Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Sosialisme itu Miskin, Kapitalisme itu Kaya: Heh Bacot, Kita Sama-sama Tak Berdaya soal Kerja!

Henri Pratama oleh Henri Pratama
28 Mei 2020
A A
Sosialisme itu Miskin, Kapitalisme itu Kaya: Heh Bacot, Kita Sama-sama Tak Berdaya soal Kerja!

Sosialisme itu Miskin, Kapitalisme itu Kaya: Heh Bacot, Kita Sama-sama Tak Berdaya soal Kerja!

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kalau menganggap kerja adalah bagian dari hakikat manusia, maka proses produksi bisa jadi bukan cuma milik kapitalisme.

Entah kenapa saya semakin risih perihal “miskin-miskin-miskin” yang sering kali muncul dalam pembahasan mengenai ideologi. Perdebatan tentang kapitalisme dan sosialisme tereduksi hanya menjadi tentang “kamu miskin” adalah penghinaan serius. Lebih lucunya lagi, hal itu diperdebatkan oleh orang yang sama-sama menjadi bagian dari sub yang terdominasi kapitalisme itu sendiri.

Iklan

Pertanyaan saya begini, apakah jika seseorang menjadi kaya lantas disebut kapitalis? Sementara itu, sejak kapan sosialisme dihubungkan sama miskin? Sejak kapan kekayaan selalu dihubungkan dengan kapital?

Karena pemikiran begitu menjangkit bukan hanya di kalangan remaja tanggung pendukung kapitalisma alias kanan-mabok, tetapi juga pemuda progresif pembawa panji revolusi sosialisma alias kiri-mumet. Bacaan bukunya apa sih? Mau tahu saya. Serius.

Soalnya jangan-jangan memang saya yang selama ini salah memahami. Jadinya merasa bahwa saya pedagang seperti Engels dan bukan orang miskin.  Tapi kok ngerasa salah jalur karena mendukung keadilan ekonomi dan politik ala Marxian. Tentunya dengan tidak menggunakan panji-panji ideologi yang makin memuakkan karena makin lama seperti dogma agama.

Jadi gini loh gaes, saya tidak ingin ngutip teori ndakik-ndakik. Kalau mau baca tulisan Mbak Nadya Karimasari di sini, saya pikir sangat jelas, atau tulisan Mas Geger Riyanti di sini. Saya hanya ingin sedikit mengisi loopholes dengan loopholes lainnya.

Saya akan bekerja, tetapi saya benci dipaksa bekerja hanya karena saya harus hidup. Kalau menganggap kerja adalah bagian dari hakikat manusia, maka proses produksi bukanlah kapitalisme. Kenapa? Sebab sejatinya sejak manusia eksis, perihal “kerja” telah mengalami banyak perubahan sesuai kondisi sosial dan sejarahnya.

Dulu manusia bekerja dengan melakukan perburuan dan meramu, kemudian menetap untuk bertani, lanjut lagi bertani dan jualan, terus jadi buruh dan sampai sekarang macem-macem bentuknya. Mulai dari nulis, sembayang, berkembang biak, dan lainnya juga dapat disebut kerja. Karena pada dasarnya manusia memang harus bekerja untuk memenuhi kebutuhannya.

Jadi ya, kerja merupakan cermin hakikat manusia. Dengan bekerja manusia memberi bentuknya sendiri dari objek alami, hingga manusia dapat melihat dirinya di dalam pekerjaan itu. Terus apa bedanya dengan binatang? Ya kalau binatang, daun atau daging mentah bisa langsung dimakan, sementara manusia harus mengubah bentuk alam dan hasilnya untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Kalau hewan bisa dibiarkan tidak dikasih baju, bisa dikasih makan rumput. Tetapi kalau manusia perlu bikin atau beli baju biar anaknya tidak masuk angin, plus dikasih makan bubur waktu masih bayi, bukan hanya rendeman daun singkong.

Sebelum melebar ke mana-mana mari kita fokus ke poin satu ini dulu: jadi apa kapitalisme itu?

Ya menurut hemat dan sederhana saya, kapitalisme itu kondisi di mana orang dipaksa bekerja dengan menjadi buruh, karyawan (biar kata tetep buruh, cuma lebih keren aja sebutannya), petani, bahkan wirausaha karena tawaran di dalam pasar hanya itu.

Sementara kapitalisme selalu melihat kerja sebagai barang dagangan dengan motif mencari untung. Makanya kalau kita punya istri dan beranak, tidak dianggap sebagai kerja oleh kapitalisme karena itu tidak memiliki nilai yang bisa ditukar/dibeli untuk memberikan keuntungan lebih, terkecuali kalau bayinya dijual ke pasar gelap.

Itu pun nggak bakal dihitung biaya ngelahirin, ngasih makan, ngerawat 24 jam pas nangis. Karena di pasar gelap, harga bayi cuma berkisar 10 juta-150 juta tergantung kualitasnya.

Kurang afdol kayaknya kalau tidak mengutip kata-kata bapak ini, jadi menurut Karl Marx, “nilai kerja perlu ditentukan oleh nilai semua barang yang dibutuhkan tenaga kerja supaya ia dapat hidup. Nilai kerja adalah nilai makanan, tempat tinggal dan kebutuhan-kebutuhan lainnya dari si tenaga kerja dan keluarganya. Kapitalisme hanya rasional selama ia melakukan penghisapan, tanpa itu tidak akan bertahan hidup. Selama kaum pekerja diharuskan untuk menjual kemampuan kerjanya pada pemilik modal, penghisapan akan terus terjadi.”

Jadi gitu ya? Kerja ya kerja aja, nyari uang ya nyari uang aja, asal jangan mau dipaksa dan memaksa.

Jadi sebagai seorang pedagang, selama saya fair memberikan upah atas orang yang kerja bareng saya, ya (semoga) saya tidak menjadi kapitalis meskipun saya tetep kaya. Sebaliknya, kalau saya bekerja ke orang (biar jabatan saya direktur) kalau bos saya terus memaksa saya bekerja demi semakin menggenjot keuntungan dia, ya saya tetep disedot-sedot nilai lebihnya sama bos saya. Artinya, semua harus sebanding dengan tanggung jawab dan beban yang diberikan ke pekerja.

Sebagai contoh konkrit, saya punya warung nasi, kadang saya barter nasi dengan temen karena numpang spotify family. Bahkan sampai sekarang ada orang yang bekerja bareng saya kerjaannya tidur-tiduran tetep saya gaji. Demikian juga saya kalau delivery order biar pun saya yang punya warung ya saya tetep minta jatah bensin.

Iklan

Juga soal nanggung cicilan bank, kadang saya tanya ke orang yang kerja bareng saya mau digaji aja atau ikut nanggung cicilan modal usaha? Kalau mereka minta gaji aja, ya otomatis tanggungan cicilan ada jatuh kepada saya.

Jadi, wajar kalau saya minta jatah saya lebih besar karena untuk bayar cicilan modal usaha. Kalau saya nggak gitu, lah sertifikat rumah saya yang jadi jaminan bisa kena sita bank akibat gagal bayar cicilan dong jadinya?

Sedikit keluar konteks, sekarang saja saya masih kurang nyaman menyebut “pekerja/buruh saya”, makanya saya bilang “orang yang bekerja bareng saya”. Biasa lah, anak kiri tiba-tiba merintis jadi wiraswasta, kadang standar moral dan nilainya masih bias. Kadang juga blunder ngambil keputusan agar tetap dibilang peduli tapi tidak memperhatikan cashflow. Tapi yasudahlah fuck the society aja. Bagiku uripku, bagimu uripmu.

Balik lagi ke konteks. Oleh karena itu, bakal jadi lucu kalau segala macam aktivitas berdagang dibilang kapitalis, jual-beli dibilang kapitalis, hanya karena modal adalah arti KBBI dari “kapital”. Ya memang sih, masa sekarang memang kita tidak pernah bisa lepas dari namanya kapitalisme. Tapi bukan berarti karena kita tidak melihat, menemukan, atau mencoba berarti tidak ada cara lainnya.

Lagian kalau kata Deng Xiaoping “sosialisme bukanlah kemiskinan” jadi kenapa tidak memimpikan kita kaya bareng-bareng? Cukup kok dunia ini bikin semua orang jadi kaya. Office boy gaji 10 juta? Bisa aja. Masalahnya kita rela nggak? Mau merintis dari bawah nggak kita untuk mewujudkan itu?

Kita bisa kok menciptakan kondisi di mana kita bisa menentukan cara hidup kita, dan bukan karena monopoli yang selalu diarahkan ke pasar dengan paksaan. Serta mengubah motif bukan hanya mengumpulkan laba lebih dominan daripada kerja itu sendiri.

Jadi kalau ada yang bilang, Karl Marx kerjanya nulis tapi numpang hidup ke Engels terus dibilang lumpen. Lantas karena Engels itu pengusaha, terus menyebut Engels jadi kapitalis. Bukan tidak mungkin, Engels emang cuma bertahan hidup aja dengan memproduksi kain.

Imajinasi soal “kerja dan produksi” tidak sesederhana itu. Marx itu ya kerja dengan memproduksi pengetahuan. Kan tadi udah dibilang, produksi bukan cuma soal nilai lebih dan tidak melulu soal uang.

Kalau kerja selalu soal uang, ya itu karena imajinasi soal kerja dipaksa menggunakan alat ukur uang. Lalu produktivitas kerja untuk laba, bukan karena kita mau hidup. Penggunaan senjata dengan alasan pembangunan. Invasi dan perampasaan atas nama pertumbuhan.

Jadi sampai sekarang saya juga masih suka pusing, soal ribut-ribut kapitalisme dan sosialisme tapi cuma soal miskin-miskin-miskin doank. Toh, sebenernya kita sama-sama tidak berdaya perihal memaknai kerja bagi kita sendiri.

Setahu saya sih, ada pelajarannya soal materialisme, dialektika, dan historis. Belajar ekonomi-politik juga nggak ngajarin orang untuk jadi miskin. Mau jadi kaya, miskin, nggak mau kaya, mau cukup, mau miskin banget, kita yang milih cara hidup kita. Kuncinya, jangan sampai dipaksa, terpaksa, lalu jadi terbiasa (untuk dipaksa).

Soalnya manusia sudah pada hakikatnya bekerja. Mau apapun itu jenis kerjaannya.

BACA JUGA Karl Marx Tu Awardee Permanen Beasiswa Friedrich Engels Lho, Maaf Sekadar Mengingatkan atau tulisan soal Karl Marx lainnya.

Terakhir diperbarui pada 28 Mei 2020 oleh

Tags: KapitalismeKarl MarxSosialisme
Henri Pratama

Henri Pratama

Sedang aktif di Heartcorner Collective Purwokerto.

Artikel Terkait

Penyesalan mahasiswa kiri dan naif: tolak kerja (jadi budak) korporat karena melanggengkan kapitalisme, tapi sadar orang tua belum bahagia MOJOK.CO

Sesal Mahasiswa Sok Kiri Anti Kapitalisme dan Naif: Tolak Kerja Korporat, Tapi Sadar Belum Bantu Ekonomi Orang Tua

21 Agustus 2026
Dikira Komunis tapi Fasih Baca Al-Qur’an: Dilema Anak Masyumi Baca Karl Marx di Filsafat UGM MOJOK.CO

Dikira Komunis tapi Fasih Baca Al-Qur’an: Dilema Anak Masyumi Baca Karl Marx di Filsafat UGM

29 Juni 2026
Membaca Serial Upin Ipin Lewat Kacamata Karl Marx: Kenapa Mulut Fizi Pengen Ditabok dan Ehsan Adalah Borjuis Kampung MOJOK.CO

Membaca Serial Upin Ipin Lewat Kacamata Karl Marx: Kenapa Mulut Fizi Pengen Ditabok dan Ehsan Adalah Borjuis Kampung

17 Juni 2026
Frugal Living, healing, MOJOK.CO

Salah Kaprah soal Healing: Anak Muda Terjebak Keborosan, padahal “Penyembuhan Sejati” Itu Gratis dan Sering Kali Tak Estetik

26 Mei 2026
Puasa Ramadan dalam Bayang-bayang Kapitalisme Religius: Katanya Melatih Kesederhanaan Nyatanya Sarung Saja Dibungkus Narasi Hijrah Premium MOJOK.CO

Puasa Ramadan dalam Bayang-bayang Kapitalisme Religius: Katanya Melatih Kesederhanaan, Nyatanya Sarung Saja Dibungkus Narasi Hijrah Premium

16 Februari 2026
kapitalisme terpimpin.MOJOK.CO

Bahaya Laten “Kapitalisme Terpimpin” ala Prabowonomics

21 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

tol Jogja-Solo

Tol Jogja-Solo: Rumah Tak Kena Pembebasan Lahan, Tapi Tetap Kena Debu dan Bising

22 Agustus 2026
Proyek Hutan Tanaman Energi (HTE) untuk co-firing biomassa di PLTU langgengkan praktik perampasan tanah ala kolonial MOJOK.CO

Proyek Bioenergi Kayu di Jawa Langgengkan Praktik Perampasan Lahan ala Kolonial

21 Agustus 2026
Universitas Terbuka (UT).MOJOK.CO

Kuliah di UT Dikira Bikin Kehilangan Relasi, Mahasiswanya Malah Bisa Membangun Jejaring sampai Luar Negeri 

27 Agustus 2026
Perempuan pakai tas cantel di Kota Medan dicap centil karena tingkat kriminalitas yang tinggi. MOJOK.CO

Saya Bersaksi Kota Medan Tak Ramah Perempuan: Pakai Tas Centel Lebih “Hina” dibanding Pelaku Kriminal

27 Agustus 2026
Yamaha Fazzio Cuma Sebatas Skutik Spek Orang Manja MOJOK.CO kredit motor yamaha

Fazzio, Motor “Anak Skena” yang Bikin Perjalanan Sejam Menembus Kemacetan buat Ngonser Tetap Terasa Chill

24 Agustus 2026
perubahan desil membuat penjual ayam potong menderita

Perubahan Desil Tak Masuk Akal Membuat Penjual Ayam Potong Menderita

21 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.