Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Saya Kecewa Berat dengan Kang Emil

Ahmad Arief Widodo oleh Ahmad Arief Widodo
5 Januari 2023
A A
Saya Kecewa Berat dengan Kang Emil (Pixabay.com)

Saya Kecewa Berat dengan Kang Emil (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Sebagai warga Jawa Barat, sosok Kang Emil, sudah mendapat perhatian khusus dari saya, sejak masa remaja. Waktu itu, beliau dikenal sebagai pemimpin daerah (saat masih menjabat menjadi Walikota Bandung) yang inovatif dan interaktif di media sosial Twitter. Sangat jauh berbeda dengan gambaran pemimpin daerah pada saat itu, yang kolot dan cenderung gaptek.

Sayangnya, beberapa waktu belakangan, Kang Emil bikin saya kecewa. Ah, mungkin kurang tepat kata-kata saya ini. Yang lebih tepat adalah Kang Emil membuat saya sangat kecewa.

Kekecewaan pertama saya kepada Kang Emil di beberapa waktu belakangan, terkait pernyataan Kang Emil dalam sambutannya pada acara Musyawarah Kerja Wilayah (Mukerwil) PWNU Jawa Barat di Pondok Pesantren Al Muhajirin II Purwakarta. Pada acara tersebut, Kang Emil menyatakan bahwa selama empat tahun dia menjabat sebagai Gubernur, beliau sudah menggelontorkan anggaran sebanyak 1 triliun kepada elemen NU Jawa Barat.

Pernyataan tersebut, menjadi perbincangan hangat dalam internal PWNU Jawa Barat. Sebab pasalnya, menurut pihak PWNU Jawa Barat, jumlah bantuan dari Pemprov Jawa Barat selama Kang Emil menjabat, bukan sebanyak itu. Tepatnya, hanya 2,4 miliar saja per tahun.

Sebagai warga nahdliyin asal Jawa Barat, tentu saya kecewa dengan pernyataan Kang Emil yang menjadi bola panas tersebut. Walaupun pada akhirnya, Kang Emil sudah mengklarifikasi pernyataan itu ke PWNU Jawa Barat. Ternyata, anggaran 1 triliun bukan diberikan kepada ormasnya (PWNU Jawa Barat), melainkan kepada masyarakat yang terafiliasi dengan NU.

Puncak kekecewaan saya terjadi kemarin, saat Ridwan Kamil melalui akun instagram pribadinya, memposting kritikan dari seorang netizen terhadap pembangunan Masjid Al Jabbar yang menggunakan dana APBD. Saya nggak mau terlalu membahas kebijakan pembangunan masjid tersebut, sebab pasalnya, sudah ada pengamat kebijakan publik dan ahli agama yang memiliki pandangan terhadap pembangunan masjid dengan menggunakan dana APBD yang jumlahnya fantastis. Masuk akal atau tidak, perlu atau tidak, saya nggak mau komentar.

Saya mau membahas cara Kang Emil merespon kritikan tersebut. Kang Emil, memposting kritikan tersebut dan menjawab kritikannya melalui Instagram pribadi dan ngetag akun sang pengkritik. Bukan dengan cara-cara yang lebih elegan, seperti misalnya menyampaikan data dan fakta dalam bentuk infografis terkait pendanaan pembangunan Masjid Al Jabbar. Atau membuat Twitter spaces untuk menjawab hal-hal yang dipersoalkan oleh si pengkritik, mengingat kritikannya disampaikan di Twitter, bukan Instagram.

Kalau dengan cara yang sekarang, si pengkritik dan publik kurang mendapatkan penjelasan yang terang dan jernih terkait pembangunan Masjid Al-Jabbar. Yang ada, si pengkritik malah mendapatkan perundungan online secara beramai-ramai oleh oknum fans berat Kang Emil di Instagram. Fyi, saya nggak bermaksud membela si pengkritik, saya juga nggak kenal secara personal dengan sang pengkritik.

Baca Juga:

ASN Bisa Bersuara, Bisa “Mati” Maksudnya

ASN Boleh Mengkritik Negara, karena Digaji oleh Rakyat dan Diminta Setia pada Negara

Hanya saja, saya nggak mau kejadian ini terulang kembali kepada orang lain. Jika ada netizen yang kritik dibalas atau dijawab dengan cara-cara begini, akan membuat netizen lain, jadi pada takut untuk mengkritik kebijakan pemimpin daerahnya. Niatnya mau memberi masukan, malah jadi bahan keroyokan.

Selain itu, menurut saya pribadi, si pengkritik sama sekali nggak menyerang personal Kang Emil. Murni yang dikritik adalah kebijakan Kang Emil sebagai Gubernur Jawa Barat. Makanya, saya nggak nemu salahnya si pengkritik itu apa, bisa banget lho masalah ini diselesaikan secara elegan.

Hati saya makin tersayat-sayat, setelah melihat akun centang biru (artis) yang seolah-olah membela mati-matian Kang Emil. Mungkin mereka terlalu lama tinggal di menara gading, sehingga mereka nggak tau masalah masyarakat Jawa Barat yang sesungguhnya. Ditambah, ada jejak digital di twitter yang menunjukan bahwa si pengkritik dengan Kang Emil sempat akrab pada media sosial tersebut, beberapa tahun lalu. Kepada netizen yang kenal saja berani bertindak sampai begitu, apalagi ke masyarakat kecil seperti saya?

Sekali lagi, saya tak mempermasalahkan proyek masjid secara spesifik. Pembangunan tersebut, tepat atau belum, saya kira sudah melalui banyak pertimbangan. Tapi, saya benar-benar kecewa dengan Kang Emil, yang menanggapi kritikan dengan begitu tak elegan. Dan ini tentu saja mengkhianati demokrasi, hal yang selalu digaungkan oleh orang-orang yang justru tak mau mendengarkan kritik.

Penulis: Ahmad Arief Widodo
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Menunggu Jakarta Menjadi Atlantis di Bawah Ridwan Kamil dan Fahira Idris

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 5 Januari 2023 oleh

Tags: kang emilkritik
Ahmad Arief Widodo

Ahmad Arief Widodo

Penulis lepas yang fokus membahas kedaerahan, dunia pemerintahan dan ekonomi. Stand like a hero and die bravely.

ArtikelTerkait

pungli proyek pemerintah gaji PNS kerja 10 juta pejabat digaji besar tapi solusi minta rakyat mojok

Sebenarnya, Pejabat Itu Dibayar untuk Menyelesaikan Masalah atau Minta Solusi dari Rakyat?

12 Juli 2021
Puan Maharani bertani

Puan Maharani Menanam Padi Saat Hujan Itu Satire, Bukan Pencitraan

14 November 2021
Wajar Kalau Kita Jadi Nggak Suka Slank karena Kedekatan Mereka dengan Penguasa

Wajar Kalau Kita Jadi Nggak Suka Slank karena Kedekatan Mereka dengan Penguasa

6 November 2022
marjinal negri ngeri mojok

‘Negri Ngeri’ Adalah Gambaran Indonesia Saat Dihajar Pandemi

7 Juli 2021
Veronica Koman Melanggar Kontrak LPDP atau Sekadar Pembungkaman Kebebasan Mengkritik MOJOK.CO

Veronica Koman Melanggar Kontrak LPDP atau Sekadar Pembungkaman Kebebasan Mengkritik?

12 Agustus 2020
Konsekuensi Memberi Predikat “Paling” dalam Menilai Film atau Serial terminal mojok.co

Konsekuensi Memberi Predikat ‘Paling’ dalam Menilai Film atau Serial

21 Oktober 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Rute KRL Duri-Sudirman, Simbol Perjuangan Pekerja Jakarta (Unsplash)

Rute KRL dari Stasiun Duri ke Sudirman Adalah Rute KRL Paling Berkesan, Rute Ini Mengingatkan Saya akan Arti Sebuah Perjuangan dan Harapan

15 Januari 2026
5 Camilan Private Label Alfamart Harga di Bawah Rp20 Ribuan yang Layak Dibeli Mojok.co

5 Camilan Private Label Alfamart Harga di Bawah Rp20 Ribu yang Layak Dibeli 

13 Januari 2026
Mahasiswa yang Kuliah Sambil Kerja Adalah Petarung Sesungguhnya, Layak Diapresiasi Mojok.co

Mahasiswa yang Kuliah Sambil Kerja Adalah Petarung Sesungguhnya, Layak Diapresiasi

16 Januari 2026
6 Alasan Jatinangor Selalu Berhasil Bikin Kangen walau Punya Banyak Kekurangan Mojok.co

6 Alasan Jatinangor Selalu Berhasil Bikin Kangen walau Punya Banyak Kekurangan 

12 Januari 2026
Panduan Tidak Resmi Makan di Angkringan Jogja agar Tampak Elegan dan Santun

Panduan Tidak Resmi Makan di Angkringan Jogja agar Tampak Elegan dan Santun

13 Januari 2026
3 Pertanyaan yang Dibenci Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam Mojok.co jurusan PAI

Saya Tidak Ingin Menjadi Guru walaupun Memilih Jurusan PAI, Bebannya Tidak Sepadan dengan yang Didapat!

11 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Brownies Amanda Memang Seterkenal Itu, Bahkan Sempat Jadi “Konsumsi Wajib” Saat Sidang Skripsi
  • Kengerian Perempuan saat Naik Transportasi Umum di Jakarta, Bikin Trauma tapi Tak Ada Pilihan dan Tak Dipedulikan
  • Pascabencana Sumatra, InJourney Kirim 44 Relawan untuk Salurkan Bantuan Logistik, Trauma Healing, hingga Peralatan Usaha UMKM
  • Luka Perempuan Pekerja Surabaya: Jadi Tulang Punggung Keluarga, Duit Ludes Dipalak Kakak Laki-laki Nggak Guna
  • Bagi Zainal Arifin Mochtar (Uceng) Guru Besar hanya Soal Administratif: Tentang Sikap, Janji pada Ayah, dan Love Language Istri
  • Gotong Royong, Jalan Atasi Sampah Menumpuk di Banyak Titik Kota Semarang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.