Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas Memori

Sejarah Jalur Pantura, Ada Sejak Mataram Islam yang Tumbalkan Nyawa Ribuan Pribumi di Masa Belanda

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
24 September 2023
A A
Sejarah Jalur Pantura, Ada Sejak Mataram Islam yang Tumbalkan Nyawa Ribuan Pribumi di Masa Belanda MOJOK.CO

Perbaikan di Jalur Pantura oleh Kementerian PU. (Instagram Kemenpupr)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Jalan Pantai Utara atau jalur Pantura masih jadi salah satu jalur utama yang menghubungkan kawasan di Pulau Jawa meski tol Trans Jawa sudah bereoperasi. Sejarah jalan ini sudah ada sejak masa Mataram Islam dan mengalami perbaikan saat pemerintahan kolonial Belanda.

Jalan Pantai Utara Jawa atau Pantura merupakan salah satu jalur yang menghubungkan Cilegon, Jakarta, Semarang, Surabaya, hingga Banyuwangi. Jalur ini menjadi andalan masyarakat, terutama para pemudik dari ibu kota ke penjuru Pulau Jawa.

Namun, siapa sangka jika Jalur Pantura ini sebenarnya sudah eksis sejak zaman Kerajaan Mataram Islam dan mendapat perbaikan pada era kolonialisme Hindia Belanda. Pembangunan jalan ini bahkan sampai menumbalkan ribuan nyawa pekerja pribumi.

Sudah ada sejak zaman Kerajaan Mataram Islam

Jalan Pantura sebenarnya sudah eksis sejak masa Kerajaan Mataram Islam. Namun, kala itu bentuknya masih berupa jalur kecil laiknya jalanan setapak. Pada masa ini, Jalan Pantura berfungsi untuk kepentingan diplomasi maupun konsolidasi kekuasaan keraton.

Sebagaimana dicatat Endah Sri Hartatik dalam bukunya, Dua Abad Jalan Raya Pantura (2018), jalan ini dipakai sebagai jalur penghubung untuk diplomasi antara Kerajaan Mataram dengan para utusan, baik dalam maupun luar negeri.

Misalnya, utusan VOC Hendrick de Haen pernah memakainya saat berkunjung ke Mataram pada 1621 untuk keperluan diplomasi. Menurut catatan Endah, bahwa Hendrick berangkat dari Batavia menuju Tegal menggunakan jalur laut, sementara perjalanan dari Tegal ke Mataram menggunakan jalur darat via Pantura.

“Dia menggunakan armada kuda untuk sampai ke Mataram […] Daerah pesisir tersebut kemudian secara bertahap jatuh ke tangan VOC sebagai imbalan atas bantuannya kepada raja-raja Mataram sepeninggal Sultan Agung,” tulis Endah, dikutip Sabtu (23/9/2023).

Jalan Pantura juga menjadi sarana konsolidasi kekuasaan. Melalui jalan ini, Mataram dapat mengontrol wilayah pesisir dengan cara menempatkan orang-orang kepercayaan keraton di sana.

“Dalam proses pengawasan ini, Mataram memerlukan sarana transportasi darat berupa jalan raya yang  menghubungkan Mataram dengan pesisir,” jelasnya.

Jalan Pantura yang masuk proyek ambisius Daendels

Jalan Pantura yang sudah eksis sejak zaman Mataram itu kemudian mengalami revitalisasi saat Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1808-1811) memimpin Hindia Belanda. Daendels punya “proyek raksasa” untuk membuat jalan sepanjang 1.000 kilometer dari Anyer, Banten hingga Panarukan, Jawa Timur yang diberi nama De Grote Postweg atau Jalan Raya Pos.

Oleh karena minimnya dana pembangunan, pada 5 Mei 1808 Daendels memutuskan, hanya akan membangun jalan dari Buitenzorg (Bogor) sampai Karangsamboeng, Cirebon, saja. Sisanya, ia menyerahkan pembangunan pada bupati-bupati setempat yang wilayahnya terkena proyek ini.

Jalan Pantura pun masuk ke dalam proyek ini. Berdasarkan catatan Endah, salah satu alasan Daendels menggunakan Jalan Pantura karena; pertama, jalurnya sudah terbentuk, dan yang kedua, Pantura merupakan tanah pemerintah, bukan milik vorstenlanden.

Puluhan ribu pekerja pribumi jadi tumbal pembangunan Jalan Pantura

Akhirnya, pada 8 Mei 1808 perintah pertama pun keluar. Residen Cirebon diperintahkan untuk membangun jalan dari Karangsamboeng hingga Wirosari. Kemudian Residen Pekalongan juga mendapat perintah serupa, dan wilayah-wilayah lain juga mengikutinya.

Dari sekian banyak jalur, perbaikan jalan yang paling sulit adalah rute antara Semarang dan Kudus. Sebab, wilayah ini tergenang air sehingga butuh sarana dan prasarana yang memungkinkan untuk menghindari genangan tersebut.

Iklan

Pembangunan Jalur Pantura atau Jalan Pantura ini ternyata menumbalkan ribuan jiwa pekerja. Pramoedya Ananta Toer dalam buku Jalan Raya Pos Jalan Raya Daendels menceritakan kondisi para pekerja pribumi yang tewas. Mereka menjadi tumbal agar keinginan Daendles lekas terwujud.

Para pekerja tewas karena kelelahan dan kena penyakit malaria lantaran iklim dan kondisi Jawa saat itu masih penuh rawa dan hutan

Awalnya cuma untuk pejabat dan bangsawan

Endah mencatat, pada awal masa Tanam Paksa, Jalan Pantura menjadi rute yang vital untuk menghubungkan tempat industri perkebunan yang dikembangkan, seperti gula dan kopi.

Jalur ini menjadi penghubung transportasi  wilayah sekitar pantai dan pedalaman. Caranya dengan menggunakan jalur yang lebih kecil berupa jalan desa, jalan kereta kuda, dan jalan setapak.

Namun, memang pada awal peresmiannya, hanya kelompok terentu yang bisa menikmati Jalan Pantura. Seperti kereta kuda milik pemerintah Hindia-Belanda atau kereta kuda milik bangsawan pribumi. Hingga akhirnya Surat Keputusan No. 4 tertanggal 19 Agustus 1857 menyebutkan masyarakat umum boleh melewati jalan ini.

Lebih dari dua abad kemudian, Jalan Pantura makin dikenal dan menjadi jalur andalan, terutama bagi para pemudik. Sejak 1980, tercatat jalan ini mulai ramai dengan lalu lalang kendaraan bermotor hingga mitos-mitos ganjil yang mengiringinya.

Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA RM Sari Rasa: Tempat Makan Terbesar di Pantura, Andalan Bus AKAP Kala Lapar Melanda

Cek berita dan artikel lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 24 September 2023 oleh

Tags: jalan panturajalur panturapantura
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Pengendara motor plat K ngga ngerti fungsi zebra cross, lampu, sein, hingga spion MOJOK.CO
Catatan

Pengendara Plat K Tak Paham Fungsi Zebra Cross-Spion, Cuma Jadi Pajangan dan Abaikan Keselamatan Orang saat Bawa Kendaraan

7 Maret 2026
Banjir di Muria Raya, Jawa Tengah. MOJOK.CO
Mendalam

Saat Warga Muria Raya Harus Kembali Akrab dengan Lumpur dan Janji Manis Awal Tahun 2026

20 Januari 2026
Ngerinya jalan raya Pantura Rembang di musim hujan MOJOK.CO
Catatan

Jalan Pantura Rembang di Musim Hujan adalah Petaka bagi Pengendara Motor, Keselamatan Terancam dari Banyak Sisi

12 Januari 2026
Rembang amat butuh kereta api karena perjalanan pakai bus di pantura amat menyiksa MOJOK.CO
Ragam

Rembang Sangat Butuh Kereta Api karena Perjalanan di Jalan Pantura Amat Menyiksa

19 November 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mudik Gratis dari BUMN 2026. MOJOK.CO

Mudik Gratis BUMN 2026: Hemat Rp600 Ribu dari Jakarta-Solo Tanpa Pusing Dana THR Berkurang

18 Maret 2026
Mahasiswa UGM hidup nomaden sambil kuliah di Jogja demi gelar sarjana

Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman

17 Maret 2026
Gaji Cuma 8 Juta di Jakarta Jaminan Derita, Tetap Miskin dan Stres MOJOK.CO

Kerja di Jakarta dengan Gaji Nanggung 8 Juta Adalah “Bunuh Diri” Paling Dicari karena Menetap di Kampung Bakal Tetap Nganggur dan Miskin

19 Maret 2026
Gen Z dapat THR saat Lebaran

3 Cara Gen Z Habiskan THR, padahal Belum Tentu Dikasih dan Jumlahnya Tidak Besar tapi Pasti Dibelanjakan

18 Maret 2026
Ada potensi anomali ketika wisata Jogja diserbu 8,2 juta wisatawan. Daya beli rendah, tapi ada ancaman masalah MOJOK.CO

Anomali Wisata Jogja saat Diserbu 8,2 Juta Wisatawan: Daya Beli Tak Mesti Tinggi, Tapi Masalah Membayangi

19 Maret 2026
Kuliner khas Minang, rendang, di rumah makan Padang di Jogja rasanya berubah jadi kuliner Jawa

Nasi Padang Versi Jogja “Aneh” di Lidah, Makan Rendang Tanpa Cita Rasa Gurih dan Asin karena Dominasi Kuliner Manis Jawa

16 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.