Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas Hiburan

Tak Pahami Pentingnya Investasi, Sineas Film Lokal Minim Punya IP

Yvesta Ayu oleh Yvesta Ayu
21 Desember 2022
A A
intellectual property mojok.co

Sutradara Hanung Bramantyo dan Djenar Maesa Ayudalam diskusi bertema 'Disrupsi teknologi terhadap dunia perfilman lokal' di JNM, Selasa (20/12/2022).(yvesta ayu/mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Sutradara Hanung Bramantyo mengungkapkan, kepemilikan Intellectual property (IP) atau kekayaan intelektual sangat penting di era digital saat ini. Namun sayangnya tak banyak sineas film yang memiliki kesadaran untuk berinvestasi melalui IP.

Bagi sineas film, IP menjadi penting karena fungsinya sebagai sarana untuk menjaga identitas karya. Selain itu, kepemilikan IP juga dapat membantu mengembangkan bisnis dan investasi, serta dapat menjaga reputasi.

“Saat ini banyak sineas yang kurang berani mengambil risiko berupa investasi ke karya dan kalah dengan pemodal,” ungkap Hanung dalam diskusi bertema ‘Disrupsi teknologi terhadap dunia perfilman lokal’ di Jogja National Museum (JNM), Selasa (20/12/2022).

Menurut Hanung, ketika sineas film ditantang berinvestasi untuk Intellectual Property, mereka lebih memilih mundur. Investasi karya melalui IP belum dianggap penting karena terlalu berisiko, terutama dalam hal finansial.

Sementara proses untuk membuat sebuah karya, terutama film membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Namun ketika para sineas diminta menginvestasikan IP dengan harga yang tinggi, mereka memilih menyerahkan karyanya pada para pemodal.

“Tapi ketika disuruh [punya] bargaining (posisi tawar-red), kamu [sineas] mau tidak all out juga, keluar duit di sini, ini pada tidak mau. Jadi akhirnya [pemodal]  yang [mau] berisiko. [Contohnya] kalau [investasi] film bisa Rp40 miliar, sineas jiper kalau dibagi 50-50 dengan pemodal, akhirnya [pemodal] beli putus [karyanya],” tandasnya.

Persoalan ini, lanjutnya membuat kepemilikan IP bukan punya kreator. Namun para pemilik modal yang berani kehilangan uang untuk sebuah produk, seperti penyedia platform digital streaming.

“Rata-rata pemilik IP itu sebetulnya bukan kreator, dia hanya punya mental pemberani aja, risiko. Risiko uang saya bakal hilang Rp200 juta atau Rp20 miliar untuk membuat sebuah produk. Sesimpel itu dan kita mau tidak seperti itu,” tandasnya.

Karena itu, Hanung berharap pemerintah, termasuk di tingkat daerah bisa memberikan dukungan bagi para sineas lokal untuk berinvestasi pada IP. Di Yogyakarta misalnya, Pemda DIY bisa memanfaatkan dana keistimewaan (danais) untuk membantu para sineas lokal.

Sebab dari pengalaman pembuatan film pendek “Tilik” yang fenomenal dan sudah ditonton lebih dari 27, 5 juta orang, karya sineas lokal Yogyakarta tak kalah berkualitas dibandingkan karya sineas luar negeri.

“Dengan banyaknya pembuatan film pendek, saat ini yang dibutuhkan adalah platformnya dan dukungan dari pemerintah, bisa lewat danais kalau melihat fenomena film tilik,” tandasnya.

Sementara penulis dan sutradara Djenar Maesa Ayu mengungkapkan keberadaan platform digital berbayar yang menyediakan konten-konten tentang film menjadi sangat penting untuk mewadahi karya sineas dan seniman untuk berkarya. Sebab tidak semua sineas, kreator ataupun seniman memiliki wadah untuk berkarya.

“Dahulu, ada gedung film tapi terkadang film yang dibuat oleh sineas tidak bisa tayang karena tidak punya nilai jual. Gedung film juga tidak bisa menayangkan film independen. Nah ketika ada platform atau wadah maka semakin mudah sineas untuk berkarya,” ungkapnya.

Dengan adanya wadah yang mempertemukan film dengan penontonnya maka nantinya akan terbentuk pasar sendiri. Beragam pilihan tayangan film dari sineas pun akan menghilangkan monopoli dari para pemodal besar.

Iklan

“Saya itu main film bayaran untuk membuat film dan kini semakin banyak wadah yang bisa digunakan oleh sineas untuk memperkenalkan karyanya dan tidak ada monopoli dalam menayangkan film,” imbuhnya.

Reporter: Yvesta Ayu
Editor: Purnawan Setyo Adi

BACA JUGA Platform TV Streaming Didominasi Drakor, Sineas Lokal Tak Terwadahi

Terakhir diperbarui pada 21 Desember 2022 oleh

Tags: film indonesiaintellectual propertykekayaan intelektualsutradara
Yvesta Ayu

Yvesta Ayu

Jurnalis lepas, tinggal di Jogja.

Artikel Terkait

Film Tukar Takdir Nggak Sekadar Adegan Mesra Nicholas Saputra dan Adhisty Zara dalam Mobil! Mojok.co
Pojokan

Film Tukar Takdir Nggak Sekadar Adegan Mesra Nicholas Saputra dan Adhisty Zara!

8 Oktober 2025
Pabrik Gula lempeng. MOJOK.CO
Ragam

Mengulik Kejadian Nyata dari Pabrik Gula, Film Horor yang Alur Ceritanya “Lempeng-lempeng” Saja

7 April 2025
Review film Indonesia terbaru, Cinta Tak Pernah Tepat Waktu garapan Hanung Bramantyo adaptasi novel laris Puthut EA (MOJOK.CO)
Catatan

Membedah Isi Kepala Laki-laki yang Selalu Bilang “Belum Siap” kalau Diajak Nikah

15 Februari 2025
Menyoal film dan series Indonesia yang kental adegan panas MOJOK.CO
Mendalam

Film dan Series Indonesia Isinya Selalu Adegan Panas nan Erotis, Tapi Itu Bukan Berarti Mesum

9 Januari 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

OTT Wali Kota Madiun

Warga Madiun Dipaksa Elus Dada: Kotanya Makin Cantik, tapi Integritas Pejabatnya Ternyata Bejat

20 Januari 2026
sate taichan.MOJOK.CO

Menurut Keyakinan Saya, Sate Taichan di Senayan adalah Makanan Paling Nanggung: Tidak Begitu Buruk, tapi Juga Jauh dari Kesan Enak

20 Januari 2026
Kalau Bobby di Buku Karya Aurelie Mooremans Iblis, Kita Tenang. Masalahnya, Dia Manusia MOJOK.CO

Broken Strings Karya Aurelie Moeremans: Kalau Bobby Iblis Kita Tenang. Masalahnya, Dia Manusia

21 Januari 2026
Gotong royong atasi tumpukan sampah Kota Semarang MOJOK.CO

Gotong Royong, Jalan Atasi Sampah Menumpuk di Banyak Titik Kota Semarang

16 Januari 2026
Momen haru saat pengukuhan Zainal Arifin Mochtar (Uceng) sebagai Guru Besar di Balai Senat UGM MOJOK.CO

Bagi Zainal Arifin Mochtar (Uceng) Guru Besar hanya Soal Administratif: Tentang Sikap, Janji pada Ayah, dan Love Language Istri

16 Januari 2026
Zainal Arifin Mochtar Bukan Guru Besar Biasa!

Zainal Arifin Mochtar Bukan Guru Besar Biasa!

21 Januari 2026

Video Terbaru

Zainal Arifin Mochtar Bukan Guru Besar Biasa!

Zainal Arifin Mochtar Bukan Guru Besar Biasa!

21 Januari 2026
Menjemput Air dari Gua Jomblang dan Menata Ulang Hidup di Gendayakan

Menjemput Air dari Gua Jomblang dan Menata Ulang Hidup di Gendayakan

20 Januari 2026
Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Air dari Perut Bumi: Gua Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayakan

18 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.