ADVERTISEMENT

Saya Marbot Masjid: Tolong Jangan Sumbangkan Buku Yasin kalau Cuma Menumpuk dan Berdebu

Saya Marbot Masjid: Tolong Jangan Sumbangkan Buku Yasin kalau Cuma Menumpuk dan Berdebu MOJOK.CO

MOJOK.CO – Sebagai marbot masjid, saya mengimbau: Jangan asal mencetak buku Yasin dan mewakafkannya ke masjid.

Ada satu kebiasaan yang belakangan ini membuat saya berpikir: kenapa setiap ada keluarga yang meninggal, salah satu bentuk kenang-kenangan yang cukup populer adalah mencetak buku Yasin, lalu membagikannya ke masjid-masjid?

ADVERTISEMENT

Saya tidak sedang mempersoalkan Surah Yasin. Saya juga tidak sedang melarang orang berbuat baik atas nama keluarga yang sudah meninggal. Apalagi menyuruh orang berhenti bersedekah. Nanti malah dikira saya marbot kurang piknik, pulang-pulang membawa fatwa dari rak sandal.

Saya hanya ingin mengajak kita memikirkan satu hal sederhana: sebenarnya, buku Yasin yang kita wakafkan itu dibaca atau cuma pindah tempat untuk berdebu?

Pertanyaan ini muncul bukan karena saya habis membaca buku filsafat seribu halaman, melainkan karena pekerjaan saya sebagai marbot. Iya, marbot masjid. 

Marbot masjid adalah orang yang menjaga dan mengurus masjid. Pekerjaan yang membuat saya cukup akrab dengan sapu, pel, rak sandal, dan berbagai benda yang entah bagaimana bisa bertambah banyak meskipun tidak pernah merasa membeli.

Dari pengalaman saya mengurus masjid dan mengunjungi beberapa masjid lain, saya sering menjumpai rak buku yang isinya macam-macam. Ada Al-Qur’an, buku Yasin, buku doa, dan beberapa buku lain yang kalau dilihat sekilas seperti perpustakaan mini. 

Bedanya, perpustakaan biasanya membuat orang datang untuk membaca, sedangkan rak di masjid tertentu tampaknya lebih cocok dijadikan tempat penyimpanan barang bukti sejarah.

Buku-buku itu tersusun rapi. Sampulnya bagus. Nama almarhum dan keluarga yang mewakafkan tercetak jelas. Kadang lengkap dengan tanggal meninggalnya. Semuanya tampak khidmat, kecuali satu hal: bukunya tidak pernah dibuka.

Kalau buku itu dibaca jamaah, tentu lain cerita. Kalau masjidnya rutin mengadakan yasinan, tahlilan, atau kegiatan membaca Surah Yasin, buku tersebut jelas punya fungsi. 

ADVERTISEMENT

Namun, bagaimana kalau masjidnya tidak punya kegiatan semacam itu? Bagaimana kalau jamaahnya datang, salat, berdoa sebentar, lalu pulang? Buku Yasin itu mau ikut salat berjamaah juga?

Saya tahu, pertanyaan terakhir terdengar kurang ajar. Namun, kadang-kadang kita memang perlu sedikit kurang ajar kepada kebiasaan kita sendiri supaya bisa lebih jujur dalam mengevaluasinya.

Niatnya mulia, tetapi jangan sampai salah alamat

Saya memahami niat keluarga yang mencetak buku Yasin untuk orang yang telah meninggal. Mereka ingin berbuat baik, mengenang orang yang dicintai, dan berharap pahala dari Allah. Niat seperti itu patut dihargai.

Namun, niat baik tidak otomatis membuat setiap cara menjadi efektif.

Bayangkan, saya memberikan sepuluh buku resep masakan kepada seseorang yang bahkan tidak punya kompor. Apakah buku itu berguna? 

Bisa saja. Barangkali suatu hari dia punya kompor. Namun, kalau ada orang lain yang sedang belajar memasak dan membutuhkan buku resep, bukankah lebih masuk akal jika buku itu diberikan kepadanya?

Begitu juga dengan buku Yasin. Persoalannya bukan pada bukunya, melainkan pada kesesuaian antara barang yang diberikan dan kebutuhan penerimanya.

Kita terkadang terlalu sibuk memikirkan apa yang ingin kita sedekahkan, tetapi lupa bertanya apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh tempat kita bersedekah.

Akibatnya, masjid mendapat tambahan koleksi, keluarga merasa telah menunaikan niat baik, sementara manfaat nyata dari barang tersebut belum tentu terjadi. Semua pihak tampak bahagia, kecuali bukunya sendiri yang harus menjalani masa pensiun dini di dalam lemari.

Dan di sinilah saya merasa kita perlu sedikit mengubah cara berpikir. Sedekah bukan sekadar memindahkan kepemilikan barang, melainkan mengusahakan agar barang itu menghasilkan manfaat.

Wakaf buku Yasin bukan lomba memenuhi rak

Masalah serupa juga saya lihat pada kebiasaan mewakafkan Al-Qur’an ke masjid tanpa terlebih dahulu mempertimbangkan kebutuhan dan aktivitas masjid tersebut.

Sekali lagi, saya tidak mengatakan bahwa masjid yang sepi kegiatan tidak pantas menerima Al-Qur’an. Al-Qur’an tetaplah kitab suci yang mulia. Setiap masjid berhak memiliki mushaf untuk jamaahnya.

Namun, kita perlu membedakan antara tempat yang membutuhkan tambahan mushaf dan tempat yang sebenarnya sudah memiliki cukup banyak mushaf, tetapi kekurangan orang yang membacanya.

Kalau sebuah masjid sudah memiliki puluhan mushaf yang jarang disentuh, sementara ada pondok pesantren kecil yang santrinya harus bergantian menggunakan Al-Qur’an, saya rasa kita patut mempertimbangkan kembali ke mana wakaf itu sebaiknya diarahkan.

Jangan sampai kita lebih senang melihat mushaf berjajar rapi daripada mengetahui bahwa mushaf tersebut benar-benar dibaca.

Saya membayangkan ada seorang santri di pesantren kecil yang harus menunggu temannya selesai mengaji hanya untuk mendapatkan giliran membaca Al-Qur’an. Sementara di tempat lain, ada mushaf yang sudah berbulan-bulan berada di rak dan bahkan mungkin belum pernah dibuka sejak pertama kali diletakkan.

Tentu saja, itu bukan gambaran yang berlaku untuk semua masjid dan pesantren. Namun, kemungkinan seperti itulah yang seharusnya membuat kita berpikir sebelum memutuskan bentuk dan lokasi wakaf.

Sebab, tujuan wakaf bukanlah membuat rak terlihat penuh. Tujuannya adalah menghadirkan manfaat yang berkelanjutan.

Bukan cuma cetak buku Yasin, banyak jalan menuju kebaikan

Lantas, kalau bukan mencetak buku Yasin atau mewakafkan Al-Qur’an ke masjid, apa yang sebaiknya dilakukan?

Jawabannya tidak harus rumit. Bahkan, kadang-kadang yang sederhana justru lebih dibutuhkan.

Kita bisa memberikan makanan kepada fakir miskin, anak yatim, dan orang-orang yang sedang kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kita bisa membantu pesantren yang kekurangan perlengkapan belajar, memberikan beasiswa kepada anak yang kesulitan membayar sekolah, atau menyediakan fasilitas air bersih di tempat yang benar-benar membutuhkannya.

Kalau memang ingin mewakafkan mushaf, carilah tempat yang membutuhkan dan memiliki kegiatan membaca Al-Qur’an. Jika ingin menyumbangkan buku Yasin, tanyakan dahulu kepada pengurus masjid apakah buku tersebut akan digunakan.

Sesederhana itu.

Tidak perlu sampai membentuk tim investigasi wakaf dengan rompi hitam, kamera tersembunyi, dan musik latar film detektif. Cukup bertanya kepada pengurus masjid: “Pak, di sini masih membutuhkan buku Yasin atau Al-Qur’an, tidak?”

Satu pertanyaan kecil bisa menghindarkan kita dari pengeluaran yang kurang tepat sasaran.

Dalam Islam, sedekah kepada orang yang telah meninggal memiliki pembahasan tersendiri, dan terdapat hadis sahih tentang amal yang terus mengalir setelah seseorang wafat, termasuk sedekah jariyah. Namun, bentuk amal, niat, dan penerapannya tetap perlu dipahami dengan baik. 

Kita tidak perlu mengklaim bahwa setiap buku yang diletakkan di masjid pasti menghasilkan pahala tanpa mempertimbangkan apakah buku itu benar-benar dimanfaatkan.

Kita berharap Allah menerima amal tersebut. Adapun penerimaan dan balasan-Nya adalah urusan Allah, bukan sesuatu yang bisa kita pastikan hanya dengan melihat sebuah buku memiliki label wakaf.

Jangan sampai kenangan mengalahkan kemanfaatan

Pada akhirnya, saya tidak sedang mengajak siapa pun berhenti mencetak buku Yasin. Saya hanya mengajak kita berhenti melakukannya secara otomatis, seolah-olah setiap kematian harus selalu diikuti dengan tambahan buku di rak masjid.

Orang yang telah meninggal tentu ingin dikenang dengan kebaikan. Namun, bukankah lebih indah jika kenangan itu menjelma menjadi sesuatu yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh orang lain?

Bayangkan seseorang yang telah wafat, lalu dari harta yang ditinggalkannya ada seorang anak yatim yang bisa makan dengan layak. Ada seorang santri yang bisa mengaji tanpa harus menunggu giliran mushaf.

Ada seorang anak yang tetap bisa bersekolah karena biaya pendidikannya terbantu.

Kita mungkin tidak akan melihat nama almarhum tercetak pada sampul makanan yang dibagikan. Tidak ada pula prasasti besar yang memberi tahu orang-orang siapa penyumbangnya. Namun, kebaikan tidak selalu membutuhkan nama yang terpampang. Terkadang, ia cukup hadir sebagai manfaat yang nyata.

Dan bagi saya, inilah inti persoalannya: jangan sampai kita terlalu sibuk membuat nama orang yang telah meninggal tercetak pada sampul buku, tetapi lupa membuat kebaikannya benar-benar terasa dalam kehidupan orang yang masih hidup.

Kalau buku Yasin memang dibutuhkan, silakan wakafkan. Kalau Al-Qur’an memang diperlukan, silakan berikan. Namun, kalau rak masjid sudah penuh dan buku-bukunya hanya menjadi penghuni tetap yang tidak pernah diajak berinteraksi, mungkin sudah waktunya kita mencari cara lain.

Sebab, tujuan sedekah bukan menambah isi lemari. Tujuannya adalah menambah manfaat bagi sesama.

Dan kalau pada akhirnya buku itu hanya berdebu, setidaknya jangan buru-buru menyebutnya amal yang produktif. Debu saja yang bertambah, belum tentu manfaatnya.

Penulis: Wahyu Adi Syahputra
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Siapa sih yang Memulai Kebiasaan Cetak Buku Yasin buat Tahlilan? Ujungnya Cuma Menumpuk di Rumah, yang Tahlilan pun Bawa Sendiri Juga kan?

Terakhir diperbarui pada 28 Oktober 2026 oleh .

Wahyu Adi Syahputra

Marbot, hamba Allah yang belajar menjadi manusia bijaksana.