Polisi kita memang warbiyasah. Setelah (oknum) jenderal-jenderalnya diduga menggendutkan rekening pribadi, sukses mencegah kawan-kawan Papua yang hendak bersuara di Jogja, dan berhasil menebar pesona di NET TV lewat polisi-polisi ganteng dan cuantiknya (Briptu Ricca Khalmas, I love you!), kini mereka menginisiasi terobosan baru: hendak menjadi pesaing Roman Abramovic.

Sebagaimana dilansir Goal.com, Selasa (03/08/2016) kemarin, disebutkan bahwa Polri kini telah sah memiliki 90 persen saham dari Bhayangkara Surabaya United. Mereka mengakuisisi mayoritas saham tersebut dari PT Mitra Muda Inti Berlian (MMIB). Kendati begitu, Bos MMIB, Gede Widiade, tetap memiliki sisa saham dari Bhayangkara SU di PT Permata Sejahtera Nusantara (PSN), yang sebelumnya memiliki 61 persen.

“Mereka beli 90 persen dan sisanya milik saya di PT PSN,” kata Gede.

Sebagai bukan penggemar liga sepak bola dalam negeri dan pecinta Briptu Ricca Khalmas, saya pribadi tentu sangat mendukung terobosan Polri kali ini. Setelah saya hayati dengan seksama, rasa-rasanya memang tak ada alasan untuk bisa menolaknya. Lho, kok?

Ini Bentuk Kepatuhan Polri kepada Presiden

Pertama-tama, kita jangan suudzon dulu sama Polri. Sebagaimana Anda ketahui, beberapa saat setelah dilantik, Jenderal Polisi Tito Karnavian diberi pesan oleh Presiden Joko Widodo untuk melanjutkan reformasi Polri secara menyeluruh dan konsisten. Pembelian saham Surabaya United ini tentunya menegaskan sikap Polri yang tengah bertransformasi.

Dari aparat menjadi konglomerat. Dari penegak hukum menjadi Perseroan Terbatas. Dari Polri menjadi PT Polri.

Dengar-dengar, sebentar lagi jabatan Pak Tito mau diganti dari Kapolri jadi CEO. Mari berangan-angan saat PT Polri menjalankan klub sepak bolanya. Tapi berangan-angannya jangan kebablasan, ya, apalagi sambil pegang selangkangan…

Polisi akan Dapat Job Desc Baru, Kita Tak Perlu Ditilang Lagi

Selama ini sudah kita pahami bersama bahwa di tengah kondisi mepetnya gaji di PT Polri, banyak (oknum) karyawan PT Polri yang kerap mengadakan proyek kecil-kecilan lewat razia dadakan. Selain “menertibkan” lalu-lintas, razia semacam ini juga jadi upaya PT Polri meningkatkan perdamaian di masyarakat, lho.

Terbukti, peacekeeping operation ini sukses mendulang testimoni “damai saja, Pak!” dari para pengendara pelanggar lalu-lintas dan mereka para korban razia di tempat lain. Tentu saja pengecualian muncul jika Anda menonton acara 86 di Net TV.

Oke, sekarang izinkan saya berteori: Jika PT Polri punya klub bola, otomatis akan tercipta job desc baru bagi polisi.

Lho, lho, gimana?

Pertama, paling tidak harus ada komisaris yang duduk di manejemen klub (nggak punya ilmu manejemen? Nggak apa, yang penting bisa hitung duit. Bisa, kan?). Lalu kedua, harus ada pemain berstatus “anggota Polri”. Ketiga, saya berasumsi sebab PT Polri belum punya basis massa yang berbasis wilayah, maka akan ada pengerahan pasukan untuk menjadi suporter yang memenuhi tribun.

Baca juga:  Penyanderaan di Papua: Bagaimana Media Melahirkan Bias

Nah, membayangkan job desc baru itu akan cukup merepotkan, ditambah jumlah karyawan PT Polri terbatas, pun dengan waktu mereka juga—apalagi gajinya—maka seorang karyawan PT Polri, akan lebih memilih menjalankan panggilan tugas untuk ‘mengurusi’ klub sepak bolanya tetap melakoni misi peacekeeping operation.

Nggak percaya? Mari kita hitung.

Misalnya, pertandingan dilaksanakan di Stadion Bung Tomo dengan kapasitas 55.000 orang. 55.000 : 2 = 22.500. Nah, kira-kira ada slot 22.500 untuk pendukung klubnya PT Polri. Asumsikan masih ada pecinta Surabaya United yang setia sama klubnya—tanpa peduli siapa pemegang saham utamanya, anggaplah angkanya setengah dari 22.500, yaitu 11.250 orang.

Dengan demikian, paling tidak, ada sisa 11.250 kursi yang harus diisi karyawan PT Polri untuk memenuhi stadion guna menyemangati klubnya bertanding. Bayangkan jumlah itu: 11.250 PERSONEL!

Bayangkan, kalau sekali razia butuh 10-15 anggota Polri, maka kali ini, kita bisa mencegah 750-1125 razia tiap sekali klub mereka! Angka itu masih bisa naik, lho!

Konon kabarnya, semenjak perpecahan Persebaya, kubu Bhayangkara Surabaya United ini sepi dukungan alias jarang ditonton arek-arek Suroboyo. Jadi, PT Polri bisa mengerahkan pasukan yang lebih besar dari angka 11.250. Lagipula, kalaupun karyawan PT Polri masih sibuk nilang, seenggaknya kita punya satu alesan baru untuk menghidar:

“Saya mau nonton temen Bapak tanding!”

Penggemar Surabaya United akan Diuntungkan

Mengingat pos polisi ada di mana-mana macam Indomaret, para penggemar Bhayangkara Surabaya United akan diuntungkan kalau klub kesayangan mereka bertanding. Kok bisa?

Pertama, pos-pos polisi itu akan mendapat fungsi tambahan sebagai agen jual tiket. Penggemar dimudahkan untuk tidak perlu lagi beli tiket di loket stadion apalagi via calo. Ngapain ngantri jauh-jauh dan panas-panas untuk beli tiket? Mending beli tiket di pos-pos polisi terdekat. Tinggal ke pengkolan dikit, ketemu, deh. Makin mirip Indomaret, kan?

PT Polri Pembangkit Animo Masyarakat Indonesia terhadap Sepak Bola

Pertama, seperti kita ketahui bersama, PT Polri ini merupakan institusi dengan keuangan yang amat sehat. Melihat fakta tersebut, maka PT Polri bisa mendatangkan pemain-pemain berkelas dunia untuk merumput di lapangan tanah air—yang kalo becek bisa jadi arena Benteng Takeshi.

Misalnya saja, dengan mendatangkan sodaranya Pak Kapolri, Fransesco Tito. Dengan datangnya pemain sekaliber Totti, eh Tito tadi, tentu sepak bola kita akan lebih booming. Ia akan menjadi magnet untuk mendorong pemain-pemain kelas dunia lain datang ke Indonesia.

Baca juga:  Kepada Ibu Dora Natalia Singarimbun

Dengan begitu, popularitas PT Polri dan persepakbolaan Indonesia selangkah lebih maju untuk mengalahkan video My Confessions-nya Awkarin.

Kedua, PT Polri akan jadi pionir pembelian klub-klub mau bangkrut/kecil/miskin prestasi oleh institusi negara lainnya. Mari bayangkan TNI, DPR, MPR, BPJS, PLN, OJK, Bank Indonesia, dan PDAM punya klub bola semua. Wuih, tentu akan jadi angin segar bagi persepakbolaan nasional!

SBY bikin album aja kita dulu heboh, apalagi kalau DPR ikut main bola. Saya pribadi sudah tak sabar menanti Fadli Zon—yang imut bagai Squirtle itu—menempati posisi sayap kanan klubnya.

Bisa jadi setelah ini partai-partai juga beli klub bola, lho. Kalau hal tersebut betul terjadi, saya kira malah lebih asoy lagi. Sengketa Pilpres tak perlu ndakik-ndakik dan mbleber ngomongin HAM melulu. Namun cukup diselesaikan dengan satu jurus: Adu penalti.

Ketiga, dari 11.250 (masih inget hitungan saya tadi?) karyawan PT Polri yang jadi suporter, masa sih nggak ada mbak-mbak polwannya? Saya bukan bermaksud seksis, tetapi membayangkan Briptu Ricca Khalmas, Briptu Eka Frestya, atau Briptu Dara Intan, duduk sederet di satu tribun itu rasanya seperti…

Ya nggak seperti apa-apa sih, biasa aja.

Tak akan Ada Kerusuhan

Sudah lazim dalam persepakbolaan kita bahwa penyebab utama kerusuhan tiap pertandingan adalah… apa? Ya: wasit goblok. Atau wasit yang dianggap goblok karena diduga kena suap atau memang sudah goblok dari sananya. Kini hal tersebut kini tak perlu dikhawatirkan lagi terjadi.

Siapa yang berani rusuh jika di tribun ada sekitar 11.250 personel Polri? Abg-abg sok ACAB itu? Hala, mereka mau melawan dengan apa? Di kala polisi punya gas air mata, abg-abg itu paling cuma bisa melemparkan air matanya beneran. Namun, bagaimana jika Bhayangkara Surabaya United bertanding melawan PS TNI? Itu nanti saja dibicarakannya…

Sebenernya saya nggak terlalu suka membahas PT Polri karena banyak banget temen dan abang/kakak saya kerja di sana dan mereka, ya, baik-baik saja. Sebagai pembayar pajak dan SIM yang legal, saya sangat ikhlas uang hasil bikin SIM dan pajak saya dikelola PT Polri untk menjalankan klub sepak bola mereka.

Maju terus Pak Fransesco Tito! Jayalah PT Polri! Emangnya Perindo doang yang bisa jaya?

Komentar
Kirim Artikel
No more articles