[MOJOK.CO] “Mobil ini biar bentuknya kotak, tapi banyak yang cari. Harga sekennya termasuk mahal.”

Suatu siang yang panas, ketika sedang menunggu lampu merah di sebuah perempatan yang padat di selatan Yogyakarta, kaca mobil saya tiba-tiba diketuk seorang laki-laki. Tentu saja saya agak kaget dan sempat menduga-duga apakah saya melakukan sesuatu kesalahan sehingga laki-laki setengah baya ini meminta saya untuk membuka kaca dan mengajak bicara. Masih ada 42 detik sebelum lampu hijau menyala, saya akhirnya menurunkan kaca mobil.

“Maaf, Mas, mobilnya mau dijual nggak?”

“Wah nggak, Pak.”

“Ya siapa tahu mau dijual, saya siap beli. Hehehe.”

“Nggak, Pak. Hehehe.”

Lampu hijau menyala. Saya melanjutkan jalan. Kaca saya tutup lagi.

Terus terang ini kali kedua ketika berhenti di lampu merah, orang yang tak dikenal tiba-tiba mengetuk pintu mobil dan menanyakan apakah berniat menjual mobil yang saya gunakan. Ini belum termasuk obrolan lepas setengah serius separo bercanda, misal di angkringan, di pertemuan arisan, atau di acara-acara lainnya: ada orang menyatakan berminat membeli mobil saya andai saya mau melepasnya.

Anda mungkin penasaran, mobil apakah gerangan sehingga orang segitunya ingin mendapatkan. Mobilnya adalah Suzuki Karimun GX tahun 2003.

Setelah tahu mungkin Anda jadi misuh, “Lha, cuma Suzuki Karimun. Dikira tadi mobil apa….” Wajar saja, karena—tidak seperti bapak setengah baya di atas tadi—Anda tidak tahu apa kelebihan mobil ini.

Baiklah, saya akan kemukakan berdasarkan pengalaman menggunakan mobil ini dalam lima tahun terakhir. Pertama, mobil ini terkenal bandel untuk ukuran mobil di kelasnya. Mesinnya kuat. Konon sebenarnya mesinnya persis seperti Suzuki Carry, jenis minibus produk unggulan Suzuki, hanya bentuknya yang beda.

Kedua, cabinnya luas, karena itu jauh terasa lebih lapang dibanding misal Anda menggunakan city car tipe sedan. Beberapa teman malah sembari bercanda bilang, seperti naik mobil van dengan ukuran kecil.

Ketiga, irit. Sudah, bagian ini nggak perlu diperpanjang, karena iritnya bisa bikin SPBU bangkrut.

Keempat, sebagaimana produk populer Suzuki lainnya, suku cadangnya murah dan gampang didapatkan di mana pun, termasuk di pasar klithikan atau barang bekas.

Kelima, bagasinya besar dan tinggi, jelas jauh lebih besar dibanding bagasi sedan.

Keenam, harganya terjangkau dan harga purna jualnya masih cukup tinggi dan mudah. Salah seorang yang pernah ingin membeli mobil saya ternyata seorang bakul mobil. Menurutnya, ini mobil yang paling banyak dicari. Kalau dia punya, paling lama tiga hari sudah terjual.

BACA JUGA:  Perjuangan Berburu Motuba si Mobil Tua Bangka

Dan kelebihan berikutnya adalah kelebihan yang tak dimiliki bahkan oleh mobil seharga satu rumah di Meikarta: ini mobil mulia dan hanya mobil ini yang berani mengklaim sebagai mobil mulia.

Karimun (كريم) dalam bahasa Arab adalah kata sifat yang berarti ‘yang mulia’ atau ‘yang murah hati’. Ayo coba cari, ada nggak mobil yang mengaku sebagai “yang mulia”? Dan siapa yang berani pakai atau menumpang mobil ini kalau bukan orang yang mulia? Wkwkwk.

Pernah suatu kali saya mengajak seorang teman jalan dari Yogya ke Klaten. Baru berjalan sekitar satu kilometeran, ia mengeluh karena merasa gerah. Saya jadi sedih, tapi saya harus mengatakan yang sebenarnya.

“Yang menumpang mobil ini memang harus orang yang mulia. Kalau tidak mulia, dia akan merasa gerah. Sebabnya ini mobil Karimun.” Saya utarakan hal ini karena saya kenal kawan ini seorang yang saleh dan pengikut tarekat yang setia. “Mungkin Allah akan menyingkapkan kebenaran melalui mobil ini.” Si teman tercengang sembari senyum kecut mendengar penjelasan saya.

Tetapi, setelah setengah kilo kemudian saya pun mulai merasa gerah. Setelah saya cek, ternyata, “Oh sori, kawan, ternyata AC lupa dihidupkan!” Dia pun tertawa lebar karena terlepas dari fitnah yang keji.

Sebenarnya saya juga tidak sengaja memilih mobil ini dan pemilihan ini juga punya ceritanya sendiri. Tahun 2011, saya berjalan-jalan ke Eropa: Belanda dan Prancis. Di sana saya sering melihat dan beberapa kali menumpang mobil van Peugeot Partner Limited. Mobil ini selain cocok untuk keluarga, juga tepat dipakai untuk mobil angkutan barang terbatas. Karena itu, mobil ini banyak saya lihat dipakai untuk berdagang secara bergerak. Dalam bayangan saya waktu itu, mobil ini cocok misal untuk menggelar jualan buku atau kaos oblong di depan pintu masuk kampus atau di pasar malam. Seketika itu saya jatuh cinta dan ingin mengganti mobil tua saya dengan mobil ini.

Sayangnya, di Indonesia mobil Peugeot Partner Limited ini tidak ada yang menjual. Sekitar 2012, di pasar jual beli mobil online atau di tempat penjualan mobil bekas di halaman TVRI tak pernah saya temui ada orang menjual mobil ini. Sampai saat ini saya hanya pernah sekali melihat orang memakai mobil ini dengan warna kuning di Jalan Solo, Yogya. Itu pun platnya N. Mobil Peugeot yang umum dijual waktu itu adalah city car Peugeot 360, yang tak saya sukai sama sekali.

BACA JUGA:  Sori Suzuki Smash, yang Gesit Irit Itu Supra X 125, Bukan Kamu

Tapi, saya tidak perlu kecewa karena ternyata ada mobil yang mirip Peugeot Partner Limited ini. Bedanya memang lebih kecil dari segi ukuran, cc, dan moncong yang lebih pendek. Itulah Suzuki Karimun. Waktu itu yang pakai Karimun di Yogya dan saya kenal di antaranya adalah seniman Djadug Ferianto. Maka, ketika bertemu, saya tanyalah tentang mobil ini. Jawabnya, “Sangat recommended.” Mas Djadug juga bilang, kabinnya luas dan lapang, sesuatu yang memang merupakan kelebihan mobil ini.

Masalahnya, Karimun saat itu sudah tidak diproduksi lagi (halah, kayak mau beli baru aja!). Produk terakhirnya tahun 2004. Yang ada adalah sekenan dengan harga untuk mobil di kelasnya termasuk tinggi waktu itu. Tapi, bagaimana lagi, sudah kebelet pengin, saya tetap membelinya. Kebetulan saya dapat tangan pertama, plat asli AB, dari seorang ibu rumah tangga yang amat jarang menggunakannya.

Saya bersyukur dan merasa tercukupi dengan mobil ini. Ini mobil keluarga, dengan anak dua (sekarang tambah lagi satu), kami bisa keliling kota sekeluarga, bahkan juga ke luar kota terdekat seperti Solo, Magelang, atau pulang kampung. Yang belum saya lakukan dengan mobil ini adalah memanfaatkannya untuk jualan buku atau kaos oblong.

Tentu saja agar objektif perlu dikemukakan kelemahannya. Kelemahannya—seperti kata pepatah—justru terletak pada kelebihannya. Seperti sudah dikemukakan di atas, ini “mobil mulia”, tidak semua orang bisa, mau, dan terbuka hati untuk memilikinya. Memilikinya seperti sebuah hidayah sekaligus hadiah.

Kedua, bentuk mobil itu sederhana dan wagu. Atau banyak orang menyebutnya seperti kotak. Karena itulah kerap disebut mobil “Karimun kotak”. Ini konsekuensi saja dari kemuliaan yang dikandungnya. Kemuliaan itu tidak terletak pada kemasan, tapi isi; bukan pada badan tapi jiwa, bukan bentuk luarnya tapi dalamnya. Mereka yang terpesona pada bentuk-bentuk kemasan tak akan senang dengan mobil ini.

Demikian Karimun. Barangkali karena inilah Suzuki mereproduksi terus bentuk mobil seperti Karimun ini. Bahkan di antaranya dengan tetap mencantumkan nama Karimun, misalnya Suzuki Every, kemudian Karimun Estillo, dan kini yang sedang dipasarkan: Karimun Wagon. Tapi, konon Karimun kotak tetap tak ada lawan!

No more articles