Seks dan Horor: Teror yang Mengiringi Panasnya Berahi

Namanya perbuatan mesum pasti ada saja gangguannya.

Seks dan Horor: Teror yang Mengiringi Panasnya Berahi MOJOK.CO

Ilustrasi Seks dan Horor: Teror yang Mengiringi Panasnya Berahi. (Mojok.co/Ega Fansuri)

MOJOK.COSaya mau cerita pengalaman berhubungan badan secara ilegal. Tentu ini dibalut horor, karena tidak semua urusan seks bumbunya hanya alat kelamin yang bertemu saja.

Ada naskah yang sudah tiga bulan ini saya tulis, edit, tulis, edit, dan tak kunjung dikirim ke Mojok karena banyak pertimbangan. Rasanya ingin mengirim, tapi “ada yang melarang” tulisan itu dibaca orang lain.

Sambil menunggu jawaban dan penjelasan kenapa naskah itu tidak saya kirim ke Mojok, saya mau cerita pengalaman berhubungan badan secara ilegal saja. Tentu ini dibalut horor, karena tidak semua urusan seks itu bumbunya hanya soal alat kelamin yang bertemu saja.

Kalau tulisan bersambung soal pengalaman saya dari bilik ke bilik jadi dimuat Mojok (Iya, jadi, kok. Tunggu, ya – Red) maka sedikit banyak ini akan berhubungan dengan cerita yang ada di sana, di tulisan bersambung itu. 

Awal pertautan seks dan horor

Kalian tentu masih ingat bagaimana saya diikuti Noni Belanda sampai ke sebuah lokalisasi di Kota Cepu, di pinggir kota yang dipenuhi pohon jati dan karet, di tanah kering di area lokalisasi yang dipenuhi rumah-rumah yang terbuat dari kayu. Ada yang modelnya panggung, ada juga yang dibangun menempel dengan tanah dan tanpa menebang banyak pohon di sekitar. Jadi ada juga rumah yang kiri kanannya menempel pohon besar.

Saya masuk ke lokalisasi itu dengan seorang teman. Namanya Edi. Dia yang memberikan “bimbingan” kepada saya mengenai guardian angel yang sebenarnya dimiliki oleh semua manusia, seperti yang saya alami bersama Noni. Di lokasi jual dan beli seks itu, Edi bercerita bahwa membawa guardian angel itu gampang-gampang susah.

Indonesia ini termasuk salah satu negara yang sejarah gaibnya cukup panjang dan beragam. Kalau dapat guardian angel versi belanda, dia belum tentu akur dengan pribumi, asia, atau bahkan dengan sesama Belanda serta siluman lokal. Mohon maaf, saya susah menggambarkan wujud setengah manusia dan hewan itu namanya apa. Bukan maksud merendahkan, karena siluman identik dengan hal negatif dan buruk rupa.

Dari Edi, saya juga belajar bahwa masuk ke area-area tertentu seperti di lokalisasi itu bisa berakibat cukup berbahaya bagi saya dan guardian angel yang saya bawa. Malam itu misalnya, saat Noni berada di gerbang, “preman-preman” sekitar berkumpul di satu titik dekat gerbang. Risiko terbesar yang bisa didapat oleh Noni adalah terluka, terbakar, atau apa saja yang bisa dilakukan oleh preman tadi terhadapnya.

Lokalisasi, rumah ideal untuk makhluk gaib

Lokalisasi itu salah satu tempat ideal bagi makhluk gaib untuk bermukim, bergerombol, dan berserikat. Bukan karena itu tempat mesum saja, tapi karena lingkungan yang seringnya jauh dari keramaian dan dipenuhi pohon-pohon besar.

Tapi untungnya, Edi dan Gondrong “membantu” membentengi Noni dengan penjelasan, atau ancaman, apabila ada yang coba-coba mengusiknya. Saya sih hanya mengangguk kebingungan mendengar penjelasan Edi. Namanya pengalaman pertama seumur hidup, jadi masih setengah percaya.

Semenjak pergi dari halaman sebuah sekolah tempat kami minum arak, Noni memang masih ditemani oleh seorang pribumi atas permintaan si komandan. Dia jarang keluar area sekolah itu, karena memang tidak ada alasan yang mengharuskan dia keluar. Seperti anak rumahan yang bisa keluar rumah kalau ada acara, sekolah, atau berbelanja. Standar operasional saja. Baru setelah saya datang, dia mau ikut dan akhirnya bisa keluar area dan dapat izin dari sang komandan.

Seks berbayar via aplikasi

Lalu apakah itu pengalaman seram saat ada di tempat-tempat mesum dan seks berbayar versi saya? Tidak, masih banyak. Saya akan menceritakan beberapa yang menurut saya cukup menarik. 

Saat di Jogja, semenjak era Skout, Bee Talk, dan Wechat lalu sampai Michat, saya sering menyewa jasa WP atau wanita panggilan melalui aplikasi itu. WP adalah salah satu sebutan populer di dunia seks berbayar. Saking seringnya saya sampai lupa di mana kali pertama menggunakan layanan aplikasi itu. Namun, seks berbayar yang cukup berkesan salah satunya ada di Jakarta, tepatnya di apartemen Kalibata City.

Kalibata City

Sekitar pertengahan 2013, kalau tidak salah, saya deal dengan salah seorang perempuan yang membuka jasa Open BO. Deal itu istilah populer kalau kedua pihak sudah setuju dan sedang menuju eksekusi.

Saya berangkat menggunakan taksi Blue Bird dari daerah Tebet Timur. Sejak awal saya di taksi itu si bapak supir sudah membuka cerita mengenai tempat yang saya tuju. Dari soal identik dengan mabes Open BO (menurut dia dan saya baru tahu apa itu Kalcit), orang yang meninggal secara tidak wajar, sampai penggerebekan seks dan narkoba.

Entah kisah itu benar atau tidak, saya tidak terlalu peduli. Namanya terlanjur sange dan sudah ada di atas taksi. Nanggung kalau putar balik.

Saya sampai di Kalcit, turun di sebuah coffee shop kecil di lantai bawah apartemen untuk menunggu dijemput. Sebut saja namanya Dita. Di sebelah coffee shop itu ada sederet ruko. Ada sekitar 6 dan hanya 2 yang buka, yaitu di ruko nomor 4 dan 6. Sementara itu, ruko 1, 2, 3, dan 5 tutup. Hanya lampu remang yang terlihat dari arah saya duduk dekat ruko nomor 6, menghadap ke jalan konblok yang dilewati mobil.

Saya menoleh ke arah ruko yang tutup itu karena Dita bilang dia akan datang dari arah ruko nomor 4. Jalan masuk menuju apartemen ada di antara ruko nomor 4 dan 5. Saya melihat seorang perempuan, di remang malam, dengan gaya pakaian yang saya bilang “Jakarta Banget”, masuk ke arah ruko nomor 3. Saya hanya membatin, mungkin benar kata bapak di taksi itu, ini memang tempat ideal untuk open BO bagi beberapa orang.

Gangguan di dekat lift 

Tidak berapa lama Dita terlihat berjalan ke arah saya sambil memegang hape. Saya melihat ada chat masuk dari dia di HP saya.

“Kamu yang duduk, pakai kemeja jeans sambil ngerokok, bukan?”

“Iya, ini kamu yang jalan ke arahku pakai cardigan krem dan hot pants gelap?”

“Iya, sini, deket sama lift.”

Saya menghampiri Dita, kami berbelok menuju lift, tapi ada yang mengganjal di dalam hati. Perempuan yang saya lihat tadi berjalan masuk tepat di ruko nomor 3, sementara saya lihat dengan jelas ketika berjalan dengan Dita, ruko nomor 3 itu tertutup rapat. Jalan umum seperti lorong pendek ada di antara ruko 4 dan 5 seperti kata Dita. Saya melihat ke belakang setelah kami masuk di lorong itu dengan rasa penasaran. Ini pertama kalinya saya kencan dengan seorang perempuan di apartemen, dan di kota besar, sekaligus apartemen yang memiliki cukup banyak cerita.

Kami keluar dari lift di lantai 11 bersama Dita. Kamarnya dekat dengan Lift, jadi bisa terdengar bunyi lift kalau berhenti di setiap lantai. Kami sudah di depan kamar dan Dita membuka pintu sambil berkata, “Ayo masuk.” 

Dari arah kami datang terdengar bunyi lift dan gesekan pintunya yang terbuka. Kami terdiam. Saya mendadak ketakutan dan buru-buru masuk. Dari dalam kamar saya melihat Dita berdiri di pintu, kepalanya dijulurkan untuk melihat keluar, menengok ke arah lift lalu buru-buru masuk, mengunci pintu, bergegas menuju tempat duduk dekat pintu balkon.

Sange yang menekan rasa takut

Kami mengobrol sebentar. Dia tidak merokok dan tidak suka kamarnya berbau asap rokok. Dita menawarkan saya Chitato yang baru saja dibelinya di bawah, sambil tadi menunggu saya berangkat dan menuju Kalcit. Ada sekitar 15 menit kami mengobrol, hal yang tidak biasa bagi seorang perempuan sepertinya saat menerima tamu; tidak terlalu lama bicara dan dia seperti menunggu sesuatu.

Kami akhirnya sampai di sesi bercumbu. Saat pakaian kami mulai lepas, dia tiba-tiba berhenti dan bilang, “Nanti kalau pulang kita bareng ke bawah, ya, aku sekalian mau ketemu temenku di mal depan.” Saya mengangguk. Tapi wajahnya masih terlihat menyembunyikan sesuatu, cuma karena sudah setengah jalan saya tidak mau membicarakannya. Namanya seks berbayar, sayang sama waktu, kan.

Setelah selesai, saya diminta menunggu Dita yang mau bersih-bersih di kamar mandi. Lama saya perhatikan kamarnya, tidak terlalu banyak barang-barang pribadinya, hanya ada travel bag, tas sepatu, dan pouch besar berisi alat rias. Pintu diketuk, saya kaget, apakah ini tamunya yang lain, atau temannya yang malah menyusulnya ke kamar?

Ketukan di pintu

Jaraknya cukup lama hingga pintu diketuk lagi. Tidak beberapa lama Dita keluar dan saya bilang kalau ada yang mengetuk pintu barusan. Saya tidak menjawab karena bukan penghuni situ. 

Jawaban Dita cukup membuat saya heran. “Biarin aja, mungkin salah kamar, biasa mah kalau di sini. Kalau kamarnya bener pasti ngetuk lagi, kok.” 

Benar saja, tidak ada lagi ketukan terdengar. Saya mengamini perkataannya, sekaligus merasa janggal.

Kami turun ke bawah. Dita menggandeng lengan saya sambil tangan kanannya mengetik di hape. Terlihat jelas di chat WhatsApp-nya dia mengetik: “Gue otw ke bawah.” 

Kami saling bertatapan di lift, sebuah ciuman kilat mendarat di bibir saya dan dia berkata, “Maaf ya tadi, agak nggak mood, bukan karena kamu, kok” Sikapnya baik sepanjang kami berbicara dan menjalankan keniscayaan seks berbayar. Sebagai laki-laki normal saya dengan senang hati kembali lagi ke sana.

Dita, sekali lagi

Sebelum kembali ke Jogja, saya menghubungi Dita lagi. Namun, sekali lagi, balasan chat-nya membuat saya heran. “Kita keluar aja yuk, cari hotel budget dekat sini. Banyak, kok.” Saya mengiyakan saja, 70% otak saya sudah mesum, tidak perlu pikir panjang.

Seks berbayar seri kedua dengan Dita menghabiskan waktu 1 jam di salah satu hotel murah dekat Kalcit. Saya pikir waktu saya habis dan saatnya dia pulang, tapi sekali lagi, dia bersikap aneh dengan bertanya bagaimana kalau dia menginap tanpa harus ada tambahan biaya dari saya?

Butuh 2 jam ngobrol ngalor-ngidul sampai dia cerita hal yang membuat saya merinding. Malam saat kami bertemu, dia rupanya melihat hal janggal yang cukup mengganggu. Saat menjemput saya, ada sosok perempuan yang mengikutinya menuju lift begitu keluar dari kamar, anehnya saat ditunggu perempuan itu tak kunjung memasuki lift.

Lalu, ketika sampai lantai bawah, dia berpapasan dengan seorang perempuan yang berjalan menuju lift. Sepersekian detik dia ingat betul itu ciri-ciri perempuan yang ada di lantai atas saat dia turun. Dia tahu persis karena lampu di lantai atas dan lantai dasar sangat terang sehingga bisa melihat dengan sangat jelas.

Gangguan yang menemani kami

Masih ingat dengan pintu yang diketuk? Nah, itulah alasan Dita menanggapi perkataan saya tentang pintu diketuk. Saat ada suara lift dan gesekan pintu, dia menengok keluar kamar ke arah lift. Dan tentu saja si perempuan yang ditemuinya 2 kali terlihat lagi di depan pintu lift dengan wajah yang tidak lazim.

Perempuan itu berparas cantik, tapi menakutkan dengan dagu yang nyaris lancip, alisnya menekuk seperti marah, senyumnya aneh. Saat Dita melihatnya dari posisi menyamping menghadap ke lift, dia lalu berbalik badan ke arah Dita. Rambutnya sebahu dengan bentuk yang kaku. Tanpa pikir panjang, Dita lalu masuk kamar dan segera menutup pintu. Karena itu pula dia butuh waktu cukup lama untuk menghilangkan rasa takutnya dan mengajak saya mengobrol.

Saat kami bercumbu, dia beberapa kali memejamkan mata. Tapi, justru wajah perempuan misterius itu yang muncul di kepalanya. Dan lama kelamaan, semakin jelas seperti sedang melihat video dengan resolusi rendah, sedikit kabur tapi masih bisa terlihat dengan baik. Detik itu pula dia memutuskan untuk turun ke bawah, menyusul teman sekamar yang berbagi ruangan dengannya di apartemen itu agar harga sewa tidak terlalu mahal. 

Cerita seram tentang tower yang kamarnya disewa oleh Dita dan seorang temannya memang baru didengar setelah dia tinggal beberapa hari di sana. Dan itu dia dapat dari sumber-sumber yang kurang meyakinkan, dan Dita tidak memperdulikan itu, apalagi dia sudah terlanjur menyewa selama sebulan. Lika dan liku dunia seks berbayar memang penuh dilema.

Teman Dita memang melayani panggilan keluar. Kadang pulang larut malam. Nah, di situasi itu pula beberapa kali Dita mendengar suara-suara aneh ketika sendirian di kamar. Mulai suara heels yang mondar-mandir, suara besi seperti apar pemadam yang dipukul menggunakan kunci pas, martil kecil, atau semacamnya, atau suara tertawa seperti orang lewat, berlalu dan terdengar menjauh yang sering dianggap Dita sebagai suara orang menerima telepon sambil berjalan atau mabuk.

Kalcit yang angker

Kisah Dita berpapasan di lantai dasar itu sudah pernah dialami temannya. Pernah terjadi 2 kali dalam semalam. Misal temannya lewat pukul 7, lalu lewat lagi pukul 10 malam, dia akan berpapasan dengan orang yang sama dan anehnya selalu berada di sisi kanan dari arah berlawanan. Saat berpapasan, dia tidak terpikir untuk menoleh ke belakang untuk memastikan. Hingga momen dan ciri-ciri yang diceritakan temannya dialami langsung oleh Dita saat pertama kali bertemu dengan saya.

Dita menghabiskan waktu selama 4 jam bersama saya. Tentu akhirnya saya memberikannya tips sebagai terima kasih karena saya merasa ditemani, hingga akhirnya dia pamit karena temannya sudah menunggu di lantai bawah untuk naik ke kamar mereka bersama-sama. Sementara saya, bergegas meninggalkan kamar hotel untuk kembali ke Tebet. Besok siang saya akan kembali ke Jogja dan saya tidak mau sendirian di kamar hotel setelah mendengar kisah horor yang dialami Dita.

Sepanjang jalan di dalam taksi saya masih terus berpikir. Apakah itu perempuan yang saya lihat masuk ke arah ruko nomor 3? Ciri-cirinya hampir sama, rambut sebahu, menggunakan rok pendek, kaos berwarna cerah tanpa lengan, tas jinjing besar, dan heels tinggi yang bisa terlihat dari jarak cukup jauh. 

Seandainya Dita berniat mengerjai saya, apapun motifnya, tidak ada barang-barang saya yang hilang selama bersamanya. Dia sempat juga memperlihatkan chat WhatsApp dengan temannya di malam kami bertemu dan beberapa hari sebelumnya. Lalu, apakah tidak ada orang baik di Jakarta yang mau berkata yang sebenar-benarnya?

Seks berbayar di Jogja

Saya sering keluar malam di atas pukul 11, atau bahkan 1 pagi. Selain membeli rokok seperti orang kebanyakan, di jam-jam itu pula saya sudah menanggalkan segala rutinitas sehari-hari. Cuaca dingin, jalanan sepi, tidak banyak saksi mata dan pikiran sudah tenang untuk berangkat Open BO.

Kalau di Jogja, biasanya saya memilih untuk mencari penyedia jasa dengan radius 5 kilometer. Wilayahnya beraneka ragam. Mulai dari lokasi yang melewati pos ronda yang banyak orang, rumah kosong yang terlihat seram, kos campur yang kebetulan ada sekelompok orang sedang menenggak miras, dan beberapa daerah absurd lain yang mungkin akan saya ceritakan di tulisan bersambung “Bilik ke Bilik” nanti.

Hotel di Gejayan

Suatu malam sekitar 2016, beberapa bulan sebelum menikah, saya deal dengan seorang wanita panggilan di aplikasi WeChat. Saya berangkat menuju hotelnya di sekitar Jalan Gejayan, hotel yang kebetulan saya sudah pernah menginap beberapa kali di sana. Saya sudah hafal betul bangunannya sehingga tidak canggung seperti tempat lain, tidak perlu tanya satpam atau front office.

Karena termakan mitos bahwa olahraga ringan sebelum seks itu bisa membuat fisik kita bugar dan tahan lama, saya memilih menggunakan tangga dari lantai 2 menuju lantai 5. Sebelumnya saya menggunakan lift dari lobi menuju lantai 2.

Tangganya persis berada di sebelah lift. Bentuknya dari lantai bawah ke atas melingkari area lift sehingga melewati sebagian anak tangganya melewati bagian belakang lift. Bisa membayangkan, kan? Nah, untuk naik, kita harus keluar lift dan berbelok dan melangkah ke sisi kanan lift.

Saya mulai menaiki anak tangga. Ini tantangan olahraga pertama dan saya sudah ada di belakang lift yang ada sekitar 5 sampai 6 anak tangga. Baru saja berbelok masuk ke bagian belakang lift, ujung mata kanan saya melihat ada orang lewat di lorong kamar hotel lantai sebelumnya. Saya tidak terlalu menghiraukan, walaupun rasanya janggal karena saat keluar lift tidak ada orang yang berjalan di lorong kamar.

Sampai di lantai 3 menuju 5, saya melewati lift dan yakin betul di lorong itu tidak ada siapa-siapa. Sepi. Hening. Sekali lagi, kejadian yang sama terulang, ujung mata kanan saya kembali menangkap visual seperti tadi. Takut? Jelas. 

Saya sedikit berlari melewati anak tangga menuju lantai 5. Di ujung tangga lantai 5, saya berhenti, tapi samar saya dapat mendengar suara langkah yang terdengar seperti “tepp, tepp, tepp” dan semakin mendekat menyusul saya naik, tidak nyaring karena lantainya dilapisi karpet tebal.

Seramnya lorong hotel

Olahraga saya malam itu saya tambah dengan lari jarak pendek dari lift ke bagian tengah lorong kamar-kamar hotel. Tidak terlalu kencang agar terlihat hanya seperti orang buru-buru. Semoga CCTV hotel waktu itu tidak tersimpan.

Saya mengetuk kamar, mengirimkan pesan pendek bahwa saya sudah di depan pintu kamarnya. Sial, butuh waktu agak lama dia baru menjawab dan meminta saya menunggu sebentar karena mau ke kamar mandi dulu.

Malam itu, sekitar pukul 11 dan 12 malam, saya melihat sunyinya lorong hotel yang panjang cukup menakutkan walaupun lampunya terang. Seperti akan muncul sesuatu dari ujung lorong. Suara “ting” dari lift yang digunakan seperti teror tersendiri. Membayangkan sesuatu keluar dari lift dan berjalan pelan ke arah saya memberikan teror visual yang kejam dan membekas.

Saya lega, semua itu tidak terjadi sampai akhirnya pintu kamarnya terbuka dan dia mempersilahkan saya masuk. Tips olahraga sebelum seks itu ternyata cukup manjur, dicampur saya masih sedikit takut.

Selesai melakukan perbuatan yang disukai banyak laki-laki ini saya menyempatkan untuk mengisap sebatang rokok sebelum pulang. Jangan kaget, di zaman itu masih banyak hotel yang menyediakan kamar bisa merokok. Baru setengah batang rokok terbakar, perasaan takut seperti yang saya rasakan sebelum masuk kamar muncul lagi, kali ini ketakutannya berlipat. Sialan.

Akhirnya, penampakan

Saya nego dengan perempuan itu untuk menggunakan jasanya kedua kali. Hitung-hitung fase kritis karena ketakutan sudah berkurang menjelang subuh. Sayang, harga yang saya tawarkan tidak cocok dan dia meminta pembayaran tunai. 

Saya maklum, itu era penipuan dengan modus transfer palsu sering terjadi di dunia esek-esek. Dia menawarkan saya untuk ke ATM dan kembali lagi ke situ. Aduh, amit-amit kalau harus mengalami kejadian sampai 4 kali: datang-pulang-datang-pulang ditemani teror seperti tadi. Makanya, saya memilih pulang saja. 

Setelah pintu tertutup, jantung saya berdegup kencang melihat lorong yang lumayan jauh menuju lift. Sementara itu, di belakang saya ada “pertigaan” ke lorong yang lain. Saya berjalan tenang, rasanya tidak etis berdoa berharap dilindungi selesai melakukan hubungan seks di luar nikah. Tapi apa daya, itu harus saya lakukan dengan membaca surat-surat pendek.

Saya sampai di lift, menghela nafas panjang setelah masuk lift, dan memencet lantai dasar tujuan saya. Brengsek, jeda sampai pintu tertutup agak lama. Membuat jantung kembali berdegup agak kencang, perasaan kembali tidak keruan.

Beberapa sentimeter sebelum pintu lift tertutup sepenuhnya, jelas sekali lewat, perempuan yang baru saya ajak transaksi seks. Dia berjalan dari arah kamarnya menuju ujung lorong di sisi kiri lift. Saya terdiam, memundurkan badan sampai ke sudut agar bisa melihat seisi lift.

Saya masih ingat betul pakaiannya. Dia menggunakan celana tidur-gemes bermotif, tank top cokelat gelap, dan rambut yang diurai melewati bahu. Dia hanya memakai sandal hotel dan berjalan terburu-buru. Tidak ada ketakutan yang berarti atau merinding hebat, hanya sedikit kaget karena ada yang lewat. Karena ciri-cirinya sama, pikiran saya secara otomatis mencerna dengan berusaha logis. Dia mungkin ke kamar temannya, karena setahu saya, hasil survei WeChat, di hotel itu tidak hanya 1 atau 2 orang yang Open BO.

Jawaban yang bikin misuh

Saya berdiri di parkiran, membakar lagi sebatang rokok, berdiri sebentar lalu bertanya dalam hati. Kalau dia membuka lalu menutup pintu, pasti akan terdengar. Pintu hotel berbintang punya suara khas sendiri. Lalu, kenapa tidak ada langkah kaki? Apa karena dia menggunakan sandal hotel? Dan kenapa dia tidak menegur saya? Apakah mungkin karena jarak kami jauh dan dia malas menoleh ke arah lift?

Tapi semua terjawab karena keesokan harinya. Katanya dia tidak keluar kamar setelah saya pergi. Itu penjelasannya melalui chat kami di WeChat. Dan dia menawarkan saya untuk RO (Repeat Order) malam itu yang terang-terangan saya tolak karena alasan uang dan tentu alasan seram yang saya alami di malam sebelumnya.

Hotel di sekitar Ambarrukmo

Open BO saya di hari-hari setelahnya memang sesekali masih dihiasi kisah seram, tapi ada satu yang cukup membekas. Sekitar 2020, tahun di mana semua orang mengalami efek pandemi terutama soal keuangan. Tahun itu pula para wanita panggilan itu masih berani mengambil risiko terkena Covid-19. Mereka juga mematok harga di bawah rata-rata dari tahun sebelumnya. Mereka tahu, laki-laki sangat mudah diperdaya dengan rayuan harga seperti itu dan rela menerjang badai Covid-19 demi seks berbayar (yang lagi murah). 

Saya datang ke sebuah hotel berbintang di sekitar Ambarrukmo setelah cocok dengan salah satu wanita panggilan melalui aplikasi MiChat. Di tahun ini, Michat yang berkuasa menggantikan Beetalk, WeChat, atau bahkan tidak mampu digoyah aplikasi yang sedang ramai saat itu: TanTan, dalam hal transaksi bisnis esek-esek untuk kalangan menengah ke bawah.

Setelah harga cocok dan kami menyepakati aturan, saya berangkat pukul 11 malam, naik motor menyusuri Jalan Kaliurang bawah, Selokan Mataram, Nologaten, hingga menembus Laksda Adisucipto. Saya parkir di bagian belakang, di parkiran motor tidak beratap, mengirimkan pesan dan foto melalui MiChat dan dia meminta saya segera naik setelah memberikan arahan melewati ruangan apa saja. 

Pengalaman seram yang terpanggil lagi

Hotel ini terbilang bagus, bersih, ramai karena banyak kendaraan bermotor yang parkir malam itu. Halaman luar terawat, bangunan bagus yang tentu layak dapat bintang 4 di Google Maps. 

Saya naik menuju lantai 3 menggunakan lift berukuran besar. Mungkin muat untuk 8 sampai 10 orang. Tidak ada yang salah dengan interior di dalam, atau hal-hal lain yang membuat bulu kuduk berdiri walaupun lorong dari kamar ke kamar terlihat sangat panjang dengan pencahayaan yang tidak terlalu terang. 

Awalnya saya kira ramai, tapi ternyata hotelnya sepi sekali malam itu. Sejak saya berjalan dari parkiran, hanya ada seorang petugas hotel di lobi. Entah kamar di hotel tidak terisi penuh atau memang orang-orang sudah beristirahat.

Saya mengetuk pintu kamar yang ada di bagian ujung lorong setelah berbelok ke kanan saat keluar dari lift. Di depan kamar saya menoleh ke kiri, ke arah lift, lorong panjang yang berakhir di bagian depan hotel terlihat lebih panjang saat saya berjalan menuju lift di lantai dasar. Ingatan-ingatan tentang kisah horor yang saya alami selama berpetualang di Bee Talk, WeChat, hingga MiChat muncul perlahan. 

Halusinasi sedikit muncul mengingat kejadian hotel di Gejayan. aAda yang berlari dari ujung lorong ke arah saya. Tapi kemudian pikiran itu buyar begitu suara pintu kamar dibuka, seorang perempuan berwajah tirus, berbadan langsing, sebut saja namanya Puput, dengan tinggi 160 cm, menggunakan kaos hitam ketat dan rok panjang yang tembus pandang tersenyum kepada saya.

“Hai, Aji ya?”

“Iya, jadi kan?” Saya tersenyum. 

“Iya dong, harusnya aku yang tanya, jadi kan? sesuai foto kan?”

Aji menjadi nama andalan saya kalau berurusan dengan dunia seks berbayar, hiburan malam, atau pijat plus.

Saya tersenyum. 

Sekelebat perempuan

Pintu semakin lebar dibuka dan saya melihat seorang perempuan lagi. Dia memakai kaos berwarna cerah dengan celana panjang yang saya tidak perhatikan berbahan apa. Dia beranjak dari kursi di depan meja hias besar, oval mirip meja rias tahun 80an, bukan meja rias klasik di film-film horor. Perempuan itu seperti terburu-buru beranjak lalu berjalan ke arah tempat tidur. Mungkin malu melihat saya datang. 

Saya masuk ke dalam kamar. Itu kamar berukuran paling besar yang pernah saya temui selama Open BO. Sekitar 4×6 atau 5×6 hanya untuk area kamar saja, tidak termasuk area kamar mandi yang di depannya ada lemari besar, storage box, meja water heater, dan rak tempat sendal. 

Mata saya mencari perempuan satunya tadi sambil mengikuti Puput yang berjalan di depan saya. Ajaib. Perempuan yang tadi berdiri dari meja rias tidak ada di dalam kamar. 

Kamar itu terang, semua lampu berwarna kuning yang ada dinyalakan oleh Puput. Seketika saya merinding hebat, cukup lama, sampai saya merasa seperti kesemutan. Berahi yang saya bawa sejak berangkat hingga sampai di depan kamar mendadak hilang. Sekali lagi muncul pilihan untuk membatalkan rencana dan memberikan cancel fee kepada Puput. 

Kamar itu memiliki kaca besar menghadap keluar yang samar tertutup bagian gorden berlapis. Bentuk kacanya mirip seperti pintu kaca menuju balkon tapi saya ragu hotel itu memiliki balkon. Entahlah, pikiran saya mulai kacau, apalagi hal-hal berbau horor sudah sering saya temui seringnya tidak masuk akal. 

Baca halamana selanjutnya….

Seks dalam balutan rasa takut

Saya dan Puput sudah ada di atas ranjang besar king size atau apalah sebutan untuk ranjang besar yang cukup untuk tidur bertiga tanpa kena sikut. Puput duduk berposisi sinden menghadap kamar mandi, saya menghadap kaca rias besar di sisi kanan dan kaca jendela yang mirip pintu di depan saya. Dari tadi bola mata daya bergerak dari kanan-kiri berulang kali. Mencoba mencerna dan merangkai cerita logis.

Puput mulai bercerita kesulitannya mendapat tamu di saat pandemi. Untungnya, harga sewa hotel sangat murah saat itu. Puput bertiga di situ, sedang expo dari solo dan menyewa 2 kamar yang bersebelahan. Baru 2 malam dia menginap di hotel itu, tapi mulutnya berhenti ketika saya bertanya apakah hotel itu memiliki balkon. 

“Nggak ada. Padahal enak ya kalau ada balkon, walaupun kamarnya bisa merokok,” jawabnya lalu tersenyum memandang saya. 

Habis sudah. Apa yang saya takutkan terjadi. Ini sudah tidak benar dan semoga tidak ada cerita tambahan lagi.

Sebelum kami mulai bercumbu dan tenggelam di adegan panas, Puput menawarkan saya durasi yang lebih panjang lagi dengan menambah sejumlah uang. Alasannya seperti tadi, sepi tamu membuatnya dia senang dapat tamu malam itu dan menawarkan pelayanan berdurasi panjang dengan harga yang tidak mahal. Saya setuju, lagipula untuk apa saya pulang buru-buru malam itu. Bisa keluar rumah setelah berbulan-bulan mengurung diri rasanya menjadi sebuah hiburan dan kebahagiaan tersendiri.

Kami sudah tidak menggunakan pakaian, dengan posisi missionary. Puput menghadap ke langit-langit dan saya sebaliknya. Sesekali mata kami saling bertemu, mesra sekali layaknya pasangan dimabuk cinta. 

Sampai akhirnya saya melihat ekspresi datar wajah puput dan bola matanya bergeser, melihat saya, melihat sisi kanan saya, kembali melihat saya dengan wajah kecut. Saya tahu ada yang tidak beres, saya berhenti, membelai pipi Puput dan mengusap kepalanya. Wajah saya menunjukkan mimik muka bertanya-tanya dan saya yakin Puput paham itu.

Kegelisahan Puput

Dia menutup mata, menarik seluruh badan saya lalu memeluk erat. Tidak mungkin dong dia fake orgasm secara tiba-tiba karena itu bisa menjadi skenario sangat jelek. Dia lalu berbisik.

Babe, berhenti sebentar dong, please.”

“Kenapa, kamu ngerasa nggak enak?”

“Enggak, berhenti dulu sebentar aja.”

Saya masih memeluk Puput. Ketika matanya masih tertutup, saya berbisik pelan di dekat telinganya.

“Kamu ngeliat apa?”

“Hah? Apaan?”

“Kamu ngeliat ada orang lain ya?”

“Hah? Kok kamu mikir gitu?”

“Kalau iya cerita aja. Bentar, kita berhenti dulu ya, kamu bilang tapi kenapa.”

Saya menjauhkan badan saya, bergeser ke samping Puput yang sudah menarik bed cover dan badannya miring ke arah saya membelakangi jendela dan kaca rias. Kedua tangannya diletakkan di mulut dan perlahan matanya terbuka memandang saya.

Perlu beberapa menit sampai akhirnya Puput cerita. Saat memejamkan mata, tiba-tiba dia seperti berhalusinasi. Ada seorang perempuan yang terlihat seperti duduk atau lebih tepatnya menindih bagian belakang tubuh saya. Kepalanya menghadap ke bawah sementara bola matanya menatap ke arah bantal di kepala Puput, jadi pandangan mereka tidak saling bertemu. 

Puput memejamkan mata beberapa kali sejak kami bercumbu dan akhirnya melakukan hubungan badan. Tiap kali dia memejamkan mata selalu ada bayangan seorang perempuan yang muncul. Mulai dari duduk di ujung tempat tidur, berjalan ke kamar mandi hingga puncaknya ada di punggung saya. Sudah seperti adegan threesome sandwich di film porno.

Tukar kamar

Sebenarnya Puput tidak yakin dengan pikirannya sampai dia membuka mata ketika ada di bawah saya. Sepersekian detik setelah membuka mata, sosok perempuan itu dapat dilihatnya dengan jelas. 

Seketika mood-nya berubah dan badannya seperti kaku. Mau berteriak tapi tidak bisa. Wajah perempuan itu tidak menyeramkan menurutnya, tidak rusak, berdarah atau marah, tapi tatapan kosongnya yang membuat Puput sangat terganggu, mual, takut, heran, dan tidak percaya bisa melihat sosok sejelas itu.

Setengah jam kami duduk menghadap TV yang kami nyalakan. Kami masih terus membahas dan saya masih memeluknya yang terlihat menyisakan rasa takut dengan menggigit kuku tangannya.

Jam sudah menunjukkan angka 00:30 di layar hape saya. Kami sudah berpakaian lagi. Puput berinisiatif bertukar kamar dengan temannya selama menemani saya. Kami pun akhirnya bisa membangkitkan mood dan melanjutkan seks panas yang tertunda tadi dengan masih menyisakan banyak pertanyaan. Termasuk saya yang tidak menceritakan apa yang saya lihat saat memasuki kamar tadi. 

Kami sepakat akan selesai pukul 3 pagi. Masih ada sekitar 1 jam lagi dan setelah selesai dengan urusan yang pertama, kami kembali mengobrol. Masih berusaha menghilangkan rasa takut dengan bercerita hal-hal mesum. Lalu kami mulai bercumbu lagi, berniat meneruskan agenda selanjutnya sebelum saya pulang. 

Sayang, temannya menelepon, beberapa kali, membuat Puput harus berhenti dan mengangkatnya. Saya tidak tahu apa yang disampaikan temannya, tapi penjelasan Puput membuat saya terheran-heran. 

Dua orang temannya mendengar pintu kaca kamar mandi diketuk 2 kali, bunyi “ceklek” seperti water heater yang sudah panas, hingga suara terkekeh pelan yang terdengar seperti tetangga kamar tertawa, tidak nyaring karena ada tembok, dan terakhir adalah bed cover yang ambles seperti diinjak atau ada sebuah benda yang diletakkan di atasnya ketika mereka berdua menonton televisi.

Seks berbayar dan gangguan

Saya pulang sebelum pukul 3 tepat. Mereka bertiga sepakat untuk tidur sekamar malam itu. Besoknya, mereka berencana pindah kamar atau mencari hotel lain. 

Sementara itu, saya di dalam lift, sesaat sebelum pintu terbuka begitu tiba di lantai dasar, ada bunyi “tek, tek, tek,” dari atas kepala, plafon lift. Saya tidak terlalu takut lagi. Rasanya, pikiran sudah kembali positif dan memaklumi saja. 

Namanya perbuatan mesum pasti ada saja gangguannya. Kalau tidak dari Satpol PP, orang yang tidak suka dengan perbuatan mesum, dan hobi menggerebek serta gangguan tambahan dari dunia gaib ketika seks berbayar berlangsung.

Gabungan berahi dan rasa takut memang menyeramkan.

BACA JUGA Teror 10 Hari di Jawa Timur dan kisah yang bikin sesuatu tegang lainnya di rubrik ESAI.

Penulis: Khoirul Fajri Siregar

Editor: Yamadipati Seno

Exit mobile version