Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Kolom

Kolom: Mengapa Virus Membunuh Kita?

Hasanudin Abdurakhman oleh Hasanudin Abdurakhman
25 Maret 2020
A A
Homeschooling Sering Diremehkan, Padahal Bisa Bikin Anak Berpikir Kritis dan Mendapatkan "Kemewahan" yang Tak Diberikan Sekolah Formal.MOJOK.CO

Ilustrasi Homeschooling Sering Diremehkan, Padahal Bisa Bikin Anak Berpikir Kritis dan Mendapatkan "Kemewahan" yang Tak Diberikan Sekolah Formal.MOJOK.CO

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Jawaban atas pertanyaan itu sama dengan jawaban atas pertanyaan mengapa kita membunuh ayam, sapi, ikan, tauge, dan sebagainya. Kalau Anda serius dengan pertanyaan itu, Anda juga dengan serius harus memikirkan bagaimana kehidupan berlangsung.

Sadarkah bahwa agar satu spesies mahluk bisa hidup, harus ada mahluk lain yang mati atau dimatikan? Sadarilah bahwa kita manusia ini hanyalah satu spesies mahluk hidup. Kita masuk dalam kelompok besar hewan. Ciri terpenting hewan adalah dia tak memproduksi makanannya sendiri. Artinya, dia tak menghasilkan makanan bagi tubuhnya sendiri. Berbeda dengan tumbuhan. Sebagian besar tumbuhan pada dasarnya tak memerlukan pasokan makanan dari makhluk hidup lain.

Coba lihat pada sepiring makanan yang Anda makan setiap hari. Ada berapa jenis mahkluk hidup yang mati agar sepiring makanan itu bisa terhidang di piring Anda? Ada ribuan bulir beras. Bulir-bulir beras itu adalah calon makhluk hidup yang seharusnya tumbuh menjadi ribuan pohon padi. Pada sepotong tempe yang Anda makan ada ratusan biji kedelai yang seharusnya menjadi ratusan pohon kedelai. Pada saat yang sama ada jutaan jamur yang tumbuh di antara biji-biji kedelai yang ikut mati pada saat Anda menggoreng tempe.

Tentu saja ayam goreng, rendang, ikan, dan lain-lain yang Anda makan adalah mahluk hidup belaka. Mereka semua harus mati agar kita semua manusia ini bisa bertahan hidup. Itu belum seberapa. Masih banyak lagi pembunuhan-pembunuhan yang harus kita lakukan agar kita bisa bertahan hidup. Untuk membangun rumah tempat kita tinggal, juga membangun jalan dan kota, ada begitu banyak tumbuhan yang harus mati. Pada saat yang sama ada ribuan hewan yang juga harus mati karena kehilangan tempat tinggal.

Tapi jangan sedih. Kita bukan satu-satunya makhluk yang menyingkirkan makhluk lain untuk hidup. Kalau Anda perhatikan di hutan, sekilas tampak tenang, tapi sebenarnya di situ pun terjadi persaingan hidup. Banyak tumbuhan kecil yang mati karena tak kebagian sinar matahari tertutupi dedaunan pohon-pohon besar. Sebaliknya, tidak sedikit pohon besar yang mati digerogoti oleh benalu-benalu kecil. Bahkan ada banyak pohon besar yang mati digerogoti jamur dan bakteri. Tentu saja di hutan itu kita akan mudah menemukan hewan-hewan pemakan tumbuhan atau hewan pemangsa hewan lain.

Ringkasnya: untuk hidup, satu makhluk hidup sering kali memangsa makhluk hidup yang lain meskipun ada kalanya mereka bisa hidup secara mutualisme, yaitu saling mendukung dan saling menghidupi.

Kembali kepada pertanyaan awal, mengapa virus membunuh kita? Jawabannya sederhana, karena mereka ingin “hidup” dan berkembang hidup. Kata hidup untuk virus ditulis dalam tanda petik karena secara biologis virus bahkan tak memenuhi syarat untuk disebut sebagai makhluk hidup.

Virus tidak memiliki sel. Sel adalah unit paling kecil bagi kehidupan. Tapi meski tak dianggap sebagai makhluk hidup, virus berkembang biak sebagaimana makhluk hidup. Untuk bisa berkembang biak, makhluk menumpang pada sel mahluk hidup. Manusia bukan satu-satunya korban virus. Virus menumpang hidup pada semua jenis makhluk hidup. Hewan, tumbuhan, jamur, dan bakteri adalah sasaran yang dituju oleh virus untuk menumpang hidup.

Jadi, manusia bukanlah sasaran eksklusif bagi virus. Virus hanya memiliki asam nukleat (DNA/RNA) yang bisa menggandakan dirinya sendiri. Untuk bisa menggandakan dirinya, virus membutuhkan kemampuan yang dimiliki sel untuk memproduksi protein.

DNA/RNA adalah semacam program yang memerintahkan sel untuk memproduksi jenis-jenis protein yang dibutuhkan sel untuk hidup. Virus hanya punya program, atau software, untuk memerintahkan produksi, tapi tak memiliki mesin produksi. Karena itu ia harus menumpang pada sel. Virus masuk ke sel makhluk hidup, mengambil alih kendali, memakai fungsi-fungsi produksi pada sel, semua dengan tujuan menggandakan dirinya sendiri.

Virus masuk ke sel tubuh kita melalui tempat-tempat terbuka, seperti mulut, hidung, mata, atau bagian kulit yang terbuka. Sebagian lagi dimasukkan oleh hewan seperti nyamuk ke tubuh kita melalui gigitan. Mereka mencari sel sebagai tempat di mana mereka bisa mengikatkan diri. Sel yang dijadikan tempat mengikat diri itu disebut reseptor. Kemudian virus masuk ke sel.

Begitu masuk, ia membajak berbagai fungsi sel, memerintahkan produksi protein yang ia kehendaki, untuk menghidupi dirinya sendiri. Ia kemudian menggandakan dirinya. Sel yang dipenuhi virus itu kemudian pecah, lalu virus menumpang pada lender hasil pecahan sel itu, untuk pindah ke sel lain, lalu menguasainya. Atau, ia keluar dari tubuh manusia. Ia kemudian mencari kesempatan untuk masuk ke tubuh lain.

Apa inti dari semua proses itu? Virus sebenarnya sedang menjalankan fungsi paling dasar pada semua makhluk di alam semesta, yaitu memperbanyak golongannya. Kita juga melakukan hal itu. Untuk menjalankan itu, kita juga membuat makhluk lain mati. Tidak lebih dan tidak kurang.

BACA JUGA Manusia Diselamatkan oleh Sains, Bukan Kepercayaan dan esai sains Hasanudin Abdurakhman lainnya di kolom TEMAN SEKELAS. 

Terakhir diperbarui pada 25 Maret 2020 oleh

Tags: teman sekelasTeman Sekelasvirus
Hasanudin Abdurakhman

Hasanudin Abdurakhman

Artikel Terkait

KTR Malioboro.MOJOK.CO
Kilas

Kasus Covid-19 di DIY Meningkat Tajam, Segera Vaksinasi Masyarakat Berisiko Tinggi

2 Mei 2023
virus zombie mojok.co
Kesehatan

‘Virus Zombie’ Ditemukan, Ancaman Bahaya Masih Diteliti

1 Desember 2022
jama malam di jogja
Kilas

Hepatitis Akut Misterius Disinyalir Sudah Masuk ke DIY

25 Mei 2022
hepatitis akut mojok.co
Kilas

Hepatitis Akut Misterius Menyeruak di Indonesia, Epidemiolog Minta Masyarakat Tak Panik

6 Mei 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Organisasi Nahdlatul Ulama (NU) perlu menghidupkan kembali adab yang selama ini menjadi ciri khas pesantren, tidak cukup perbaikan sistem MOJOK.CO

NU Perlu Hidupkan Tata Krama Organisasi di Tengah Dinamika yang Semakin Kompleks, Perbaikan Sistem Saja Tak Cukup

7 Juni 2026
Derita Bisnis Laundry: Cuan 15 Juta Hilang karena Kebodohan MOJOK.CO

Pengalaman Bisnis Laundry yang Cukup Menyedihkan, Berharap Cuan Besar 15 Juta per Bulan tapi Cuma Dapat 3 Juta: Boncos karena Kebocoran-Kebocoran Sepele

4 Juni 2026
Godaan modifikasi motor Honda Vario 125 demi sinematik kebodohan soal harga jual di Facebook, berakhir jadi motor sampah dan jamet MOJOK.CO

Modifikasi Motor Honda Vario 125 Hasil Tabungan Ibu-Kakak demi Sinematik dan Kebodohan Harga Jual di FB, Berakhir Jadi Motor Jamet dan Sampah

7 Juni 2026
Riset, Peneliti, Guru Besar Abal-Abal.MOJOK.CO

Sekte “Pemuja Kargo” di Ekosistem Kampus Indonesia yang Mencetak Peneliti Palsu dan Ilmuwan Abal-Abal

3 Juni 2026
Hasil riset FEB UGM: workaholic alias kera berlebihan tidak selalu merusak kebahagiaan MOJOK.CO

Riset: Kerja Berlebihan (Workaholic) Tidak Selalu Merusak Kebahagiaan, Asalkan Dapat 2 Situasi Ini di Lingkungan Kerja

6 Juni 2026
Proyek pengelolaan sampah menjadi listrik (PSEL) Semarang Raya dilirik dunia MOJOK.CO

Proyek Sampah Jadi Listrik (PSEL) Semarang Raya Dilirik Dunia, Jadi Solusi Masa Depan Kota

5 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.