Alasan Intel Pakai Sandi Polisi ‘Kijang 1’ Ternyata Sesederhana Itu

Dan ternyata makna sandi "kijang 1" dan "kijang 2" nggak seperti yang kamu kira.

Alasan Intel Pakai Sandi Polisi ‘Kijang 1’ Ternyata Sesederhana Itu mojok.co

MOJOK.COSandi polisi “kijang 1” identik banget dengan intel lapangan yang nyambi tukang nasi goreng. Mojok insya Allah adalah media pertama yang mempertanyakan: mengapa kijang?

Ada tiga ciri stereotipikal intel polisi di Indonesia. Satu, biasanya nyamar jadi tukang nasi goreng atau pedagang bakso, tapi masakannya nggak enak. Dua, penyamarannya bisa dikenali lewat HT yang ia bawa. Tiga, para intel akan saling memanggil satu sama lain dengan sandi polisi “kijang satu” dan “kijang dua”. Bonus: kadang juga dikenali karena memakai sepatu PDL dan rambutnya cepak, nggak match sama sekali dengan kaus kusam dan handuk keringat ala pedagang nasgornya.

Di antara sekian stereotip itu, satu yang bikin Mojok penasaran, kenapa sandi polisinya mesti pakai kata kijang sih? Kenapa bukan macan, misalnya, hewan yang bisa ditemukan di Indonesia, terkenal gesit dan presisi (salam!), serta sabar mengintai mangsanya? Atau kenapa bukan elang, hewan yang juga bisa ditemukan di Indonesia, predator di puncak rantai makanan, dan pernah dibikinin lagu sama Dewa 19?

Dibandingkan sifat-sifat elang dan macan, kijang justru kebanting. Hewan ini memang dikenal cantik karena berbadan ramping, wajahnya imut, serta terkesan ramah karena cuma makan rumput. Tapi di alam liar, kijang justru identik dengan target yang lemah dan malah jadi mangsa predator lain. Kalau lagi ngantre dokter dan terpaksa nonton acara alam liar dengan suara di-mute, pastilah kalian menyaksikan detik-detik kijang diterkam singa dan bukan sebaliknya kan?

Oleh karena itu, patutlah kita mempertanyakan, apa arti sandi polisi kijang satu-kijang dua itu? Kenapa nama kijang yang dipakai? Apa filosofi di baliknya?

Kalian bisa menjelajahi internet untuk mencari jawabannya. Di Quora, seorang pelajar Aliyah bilang sandi kijang adalah istilah intel polisi untuk menyebut target. Ia menyebut, kijang adalah kependekan anak kijang, yang berarti tersangka. Sebuah artikel di Matra juga menyebut makna yang sama. Sekilas masuk akal, mengibaratkan target sebagai kijang, tetapi ada yang aneh. Jika kalimat lengkapnya adalah “Kijang satu, ganti”, bukankah justru kata kijang itu merujuk kepada orang yang berbicara lewat HT alias si intel polisi sendiri?

Waktunya bertanya kepada orang yang lebih tahu. Masalah ini kami kemukakan kepada Kardono Setyorakhmadi, mantan wartawan kriminal yang sering nongkrong di kantor polisi dan karena itu, banyak tahu seluk-beluk dunia Korps Bhayangkara. Kardono juga kerap meliput terorisme, kisah (ternyata) kocaknya bisa disimak di PutCast ini.

Kardono cepat tanggap menjawab pertanyaan Mojok. Ia mengaku pernah menanyakan soal asal-usul sandi kijang itu kepada polisi langsung. Jawabannya, “Karena (kijang) hewan yang paling top of mind (di antara polisi). As simple as that.” Ia juga menjelaskan, kijang memang sandi yang merujuk kepada intel polisi, bukannya target yang diintai.

“Maksudnya top of mind yang positif ya. (Kijang juga dianggap) melambangkan kelincahan,” tambahnya.

Komunikasi HT kepolisian memang punya bahasanya sendiri, kata Kardono. Misalnya, untuk menyebut kapolri, ada sandi TB-1, singkatan dari Tribrata 1 (Tribrata adalah pedoman hidup Polri). Sedangkan kapolda metro jaya disebut dengan sandi M1 atau metro-1.

Koleksi sandi polisi tidak terbatas pada sebutan kijang. Sandi populer lain mengandung angka dan singkatan, di antara yang populer adalah 86 (siap laksanakan), 64 (pekerjaan selesai), TKP (tempat kejadian perkara), dan TKA (terkendali aman). Jika belum puas, situs ini cukup lengkap merangkum daftar sandi polisi.

Kardono lalu mencontohkan obrolan ala komunikasi HT polisi.

“Taruna?”
“Izin, Komandan, ada 33. R4 dan R2.”
“810?”
“810, dua orang”
“Olah TKP segera.”
“86, Ndan.”

“Ini terjemahnya,” kata Kardono.

“Ada peristiwa apa hari ini?”
“Izin, ada kecelakaan antara sepeda motor dan mobil.”
“Meninggal?”
“Meninggal, dua orang.”
“Lakukan olah tempat kejadian.”
“Siap dan laksanakan segera.”

Menurut penjelasan Kardono, sandi-sandi tersebut terangkum dalam hand book yang diajarkan kepada polisi baru. Fungsinya untuk komunikasi lewat HT saat patroli. “Kalau untuk patroli dan sebagainya, (polisi) masih pakai HT karena frekuensi mereka lebih aman dan komunikasinya lebih cepat,” jawabnya saat ditanyai mengapa polisi tak beralih ke grup WhatsApp, misalnya.

Yang menarik, sandi polisi untuk komunikasi HT itu mengalami perluasan makna. “Khusus untuk 86, makna perluasannya bahkan mengalahkan makna aslinya,” jela Kardono.

“86 bukan hanya siap, tapi juga kode untuk ‘main perkara’. Juga bisa berarti (agar suatu kasus) dijadikan duit. 810 kadang mengacu untuk ditembak mati. Kalau bilang ke polisi, ‘Ayo… 86 ya…,’ wah itu sensitif.”

Hal menarik lainnya, VICE pernah meliput bahwa so-called aparat yang membawa HT di lapangan tak mesti intel kepolisian, militer, atau BIN. Tukang nasi goreng yang bawa HT di depan rumahmu bisa jadi adalah anggota Kelompok Sadar Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Pokdarkamtibmas). Lembaga ini adalah organisasi masyarakat mitra kepolisian yang sukarela menjaga keamanan lingkungan, sudah ada sejak 2005. Mereka membawa HT agar cepat melaporkan kejadian kriminal kepada kantor polisi terdekat.

Kira-kira begitulah pencerahan soal makna sandi polisi kijang-kijangan itu. Saatnya beranjak mempertanyakan hal lain. Makna angka di nama Densus 88, misalnya.

BACA JUGA Anak Buahnya Sensi pada Kritik, Kapolri Putuskan Bikin Lomba Mural Kritik Polisi dan kabar terbaru lainnya di KILAS.

Exit mobile version