Judi Bola, Statistik, Wangsit Nyi Mblenduk, Hingga Sempak Terbalik
Photo by Fallon Michael on Unsplash

Sempak Terbalik, Wangsit Nyi Mblenduk dan Statistik di Judi Bola

Kalau kata Bang Haji Rhoma Irama, judi itu meracuni kehidupan dan keimanan. Judi dengan segala risiko, nyatanya masih saja dijadikan manusia sebagai alat melepas penat atau bahkan pengharapan datangnya uang. Mojok.co mencari jawaban atas gairah judi bola yang belakangan ini meningkat pesat di segala lini lapisan masyarakat.

***

“Kartu kemenangan itu adalah kartu tiga, kartu tujuh, dan kartu AS. Setelah kau tahu rahasia judi itu, kau tidak boleh bertaruh lebih dari satu kali dan berhenti judi sampai kau mati,” begitu yang ditulis oleh Aleksandr Pushkin dalam karya emasnya yang berjudul Pikovaya Dama atau Sang Ratu Sekop.

Sebuah dialog yang dihaturkan oleh tokohnya, hantu Perempuan Bangsawan Anna Federovna kepada Hermann, orang yang sehari sebelumnya membunuhnya demi mengetahui klenik memenangkan judi. Sebuah klenik turun temurun, yang dirahasiakan Perempuan Bangsawan itu sampai menjelang ajalnya. Malah hantunya yang mengutarakan rahasia tersebut.


Aleksandr Pushkin adalah seorang penulis romantis pada masa keemasan kesusastraan Rusia. Pushkin menuliskan perihal judi dan klenik dengan amat rapi. Judi, di berbagai belahan dunia, tidak hanya di Rusia dan Indonesia, memang selalu beririsan tipis dengan tindak kriminal.

Baik itu Hermann atau siapapun yang sudah masuk tahap candu dalam berjudi, kriminalitas selalu mengintai si penjudi. Dalam studi yang dilakukan oleh Tirto, melalui Studi: Perjudian Bisa Sebabkan Masalah Finansial & Kesehatan Mental, berjudi berarti bersedia mempertaruhkan sesuatu yang sebelumnya dihargai dengan harapan mendapatkan sesuatu yang lebih bernilai. Efeknya, pecandu judi berakhir dengan mengorbankan segala sesuatu yang ia miliki, termasuk harta benda, hingga menumpuk utang.

Dari hutang dan ketersiksaan mental, maka melahirkan sifat kepepet yang disebutkan sebagai mengorbankan segala sesuatu yang si penjudi miliki. Entah itu kriminalitas, membuang rasa malu, bahkan seperti apa yang dilakukan oleh Hermann dalam cerpen emas Pushkin; percaya kepada klenik-klenik yang belum pernah teruji.

Antara statistik dan klenik judi bola 

Saya janjian dengan Widodo (34) di pinggiran Terminal Giwangan. Katanya, ia mau pasang judi antara Spanyol kontra Itali dalam ajang lanjutan Piala Eropa 2020 babak semi final. Ketika ditanya jagoin siapa, blio menjawab nunggu keputusan yang ngasih wangsit. Perasaan saya jadi nggak enak, ini mau judi bola atau mau cari pesugihan?

Widodo, dalam obrolan bersama saya selama perjalanan dari Terminal Giwangan menuju tempat bandar, nyatanya ia nggak paham-paham amat perihal sepak bola. Blio membaptiskan dirinya sebagai fans Manchester United, namun ketika ditanya alasannya, blio menjawab, “Soalnya Rooney masih rajin ngegolin.”

Padahal, ya, Wayne Rooney sekarang sudah jadi manager di Derby County, tim yang bermain di Divisi Championship, strata kedua dalam hirarki liga di Inggris.

Nyatanya bermain judi secara acak di kawasan pinggiran kota jamak ditemukan. Widodo contoh nyata yang nggak punya bekal keilmuan perihal Italia maupun Spanyol yang akan bertanding nanti dini hari (07/07/21). Laga yang belum berlangsung ketika liputan ini diketik.

Di daerah pinggiran, judi bola nggak mengandalkan apa itu statistik terkini, data analisis perkembangan sebuah tim, bahkan rasio kemenangan di bandar. Judi bola, bagi orang-orang pinggiran, beririsan tipis dengan apa itu yang namanya klenik, bukan statistik.

Widodo memberikan keterangan, orang-orang yang ia kenal dalam judi bola memang kebanyakan nggak paham sepak bola. Judi bola nggak seribet judi kartu, jadi banyak yang meminati permainan ini. Klenik yang berkelindan di sekitar mereka, menjadikan judi bola makin menyenangkan.

“Spanyol dan Itali sama-sama negara kuat, kan?” begitu kata Widodo. Pendapatnya, bertentangan dengan kawan saya yang rajin judi bola ‘pusat kota’, sebut saja Acin (25). Kawan saya itu, jelas bertaruh untuk Italia. Ia bermain data bahwa Itali belum terkalahkan sejak 32 laga. Itu catatan impresif yang bisa menuntut para penjudi membawa kepada kemenangan dengan memasang Italia.

Sama-sama mempertaruhkan uang, namun pada dasarnya kebanyakan judi di kawasan sub-urban pola mainnya berbeda dengan judi gedongan di belantara gedung bertingkat pusat kota. Acin, dengan analisis yang berbeda dari Widodo menegaskan, “Generasi emas Belgia saja diobok-obok, lho, sama Itali. Atas dasar apa mengatakan Spanyol itu kuat?”

Dengan penuh keyakinan, ia berkata lagi, “Ini Itali emang nama-nama pemainnya kalah mentereng, namun mereka solid dari kiper, bek, gelandang, sampai striker. Sedang Spanyol di fase grup saja angin-anginan.”

Saya menyampaikan analisis Acin kepada Widodo, namun dengan tersenyum masam, Widodo menjawab, “Sepak bola dan judi bola itu berbeda, Mas. Tim-tim besar yang kalah mengejutkan, bisa jadi itu adalah campur tangan doa para penjudi yang kepepet.”

“Orang berjudi juga berdoa ya, Mas?”


Dengan sedikit ngekek, Widodo dan kulitnya yang tembam mengumbar senyum lebar, lantas berkata, “Lha wong pas pasang di bandar saja pada teriak Bismillah semoga judinya menang serta barokah.”

Kebanyakan mereka yang judi bola di kawasan pesisir Jogja, nyatanya nggak memerlukan data pertandingan. Mereka lebih cenderung berani bertaruh banyak pada tim-tim yang diragukan para pundit untuk menang. Katanya, faktor adrenalin membuat puas. Semisal yang diragukan itu menang, tambah puas.

Photo by Sven Kucinic on Unsplash
                                                      Photo by Sven Kucinic on Unsplash

Itu tadi bagi mereka yang diberkahi banyak uang dan bersenang-senang. Namun bagi mereka yang butuh uang, bersinggungan dengan klenik tentu nggak bisa diganggu-gugat. “Kemarin saya judi untuk Italia, alih-alih koran memprediksi Belgia akan menang. Nah, inilah yang disebut Dewi Judi,” kata Widodo mencontohkan partai delapan besar, Belgia kontra Italia (17/6/21).

Sedang Acin, pegiat judi di kawasan pusat kota dan judi online mengatakan bahwa kekalahan Belgia ini beralasan. “Mereka bilang Belgia ini generasi emas, tapi lihat saja bek Belgia sampai ada yang main untuk Vissel Kobe di Liga Jepang. Belgia ini bagus, tapi hanya beberapa. Sedang Italia ini solid, rata. Memprediksi Italia menang, itu hal mudah,” katanya ketika ditanya via telepon.

Nggak ada campur tangan seberapa besar faktor pendidikan antara pegiat judi pusat kota dan kawasan pinggiran kota. Menurut Acin dalam sudut pandang judi bola, semua ini hanya faktor bahwa di pusat kota, sudah nggak ada klenik. Sedang di kawasan sub-urban atau pinggiran kota, klenik masih banyak ditemui, jadi membuat para pejudi ketergantungan untuk menang.

“Di pusat kota paling jamak mereka nyebut jimat, padahal hanya bawa sesuatu yang menurut mereka bawa hoki. Bukan klenik yang lebih ekstrim seperti makan darah ayam cemani, misalnya,” kata Acin.

Lebih lanjut Acin mengatakan, orang-orang kota lebih suka membawa jimat lebih kepada meningkatkan percaya diri saja. “Jimatnya pun nggak sampai dimandikan atau didoa-doakan. Hanya sekadar bawa dan sudah,” pungkas Acin.

Sedangkan Widodo, malam itu setelah kami janjian, membawa saya kepada salah satu pohon besar dekat Giwangan yang katanya membawa tuah. Katanya, siapa yang dapat wangsit dari pohon ini, bakalan tahu siapa tim mana yang akan menang.

Widodo hanya duduk di bawah pohon seperti orang-orang tetenguk di bawah beringin pada umumnya. Saya nggak boleh memotret dia, nggak boleh ada obrolan walau matanya menyapu berbagai arah, tidak seperti sedang kontemplasi. Tiba-tiba, ia berkata, “Italia, 2-0.”

Acin, dalam saluran telepon pada hari sebelum saya bertemu dengan Widodo, di tengah wawancaranya memprediksi, “Italia ngepur 2. Yang mencetak gol gelandang mereka. Kalau nggak ya 0-0 sampai extra time, lantas di babak itu Chiesa cetak angka. Intinya, Italia menang. Analisis.”

Sebenarnya, ada cara lain buat menebak siapa yang menang agar judi bolamu lancar, yakni pilih tim selain yang diprediksi Coach Justin untuk menang.

Judi bola di desa yang bersentuhan dengan klenik ekstrim

Baca juga:  Inggris Solid, Primbon Keberuntungan Jadon Sancho, dan Perburuan Sejarah Ukraina

Jika judi bola di kawasan pinggiran kota Jogja mengandalkan klenik tingkat penerawangan dan wangsit, beda lagi di beberapa kawasan desa. Kebanyakan dari mereka, dalam rangka menjemput kemenangan judi bola, biasanya memakai teori-teori menang judi bola yang cenderung ekstrim—menggunakan medium perantara—dan bikin bertanya-tanya, “Ha kok isooooo kepikiran sampai sana?”

Bukan, ini bukan tentang khodam atau isian, melainkan sebuah mitos bahwa memakai sempak terbalik bisa bikin menang. “Sempak bukan sembarang sempak,” kata Sukrib (28) yang saya kira mau pantun. “Sempak yang harus dibalik ini adalah sempak yang habis dipakai seharian bekerja,” lanjutnya.

Sedang warga di pedesaan, ujar Sukrib, kebanyakan adalah petani yang jelas celana dalamnya basah ketika bertani. “Atau setidaknya kotor,” katanya yang sejatinya sama-sama membuat sempak itu kotor. 

“Di sana serunya, bapak-bapak hingga mas-mas yang judi, ketika berkumpul nonton bareng di lapangan desa, akan mengakumulasi mambu penguk luar biasa yang bermuara dari selangkangan.”

 

View this post on Instagram

 

A post shared by MDC (@mojokdotco)

Ketika ditanya tujuannya untuk apa, kata Sukrib itu adalah klenik sejak lama di desa ini. Desa yang bersembunyi dari gunung-gunung menjulang area Bantul. Sukrib berkata, ada beberapa teori perihal datangnya mitos ini.

Pertama, dibawa oleh anak-anak KKN yang datang ke desa mereka. Alih-alih penasaran, saya malah tertawa, bisa saja anak KKN yang membalik sempak itu karena kehabisan sempak. Namun Sukrib menggelengkan kepala. “Pemuda itu sakti. Kalau judi bola pasti menang. Warga jadi penasaran resep rahasianya apa. Mereka ikuti tingkah laku pemuda itu, semua diikuti oleh warga desa.”

Sukrib menambahkan mulai dari mandi sehari dua kali di sendang, pakai sabun cair yang beli di kota, bahkan sampai warna baju.  “Padahal kami dulu baju saja hanya punya beberapa setel. Kami ikuti tingkah laku pemuda itu. Dari semua mitos itu, salah satu yang bertahan sampai sekarang ya mbalik sempak.”

Dengan sedikit Guyon, Sukrib berkata, “Bisa saja lho, Mas, Maradona ngegolin gawang Inggris di Piala Dunia Meksiko 1986 pakai tangan dan nggak ketahuan wasit itu ada campur tangan orang Indonesia yang judi pasang Argentina dan pakai sempak secara terbalik.”

Kedua, membawa keberuntungan. Sukrib menjelaskan, ceritanya dulu itu hujan nggak mau mampir di desanya. Kekeringan hebat melanda dan ada satu petani yang memakai celana dalam yang dibalik, lalu berlari-lari di tengah ladang. “Beberapa waktu kemudian, hujan datang. Disinyalir, membalik sempak bisa membawa keberuntungan,” kata Sukrib.

Kok ya saya jadi inget boneka teru teru bōzu di Jepang. Boneka yang bisa mendatangkan hujan yang dikisahkan secara sedih dalam ‘gadis penyapu cuaca cerah’. Lha kalau di Jepang wangun, jimat pemanggil hujan bentuknya boneka kertas yang lucu, lha kalau di desa ini mosok sempak. “Tapi begitulah desas-desusnya,” kata pemuda yang hobi nongkrong di cakruk ini.

Menurut keterangan Sukrib, ia sedikit ragu lantaran klenik itu belum ada uji keabsahannya. Lha kalau ada uji absahnya itu namanya sains tho, yaaa.

Saya yakin, tiap daerah punya kleniknya sendiri untuk menang judi bola. Baik yang dicatat secara data, maupun hanya desas-desus semata. Di desa sebelah, nggak jauh dari desa pertama, ada yang namanya mitos cari wangsit dengan medium perantara hantu wewe gombel. Sebut saja Wahyu (28), bercerita pernah menggunakan jasa wewe gombel tersebut.

“Mau bagaimana pun, wewe gombel nggak paham sepak bola, Mas,” begitu kalimat pembukanya yang bikin saya kepingkel. 

“Ia nggak tahu apa itu Liverpool, Real Madrid, apalagi Lionel Messi. Tapi kalau Lord Bendtner, bisa saja tahu,” kata pemuda yang merangkap sekretaris di karang taruna desanya itu makin guyon.

“Namanya Nyi Mblenduk. Ia tinggal di dalam hutan sana. Susunya ada banyak, besar-besar dan bergelayut. Katanya ia suka culik anak kecil dengan cara mengejar, nah ketika lari, susunya yang banyak itu bergoyang-goyang makin mblenduk. Makanya disebut dengan Nyi Mblenduk,” jelasnya.

Wahyu memberikan detail. Mendatangkannya itu pakai sesajen. Nyebut namanya di hutan itu adalah bunuh diri secara nggak langsung. “Nggak lucu kan, Mas, niatnya mau nyari wangsit judi bola malah dibekap sama susunya Nyi Mblenduk,” katanya bikin saya bingung harus takut atau ketawa.

Setelah memberikan sesajen yang ia suka, biasanya adalah nasi punar, pisang raja setangkep, dan hasil bumi lainnya. “Karena kultur kami petani, sesajennya adalah hasil bumi. Nah, setelah meletakkan sajen, kita mencari tempat buat berdiam diri. Mas, percaya nggak percaya, ya, saya lihat ada sosok hitam yang sedang mengerubungi sesajen itu!”

“Lha terus dapat wangsitnya gimana, Mas? Semisal Itali kontra Spanyol lha wong Nyi Mblenduk nggak tahu kalau Gianluigi Donnarumma sedang kokoh-kokohnya,” tanya saya.

“Nanti akan ada sebuah waktu di mana waktu itu seperti kosong. Suwung. Tiba-tiba akan masuk ke dalam pikiran semisal, Itali menang Piala Eropa 2020,” tutupnya.

Beda cara main judi bola di kota, pinggiran kota, dan desa

Baca juga:  Anak Muda yang Mencoba Melewati Belenggu Quarter Life Crisis 

Perkembangan peranti elektronik di kehidupan masyarakat, berkembang pula tata cara hidup dalam sebuah sistem masyarakat tersebut, begitu kata salah satu bandar judi yang coba saya hubungi via telepon.

Orang yang nggak mau disebut namanya ini, katanya seringnya jadi bandar sabung ayam. Namun, urusan judi bola, ia juga pernah berkecimpung walau—katanya—kapok. Bandar (34) mengungkapkan kekapokkannya lantaran sistem judi bola itu rumit. 

“Beda sama sabung ayam yang akan ditentukan semisal menang bakalan dapat separuh, jika kalah ya uang hilang. Kalau di judi bola, beda tempat beda aturan,” katanya.

Bandar berujar bahwa adanya judi bola online menjadikan angin segar bagi warga kota bahwa ada sebuah ketetapan secara paksaan yang terjadi. “Judi online itu praktis, aturannya jelas, tapi resikonya tinggi. Yang saya suka, sistemnya terbuka.”

                Photo by Glen Carrie on Unsplash

Menurut keterangan Bandar ketika ditanya mengapa yang marak ikut judi bola online hanya orang-orang kota, ia nggak setuju karena di desa jarang ada sinyal. “Kalau sinyal, saya rasa sekarang bukan soal, Mas. Di desa saya, Siluk, sinyal sudah mulai lancar sejak awal 2015-an. Mereka juga kebanyakan tahu ada judi online. Yang bikin mereka nggak tertarik, lha wong aturan judi di desa mereka sudah seru, ngapain melibatkan bandar yang katakanlah orang asing dalam kehidupan mereka?”

Judi bola di pusat kota, memang jelas, namun rumit bagi kaum awam. “Sudah mumet aturan, nanti kalau kalah malah tambah mumet,” tuturnya. Di judi bola pusat kota yang melibatkan bandar, kebanyakan adalah bola jalan, sedang di desa itu kebanyakan bola mati.

Bandar menjelaskan lebih rinci. Sistem bola jalan, itu tandanya si penjudi bisa pasang ketika bola sedang open-play, nggak boleh sedang istirahat atau penalti hingga sepak pojok. Biasanya, sistem ini menggunakan skema voor dan key yang fluktuatif dari pihak bandar.

Nge-voor itu kerennya sih membiarkan lawan berdansa di meja judinya terlebih dahulu. Misal nanti malam, ya, yang diunggulkan Italia, maka Spanyol voor ¼. Nah, kalau Mas pasang untuk Itali 500 ribu, ndilalah hasilnya imbang, maka uang Mas akan raib jadi 250 ribu, diberikan untuk para pemasang Spanyol. Voor ¼ itu kalau yang dijagokan hasilnya imbang, yang menang yang nggak dijagokan,” jelasnya.

Bandar menegaskan bahwa semua bandar judi bola nggak amanah. “Kalau judi bola online bisa kita ikuti fluktuatifnya, nah kalau bandar offline, ada yang semau mereka dalam menentukan voor yang bisa saja berubah-ubah sesuai keuntungan dan peluangnya. Itu sih yang bikin saya kapok, kurang lihai jika main sistem bola jalan.”

Dengan sedikit ragu-ragu Bandar mengatakan bahwa seringnya pengaturan skor terjadi di sepak bola Indonesia, setali dengan maraknya judi bola di negara ini. “Fluktuatif voor berjalan, mafia mengatur jalannya laga. Semisal babak pertama timnya kalah 1-0, pasang voor tinggi, lantas babak kedua mafia mengatur, jadi 1-2, maka berubah pula voor-nya. Selisih gol menentukan lho. Ini menyeramkan.”

Dilansir dari Tirto yang dikutip dari Sky Wood Recovery judi bisa berasal dari masalah finansial yang berujung pada kriminalitas. Orang dengan kecanduan judi akan melakukan tindakan ekstrim untuk mendapatkan uang untuk berjudi. Banyak orang akhirnya mengambil jalan untuk mencuri, mengambil pinjaman besar, atau cara putus asa lainnya.

Judi bisa melahirkan kriminalitas baik dalam skala kecil, sedang, sampai besar. “Nyawa bisa sampai jadi taruhan. Memang aturan main di kota sampai kampung itu beda, tapi benang merahnya satu, Mas, risiko kematian dari main judi itu selalu ada. Baik di kota atau desa,” kata Bandar.

Bandar lantas menjelaskan sistem bola mati yang biasanya digunakan oleh warga desa. “Kalau bola jalan itu lebih tricky, kalau bola mati ini memang butuh bantuan klenik karena taruhan dimulai, jauh sebelum peluit kick-off dibunyikan. Makanya banyak yang pakai bantuan makhluk halus lantaran statistik ada untuk dikencingi.”

Saya jadi ingat apa yang dikatakan oleh Widodo, bahwa sepak bola dan judi bola itu berbeda. Jika melihat aturan dalam sistem judi bola bola mati, tentu saja sepak bola bukan hanya bola yang ditendang untuk masuk gawang, ada dukungan prediksi jitu untuk menentukan siapa pemenangnya. Dan klenik, lagi-lagi, jadi tumpuan utama.

Di desa Sukrib atau di desa Wahyu, saya mencatat ada beberapa jenis permainan judi bola mati, yakni tebak skor konvensional, tebak pencetak angka, tebak berapa kali terjadi penalti, siapa yang melakukan pelanggaran pertama, dan yang paling nggak mashoook, berapa kali Ronaldo dapat penalti.

Aturannya pun cenderung sederhana walau tiap desa bisa jadi berbeda secara detail. Di desa Sukrib, yang bertaruh 200 ribu akan dipertemukan, satu lawan satu, atau sama-sama memiliki peluang 50%. Maka semisal kalah, uang akan berpindah tangan kepada si pemenang.

Pun cara dapat tim, semisal Italia kontra Spanyol, siapa yang dapat Italia dan siapa yang dapat Spanyol, akan diadakan secara kocokan. “Judi di atas perjudian,” kata Sukrib.

“Intinya senang-senang, tapi yang sampai jual tanah karena kalah judi ya pasti ada,” kata Bandar ketika ia hendak menyudahi pembicaraan ini. 

“Singkatnya, judi itu permainan. Jadi, tinggal menunggu waktu, kamu yang main judi atau kamu yang dimainkan oleh judi,” tutupnya.

Dalam berbagai narasi agama, judi memang permainan yang dilarang lantaran rentan membuat sengsara. “Ya, karena judi adalah akulturasi budaya, Mas. Akulturasi budaya manusia dan budaya setan.”

BACA JUGA Hobi Berkuda dan Biaya yang Dikeluarkan untuk Ikut Klub di Jogja dan liputan menarik lainnya di Mojok.