MOJOK.CO – UNY membentuk saya menjadi mahasiswa yang bebas. Sementara itu, UAD menarik saya kembali ke jalan benar menuju kelulusan.
Saya adalah jenis mahasiswa yang jarang dirayakan di dunia akademik. Maklum, saya terlalu lama kuliah.
Terlalu lama sampai kata “proses” terdengar seperti dalih dan kata “nanti” berubah menjadi mekanisme bertahan hidup. Saya bukannya tidak pintar, cukup aktif, dan bukannya tidak peduli dengan kelulusan. Saya hanya terlalu lama diberi kebebasan, dan terlalu percaya diri bisa mengatur hidup sendiri.
Tujuh tahun lebih saya hidup sebagai mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Datang ke kampus, berpentas, berdiskusi, terlibat banyak kegiatan, tapi tidak selesai. Setiap ditanya, “Kapan lulus?”, saya punya seribu alasan yang terdengar masuk akal, tapi satu kesamaan bahwa semuanya menunda.
Rasa bersalah itu tidak datang seperti badai. Ia datang perlahan dan menetap. Sampai suatu hari kenyataan paling telanjang menghantam saya tanpa empati. Masa studi saya di UNY habis.
Ketika tidak ada lagi ruang untuk menunda
UNY tidak mengusir saya. Kampus itu hanya berhenti menunggu. Dan saya paham itu. Saya terlalu lama memanfaatkan kelonggaran yang diberikan. Kultur kebebasan yang saya cintai ternyata menuntut kedewasaan yang belum saya miliki.
Di titik itu, hidup akademik saya menyempit. Pilihannya tidak heroik sama sekali, yakni berhenti atau pindah kampus. Saya tidak pindah karena benci UNY. Saya pindah karena ingin satu hal sederhana, lulus.
Keputusan itu terasa seperti pengakuan kegagalan sebagai manusia dewasa. Tapi justru di sana saya mulai jujur pada diri sendiri. Saya butuh sistem yang lebih kuat dari niat baik saya.
Mencari kampus baru, UAD, dan prasangka yang jujur
Mencari kampus baru dengan riwayat studi panjang dan transkrip nilai yang biasa saja bukan pengalaman membanggakan. Saya bukan mahasiswa incaran. Saya mahasiswa yang berharap diterima.
Universitas Ahmad Dahlan (UAD) muncul sebagai opsi yang paling rasional. Tapi di kepala saya, UAD identik dengan hal-hal yang berkebalikan dari sifat saya yaitu tertib, islami, rapi. Terlalu rapi untuk manusia seperti saya yang tumbuh di ekosistem seni, diskusi liar, dan kebebasan nyaris tanpa pagar.
Saya takut tidak cocok. Anggapan tidak disiplin juga jadi hantu tersendiri. Tapi, saya tidak lagi punya kemewahan memilih berdasarkan ego. Saya butuh tempat yang membuat saya selesai, bukan sekadar merasa hidup.
Baca halaman selanjutnya: Menemukan kampus yang terbaik untuk “buangan”.
UAD dan sistem yang tidak membiarkan saya hilang (lagi)
Masuk UAD lewat jalur Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) adalah pengalaman yang mengagetkan, bukan karena sulit, tapi karena terlalu jelas. Alur administrasi dijelaskan. Tahapan dipandu. Saya ditanya kendala, bukan diadili masa lalu. Untuk pertama kalinya, saya tidak dipaksa menebak-nebak sistem.
Di UAD, kuliah adalah aktivitas serius. Jadwal jelas. Presensi tegas. Tugas terukur. Dosen tahu siapa mahasiswanya dan, yang lebih penting, tahu kapan harus menegur dan kapan harus membimbing. Saya tidak lagi bebas menghilang. Saya tidak lagi bisa berlindung di balik kata “nanti”.
Secara konkret, hidup kuliah saya berubah. Saya datang ke kelas tepat waktu. Duduk, mencatat, berdiskusi dengan arah jadi rutinitas. Ketika azan berkumandang, kelas berhenti. Semua orang tahu ritmenya. Tidak ada negosiasi apalagi drama. Dan justru di situ saya merasa aman.
UAD tidak romantis, tidak memuja potensi. Mereka bekerja memastikan mahasiswa selesai.
UNY dan UAD antara kebebasan vs kepastian
UNY, khususnya FBS, adalah ekosistem seni yang luar biasa. mereka membentuk keberanian berpikir, keberanian tampil, dan keberanian berbeda. Kebebasan di UNY adalah “udara”. Tapi, kebebasan itu menuntut kedewasaan tinggi. Ia cocok untuk mereka yang mampu mengatur diri tanpa pagar. Sialnya, saya bukan orang itu.
UAD menawarkan kebalikannya yakni kepastian. Mereka tidak bertanya apakah saya siap disiplin. Kampus itu memaksa saya belajar disiplin. Mahasiswanya rapi, sistemnya jelas, ekspektasinya tegas. Tidak banyak ruang untuk bersembunyi, tapi banyak ruang untuk dibimbing.
Mahasiswa UNY hidup dengan kompas batin. Mahasiswa UAD hidup dengan peta, jadwal, dan mercusuar. Dan bagi manusia seperti saya, mercusuar itu bukan pembatas, tapi penyelamat.
Tentang kultus kebebasan dan kebohongan yang jarang dikritik
Ada satu kebohongan yang jarang kita kritik dalam dunia kampus bahwa kebebasan selalu dianggap solusi. Padahal, bagi banyak mahasiswa, kebebasan justru cara paling halus untuk membiarkan mereka gagal sendirian. Kita memuja kebebasan seolah semua mahasiswa otomatis dewasa, tangguh, dan disiplin. Faktanya tidak demikian.
Bagi mahasiswa seperti saya, kebebasan tanpa pagar bukan ruang tumbuh, tapi jurang yang tampak indah dari kejauhan. Dan di titik itulah UAD menjadi relevan secara brutal.
Mereka tidak menjual kebebasan sebagai slogan, tapi menawarkan sesuatu yang jauh lebih berguna, struktur, perhatian, dan sistem yang bertanggung jawab pada mahasiswa yang tertinggal. UAD tidak bertanya seberapa liar masa lalu saya. Mereka hanya peduli satu hal, apakah saya mau dibantu untuk selesai atau tidak. Dalam dunia akademik yang sibuk merayakan potensi, sikap itu bukan sekadar baik. Ia menyelamatkan.
Skripsi, Gramsci, dan upaya terakhir menjadi jujur
Hari ini saya mengerjakan skripsi tentang hegemoni Antonio Gramsci dalam karya sastra. Topik yang terdengar berat, tapi justru membuat saya bertahan. Saya ingin melihat bagaimana kuasa bekerja secara halus, bagaimana ide membentuk kesadaran tanpa paksaan.
Saya tidak berharap skripsi ini mengubah dunia. Saya hanya berharap satu hal bahwa saya menyelesaikannya dengan jujur. Dan untuk pertama kalinya, itu terasa mungkin, bukan karena saya tiba-tiba jadi manusia baru, tapi karena sistem di sekitar saya tidak lagi membiarkan saya lari.
UAD sebagai kampus terbaik untuk mahasiswa “buangan”
Saya tidak malu menyebut diri saya mahasiswa “buangan”. Bukan karena dibuang secara resmi, tapi karena tidak cocok dengan sistem sebelumnya. Dan UAD tidak menolak manusia seperti saya. Mereka menerima, memetakan, lalu membentuk ulang.
UAD bukan kampus alternatif, bukan pula pilihan kedua. Bagi mahasiswa seperti saya yang gagal diselamatkan oleh kebebasan, UAD adalah kampus terbaik. Mereka tidak memanjakan kegagalan, tapi juga tidak menghukumnya. Ia percaya manusia bisa dibenahi, asal diberi sistem yang jelas dan perhatian yang cukup.
UNY membesarkan saya sebagai manusia yang bebas berekspresi. UAD menarik saya kembali ke meja, ke jadwal, ke tanggung jawab.
Dan mungkin itulah pelajaran terpenting hidup akademik saya bahwa tidak semua orang gagal karena bodoh. Sebagian gagal karena terlalu lama dibiarkan bebas.
Bagi manusia buangan seperti saya, UAD bukan tempat pembuangan. Ia tempat pembenahan. Dan bagi saya, itu cukup untuk menyebutnya sebagai kampus terbaik yang pernah saya masuki.
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Pengalaman Saya Kuliah di 2 Kampus Terbaik Jogja: Menjadi Liar di UNY, Menikmati Kasih Sayang Dosen dan Menjadi Mahasiswa Tertib di UAD dan pengalaman menarik lainnya di rubrik ESAI.
