Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Wawancara Ahok di Hari Toilet Internasional

Rusdi Mathari oleh Rusdi Mathari
21 November 2016
A A
Wawancara Ahok di Hari Toilet Internasional

Wawancara Ahok di Hari Toilet Internasional

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

“Gimana rasanya sekarang?”

“Alhamdulillah. Saya plong sekarang. Lega.”

 

“Syukurlah.”

“Namanya juga hidayah. Bukan kita yang menentukan.”

 

“Anda sudah lama mengenal Islam?”

“Cukup lama. Sampai SMP saya bersekolah di sekolah Islam. Kalau dulu boleh ikut pelajaran mengaji, saya mungkin sudah hafal Al-Quran.”

 

“Oh ya?”

“Saya hafal beberapa surat.”

 

“Termasuk Al-Maidah ayat 51?”

“Belum. Saya tahu ayat itu saat saya masuk politik.”

Iklan

 

“Saat mau jadi bupati itu?”

“Sekitar-sekitar itu.”

 

“Anda bukan hanya sekali mengutip ayat itu, iya kan?”

“Betul. Sudah sejak 2008. Sudah berkali-kali.”

 

“Kenapa ayat itu menarik perhatian Anda?”

“Sebagai politisi saya kan harus terpilih.”

 

“Hanya karena itu?”

“Itu sudah berlalu. Sudah selesai.”

 

“Anda sempat minta maaf, tapi tak mau mengaku salah.”

“Saya sudah minta maaf.”

 

“Kenapa tak mengaku salah?”

“Sekarang saya sudah masuk Islam.”

 

“Kenapa Anda masuk Islam?”

“Saya bilang tadi: ini soal hidayah.”

 

“Bukan karena untuk politik lagi dan pengakuan bersalah Anda?”

“Bukan. Bukan….”

 

“Waktu menjabat Anda mengerahkan konsultan intelijen bernama Tranada, apa betul?”

“Itu kumpulan anak-anak muda. Kasihan mereka butuh makan.”

 

“Mereka yang memasok laporan agar melawan aksi 4 November?”

“Saya tak bisa menjelaskan. Sekarang hubungan saya baik semua.”

 

“Dengan siapa?”

“Saudara-suadara umat Islam. Mereka sudah menerima saya.”

 

“Apa karena Anda masuk Islam?”

“Saya tidak tahu. ”

 

“Hubungan dengan yang lain?”

“Tetap baik. Ada kekecewaan. Kenapa saya begini, kenapa begitu.”

 

“Anda menyesal telah menggusur kampung dan rumah-rumah orang-orang itu?”

“Saya harus melakukannya demi tata kota dan tata hidup harus lebih baik.”

 

“Anda menyesal?”

“Tahu bahwa sebagian dari mereka kemudian kehilangan tempat tinggal dan tercabut dari kampungnya, iya, saya menyesal.”

 

“Hanya dalam setahun, Anda melakukan 113 penggusuran dan dilakukan dengan sadis….”

“Saya melakukannnya atas nama negara.”

 

“Kalau atas nama negara boleh melakukan apa saja?”

“Mestinya tidak boleh.”

 

“Anda mengabaikan putusan pengadilan.”

“Tapi saya harus melakukannya.”

 

“Kenapa?”

“Saya tak bisa menjelaskannya. Lagi pula itu sudah berlalu.”

 

“Reklamasi juga atas nama dan demi negara?”

“Itu rencana lama. Sudah ada sejak zaman Orde Baru.”

 

“Anda yang merealisasikannya.”

“Itu juga atas nama negara.”

 

“Kenapa Anda selalu bilang atas nama kepentingan negara?”

“Karena saya pejabat negara.”

 

“Bukan atas nama kepentingan cukong dan elite pengambil rente?”

“Sekarang saya menerima semua tuduhan.”

 

“Sebetulnya tak banyak yang Anda perbuat untuk warga bukan?”

“Saya tak mungkin menyenangkan semua orang.”

 

“Problemnya, Anda membuat imaji seolah Anda telah berbuat sesuatu. Memukau. Seolah Anda paling bersih?”

“Nanti akan ada pengakuan terbuka dari saya.”

 

“Apa yang ada di benak Anda saat bilang mau membunuh 2 ribu untuk menyelamatkan 10 juta orang?”

“Saya emosional saat itu.”

 

“Ucapan Anda ucapan seorang fasis dan pertama diucapkan oleh pejabat di sini. Kenapa Anda seperti ingin melawan kemanusiaan?”

“Saya tak benar-benar mau melakukannya.”

 

“Sebagai pejabat, Anda beruntung karena dilindungi oleh….”

“Itu rahasia saya dengan Pak… (off the record)”

 

“Rahasia apa?”

“Itu masa lalu. Sudahlah.”

 

“Apa rencana Anda ke depan setelah masuk Islam?”

“Saya mau naik haji.”

 

“Hanya itu?”

“Saya mau jadi anggota FPI.”

 

“Loh? Sebetulnya Anda siapa sih?”

“Gue yang mestinya nanya: elu siapa?”

 

“Elu enggak usah marah-marah gitu dong. Gue kan cuma nanya.”

“Elu tuh para wartawan, ngambil keuntungan dari gue. Besar-besarin isu gue. Elu pada yang membesarkan nama gue. Elu pada yang membuat gue jadi kayak gini. Taik elu pada. ”

 

“Dasar lu, Hok, emang kagak pernah berubah.”

“Hak Hok Hak Hok. Elu kira gue Ahok, hah?”

 

“Bukannya elu emang Ahok?

“Makanya jadi wartawan jangan sok tahu. Gue ladenin elu karena gue ingin tahu siapa elu.”

 

“Jadi elu bukan Ahok?”

“Gue Ahok kek, gue nenek elu kek, elu mau apa?”

 

“Jadi elu siapa?”

“Bego. Gue panitia hari jamban internasional tauk.”

 

“Hari jamban?”

“Dasar wartawan bego lu. Kemarin tuh hari toilet internasional tauk.”

 

“Ada hari taik?”

“Madekipe lu. Kita memang taik semua.”

 

“Elu raja taik dong?”

“Kalau gue raja taik, elu mau apa?”

 

*(Tulisan terlambat untuk peringatan Hari Toilet Internasional 20 November)

Terakhir diperbarui pada 8 Juni 2017 oleh

Tags: ahokAl-MaidahDemoFPIIslampenggusuranWawancara
Rusdi Mathari

Rusdi Mathari

Artikel Terkait

Lahir di lingkungan NU tapi justru menemukan kedamaian di Muhammadiyah. MOJOK.CO
Sehari-hari

Tumbuh di Desa dengan Tradisi Keagamaan yang Kental, Saya Justru Menemukan Kedamaian di Muhammadiyah dengan Rasionalitasnya

3 Agustus 2026
Tawadhu Tidak Seharusnya Membuat Santri Diam saat Menjadi Korban MOJOK.CO
Esai

Tawadhu sebagai Pisau Bermata Dua: Santri Tidak Seharusnya Dibungkam saat Menjadi Korban

26 Juli 2026
Jangan Jadikan Perkap Nomor 4 Tahun 2025 sebagai Legitimasi Polisi Menembak Demonstran.MOJOK.CO
Tajuk

Jangan Jadikan Perkap Nomor 4 Tahun 2025 sebagai Legitimasi Polisi Menembak Demonstran

22 Juni 2026
Hujan Bulan Juni untuk Samadi: Es Krim yang Mencair di tengah Aksi Rakyat Memanggil dan Kenaikan Harga yang Bikin Ngelu MOJOK.CO
Sosok

Hujan Bulan Juni untuk Samadi: Es Krim yang Mencair di Tengah Aksi Rakyat Memanggil dan Kenaikan Harga yang Bikin Ngelu

14 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Derita lansia pakai cashless seperti QRIS. MOJOK.CO

Derita Lansia Tak Bisa Beli Roti Hanya karena QRIS yang Menghantui

4 Agustus 2026
Kampung Menari Hasta Budaya, Wadah Gratis Warga Gowongan Lestarikan Tari Klasik Jogja.MOJOK.CO

Kampung Menari Hasta Budaya, Wadah Gratis Warga Gowongan Lestarikan Tari Klasik Jogja

6 Agustus 2026
Saat cerita/sambat ke teman berujung adu nasib dengan kalimat maut "Kamu masih mending". Meresponsnya dengan pura-pura tolol ternyata menyenangkan MOJOK.CO

Niat Cerita ke Teman Berujung Adu Nasib: Pura-pura Tolol saat Teman Bilang “Kamu Masih Mending” Ternyata Menyenangkan

6 Agustus 2026
Tangan-tanga pembuat apem ya qowiyyu: alasan kue tradisional khas Jatinom, Klaten, tak lekang waktu MOJOK.CO

Tangan-tangan Pembuat Apem Ya Qowiyyu: Alasan Kue Tradisional Jatinom Klaten Tak Lekang Waktu

4 Agustus 2026
Nasirun, pelukis-seniman maestro berpulang dengan meninggalkan ingatan kebaikan MOJOK.CO

Hadiah Lukisan Topeng dari Membetulkan Antena TV dan Laku Hidup Seorang Nasirun

1 Agustus 2026
Putus pertemanan di lingkungan kantor yang toxic. MOJOK.CO

Putus Pertemanan dengan Rekan Kerja Toxic adalah Jalan Terakhir Saya Hidup Bahagia dari Drama Usia 30-an

5 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.