Sejarah Bethesda, Rumah Sakit yang Dikelilingi Kuliner Lezat

Sejarah Bethesda, Rumah Sakit yang Dikelilingi Kuliner Lezat MOJOK.CO

Sejarah Bethesda, Rumah Sakit yang Dikelilingi Kuliner Lezat (kemdikbud.go.id)

MOJOK.CO Bethesda tidak pernah sepi. Rumah sakit tertua di Jogja itu selalu dikunjungi banyak orang baik untuk periksa, menjenguk, maupun mencicipi kuliner yang ada di sekitarnya. 

Bethesda bukan sekadar rumah sakit. Bagi saya, Bethesda yang terletak di Jalan Jenderal Sudirman menjadi salah satu destinasi kuliner tidak halal favorit yang ada di Jogja. Salah satu warung di kantin Rumah Sakit Bethesda menjajakan bakso babi terkenal. Pedagang bakso itu sudah berjualan di kantin Bethesda sejak 1980-an, saat ibu saya masih duduk di bangku SMA dan sering jajan di sana.

Bagi yang mencari kuliner halal, biasanya mereka akan mengunjungi Bakso Bethesda 74 di sisi barat rumah sakit. Penjual bakso yang kerap disalahpahami sebagai bakso babi itu berdiri sejak 1974, tidak kalah legendaris.

Bicara soal tenda kaki lima, orang yang lama tinggal di Jogja mungkin lebih akrab dengan warung-warung di trotoar sisi utara rumah sakit. Tentu saja sebelum mengalami penertiban pada 2021. Selain itu, pedagang kaki lima di sisi timur Bethesda atau di trotoar menuju Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) juga tidak pernah sepi.

Di sekitar sana memang banyak pilihan kuliner. Penjaja makanan hadir untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar. Selain pemukiman, daerah itu lumayan ramai oleh pekerja toko-toko di Jalan Solo, mahasiswa UKDW maupun STIKES Bethesda. Tidak terkecuali mereka yang berkunjung ke rumah sakit. Bethesda yang sudah puluhan tahun hadir di Jogja merupakan salah satu rumah sakit andalan yang jarang sekali sepi. Rasa percaya warga terhadap Bethesda tumbuh atas rekam jejak yang sudah melayani selama puluhan tahun.

Cikal bakal Bethesda sejak zaman Belanda

Rumah sakit Bethesda secara resmi berdiri pada 28 Juni 1950 alias 73 tahun yang lalu. Namun, cikal bakal rumah sakit di bawah naungan Yayasan Kristen Untuk Kesehatan Umum (YAKKUM) itu sudah ada sejak zaman Hindia Belanda. Bahkan, Bethesda dibangun sebelum kawasan permukiman Kota Baru ada.

Tidak heran, kesan bangunan lawas khas Belanda begitu terasa saat masuk ke kompleks rumah sakit. Beberapa kekhasan yang terlihat seperti jendela-jendela yang besar, banyaknya ventilasi udara, dan penggunaan rubble wall atau batu alam pada permukaan dinding dari dasar kaki bangunan sampai batas ambang bawah jendela. Istilah arsitekturnya, gaya indis.

Saat awal berdiri, rumah sakit ini berdaya tampung 150 pasien. Rumah sakit itu memiliki 5 ruang rawat inap, 3 untuk pria dan 2 untuk wanita, ruang operasi, apotek, kamar mandi, gudang, dan dapur. Rumah sakit juga dilengkapi dengan kediaman dua kepala perawat yang datang dari Belanda, satu rumah untuk dokter pertama dan keluarganya, dan rumah untuk dokter kedua. Terdapat gereja kecil dan pastoran di dalam sana.

Berdiri di atas tanah Keraton

Bangunan lawas Bethesda berdiri berkat seorang dokter bernama Jan Gerrit Scheuer. Pada 1897, lembaga zending bernama Hollandsch Gereformerde Zendingvereeniging mengirim dr.Scheuer untuk membuka rumah sakit. Dokter asal Belanda itu awalnya membuka klinik sederhana di Bintaran. Namun, kliniknya dirasa kurang memadai karena jumlah pasien yang terus bertambah.

Akhirnya, pada 1900, Sultan Hamengkubuwono VII memberikan tanah di Gondokusuman, Yogyakarta untuk dibangun kompleks rumah sakit. Saat awal berdiri, rumah sakit itu bernama Rumah Sakit Petronella atau Zendingziekenhuis Petronella. Namanya diambil dari istri pendeta Coeverden Adriani, donatur utama pembangunan, yang sudah meninggal. Masyarakat pada waktu itu lebih mengenal Rumah Sakit Petronella dengan nama Dokter Pitulungan atau Dokter Tulung.

Memasuki masa pendudukan Jepang, rumah sakit ini mengalami perubahan nama menjadi Jogjakarta Tjuo Bjoin. Selepas penjajahan Jepang, rumah sakit ini bernama bernama Roemah Sakit Poesat. Kemudian berubah nama menjadi RS Bethesda pada 28 Juni 1950. Melihat nilai bangunannya yang menyimpan cerita dan nilai sejarah, gedung Bethesda lawas menjadi Cagar Budaya Nasional Kategori Bangunan di Indonesia.

Penulis: Kenia Intan
Editor: Purnawan Setyo Adi

BACA JUGA 4 Rumah Sakit Indonesia Masuk Jajaran Global Top 250 Hospitals, Ada yang dari Jogja
Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

Exit mobile version