MOJOK.CO – Amien Rais ingatkan elite PAN jangan rabun ayam karena kekuasaan. Tapi blio sendiri usul 55:45 persen kalau mau rekonsiliasi. Nah, yang rabun siapa?

Secara harfiah, penderita rabun ayam tak bisa melihat benda-benda pada keadaan gelap—khususnya malam hari. Nah, sesepuh atau tepatnya Ketua Dewan Pembina PAN Amien Rais, sangat mengkhawatirkan para elite politik PAN terkena penyakit itu. Terutama karena diiming-imingi bergabung di kabinet rekonsiliasi.

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Mohammad Amien Rais (Official) (@amienraisofficial) pada

“Nah dengarkan nasihat saya. Jangan kita rabun ayam karena satu kursi kemudian kita bergabung,” kata Amien Rais.

Wakil Ketua Umum PAN Viva Yoga Mauladi pernah mengklaim bahwa 34 DPW (Dewan Pimpinan Wilayah) PAN berkeinginan bergabung ke pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin. Tapi Drajad Wibowo anggota Dewan Pembina dan Hanafi Rais sang putra mahkota Amien Rais, berkata sebaliknya; kader PAN akan lebih mengikuti arahan Amien Rais.

Tapi kader PAN itu kan banyak. Ada yang duduk di DPW, ada juga yang sekedar anggota biasa. Nah, ini perlu diperjelas.

Ketua DPW yang mau gabung Jokowi berapa, dan non pengurus pengikut arahan Amien Rais berapa? Lebih makjleb lagi, yang kena gejala mata rabun ayam berapa, yang tidak perlu pakai kacamata berapa. Belum juga ditemukan akurasi datanya.

Satu hal yang jelas, mendadak Amien Rais berubah setelah terima surat dari Prabowo. Tiba-tiba, tutur katanya tak segarang dulu. Blio mengatakan, beri kesempatan Jokowi-Ma’ruf Amin memimpin 5 tahun ke depan. Tapi oposisi itu perlu, karena demokrasi menjadi indah. Kata-kata ini bagaikan panas 5 tahun terhapus oleh hujan sehari.

Kenapa nggak dari dulu ngomong demikian? Sehingga tak perlu bikin hujan buatan atau salat Istisqa di Monas. Itu sungguh kata-kata bijak setengah dewa. Bumi dan langit pun damai seketika. Ternyata Amien Rais memang negarawan sejati, lantaran ingin menjadikan keutuhan NKRI sebagai panglima.

Akan tetapi, lagi-lagi hujan sehari bakalan terhapus oleh panas yang akan berlangsung sampai 5 tahun ke depan. Soalnya beberapa hari setelah Amien Rais ketemu Prabowo, mendadak blionya bikin statemen yang menarik. Amien Rais memberi syarat yang nggak masuk akal kalau kubu Jokowi mau rekonsiliasi dengan pihaknya.

Baca juga:  Soeharto, Satu-Satunya Presiden Indonesia yang Pernah Kena Gebuk

“Misalnya disepakati, ayo bagi 55:45, itu masuk akal. Kalau sampai disepakati, berarti rezim ini balik kanan. Sudah jalan akalnya,” kata Amien Rais.

Kemarin menolak rekonsiliasi, kader PAN yang mau bergabung dengan Jokowi dikatakan sama saja rabun ayam. Lha kok sekarang malah mak cengkelak berbalik arah, berharap-harap rekonsiliasi dengan pembagian kekuasaan 55-45 persen.

Jika demikian halnya, yang terkena rabun ayam itu siapa? Jika satu kursi menteri saja sudah dianggap rabun ayam, bagaimana dengan yang berharap 45 persen dari kubu pemenang? Apakah berarti itu rabun ayam stadium 4B? Lagian yang menawarkan kursi menteri juga siapa?

Bahwa Presiden membuka peluang untuk rekonsiliasi dengan Prabowo beserta parpol pendukungnya, memang iya. Tapi saat Jokowi-Prabowo bincang-bincang di atas lajunya MRT, sama sekali tak ada tuh pembicaraan tentang bagi-bagi kursi menteri. Tak ada janji Gerindra dapat kursi sekian, PAN terima kursi segini, atau PKS dapat kursi segitu.

Tawaran rekonsiliasi presiden terpilih Jokowi sebetulnya untuk Prabowo, bukan untuk yang lain, lantaran Koalisi Indonesia Makmur dan Tim BPN sudah dinyatakan bubar. Karenanya, apakah sekarang Amien Rais menjadi “jubir”-nya Prabowo, mengingat Andre Rosiade bakal duduk di Senayan? Padahal Gerindra sendiri juga tak memaknai bahwa rekonsialiasi itu berarti bagi-bagi kursi menteri.

Tapi jika serius minta kekuasaan sampai 45 persen, itu kok jadi seperti penderita rabun ayam yang sudah dikasih hati masih minta ampela ya? Model mana pula ini, pihak yang kalah kok malah ngatur-atur yang menang?

Ibarat habis kenduri selametan, dapat satu besek juga sudah untung, kok minta sampai puluhan besek. Ingatkah dengan Zulkifli Hasan besan sampeyan, Pak Amien? Gabung ke pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin cukup mengamini saja tak pakai mengajukan syarat ini-itu.

Ketumnya saja tidak neka-neka, kenapa yang Ketua Dewan Pembina malah kayak Belanda minta tanah ngatur-ngatur? Apalagi dibilang kalau mau bagi 55:45 berarti rezim ini akalnya udah jalan. Berarti kalau nggak mau akalnya nggak jalan gitu?

Entah logika ini yang kena rabun ayam, atau memang penglihatan kita saat melihat Pak Amien Rais jadi rabun ayam. Maklum, lihat hal yang gelap-gelap gitu jadi nggak kelihatan, nggak jelas. Perlukah diobati dan dibawa ke Rumah Sakit Mata Dokter Yap Jl. Cikditiro selatan Kampus UGM itu?

Baca juga:  Anies Baswedan Lebih Punya Etika, Tidak Akan Seperti Jokowi Jilid Dua

Resminya, penderita rabun ayam karena kekurangan vitamin A atau memang faktor keturunan. Penderitanya tak bisa melihat objek dengan jelas ketika cahaya berkurang di waktu senja.

Dalam habitatnya ayam memang juga seperti itu, setiap senja datang mereka pasti kembali masuk pranji atau kandangnya. Padahal di sekarang ini, saking sibuknya ayam kadang bisa saja keluar malam. “Itu ayam ada keperluan,” kalau kata Indro Warkop DKI.

Nah, gara-gara tak bisa melihat dengan jelas di senja hari, penderita rabum ayam bisa salah duga menyebut setiap objek di depan mata. Misalnya, peci dari anyaman rotan dikira kreneng keranjang salak, pohon pucuk merah dikira pohon cengkeh, pispot dikira botol plastik tempat minum.

Namun penderita rabun ayam paling parah adalah, manakala Presiden bagi-bagi sertifikat untuk rakyat kecil malah dianggap ngibul, Jokowi tak cuti di masa kampanye Pilpres direken bebek lumpuh.

Seperti Arjuna pemilik minyak Jayeng Katon saja, saat melihat orang berbondong-bondong ikut kampanye, dia malah merasa melihat malaikat turun ke bumi, lalu malamnya lapor kepada Allah mendoakan Jokowi kalah.

Pemerintah berhasil disvestasi saham Freeport 51 persen lewat PT Inalum, dianggapnya hanya pembohongan pada rakyat, karena operatornya tetap Amerika juga. Demikian juga soal status presiden, meski untuk memilihnya saja (pilpres) menghabiskan biaya puluhan triliun, oleh penderita rabun ayam hanya dianggap lurah Indonesia.

Penderita rabun ayam model demikian pastilah sudah mencapai stadium 4B. Kemungkinan RS Dokter Yap di Yogya, RS Aini Jakarta atau RS Cicendo Bandung; tak sanggup untuk menyembuhkan.

Tapi untuk sementara ini rabun ayam bisa diminimalisir efek penyakitnya. Sederhana saja. Cukup beranjak dari tempat gelap. Pindah aja ke jalan yang lebih terang. Kalau memang merasa nggak ada yang kelihatan, jangan-jangan emang udah kelamaan nongkrong di tempat gelap?

Solusi lain yang murah meriah ya obat-obatan herbal dosis tinggi, seperti: sayuran hijau, wortel, ubi, bayam, jus brokoli, mangga, dan tomat. Bisa juga diperbanyak asupan: susu, telur, hati, daging, ayam, dan belut goreng.

Jika memang ingin mendingan dari penyakit rabun ayam, perlu banyak makan hati sapi atau kambing yang memang kaya kandungan vitamin A-nya. Tapi mohon, setelah makan hati jangan makan ampelanya juga ya? Anu, Pak Amien, ingat kolesterol.



Tirto.ID
Loading...

No more articles