Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Rukyat vs Hisab: Gojek Kere NU-Muhammadiyah

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
27 Mei 2017
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

“Mau puasa aja pake acara lihat-lihat hilal segala. Repot banget. Padahal mau salat aja enggak pernah lihat bayangan Matahari,” kata kawan saya, dedengkot Muhammadiyah-yang-kaffah-karena-tidak-bisa-melucu-sama-sekali.

Sebagai jamaah Nahdliyin, rasanya kok gemes-gemes gimana rasanya dalam hati kalau mendengar hal begituan. Mau diserang balik langsung, kok ya ada benernya juga (lho?). Enggak maksudnya kok ngabis-ngabisin abab aja ngladenin gojek kere macam itu.

Iklan

Kawan saya yang lambe turah ini namanya Habib As’ad, adik Mahfud Ikhwan, penulis Kambing dan Hujan. Kakak-adik ini betulan Muhammadiyah totok karena di kampung mereka di Lamongan, Muhammadiyah menguasai pusat desa. Warga Nahdliyin cuma dapet pinggiran-pinggirannya. Ibarat luka, NU cuma dapet pinggiran korengnya aja.

Baik saya dan maupun Habib punya latar belakang yang sama. Kami ini orang-orang yang lahir dari keluarga dua ormas terbesar di Indonesia. NU dan Muhammadiyah. Dan kami berdua besar di lingkungan di mana persinggungan kedua ormas ini terlalu intens.

Habib terbiasa dengan istilah Masjid Lor dan Masjid Kidul di kampungnya, untuk membedakan masjid NU dan Muhammadiyah. Saya, yang lahir dalam keluarga NU dan tinggal di kompleks perumahan IAIN Sunan Kalijaga, waktu kecil sering ke masjid kampus yang merupakan salah satu pusat gerakan Muhammadiyah di Jogja (sekarang saya enggak tahu kondisinya masih atau tidak).

Saya sih tidak serta merta akan menyebut diri orang NU, saya cukup mendaku jamaah Nahdliyin saja. Karena rasanya kok lancang betul, saya bukan ulama, je, kok ikut-ikut jadi bagian Nahdlatul Ulama? Orang awam begini, kok. Orang awam itu ya jamaah. Ada banyak. Kalo ulama mah dikit-dikit. Kayak FPI atau HTI misalnya, ulama semua mereka itu. Dikit, soalnya.

Saat saya kecil, membedakan Muhammadiyah dan NU patokannya sederhana. Saya perhatikan aja bangunan-bangunannya. Kalau yang bikin Muhammadiyah pasti bagus-bagus. Kalau yang bikin NU, sederhana. Saking sederhananya kadang malah enggak ada bangunannya.

Setelah remaja dan jadi sering ikut jamaah di masjid Muhammadiyah atau NU, saya baru tahu ada makin banyak perbedaannya.

Misalnya soal jumlah azan salat jumat.

Kalau azannya sekali, situ lagi salat jumat di Masjid IAIN tahun 1990-an yang masih Muhammadiyah banget. Sedangkan kalau azan dua kali, berarti situ lagi salat jumat di Pondok Tebuireng Jombang. Jauh amat Bang jumatan aja sampai Jombang?

Perkara kedua, salat subuh. Yah, situ tahulah, mana yang pake kunut dan mana yang enggak.

Ketiga, hisab dan rukyat untuk menentukan awal puasa dan lebaran.

Di bagian ketiga inilah yang selalu asik jadi gojek kere daripada dua perkara sebelumnya. Sebab azan salat jumat dan kunut itu bukan persoalan “Kelas A”. Nah, salat id dua kali dalam dua hari berturut-turut itu baru seruuu banget. Multi-aliran banget rasanya.

Oh, iya, kok enggak ada perkara yasinan, tahlilan, dan segala macam pernak-perniknya?

Jadi, begini, sidang jumat yang dirahmati Allah…

Muhammadiyah sekarang ini sudah banyak yang pada beralih rupa. Dari Mas Iqbal Aji Daryono kader Muhammadiyah yang bisa ceramah via Facebook pake materi yang lucu-lucu, sampai Muhammadiyah di kampung yang sudah bisa hafal doa-doa tahlil.

Setelah Rumah Sakit dan Kampus, apakah bisnis maizhoh hasanah dan tahlil juga bakal dimonopoli Muhammadiyah juga? Hmmm, mncrgkn skl mmng.

Oke, kembali ke perkara rukyat dan hisab.

Iklan

Untuk gambaran awalnya, biar kita sama-sama enak dapat pondasi pemahamannya, saya akan coba membaca status jomblo Agus Mulyadi Sang Redaktur Mojok dengan metode rukyat dan hisab.

Dengan metode hisab, hilangnya status jomblo Agus ini jelas enggak ada rasional-rasionalnya. Sebab polanya enggak pernah ada sebelumnya. Ah, daif ini. Palsu. Hoax. Rumusnya gak ketemu. Bertahun-tahun jomblo kok tahu-tahu dapat pacar. Kayak Liverpool tahu-tahu juara Liga Inggris, nih. Mustahil. Anomali.

Sedangkan dengan metode rukyat. Hm, kita mesti lihat Agus secara langsung. Kenalan langsung. Kalau perlu kenalan sama orang yang dikira pacarnya. Repot, sih, tapi kan lebih pasti. Setelah semua dicek dengan teliti, dilihat dengan mata kepala sendiri, maka kesimpulannya: Oke deh, sekalipun enggak rasional, Agus punya pacar itu jebulnya empiris. Fix.

Gimana? Sudah dapet bayangan apa itu hisab apa itu rukyat?

Itulah kenapa, dalam bayangan saya dulu, pengguna metode hisab ini seperti sekelompok anak-anak eksak yang otaknya puinter-puinter. Kalau SMA macam anak IPA. Jago Matematika, Kimia, Fisika, Astronomi, sampai Geografi dan Akuntansi. Nilainya bagus-bagus. Kutu buku, kacamatanya tebel-tebel, satu kelas cowok semua. Disuruh ngitung 2+2 langsung tahu hasilnya berapa.

Lha, piye? Mereka ini demen banget ngitung-ngitungin peredaran bulan dari angka. Presisinya bisa dipertanggungjawabkan lagi. Keren pokoknya. Awal puasa Ramadan pasti jatuhnya di tanggal segini, Dzulhijah di tanggal segitu. Dari situ akhirnya muncul anggapan, “Lha terus ngapain sih lihat-lihat hilal segala? Merepotkan.”

Nah, beginilah ibadah dengan pendekatan rasional. Pendekatan dengan membaca pola, menghitung, lalu memprediksi pola di periode berikutnya. Gak percaya? Coba deh lihat sejarah, Muhammadiyah memang dikenal sebagai “pembaharu” dengan pendekatan rasional akan arah kiblat salat. Gimana? Sejak pendirinya saja emang logis kok bawaannya, apalagi penerusnya.

Sebaliknya, pengguna metode rukyat itu, dalam bayangan saya dulu (sampai sekarang juga sih), ibarat anak fakultas olahraga.

Lebih suka sekolah di luar. Enggak suka duduk-duduk lama di kelas. Hawanya pengen main terus, gojek kere terus, joinan rokok, sampai debat-debat hukum fikih di tempat ngopi sambil nongkrong. Tugas kuliah gak dikerja-kerjain, kuliah molor sampai disusul anak sendiri.

Cuma mau ngitung 2+2 aja kudu dicari objeknya dulu agar betul-betul tahu. Ini dua apaan dulu nih? Dua voor, parley, atau dua apaan? Lamaaaa bener debatnya muter-muter.

Namanya juga fakultas olahraga, makanya yang dilakukan adalah jajal-menjajal. Teori mah ada, tapi dikit. Kebanyakan praktek. Semua dijabanin. Dilakuin dulu, baru disimpulkan. Wayang dipakai dakwah, gamelan dipakai solawatan, perayaan 1.000 hari kematian ndak apa-apa asal isinya zikir dan doa-doa. Semua dijajal. Kalo cocok ya dipake, gak cocok dibuang. Simpel.

Pada akhirnya, orang-orang macam begini lebih yakin dengan yang langsung-langsung. Gak percaya gosip, bahkan gak percaya itung-itungan. Sama sodara sendiri kok itung-itungan. Semuanya harus dijajal. Dialami dulu. Pendekatan dengan pengalaman-pengalaman empiris dan tak terbantahkan lebih mudah diimani. Makanya melihat hilal secara langsung punya porsi istimewa bagi yang “fakultas olahraga” ini.

Meskipun begitu, alasan keputusan rukyat dan hisab tak cuma sesederhana itu juga. Ada perbedaan mendasar mengenai “ada hilal” (wujudulhilal) dengan “melihat hilal” (rukyatulhilal) juga.

Bagi yang pake hisab, melihat hilal itu tidak perlu secara langsung. Toh ilmu pengetahuan sudah membantu untuk membaca fenomena alam. Begitu bulan melewati ijtimak (konjungsi), atau garis start revolusinya terhadap bumi (sebagai awal bulan baru), itu artinya sudah masuk bulan baru. Entah mau kelihatan atau enggak itu perkara beda. Jadi 1 Ramadan dan 1 Syawal itu sudah hampir pasti bisa diketahui. Yap, diketahui dengan ilmu, enggak usah pake dilihat langsung.

Sedangkan bagi yang kudu melihat langsung (rukyat). Di bulan-bulan lain, boleh deh situ pake rukyat, tapi khusus di bulan ini saja kita harus pake penglihatan langsung. Kenapa?

Ya karena perintahnya, “Berpuasalah ketika melihat bulan…” bukan “berpuasalah pada (tanggal) satu Ramadan” atau “berpuasalah sambil liat kalender di henpon.”

Terakhir diperbarui pada 27 Mei 2017 oleh

Tags: HilalHisabMuhammadiyahNahdlatul UlamanuRukyatRukyat Hisab
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

Lahir di lingkungan NU tapi justru menemukan kedamaian di Muhammadiyah. MOJOK.CO

Tumbuh di Desa dengan Tradisi Keagamaan yang Kental, Saya Justru Menemukan Kedamaian di Muhammadiyah dengan Rasionalitasnya

3 Agustus 2026
Organisasi Nahdlatul Ulama (NU) perlu menghidupkan kembali adab yang selama ini menjadi ciri khas pesantren, tidak cukup perbaikan sistem MOJOK.CO

NU Perlu Hidupkan Tata Krama Organisasi di Tengah Dinamika yang Semakin Kompleks, Perbaikan Sistem Saja Tak Cukup

7 Juni 2026
Siswa Katolik di Muhammadiyah Pekalongan. MOJOK.CO

Cerita Siswa Katolik Suka Otak-atik Motor hingga Lulus dari SMK Muhammadiyah dan Dapat Beasiswa Magang ke Jepang 

18 Mei 2026
Tapak Suci Unair. MOJOK.CO

Saat Pencak Silat Dianggap Biang Kerok, Saya Bersyukur Jadi Bagian Tapak Suci Unair yang Anti Tawuran

21 April 2026
Muhammadiyah vs NU di Rumah Kami: Dua Hati, Beda Hari Lebaran, Selesai di Meja Makan yang Sama MOJOK.CO

Muhammadiyah vs NU di Rumah Kami: Dua Hati, Beda Hari Lebaran, Selesai di Meja Makan

9 Maret 2026
Muhammadiyah selamatkan saya dari tabiat buruk orang NU. MOJOK.CO

Saya Bukan Muhammadiyah atau NU, tapi Pilih Tinggal di Lingkungan Ormas Bercorak Biru agar Terhindar dari Tetangga Toxic

25 Februari 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

gaya rambut pria, barbershop, potong rambut mojok.co

Alasan Potongan Rambut Jadi “Jelek” setelah Pulang dari Barbershop, Tukang Cukur Sering Disalahkan meski Problemnya Ada di Pelanggan

18 Agustus 2026
Pameran foto dalam Pesta Rakyat Jogja guna memeriahkan acara HUT ke-81 RI. MOJOK.CO

Potret Warga Jogja: Asyik “Pesta” Saat Pejabat sedang Upacara HUT ke-81 RI di Gedung Agung

17 Agustus 2026
Saat Kemerdekaan RI Belum Bisa Dirasakan Buruh. MOJOK.CO

Saat Kemerdekaan Belum Bisa Dirasakan Kelompok Buruh dan Pekerja

17 Agustus 2026
Bakpia barangkali menjadi oleh-oleh khas Jogja yang biasa saja dan gitu-gitu aja. Tapi punya nilai sosial bagi perantau Jogja asal desa MOJOK.CO

Bakpia Jogja Memang Oleh-oleh Biasa dan Gitu-gitu Aja, Tapi Sangat Berharga buat Orang di Desa

22 Agustus 2026
Lansia menjual aksesori kemerdekaan di Malioboro, Yogyakarta. MOJOK.CO

Kisah Istri Pensiunan BPN Turun ke Jalanan untuk Jual Aksesori Kemerdekaan di Masa Tua demi Hadiahkan Cucu

18 Agustus 2026
Honda Beat adalah motor paling boring di indonesia MOJOK.CO

Honda Beat adalah motor paling boring di indonesia tapi justru karena itu saya sayang banget sama motor ini

18 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.