Pemilik bisnis yang rutin membuat konten di media sosial belum tentu hasilnya sesuai harapan. Sebab masalahnya bukan ada pada rutin/tidaknya ngonten.
***
Ada fase ketika pemilik bisnis merasa sudah melakukan semua yang disarankan internet. Instagram sudah dibuat, foto produk sudah diunggah, caption sudah dipikirkan, bahkan kalender konten sudah disusun. Tetapi setelah beberapa bulan, pertanyaannya tetap sama: kok yang lihat masih itu-itu saja? Yang rajin memberikan like kadang justru teman sendiri, mantan rekan kerja, atau akun yang entah kenapa selalu muncul di setiap postingan. Sementara calon pelanggan justru tidak kunjung kelihatan hilalnya.
Situasi seperti ini cukup sering ditemui di Digibos. Pemilik bisnis sebenarnya sudah berusaha aktif di media sosial, tetapi hasilnya belum sesuai harapan. Persoalannya sering kali bukan karena kurang rajin membuat konten, melainkan karena ada bagian lain yang belum berjalan dengan baik, mulai dari perencanaan konten, pengelolaan akun, sampai bagaimana konten menjangkau orang yang berpotensi menjadi pelanggan.
Rajin Posting Tidak Sama dengan Punya Strategi
Salah satu jebakan yang cukup umum adalah menganggap konsistensi sebagai strategi. Posting setiap hari memang lebih baik daripada akun yang hanya muncul sebulan sekali.
Namun, konsisten mengunggah konten tidak otomatis membuat orang memahami apa yang dijual sebuah bisnis. Hari ini posting promo, besok membuat quote, lusa mengunggah foto produk, minggu berikutnya ikut tren yang sedang ramai. Semuanya terlihat aktif, tetapi orang baru belum tentu langsung paham bisnis tersebut sebenarnya ingin dikenal sebagai apa.
Media sosial bukan cuma soal seberapa sering sebuah bisnis muncul di layar. Ada pesan yang perlu dibangun supaya orang punya alasan untuk memperhatikan, mengingat, lalu kembali ketika membutuhkan produk atau layanan tersebut. Konten perlu punya tujuan dan saling mendukung, sementara pengelolaan akun juga perlu memperhatikan respons audiens dan performanya.
Kalau semua aktivitas hanya dilakukan untuk menjaga akun tetap terlihat aktif, bisnis bisa saja terlihat rajin tetapi belum tentu semakin dekat dengan calon pelanggan.
Konten Bagus Bisa Saja Tetap Sepi
Ada anggapan bahwa kalau kontennya bagus, orang akan datang dengan sendirinya. Sayangnya, internet tidak sesederhana itu. Sebuah konten bisa informatif dan menarik, tetapi tetap tenggelam di antara ribuan unggahan lain.
Setelah konten dipublikasikan, masih ada pekerjaan untuk melihat respons audiens, mengetahui konten mana yang menarik perhatian, dan menggunakan data tersebut untuk menentukan apa yang sebaiknya dibuat berikutnya.
Masalahnya, tidak semua pemilik bisnis punya waktu untuk mengurus seluruh proses tersebut. Ada operasional yang harus dijalankan, pelanggan yang harus dilayani, sampai urusan administrasi yang tidak bisa ditinggalkan. Media sosial akhirnya dikerjakan ketika ada waktu luang.
Untuk kondisi seperti ini, pengelolaan oleh pihak yang fokus pada aktivitas digital bisa menjadi pilihan. Digibos, misalnya, menyediakan Jasa Kelola Media Sosial untuk membantu bisnis merencanakan dan menjaga aktivitas media sosial agar tetap berjalan lebih terarah.
Lalu, Bagaimana Kalau Kontennya Sudah Bagus tapi Tetap Tidak Banyak Dilihat?
Di titik ini, persoalannya bisa bergeser dari produksi konten ke distribusi. Konten organik tetap penting, tetapi jangkauannya memiliki batas. Pasalnya, tidak semua calon pelanggan sudah mengikuti akun bisnis, tidak semua pengikut sedang membuka media sosial ketika konten dipublikasikan, dan tidak semua konten bagus otomatis mendapatkan jangkauan luas.
Karena itu, iklan digital dapat menjadi salah satu cara mengatasinya.
Platform seperti Meta memungkinkan bisnis menentukan audiens berdasarkan karakteristik dan tujuan kampanye. Namun, menjalankan iklan bukan sekadar memilih postingan lalu menekan tombol promosi. Ada tujuan, audiens, materi iklan, anggaran, serta hasil yang perlu diperhatikan.
Ketika bisnis membutuhkan bantuan untuk mengelola bagian ini, layanan seperti Jasa Iklan Meta Ads dapat membantu merancang dan menjalankan kampanye secara lebih terarah.
Yang perlu diingat, iklan bukan jalan pintas agar konten yang sepi mendadak ramai. Kalau pesan konten tidak jelas atau target audiensnya keliru, menambah anggaran belum tentu menyelesaikan masalah. Sebaliknya, ketika konten, target audiens, tujuan kampanye, dan evaluasi berjalan dalam satu arah, iklan bisa membantu membawa pesan bisnis kepada orang yang lebih relevan.
Media Sosial Tidak Harus Selalu Jualan
Ada hal lain yang sering membuat bisnis salah memasang ekspektasi terhadap media sosial: menganggap setiap postingan harus menghasilkan penjualan. Padahal perjalanan seseorang dari melihat konten sampai akhirnya membeli bisa jauh lebih panjang. Seseorang mungkin pertama kali menemukan sebuah bisnis lewat video pendek, beberapa hari kemudian membuka profilnya, lalu minggu berikutnya melihat konten lain. Setelah merasa cukup percaya, barulah ia bertanya soal harga atau produk.
Media sosial juga punya fungsi untuk membangun pengenalan dan kepercayaan. Konten yang menjelaskan masalah pelanggan, menunjukkan cara kerja produk, menjawab pertanyaan yang sering muncul, atau membagikan informasi yang berguna bagi audiens tetap punya nilai. Dari kumpulan konten semacam itulah orang perlahan mengenal sebuah brand.
Konten organik dan iklan pun bisa menjalankan fungsi berbeda: konten membangun komunikasi dan identitas bisnis, sedangkan iklan dapat digunakan ketika bisnis membutuhkan jangkauan lebih luas atau ingin menyasar audiens tertentu.
Jadi, Bukan Berarti Harus Posting Lebih Banyak
Ketika sebuah akun bisnis sepi, solusi yang paling mudah memang menambah frekuensi posting. Dari tiga kali seminggu menjadi lima kali, lalu mungkin setiap hari. Padahal bisa saja masalahnya bukan jumlah konten. Yang perlu ditanyakan justru apakah kontennya ditujukan kepada orang yang tepat, apakah akun tersebut dikelola dengan konsisten, apakah ada cara untuk memperluas jangkauannya, dan apakah data dari aktivitas sebelumnya digunakan untuk menentukan langkah berikutnya.
Kalau pertanyaan-pertanyaan itu belum terjawab, menambah jumlah postingan mungkin hanya membuat kalender konten semakin penuh tanpa membuat bisnis semakin dikenal. Sebab, media sosial bukan perlombaan siapa yang paling sering muncul di layar.
Bisnis yang ingin tumbuh perlu memikirkan keseluruhan prosesnya: membuat konten yang punya alasan untuk dilihat, mengelola hubungan dengan audiens, memahami hasil aktivitas yang sudah dilakukan, lalu memastikan konten tersebut menemukan orang yang memang berpotensi membutuhkannya.
Jadi, ketika konten sudah rutin tetapi bisnis belum juga dikenal banyak orang, mungkin yang perlu diperbaiki bukan seberapa sering kita posting, melainkan bagaimana seluruh aktivitas digital tersebut bekerja sebagai satu strategi. Karena kadang masalahnya bukan bisnis kita kurang rajin posting. Bisa jadi, kita cuma terlalu sibuk membuat konten sampai lupa memikirkan siapa yang sebenarnya sedang kita ajak bicara.***(Adv)
BACA JUGA: Membaca Peluang Ekonomi di Tengah Pertumbuhan Transaksi Digital, AstraPay Berkomitmen Bantu Tingkatkan Daya Saing UMKM atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan