Kalau kita lihat peta penyebaran penyakit coronavirus disease 2019 atau Covid-19, kita akan tercengang. Seluruh dunia telah tertular. Virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan penyakit ini telah menyebar sangat cepat, dalam waktu singkat sudah mencapai hampir seluruh negara yang ada di muka bumi ini. Mungkin ada yang berpikir, di tengah kemajuan sains, kenapa hal ini bisa terjadi? Apakah ini menunjukkan betapa tidak berdayanya manusia di hadapan kekuatan alam?

Sebenarnya tidak demikian. Hingga saat ini ada lebih dari 198 ribu orang telah tertular. Hampir 8 ribu orang di antaranya tewas. Buruk? Kabar baiknya: sudah hampir 83 ribu orang yang pulih. Artinya, yang pulih lebih dari 10 kali lipat dibandingkan dengan yang tewas. Kalau dibandingkan dengan populasi manusia di muka bumi, yaitu 7,3 miliar, jumlah orang yang telah tertular itu cuma 0,003%.

Di abad ke-14 dunia mengalami kejadian yang dikenal dengan istilah Black Death. Diperkirakan lebih dari 75 juta orang meninggal oleh wabah penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Penduduk dunia saat itu adalah 450 juta jiwa. Artinya sekitar 17% orang mati karena wabah itu. Bila dibanding dengan angka ini, angka 0,003% tadi sangat kecil. Yang terasa berbeda adalah, penyebaran penyakit menular sekarang lebih cepat, dan merata ke seluruh dunia. Itu karena tersedianya sistem transportasi cepat, dan meratanya koneksi ke berbagai belahan dunia.

Intinya, kondisi sekarang sangat jauh lebih baik. Apa yang membuatnya seperti itu? Sains. Ketika wabah penyakit menyerang Eropa di abad ke-14, orang tidak tahu apa-apa tentang hal yang sedang terjadi. Persis seperti orang-orang yang dikumpulkan dalam ruang gelap, lalu disiram air panas. Mereka hanya menderita, tanpa tahu apa yang menyebabkan penderitaan itu. Satu-satunya hal yang terpikir adalah bahwa mereka sedang menghadapi kemarahan Tuhan. Dengan gagasan itu, satu-satunya tindakan yang bisa diambil adalah berdoa, meminta agar Tuhan berhenti marah. Tentu saja tindakan itu tidak menghasilkan perubahan apa pun.

Perubahan dibuat oleh sains. Pada abad ke-19 penelitian tentang berbagai kuman (= mikroorganisme yang menyebabkan penyakit dan atau infeksi, mencakup jamur, parasit, bakteri, dan virus) mulai gencar dilakukan. Hal-hal fundamental ditemukan. Manusia jadi paham soal apa yang terjadi, apa yang menyebabkan wabah. Ia adalah kuman. Kuman-kuman itu dipelajari, dipahami sifat-sifatnya. Dari situ diketahui bagaimana mematikannya, juga bagaimana menghindari penyebarannya.

Baca juga:  Mengatasi Keputihan Tidak Normal yang Menyerang Terus-terusan

Ada setidaknya dua tokoh besar pada zaman itu, dan keduanya cukup akrab dengan sejarah Indonesia. Yang pertama adalah Christiaan Eijkman. Ia mendapat Hadiah Nobel Kedokteran tahun 1929 sebagai penghargaan atas hasil risetnya terhadap penyakit beri-beri yang dia lakukan di Indonesia. Dia juga sempat menjadi direktur sekolah dokter pribumi STOVIA yang kelak berkembang menjadi Universitas Indonesia. Tokoh lain adalah Louis Pasteur, yang banyak melakukan penelitian terhadap bakteri dan virus, sehingga dikenal sebagai Bapak Mikrobiologi. Di Bandung nama Pasteur diabadikan dengan nama jalan karena di situ ada Lands Koepok Inrichting en Instituut Pasteur, lembaga yang melakukan riset mikrobiologi, dan kelak menjadi cikal bakal BUMN farmasi, yaitu Biofarma.

Bakteri dan virus adalah makhluk yang sangat kecil, yang tidak tampak oleh manusia. Bakteri sebenarnya sudah lama dimanfaatkan manusia, dalam proses fermentasi pembuatan anggur dan berbagai produk makanan. Tapi orang tidak menyadari bahwa makhluk dari jenis yang sama itulah yang menimbulkan penyakit yang mengerikan. Pasteur sendiri tadinya melakukan riset untuk meningkatkan kualitas anggur. Ia mencoba mengatasi masalah dalam produksi makanan. Ia kemudian menemukan metode yang sampai sekarang kita kenal dengan istilah pasteurisasi. Intinya, kuman-kuman akan mati bila ditempatkan pada suhu tinggi. Hal lain yang juga ditemukan Pasteur adalah prinsip dasar dalam biologi, yaitu bahwa makhluk hidup hanya bisa hadir dari makhluk hidup sejenis, bukan penjelmaan dari benda mati. Ia meruntuhkan prinsip generasi spontan yang diyakini orang saat itu.

Apa perubahan penting yang dibuat oleh Pasteur dan Eijkman? Mereka mengganti kepercayaan dengan sains. Prinsip generatio spontanea, misalnya, adalah sesuatu yang berbasis pada kepercayaan, tanpa bukti yang memadai, bahwa makhluk hidup berasal dari benda mati (teori ini juga disebut abiogenesis). Pasteur meruntuhkannya dengan bukti-bukti. Ini sejalan dengan berkembangnya gagasan serupa di bidang lain. Dulu, misalnya, orang percaya bahwa atom tak bisa lagi dibagi. Tapi fakta menunjukkan bahwa atom terdiri dari proton, netron, dan elektron. Semua itu runtuh dengan bukti-bukti.

Baca juga:  Ciri Orang Indonesia Itu Pemberi Maaf, Baik Hati, dan Beriman

Sebelum manusia mengenal perilaku kuman-kuman tadi melalui riset, apa yang dilakukan terhadap penyakit? Berdukun. Berdukun tidak berbasis pada pengetahuan apa pun. Yang menjadi basisnya adalah kepercayaan. Berdukun tidak menyembuhkan penyakit apa pun. Orang hanya dibuat percaya bahwa praktik perdukunan itu menyembuhkan. Atau dibuat percaya bahwa dia sudah sembuh.

Itulah yang diubah oleh sains. Manusia modern tak lagi berobat ke dukun. Kita pergi ke rumah sakit kalau sedang sakit. Kita minum obat-obat yang dihasilkan oleh riset-riset sains. Dukun-dukun tersingkir dari kehidupan manusia. Tinggal sedikit yang bertahan, jumlahnya tak terlalu penting lagi. Dengan sains banyak penyakit yang tadinya jadi vonis mati bagi manusia, segera bisa disembuhkan. Itu mendorong perubahan dramatis terhadap tingkat harapan hidup manusia. Di tahun 50-an tingkat harapan hidup manusia masih di bawah 50 tahun. Kini sudah lebih dari 70 tahun. Artinya, sains sudah memperpanjang umur rata-rata manusia.

Kembali ke soal penyakit Covid-19 tadi, sudah ada 83 ribu orang yang pulih. Mereka pulih dengan obat-obatan dan metode pengobatan yang selama ini ada. Sementara vaksin dan obat spesifik untuk penyakit ini masih sedang diteliti. Kelak kalau sudah ditemukan vaksin, Covid-19 bukan lagi ancaman. Penyebarannya bisa segera dihentikan. Bahkan eksistensinya bisa dipunahkan.

Virus terus berkembang, bermutasi menjadi virus-virus baru. Tapi sains juga terus berkembang dengan informasi baru, dan teknologi baru. Di masa depan akan ada lagi wabah-wabah seperti ini. Tapi sekali lagi, sains akan bisa mengatasinya. Yang penting adalah, biarkan sains bekerja. Ikuti langkah-langkah yang dianjurkan sains, seperti yang kita lakukan selama ini. Sadarilah bahwa yang bisa menyelamatkan umat manusia adalah pengetahuannya, bukan kepercayaannya.

BACA JUGA Mengukur Temperatur dengan Termometer Inframerah dan esai sains Hasanudin Abdurakhman lainnya di kolom TEMAN SEKELAS