Vigit Waluyo, Opera Sabun Gusti Randa, sampai Persebaya Surabaya

MOJOK.CO – Tidak seperti Gusti Randa, Persebaya Surabaya tak mungkin bisa melupakan Vigit Waluyo. Sebab dia yang bikin hati Bonek pecah jadi dua.

Jelang berakhirnya Liga 1 dan Liga 2 di penghujung tahun 2018, sepak bola Indonesia kembali diramaikan dengan isu pengaturan skor (match fixing). Ini sebenarnya musim-musim tahunan saja, seperti musim duren, musim pengharaman ucapan selamat natal, musim fitnah, sampai kemudian musim match fixing. Udah jadi siklus.

Nama Vigit Waluyo dan M. Hidayat merupakan dua nama yang mengemuka dalam wacana publik, setelah di program talkshow Mata Najwa keduanya disebut Bambang Suryo dan Januar Herwanto sebagai aktor yang mempermaikan skor pertandingan sepak bola di Indonesia.

Bambang Suryo sebagai mantan runner pengaturan skor dan Januar Herwanto, Manajer Madura FC.

Bagi mereka yang ngikuti sepak bola tanah air sejak lama, nama Vigit Waluyo bukan orang asing dalam sepak bola Indonesia. Maka, sungguh bikin terkejut bin aneh bin absurd jika Exco PSSI yang hadir di Mata Najwa, Gusti Randa mengaku tidak mengenal Vigit Waluyo.

Gusti Randa berkelit jika PSSI itu tugasnya ngurus federasi, bukan mafia. Oke deh. Mungkin Gusti Randa sedang rindu bersandiwara di sinetron Siti Nurbaya, Kasih tak Sampai (1991) yang melambungkan namanya sebelum terpelanting jadi pengurus PSSI. Pemain sinetron lalu banting setir ngurus sepak bola. Luwar biyasa multitalenta.

Sinetron sendiri merupakan akronim dari sinema elektronik, sebuah program drama bersambung produksi lokal Indonesia yang disiarkan oleh stasiun televisi dalam negeri.

Di ranah manajemen penyiaran televisi, sinetron dalam bahasa Inggris searti dengan opera sabun (soap opera), sedangkan dalam bahasa Spanyol semaksud dengan telenovela.

Sering dijumpai, kisah sinetron tidak logis. Tapi itu bisa dimaklumi, sebagai sinetron, kisah di dalamnya kadang punya universe-nya sendiri. Seperti Sinetron PSSI misalnya, yang punya universe sendiri, macam “wartawan baik dulu, baru timnas bisa baik.”

Hal yang sama juga terjadi saat Gusti Randa, sebagai Exco PSSI, mengaku tidak kenal Vigit Waluyo. Pada titik ini ada pertemuan antara pernyataan Gusti Randa dan kisah sinetron, yaitu sama-sama tidak logis, sama-sama tidak bisa diterima akal sehat. Tapi hal ini bisa dimaklumi, namanya juga sinetron PSSI.

Sebab, jika mengikuti silogisme kategorial, premis mayornya adalah Exco PSSI mengenal semua pemilik/manajer klub sepak bola di seluruh Indonesia. Premis minornya Vigit Waluyo adalah pemilik salah satu klub, yakni PSMP Mojokerto.

Konklusinya: Exco PSSI mengenal Vigit Waluyo.

Sekarang begini. Gusti Randa merupakan Exco PSSI. Mengikuti silogisme ini, berarti Gusti Randa sewajarnya kenal (atau minimal tahu) sosok Vigit Waluyo. Apalagi Vigit Waluyo juga pernah menjadi Manajer Persewangi Banyuwangi, PSIR Rembang, Persikubar Kutai Barat, dan Deltras Sidoarjo.

Nama Persikubar tentu tidak asing bagi pecinta sepak bola Indonesia—terutama bagi para Bonek pendukung Persebaya Surabaya. Sebab klub dari Kutai Barat, Kalimantan itu diboyong oleh Vigit Waluyo ke Jawa Timur untuk “merebut” hak berkompetisi Persebaya yang di saat bersamaan sedang konflik dengan PSSI.

Sebagaimana kisah sinetron yang tidak perlu logis karena punya universe-nya sendiri, Persikubar tiba-tiba berubah nama jadi “Persebaya”. Klub transmigran dari Kutai Barat ke Surabaya ini kemudian dikelola oleh PT. Mitra Muda Inti Berlian (MMIB) dengan dukungan La Nyala Mattaliti, Ketua Umum PSSI 2012.

Keberadaan “Persebaya” yang disulap dari Persikubar menjadi episentrum gejolak sepak bola Indonesia selama bertahun-tahun. Klub abal-abal ini merampas sebuah klub bersejarah yang ikut mendirikan PSSI.

Sejarah membuktikan klub bodong ini tidak berhasil mengambil hati Bonek, yang secara militan mendukung Persebaya (1927) yang asli.

Mario Karlovic, pemain Persebaya asal Australia yang mengalami masa-masa sulit saat Persebaya dianiaya federasi pernah berkata, “You can’t buy history, history can only be made.” Jika saja Vigit Waluyo tidak campur tangan ke dalam konflik Persebaya mungkin ceritanya akan beda.

Sebenarnya sejak dulu persoalan suap telah menggerogoti sepak bola kita.  Majalah Tempo, 2 April 1988, menurunkan sebuah berita berjudul “Acub Zainal: Rusaknya Sudah Terlalu Parah”.

Majalah berita mingguan ini menuliskan mengenai rusaknya tata kelola sepak bola Indonesia akibat suap, meski sudah dibentuk Tim Penanggulangan dan Pemberantasan Masalah Suap (TPPMS).

Dalam laporan tersebut disebutkan ada 14 permainan sabun dalam babak 6 besar Perserikatan pada 1988.

“Kalau pemain dan pengurusnya kurang ajar, tidak punya moral, tidak punya sportivitas, ya sama saja. Permainan sepak bola sabun akan terus ada,” ujar Acub Zainal saat itu.

Tahun 2019 sebaiknya istilah sepak bola gajah yang merujuk pada pertandingan yang diwarnai match fixing dikembalikan ke istilah awal yang disebut oleh Acub Zainal, yaitu sepak bola sabun.

Hal ini disebabkan karena istilah “sepak bola gajah” muncul saat Persebaya Surabaya mengalah kepada Persipura Jayapura 0-12 pada musim kompetisi Perserikatan 1987/1988.

Dalam buku Sepakbola Gajah Paling Spektakuler (2016), disebutkan kalau Persebaya ngalah dengan skor telak, karena dilatarbelakangi untuk upaya penyelamatan satu-satunya wakil sepak bola Irian Jaya (Papua) yang tersisa kala itu.

Meski begitu banyak orang lebih suka mempercayai alasan kalau Persebaya ngalah dari Persipura, untuk menyingkirkan PSIS Semarang yang di tahun 1986/1987 mengalahkan Persebaya di babak final Divisi Utama Perserikatan.

Alasan pertama tentu sungguh mulia, sehingga istilah “sepak bola gajah” terlalu suci kalau disebut pertandingan yang diwarnai match fixing. Nah, kalau alasan kedua, hal itu barangkali bisa disebut sebagai istilah yang digunakan Acub Zainal sebagai; “sepak bola sabun”.

Bagi generasi pra milenial tentu paham siapa Acub Zainal. Acub Zainal pernah menjadi ketua umum Niac Mitra, klub Galatama asal Surabaya pada pertengahan 1980-an.

Selain dengan sepak bola, Acub Zainal juga bersinggungan dengan film. Acub Zainal pernah menjabat sebagai Ketua Festival Film Indonesia (FFI) yang berlangsung di Surabaya tahun 1981.

Dalam hal ini Exco PSSI sekelas Gusti Randa seharusnya belajar dari Acub Zainal tentang bagaimana hidup di ranah film/sinetron dan sepak bola. Lha gimana? Acub Zainal tidak pernah berakting saat sedang mengurus sepak bola.

Sangat jauh jika dibandingkan dengan Gusti Randa, terutama kalau di depan kamera Mata Najwa.

Exit mobile version