan masyarakat dari unsur militer ketimbang menjauhkan masyarakat dari virus corona.

Terakhir diperbarui pada 29 Mei 2020 oleh

Tags: coronamiliterTentara
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

pam swakarsa, militer.MOJOK.CO
Mendalam

Riwayat Pam Swakarsa, Tukang Gebuk Bayaran Tentara yang Berupaya Dihidupkan Kembali. Ancaman Serius bagi Demokrasi

5 September 2025
darurat milter.MOJOK.CO
Ragam

Saat Darurat Militer Diumumkan, Saat Itu Juga Negara Hukum Telah Runtuh. Kebebasan Sipil dan Akademik Telah Mati

4 September 2025
tentara, dwifungsi tni, tni, militer.MOJOK.CO
Aktual

Dwifungsi TNI is Back, Ancaman Nyata Bagi Dunia Akademik

20 Maret 2025
Pemerintah Tolak Uji Formil UU TNI, Bukti Suara Rakyat Tak Dianggap dan Cuma Fasilitasi Kepentingan Kekuasaan.MOJOK.CO
Esai

Humor Gelap Tentara vs Sipil yang Menghantui Indonesia

17 Maret 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

10 Februari 2026
Orang dengan kesulitan ekonomi (kurang mampu atau miskin) di desa, justru paling tulus dalam kehidupan sehari-hari MOJOK.CO

Orang Miskin dan Sulit Ekonomi di Desa Justru Paling Tulus Peduli, Tapi Tak Dihargai karena Tak Bisa Bantu Materi

12 Februari 2026
Anomali pengunjung toko buku sekarang bukan baca, malah foto

Anomali Pengunjung Toko Buku Hari Ini: Outfit Foto Elite, Beli Buku Sulit

11 Februari 2026
merantau, karet tengsin, jakarta. apartemen, kpr MOJOK.CO

Bagi Pekerja Bergaji Dua Digit “Nanggung” di Jakarta, Menyewa Apartemen di Tengah Kota Lebih Baik Ketimbang Ambil KPR di Pinggiran

9 Februari 2026
Lulusan SMK ngaku dapat gaji 20 juta saat kerja di Sidoarjo agar orang tua tidak direndahkan karena standar sukses di desa MOJOK.CO

Lulusan SMK Ngaku Kerja Gaji 20 Juta Perbulan agar Ortu Tak Direndahkan, Tapi Masih Tak Cukup buat Ikuti Standar Sukses di Desa

12 Februari 2026
Media pers online harusnya tidak anxiety pada AI dan algoritma. Jurnalisme tidak akan mati MOJOK.CO

Media Online Tak Seharusnya Anxiety pada AI dan Algoritma 

9 Februari 2026

Video Terbaru

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

10 Februari 2026
Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

7 Februari 2026
Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.