“Bagaimana mungkin laki-laki dan perempuan bisa setara nilainya jika para perempuan masih menganggap bahwa apa yang biasa dikerjakan oleh para laki-laki dianggap lebih tinggi daripada apa yang biasa perempuan lakukan?”

Pertanyaan saya ini muncul dalam sebuah kelas.

Dosen saya sedikit terkejut saat mendengarnya. Mimik wajahnya berubah. Jawaban muncul, tapi saya tidak menangkap apa yang dimaksud, lebih ke berputar-putar ke arah nggak jelas. Baru pada kalimat terakhir saya menangkap apa jawabannya.

Jawaban yang kurang lebih sama seperti pelajaran dari cerita kawan saya, seorang laki-laki jomblo jelang 30 tahun saat minta doa kepada kiainya. Kurang lebih begini dialognya.

“Kiai, saya minta didoakan agar enteng jodoh,” kata kawan saya.

Si kiai menatap wajah kawan saya. Lalu bukannya menjawab, malah balik bertanya hal yang tidak nyambung, “Ibumu masih hidup?”

Keruan saja kawan saya kaget. “Eee, masih, Kiai,” kata kawan saya bingung.

“Masih sehat?”

“Masih, Kiai. Sehat walafiat,” kata kawan saya.

Kiai ini mengembuskan napasnya sambil tersenyum. “Sudah pernah minta doa sama ibumu biar enteng jodoh?”

Kawan saya celingukan bingung. “Heee, belum pernah, Kiai,” kata kawan saya.

“Kalau begitu kamu keliru minta doa ke aku. Doaku nggak ada seujung kukunya daripada mustajabnya doa ibumu. Apalagi kamu anak laki-laki,” kata si kiai.

Si kawan ini lalu pamit dan beberapa hari kemudian menceritakan pengalaman ini kepada saya.

Sepintas memang tidak ada yang aneh dari dialog ini. Doa ibu memang luar biasa dahsyat (konon kutukannya juga dahsyat). Tapi, ada pesan yang tersirat di dalamnya. Soal hubungan seorang ibu dengan anak laki-lakinya.

Begini sidang jemaat yang dirahmati Allah. Berbeda dengan hubungan seorang ibu kepada seorang anak perempuannya, seorang anak laki-laki punya kewajiban bakti yang tak lekang oleh waktu kepada ibunya. Bahkan ketika si anak laki-laki ini sudah punya anak sampai cucu, ikatan baktinya tidak akan putus. Ini jelas berbeda dengan anak perempuan yang akan terputus kewajiban yang sama saat sudah bersuami.

Hm, tunggu dulu, terlihat tidak adil ya?

Begini, dalam Islam, kedudukan perempuan itu sebenarnya sama tingginya dengan laki-laki. Bahkan tidak perlu tafsir njelimet untuk memahaminya. Ayolah, tentu saja situ juga pernah mendengar riwayat saat seorang sahabat bertanya siapa yang harus dihormati terlebih dahulu antara bapak dan ibu kepada Nabi Muhammad. Dan di jawaban Nabi, ibu disebut sampai tiga kali.

Oke, tapi pertanyaannya kemudian, bagaimana jika seorang perempuan kebetulan tidak punya anak laki-laki?

Untuk menjawabnya, bagaimana jika perspektif pertanyaannya kita balik?

Setiap laki-laki—kecuali Adam tentu saja—dilahirkan dari siapa? Seorang perempuan. Seorang ibu.

Artinya, seorang laki-laki terikat beban bakti yang teramat tinggi kepada seorang perempuan. Ibu mereka masing-masing. Entah itu kepala suku, pemred mojok, sampai dengan akhi-akhi yang dibilang Kalis Mardiasih “cupet”. Semua punya kewajiban yang sama. Semua berkalang perempuan.

Termasuk juga seorang suami yang menjadi sebab putusnya hubungan bakti seorang anak perempuan kepada ibu dan bapaknya. Hal yang kemudian membuat hubungan laki-laki dan perempuan dalam Islam sebenarnya adalah sebuah lingkaran. Seharusnya, tidak ada yang lebih dominan di antara satu dengan yang lain. Istri bakti kepada suami, suami bakti kepada ibunya, begitu terus sampai kiamat.

Hal itulah yang sebenarnya masih membuat saya bingung dengan wacana umum soal “kesetaraan gender”. Tentu bukan soal kesetaraan di urusan hukum atau pendidikan, tapi kesetaraan nilai antara “maskulin” dengan “feminin”.

Dalam momen seperti Kartinian misalnya, kenapa yang dimunculkan justru perempuan yang menjadi kondektur bus, tukang ojek, atau seorang lurah—misalnya? Tidak ada yang salah dengan itu, tapi kenapa tidak memunculkan nilai bahwa menjadi ibu rumah tangga pun sama kerennya? Sama penting dan bernilainya seperti seorang bapak yang mencari nafkah?

Hal itulah yang kemudian membuat saya berpikir bahwa seorang perempuan tetap keren sekalipun ia hanya membesarkan anaknya, mengurus rumah tangga, melayani suaminya, bekerja di ranah-ranah—istilah yang para aktivis feminis sering gunakan—DOMESTIK.

Sebab, ranah semacam itu memang bukanlah ranah yang lebih rendah. Tidak lebih buruk menjadi seorang ibu rumah tangga daripada menjadi seorang wanita karier atau berpendidikan tinggi.

Ini bukan persoalan mana perempuan yang lebih hebat dan mana yang tidak. Ini hanyalah persoalan siapa lebih mampu untuk sekolah dan siapa yang tidak memiliki akses ke sana. Dan persoalan semacam itu tidak hanya terjadi pada perempuan, tapi juga laki-laki. Artinya ini bukan masalah gender.

Jika kemudian muncul inferioritas kepada seorang perempuan yang bisa lebih melakukan lebih banyak hal daripada laki-laki, saya pikir itu masih dalam taraf wajar saja. Toh, bila saja saya punya kenalan perempuan yang punya selusin mobil Alphard. Dan kebetulan saya hanya seorang pemuda dusun yang cuma punya sepeda ontel. Apakah kemudian saya menjadi cupet jika saya menghapusnya dari daftar “perempuan yang berpeluang untuk saya nikahi”?

Ini memang bentuk inferioritas, tapi bukan sebatas karena dia perempuan dan saya laki-laki. Ini karena dia berada di kelas sosial yang berbeda dengan saya. Ibarat Arlian Buana ingin menikahi Agnes Monica, pandangan umum juga akan bersuara, “Lha kowe ki sopooooo?

Lagi pula, yang namanya pernikahan bukan hanya penyatuan dua orang yang sedang dimabuk cinta, ini adalah persoalan menggabungkan dua keluarga menjadi satu keluarga. Jika secara level sosial dan kelas sosial berbeda, itu benar-benar akan sangat menyulitkan.

Bagi pasangan yang menikah sih mungkin enteng-enteng saja menjalani perbedaan ini, tapi bagi keluarga masing-masing yang punya cara pandang yang berbeda-beda, belum tentu. Ini pekerjaan besar.

Lalu apakah pernikahan semacam itu mustahil dilakukan? Tidak juga. Bisa saja sih, tapi perlu usaha lebih untuk melakukannya. Dan tentu saja, lebih banyak orang yang enggan mengambil tantangan seperti itu.

Dan harus saya akui, saya orang yang enggan mencari tantangan semacam itu. Hal yang saya lakukan saat mencari jodoh (dulu) sederhana saja. Saya seorang santri, mencari istri pun ya seorang santri, atau punya latar belakang santri. Karena bagi saya, kesamaan kelas sosial, latar belakang, dan pengalaman-pengalaman istri saya adalah representasi dari keluarganya. Sehingga akan jauh lebih mudah nyambung dengan keluarga saya.

Tidak njelimet, simpel, praktis.

Kesimpulannya, selera dan keputusan saya dalam memilih pasangan ternyata lebih banyak ditentukan oleh latar belakang, pendidikan, dan lingkungan tempat saya dibesarkan. Dan karena punya kesamaan kultur dan kemiripan model lingkungan, istri saya dan keluarganya punya cara berpikir yang juga sama soal itu, jadinya kita cocok. Nikah deh. Sekarang punya anak satu.

Hal yang tanpa disadari sebenarnya juga dilakukan oleh semua orang.

Memacari atau menikahi teman sekelas waktu SMA, teman kuliah, teman satu kampung, teman satu komunitas, atau bahkan teman sesama penulis Mojok. Ada latar yang sama sehingga jalan semacam itu dipilih karena lebih masuk akal dan tidak ribet. Seperti Kalis Mardiasih dan Agus Mulyadi atau “akhi-akhi cupet” dengan mbak-mbak non-S-3.

Yang setara-setara saja. Toh yang penting setia.

  • Rizky

    Sepertinya mas salah memahami kesetaraan gender deh.

    Pertama, feminis tidak pernah menyalahkan perempuan yang memilih untuk bekerja dalam ranah domestik. Perempuan justru diberi kebebasan memilih pekerjaan apa yang dia inginkan, tanpa memandang batas stereotipe gender. Begitu pun juga dengan laki-laki. Intinya, kesetaraan gender menekankan bahwa baik laki-laki maupun perempuan memiliki hak untuk memilih pekerjaan tanpa memandang batas-batas feminitas dan maskulitas. Keduanya diberi kebebasan bekerja di ranah domestik maupun publik.

    Kedua, kritik mas kemudian menjadi lemah karena melewatkan hal yang sangat penting dalam perspektif feminisme: seksisme. Seksisme adalah pemisahan ketat antara peran-peran perempuan dan laki-laki berdasarkan stereotipe gender. Nah seksisme ini lah yang dikritik pada laki-laki maupun perempuan yang bersikukuh bahwa kesetaraan sudah terjadi jika perempuan bekerja di ranah domestik saja, sedangkan pria di ranah publik. Tidak akan ada kesetaraan gender jika setiap orang dikekang untuk memilih pekerjaan apa yang dia inginkan oleh sekat-sekat seksisme karena setiap orang memiliki preferensi berbeda-beda atas apa yang ingin ia kerjakan.

    Ketiga, mas berbicara soal akses dan mengatakan bahwa itu bukan masalah gender. Kenyataannya, masih banyak perempuan yang tidak dapat memiliki akses pendidikan tinggi bukan sekadar faktor ekonomi tetapi juga pemikiran bahwa ranah perempuan hanya di domestik, jadi tidak perlu berpendidikan tinggi karena ujung-ujungnya juga jadi ibu rumah tangga. Ini juga kemudian menentukan prioritas orang tua memberikan pendidikan kepada anak-anaknya. Jika pemikiran bahwa kesetaraan gender dapat tercapai dengan memaksakan batas peran perempuan dan laki-laki, dimana perempuan diberi ruang domestik dan laki-laki di ruang publik, maka akses perempuan ke pendidikan tinggi akan terus terhambat, sekalipun ekonomi orang tua lebih dari cukup untuk membiayai pendidikan tinggi semua anaknya.

    Keempat, masalah inferioritas. Lagi-lagi, inferioritas ini sering muncul bukan sekadar karena murni faktor ekonomi, tetapi karena anggapan bahwa laki-laki harus lebih hebat dan lebih tinggi daripada perempuan, atau biasa disebut pemikiran patriarkis. Pemikiran ini memunculkan paksaan bahwa perempuan seharusnya tidak perlu mengejar prestasi di bidang publik supaya laki-laki tidak merasa inferior untuk mendekatinya. Masih banyak lho orang tua dan lingkungan yang menyuruh perempuan untuk tidak sekolah tinggi-tinggi supaya pasangan laki-lakinya tidak minder. Pun jadi beban bagi laki-laki itu sendiri karena jika tidak lebih tinggi pendidikan maupun penghasilannya maka akan dicap rendah oleh masyarakat. Nah inilah yang berusaha dihapuskan feminisme, supaya baik laki-laki maupun perempuan tidak perlu terbebani oleh ekspektasi masyarakat atas model pasangan seperti apa yang benar, toh memilih pasangan ujung-ujungnya masalah kenyamanan juga kan. Tidak ada jaminan bahwa jika mendapat pasangan yang setara dalam hal pendidikan maupun penghasilan maka keduanya pasti akan merasa nyaman.

    Yuk mas, belajar kesetaraan gender secara komprehensif dan mendalam 🙂

  • BAGUS VERRY

    weleh, operatre seng gawe art visual koyoke lagi tangi turu, gambare iso maleh dewe hari ini jam 08.10

  • Ridhwan Sinatria

    simple, tjerdas dan joss

  • Dyah Wijayanti

    sepertinya setiap orang bisa punya konsepsi dewe2 soal bagaimana yang “setara” itu. nggak mesti tingkat sogeh nya, nggak mesti juga jumlah s one two three nya.
    .
    “semua orang juga melakukannya.” menurutku banyak orang melakukannya, tp yang nggak begitu ya banyak juga. general bukan berarti “semua orang”.
    .
    tulisan mbak kalis sebenernya lebih sebuah protes thd stereotip ketakutan perempuan utk menempuh pendidikan tinggi krn takut nggak laku jodoh, yang sayangnya ini dipertegas dgn candaan berupa meme.
    .
    sepurane mas komenku serius, ha tulisane samean ya serius je. raono guyune babar blas.

  • JBT48

    Tidak ada yang salah memutuskan menjadi ibu rumah tangga – yang salah itu menghakimi bahwa menjadi ibu rumah tangga itu selalu lebih mulia dalam 1001 skenario.

    Yang salah itu penghargaan sosial yang jarang menganggap ibu rumah tangga itu sama kerennya dengan wanita karier.

    Yang salah itu adalah suami yang tidak memperbolehkan istri bekerja untuk mengontrol dependensi istri.

    Yang salah itu para petinggi perusahaan a yang karena menganggap perempuan hanya iseng-iseng bekerja, lalu tidak memenuhi hak-hak pekerja perempuan seperti cuti hamil atau memberi upah yang lebih rendah.

    Jadi ya gitu. Ini bukan lagi masalah pilih memilih jodoh. Ini pilihan menjadi (akhi atau ukhti) cupet atau tidak.

  • Aisha Sabila

    Hahaha, nggak nyambung, wong awalnya ngomongin tingkat pendidikan kok anda balasnya dengan kelas sosial. Orang Mbak Kalis di tulisannya juga nggak ada bahas kelas sosial.

    Lagian bahasan intinya itu kenapa ada laki-laki yang insecure sama perempuan yang berpendidikan tinggi, tidak ada bagian di mana karena ada perempuan berpendidikan tinggi, lalu ibu rumah tangga kemudian jadi dianggap lebih rendah. Jadi menanggapi tulisan Kalis dengan membawa-bawa ibu rumah tangga itu logika yang nggak nyambung.

    Dan lagi-lagi, feminis yang tidak menghargai ibu rumah tangga itu bukan feminis beneran. Mungkin anda cuman tahu satu aliran feminis.

    “Jika kemudian muncul inferioritas kepada seorang perempuan yang bisa lebih melakukan lebih banyak hal daripada laki-laki, saya pikir itu masih dalam taraf wajar saja. Toh, bila saja saya punya kenalan perempuan yang punya selusin mobil Alphard. Dan kebetulan saya hanya seorang pemuda dusun yang cuma punya sepeda ontel. Apakah kemudian saya menjadi cupet jika saya menghapusnya dari daftar “perempuan yang berpeluang untuk saya nikahi”?”

    Pada intinya anda itu ya salah satu laki-laki insecure yang dibahas sama Mbak Kalis. Kalau bawa-bawa agama, Muhammad aja nikah sama Khadijah, jadi silakan mewajarkan insekuritas anda buat diri sendiri, tapi jangan ajak-ajak orang lain.

  • Sebenarnya sih saya memahami, kalau insecure yang dialami sama mas Khadafi ini insecure “sadar diri”. Dia memang berhak memilih untuk demikian. Sementara insecure yang dimaksud sama mbak Kalis itu insecure “lambemu tumpah”, nggak mau sama perempuan yang berpendidikan lebih tinggi, tapi mulutnya “keras” minta ampun dan sibuk nyindir sana sini seakan si perempuan ini salah, padahal jelas salah tidaknya aja bingung.

    Saya tak membela si masnya. Benar kata mbak Aisha, tulisan ini sedikit banyak jadi nggak nyambung. Kenapa tiba-tiba menyeret ke status sosial dan ibu rumah tangga? Rasanya juga tak ada yang bilang ibu rumah tangga itu salah.

    Namun, buat saya, karena berdasar pengalaman dimana ibu saya menjadi perempuan berkarir dan ibu rumah tangga, saya sih mendukung aja keputusan ibu saya ini selama dia memang masih mampu dan saya melihat dia tetap menjalankan kewajibannya dengan baik. Jadi, diantara keduanya sama-sama baik dan semestinya kita memberikan pilihan kepada perempuan untuk berkarir atau berumah tangga atau keduanya sekaligus.

    Sama seperti memberi pilihan apa mau menikah dengan yang selevel berdasarkan tuntunan agama dimana harus cari yang sekufu atau mau yang bagaimana. Perempuan dan laki-laki harusnya sih bisa setara dalam soal ini. Harusnya.

  • jemilov

    Nabi muhammad sama khadijah juga beda status sosial mas!

No more articles