Kemunculan Bahasa Campuran dan Bentuk Kekerasan Simbolik

Bahasa Campuran, Kemunculan dan Bentuk Kekerasan Simbolik Mojok.co

Tim PKM UGM Riset Sosial Humaniora (ugm.ac.id)

MOJOK.COBahasa campuran Indonesia-Inggris (Indogish) atau yang juga dikenal dengan “bahasa Jaksel” marak digunakan dan mendominasi percakapan generasi muda saat ini. Menariknya, dinamika penggunaan bahasa dapat menjadi indikator dominasi budaya tertentu atas budaya lain dalam masyarakat.

Hal ini disadari oleh Doni Andika Pradana, Wahida Okta Khoirunnisa, Danu Saifulloh Rahmadani, Della Ayu Banon Rekno Habsari, dan Zania Mashuro. Mahasiswa UGM yang tergabung dalam Tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) UGM Riset Sosial Humaniora itu melakukan penelitian terhadap fenomena penggunaan gaya bahasa campuran yang banyak digunakan oleh mahasiswa di Yogyakarta akhir-akhir ini.

“Kami melakukan penelitian selama empat bulan dengan judul Kekerasan Simbolik pada Penggunaan Bahasa Campuran dan Implikasinya pada Identitas Budaya,” ujar Doni di Kampus UGM, Senin (5/9/2022).

Untuk menyelidiki fenomena secara komprehensif, tim menggunakan perspektif indisipliner, yaitu filsafat dan sastra Indonesia. Penelitian berupaya menyelidiki fenomena penggunaan gaya bahasa campuran secara radikal melalui perspektif filsafat postmodernisme, apakah “bahasa Jaksel” mengindikasikan adanya dominasi budaya tertentu dalam hal ini adanya kekerasan simbolik. Sementara dari sisi sastra Indonesia, berupaya untuk menyelidiki secara komprehensif mengenai faktor penyebab maraknya fenomena ini.

Kekerasan Simbolik

Pada dasarnya, maraknya penggunaan bahasa campuran Indonesia-Inggris di kalangan mahasiswa dipengaruhi oleh beberapa hal, salah satunya karena bahasa campuran dipandang lebih komunikatif. Selain itu, bahasa ini terlihat keren dan prestisius dan memiliki daya pengaruh yang lebih untuk mengarahkan pemahaman lawan bicara.

Pengguna bahasa campuran Indonesia-Inggris rata-rata berasal dari kalangan tertentu, misalnya mahasiswa yang berasal dari kota-kota besar atau mahasiswa dengan status ekonomi tinggi dan memiliki akses yang lebih dalam pendidikan terhadap penguasaan bahasa.

“Bahkan para pengguna gaya bahasa campuran ini memiliki kelompok atau komunitas tertentu yang tentunya berasal dari latar belakang yang sama,” jelas Wahida.

Berdasarkan data yang dikumpulkan, terlihat suatu persoalan ketika seseorang menggunakan bahasa tertentu lalu menerapkannya pada situasi dan kondisi sistem bahasa yang berbeda. Hal itu sebenarnya telah menunjukkan bahwa kuasa struktur bahasa telah bekerja dan tumbuh dalam diri pengguna serta merepresentasikan kuasa bahasa mana yang melekat dalam diri, khususnya kelas sosial.

Dengan kata lain, penggunaan gaya bahasa campuran Indonesia-Inggris dalam arti dan situasi tertentu mampu menginklusi seseorang pada kelompok tertentu dan membedakan seseorang dari kelompok lain.

“Hal inilah yang kemudian dipahami sebagai kekerasan simbolik,” imbuh Ayu.

Khawatir mengancam eksistensi bahasa Indonesia

Penelitian itu juga menjelaskan, penggunaan gaya bahasa campuran dikhawatirkan akan mengancam eksistensi bahasa Indonesia sebagai identitas budaya bangsa. Penggunaan gaya bahasa campuran secara lisan lambat laun akan memengaruhi bahasa tulis yang berkembang.

Kompleksitas gaya “bahasa Jaksel” di satu sisi merupakan gaya bahasa yang komunikatif, tetapi di sisi lain penggunaan bahasa campuran menandakan kusutnya pikiran si penutur dan ketidakmampuan dalam menyusun kalimat. Bahkan, mengandung unsur kekerasan secara simbolik dan dapat mengancam eksistensi bahasa Indonesia sebagai identitas budaya nasional.

“Karenanya diperlukan upaya untuk mengantisipasi dampak buruk dari adanya gaya bahasa campuran,” jelas Ayu lagi.

Tim penelitian melihat itu melihat berbagai pihak perlu terlibat. Diantaranya penamaan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) dalam pendidikan perlu digencarkan, Balai Bahasa harus menguatkan dan menggelorakan lagi sikap cinta bahasa Indonesia, dan para akademisi perlu melakukan kajian yang lebih komprehensif mengenai bahasa dan identitas budaya. Tak kalah penting, masyarakat harus senantiasa membiasakan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Sumber: ugm.ac.id
Penulis: Kenia Intan

BACA JUGA Kata Paling Indah dalam Bahasa Indonesia

Exit mobile version