Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

3 Mitos Seputar Gunung Pegat Wonogiri, Pengantin Baru Lewat sini Bakal Celaka

Iradat Ungkai oleh Iradat Ungkai
15 September 2023
A A
3 Mitos Seputar Gunung Pegat Wonogiri, Pengantin Baru Tak Boleh Lewat sini! MOJOK.CO

Pemandangan dari puncak Gunung Pegat (commons.wikimedia.org)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Gunung Pegat Wonogiri menyimpan sejumlah kisah. Dibelah untuk jalan, larangan melintas untuk pengantin baru, dan Mbah Glondor sang penunggu.

Gunung Pegat merupakan kawasan yang populer di Kabupaten Wonogiri dan sekitarnya. Gunung yang terletak di Kecamatan Nguntoronadi ini merupakan bagian dari gugusan gunung api purba Pulau Jawa di bagian selatan yang dibelah karena pembangunan jalan.

Jalan tersebut merupakan jalur penghubung sejumlah daerah. Jalur utama yang menghubungkan Gunungkidul-Wonogiri-Pacitan. Jalur yang terkenal sebagai satu titik rawan kecelakaan.

Mitos pengantin baru tak boleh lewat sini

Banyak mitos yang menaungi Gunung Pegat. Salah satunya larangan bagi pengantin baru untuk berkunjung ke sini. Lebih spesifik bagi pasangan suami-istri yang usia pernikahannya kurang dari 35 hari. Menurut kepercayaan warga setempat, jika nekat, pasangan tersebut bisa berpisah.

Priyo misalnya, saat baru menikah, warga Wonogiri tersebut rela menempuh perjalanan 30 kilometer lebih jauh demi menghindari jalur Gunung Pegat. Upaya tersebut ia lakukan untuk menuruti nasihat orang tuanya agar tak terjadi hal-hal buruk yang bisa berdampak pada pernikahannya. Kisah tersebut ia tuturkan dalam wawancara dengan Solopos.com.

Setali tiga uang dengan yang Herman lakukan kala masih menjadi pengantun baru. Warga Sukoharjo tersebut memilih lewat jalur di Desa Jendi, Nguntoronadi untuk menghindari Gunung Pegat. Alasannya sama, mengikuti nasihat orang tua yang percaya akan mitos pisah tersebut.

Hingga saat ini, belum jelas sejak kapan mitos soal perceraian itu berkembang di masyarakat. Kendati demikian, ada yang percaya mitos tersebut lahir berkaitan dengan asal usul Gunung Pegat. Dahulu kala, ada dua gunung yang menyatu, tetapi kemudian terpisah karena ada pembangunan jalan.

‘Pegat’ dalam bahasa jawa artinya pisah. Orang Jawa kerap memakai kata ‘pegat’ untuk menjelaskan putus hubungan atau cerai.

Melacak keberadaan Mbah Glondor, sosok penunggu Gunung Pegat

Ada pula yang percaya bahwa pegatnya hubungan penganti baru berkaitan dengan sosok makhluk halus penunggu Gunung Pegat. Sosok tersebut bernama Mbah Glondor. Konon, Mbah Glondor meninggal dalam keadaan sakit hati setelah pasangannya meninggalkannya.

Dalam keadaan sakit hati ia berjanji akan menduda seumur hidup dan berikrar akan menghancurkan setiap kebahagiaan mereka yang melewati jalur Gunung Pegat. Mbah Glondor menjadi kambing hitam atas berbagai kecelakaan yang terjadi di jalur ini.

Warga setempat percaya kalau ia yang mengaburkan mengaburkan pikiran dan pandangan pengendara saat melihat jalan. Tikungan jalan menjadi kabur dan terlihat seperti jalan lurus. Terlepas dari mitos tersebut, jalur ini memiliki sejumlah tikungan tajam, tanjakan, turunan, dan minum lampu penerangan jalan.

Benarkah Harimau Jawa masih tersisa di Wonogiri?

Perihal mitos perceraian, warga Wonogiri, Klaten, Solo, bahkan Jogja barangkali sudah akrab. Namun, ada satu lagi kabar burung yang sempat menggegerkan warga setempat. Yakni mengenai kemunculan Harimau Jawa.

Sebagian warga percaya bahwa hewan yang telah dinyatakan punah pada 1980 International Union of Conservation for Nature (IUCN) masih ada di sekitar Gunung Pegat. Juru Kunci Gunung Pegat, pada 2018 silam, mengaku pernah beberapa kali menjumpai Harimau Jawa.

Menurutnya, harimau tersebut tinggal di tempat yang tinggi dan susah dijangkau. Dulu, sebelum ada jalan raya, harimau sering lewat tiap malam. Harimau tersebut tidak menyerang ternak warga, melainkan hewan-hewan di hutan, seperti kijang, kera, hingga ikan.

Suratno mengatakan kalau harimau jawa belum punah dan masih kerap terlihat di ‘Song Gogor’ yang berarti ‘gua anak macan’ atau ‘sarang macan’. Kendati demikian, pernyataan tersebut tidak sejalan dengan klaim Suharman, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Provinsi Jawa Tengah.

Suharman mengoreksi bahwa hewan yang Suratno dan warga lain saksikan di sekitar Gunung Pegat bukanlah harimau jawa, melainkan macan tutul jawa.

Penulis: Iradat Ungkai
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Menelusuri Jejak Masa Kecil Soeharto di Wonogiri
Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 24 September 2023 oleh

Tags: gunung pegatharimau jawamitos gunung pegatwonogiri
Iradat Ungkai

Iradat Ungkai

Kadang penulis, kadang sutradara, kadang aktor.

Artikel Terkait

Mie Gacoan, desa. MOJOK.CO

Makan Mie Gacoan adalah Kemewahan bagi Anak Muda Desa, Rela Motoran 2 Jam Demi Makanan yang “Menyiksa” Mulut Mereka

14 Juli 2026
pabrik semen, pracimantoro, wonogiri.MOJOK.CO

Babak Baru Perlawanan Warga Wonogiri Tolak Pabrik Semen di Pracimantoro, Bawa Ancaman Karst Gunungsewu ke Markas UNESCO

9 Juni 2026
slow living, desa, warga desa.MOJOK.CO

Warga Desa Sebenarnya Muak dengan Orang Kota yang Datang Buat Sok Slow Living: Arogan, Tak Membaur, Anggap Warga Asli Cuma “Figuran”

7 April 2026
Wonogiri Bukanlah Anak Tiri Surakarta, Kami Sama dan Punya Harga Diri yang Patut Dijaga

Wonogiri Bukanlah Anak Tiri Surakarta, Kami Sama dan Punya Harga Diri yang Patut Dijaga

1 Desember 2025
pabrik semen, pracimantoro, wonogiri.MOJOK.CO

Dari Panggung Rock in Solo untuk Pegunungan Sewu: Suara Musik Keras Menolak Pabrik Semen Pracimantoro

4 November 2025
Pasar Wonogiri Terbakar (Lagi): Memori Kelam Dua Dekade yang Lalu Terulang Kembali

Pasar Wonogiri Terbakar (Lagi): Memori Kelam Dua Dekade yang Lalu Terulang Kembali

6 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kebisingan-kebisingan di desa yang sebenarnya wajar tapi kini dipermasalahkan karena narasi desa sebagai tempat slow living ideal MOJOK.CO

Hal-hal Wajar di Desa Jadi Dianggap Mengganggu Gara-gara Narasi Slow Living, Padahal Jadi Bumbu Kehidupan

14 Agustus 2026
ilustrasi - PSEL DIY di dekat TPA Piyungan. MOJOK.CO

Pemda DIY Bakal Serap 1.000 Tenaga Kerja Khususnya Warlok untuk Olah Sampah Jadi Energi Listrik di Dekat TPA Piyungan

11 Agustus 2026
ngaji al-qur'an.MOJOK.CO

Promosi Miras Pakai Hafalan Al-Qur’an: Diklaim Lecehkan Agama, Berpotensi Mengulang Blunder Hollywings 

11 Agustus 2026
Alumnus Peternakan UMM Kerja Jadi Manager di Australia. MOJOK.CO

Dulu Kuliah Tanpa Punya Laptop, Alumnus UMM Ini Buktikan Bisa Kerja di Australia sebagai Manajer Peternakan

11 Agustus 2026
Mahasiswa baru (maba) rela jadi jongos abang-abangan kampus di organisasi mahasiswa ekstra (ormek) dan tidak pernah menyesalinya MOJOK.CO

Maba Rela Jadi Jongos Abang-abangan Kampus demi Relasi dan Diskusi Kiri Apa Salahnya? Tak Malu dan Tak Menyesalinya

13 Agustus 2026
Tinggal di Belanda 21 tahun, akhirnya menyerah jadi WNI dengan jalur naturalisasi kewarganegaraan. MOJOK.CO

Menyesal Jadi WNI Setelah 21 Tahun Tinggal di Belanda, Ternyata Pindah Kewarganegaraan Itu Mudah

14 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.