Indonesia Negara Asia Kedua yang Punya Jalur Kereta Api, Pertama Kali Dibangun di Semarang

Indonesia Negara Asia Kedua yang Punya Jalur Kereta Api, Pertama Kali Dibangun di Semarang. Ada hal unik di Stasiun ini salah satunya adalah tugu peringatan dengan tulisan “Di Bumi iniliah kita bermula” sebagai pegingat sejarah bermulanya kereta api di Indonesia MOJOK.CO

Stasiun Tanggung terletak di Daerah Operasi IV Semarang. Stasiun Tanggung yang mulai dibangun tahun 1864 dan dibangun ulang pada tahun 1910. (PT KAI)

MOJOK.COIndonesia merupakan negara Asia kedua yang punya jaringan rel Kereta Api (KA) setelah India. Jalur kereta api pertama kali dibikin di Semarang pada masa pemerintah kolonial Hindia Belanda. 

Imam Subarkah dalam bukunya Sekilas 125 Tahun Kereta Api Kita 1867-1992 (1987) menuliskan beberapa alasan mengapa ide kereta api muncul di Semarang, dan bukan di Batavia maupun Buitenzorg (Bogor).

Kata dia, kala itu Jalan Raya Pos yang menghubungkan Batavia, Buitenzorg, hingga Cirebon dianggap sudah cukup optimal.

Sementara jalur darat dari Semarang ke arah selatan, seperti Yogyakarta dan Surakarta (Vorstenlanden) masih berupa jalan arteri pedalaman. Padahal, wilayah selatan merupakan titik vital perekonomian dan militer.

Berawal dari keresahan itu, maka muncullah ide untuk membangun jalur kereta api yang mulai dari Semarang.

Jalur kereta api pertama 

Ide untuk membangun jaringan rel kereta api pertama kali muncul pada 1840-an. Sejak berakhirnya Perang Jawa pada 1830, situasi Jawa bagian selatan mulai kondusif dan berkembang menjadi titik vital bagi perekonomian. 

Menurut Suhartono W. Pranoto dalam Apanage dan Bekel (1991), ide tersebut mendapat sambutan positif dari para pengusaha di Semarang. Sebab, kereta api bakal membuat komoditas unggulan dari dan ke Vorstenlanden seperti kapas, bawang, dan jagung menjadi lancar, lebih murah ongkos angkut, dan produk tidak banyak rusak. 

Perlu diketahui, selama ini produk-produk dari Vorstenlanden diangkut ke Semarang via dua jalur. Yakni jalur air melalui Bengawan Solo, memutar dulu ke Gresik–hanya melayani lima bulan dalam setahun, dan jalur darat melalui pegunungan terjal.

Akhirnya, atas seizin pemerintah, para pengusaha swasta mendirikan perusahaan bernama Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) pada 1862. NISM boleh kata sebagai pelopor perusahaan kereta api di Hindia Belanda.

Dua tahun berselang, tepatnya pada 17 Juni 1864, jalur pertama kereta api di Hindia Belanda berdiri di Desa Kemijen oleh Gubernur Jendral Hindia Belanda, LAJ Baron Sloet van de Beele. Jalur kereta api tersebut memanjang di Semarang ke Vorstenlanden (Solo-Yogyakarta).

Jalur KA Semarang alami perkembangan pesat

Perlahan, pembangunan jalur KA mengalami progres. Pada 10 Agustus 1867, ruas Semarang-Tanggoeng (Kedu) sepanjang 27 kilometer beroperasi untuk pertama kalinya. 

Ini merupakan jalur pertama yang beroperasi dalam sejarah perkeretaapian di Indonesia. Sementara Stasiun NIS di Tambaksari merupakan stasiun pertama yang mulai beroperasi.

Meski rute ini pendek, ia telah berhasil mengakomodasi arus komoditas dari timur dan selatan Semarang menuju Pelabuhan Semarang.

Adanya Stasiun Tanggung, yang pembangunannya setelah Stasiun NIS, mengubah jalur menjadi lebih efektif. Sebelumnya, jalur dari selatan (Yogyakarta dan Surakarta) harus melalui jalur pegunungan yang terjal (Salatiga dan Ambarawa), kini perjalanan bisa langsung menuju ke Tanggung tanpa hambatan lagi.

Setelah itu, jalur lain satu per satu mulai rampung. Rute Semarang-Ambarawa rampung pada 1873; di selatan, jalur Yogyakarta-Magelang selesai pada 1898, disambung ke Secang pada 1903, dan pada 1905 jalur Secang-Ambarawa juga rampung. Dengan demikian, pada 1905 Yogyakarta dan Semarang sudah tersambung oleh jalur kereta api.

Menginspirasi wilayah lain

Keberhasilan NISM dalam membikin jalur Semarang-Vorstenlanden pada akhirnya mendorong investor swasta lain untuk membangun jalur kereta api di tempat lain.

Maka, muncullah belasan perusahaan kereta api lain seperti Semarang Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS), Serajoedal Stoomtram Maatschappij (SDS), Oost Java Stoomtram Maatschappij (OJS), Pasoeroean Stoomtram Maatschappij (Ps.SM), Kediri Stoomtram Maatschappij (KSM), dan lain sebagainya.

Sejak awal abad ke-20, wilayah-wilayah di luar Jawa juga mulai membangun jalur kereta api. Bahkan, hingga akhir 1928, panjang jalan kereta api di seluruh Hindia Belanda mencapai 7.464 km. Rinciannya, 4.089 km milik pemerintah dan 3.375 km punya perusahaan swasta.

Setelah Hindia Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang pada 1942, perusahaan-perusahaan KA diambil alih dan Jepang mengganti namanya menjadi Rikuyu Sokyoku (Dinas Kereta Api).

Sementara setelah Indonesia merdeka, stasiun dan kantor pusat KA menjadi milik republik. Kini, seluruh stasiun dan kantor KA di Indonesia berada di bawah naungan perusahaan BUMN PT KAI (Persero).

Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA KA Argo Wilis: Terinspirasi dari Nama Gunung Api Jawa, Penghubung Bandung-Surabaya

Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

 

Exit mobile version