Menjadi Perempuan Baik-Baik untuk Lelaki yang Tidak Baik-Baik

MOJOK.CODunia memberikan banyak tuntutan kepada perempuan, tapi tidak kepada laki-laki. Lah, katanya laki-laki yang baik akan dapat perempuan baik-baik?

“Dia perempuan baik-baik, jadi nggak mungkin ke sini,” kata laki-laki yang duduk di sebelah saya di Camden, pub di Jakarta yang berlokasi di Kawasan Cikini. Dia adalah laki-laki sama yang flirting dengan saya, sebelum mengabaikan panggilan telepon WhatsApp yang bertuliskan “calon bini”.

“Oh, sudah punya pacar. Kok nggak diangkat teleponnya?” tanya saya.

“Nggak, biarin aja,” jawabnya tanpa beban.

Lucunya, tanpa sungkan, dia menunjukkan foto si pacar dari handphone-nya. Pacarnya berkerudung. Manis. Suku Sunda. Dia semakin santai bercerita mengenai “calon bini” yang rencananya tahun depan akan dinikahi. Laki-laki kurus, tinggi, dan berkacamata ini mengaku kalau sebelumnya sang pacar tidak mengenakan hijab. “Aku yang nyaranin dia pakai jilbab,” katanya. Ada rona kebanggaan dalam nada suaranya.

Sayangnya, tanpa sengaja juga, saya melihat aplikasi dating di handphone-nya.

Percakapan kami terus mengalir sampai akhirnya dia mengaku sering melakukan one night stand dengan perempuan—lebih sering pada mereka yang ditemuinya di kelab malam ketimbang di aplikasi dating yang tadi saya pergoki.

“Loh, tapi kamu sudah punya pacar, kan?” kata saya lugu, sedikit dungu.

“Iya, kan beda tujuannya. Kalau pacar, tujuannya memang dinikahi. Kalau yang lain kan hanya di hotel saja. Ketemu malam, besok paginya sudah lupa,” katanya enteng.  Gleg! Ingin saya getokkan botol bir separuh kosong ini ke kepalanya!

“Percaya nggak? Kalau sama dia, aku nggak pernah ngapa-ngapain.”

Saya lagi-lagi terhenyak. Belum sempat saya menjawab, dia sudah menjelaskan tujuannya pada si “calon bini”. Karena akan dijadikan istri, dia pun menjaga “keutuhan” si calon bini. Lantas, apa kabar dengan perempuan-perempuan yang dia tiduri, ya??? Terus, apa dia tidak mau jadi lelaki baik-baik juga untuk “perempuan baik-baiknya”???

[!!!!!11!!!!1!!!!!!]

Saya rasa, laki-laki berkacamata ini hanya satu dari sekian laki-laki yang melakukan hal yang sama. Saya pernah mengenal seorang barista yang menggunakan aplikasi dating untuk mencari teman tidur, padahal dia sudah beristri.

“Terus istrimu tahu kamu main aplikasi dating?” tanya saya berlagak bloon.

“Ya, nggaklah!” katanya dengan nada sedikit tinggi.

“Kalau ternyata istrimu main aplikasi dating juga, gimana?”

Si barista diam sejenak, baru kemudian menjawab, “Ya, janganlah!”

“Seandainya istrimu juga main, gimana?” desak saya.

“Ya, aku marah! Lagian kamu pertanyaannya aneh-aneh aja. Nggak mungkin juga istriku main. Istriku, kan, perempuan baik-baik!” katanya, penuh percaya diri.

Padahal nih, ya, Saudara-saudara, kata orang, perempuan baik-baik akan mendapatkan laki-laki baik, demikian juga sebaliknya. Nah, kalau memang seorang laki-laki berhasil memiliki istri yang baik, apa dia tidak mau berlaku hal yang sama–membalas kebaikan sang istri dengan kesetiaan??? Kenapa ada laki-laki yang menuntut perempuan harus tertutup atas-bawah, sedangkan dirinya sendiri malah membuka celana ke mana-mana???

Mirisnya, ketika dunia memberikan banyak tuntutan kepada perempuan, kriteria yang sama tidak dibebankan kepada laki-laki. Beberapa orang bahkan sepakat: laki-laki mah memang harus nakal, badung, dan mencoba segalanya. Tapi, perempuan? Nggak boleh! Lah, kenapa memangnya? Kalau muncul pertanyaan begitu, pasti jawabannya: ya karena sudah kodratnya!

Saya jadi teringat dengan seorang mantan teman dekat. Katanya, “Kalau memang laki-laki serius dengan pacarnya, dia akan menjaga baik-baik pacarnya, walaupun atas nama berkesenian sekalipun.” Ujaran ini merupakan respons dari cerita saya mengenai seorang kenalan fotografer yang menjadikan pacarnya sebagai model foto nude.

“Lha, Affandi? Kalau nggak salah, dia melukis istrinya telanjang dari belakang,” bantah saya.

“Nggak! Affandi menggunakan pelacur sebagai modelnya!” bantahnya. Saat menulis tulisan ini, saya sempat googling dan menemukan fakta kalau memang Affandi melukis istrinya telanjang dengan angle dari belakang. Konon, hanya sang istri satu-satunya perempuan bugil yang dilukisnya.

Kelak kalau kami punya kesempatan bertemu, ingin saya cubit kecil kulit di bawah lengannya untuk menegaskan saya benar, Affandi memang melukis Maryati—istrinya,  telanjang tampak belakang.

Di momen yang sama, dia menasihati saya untuk jangan gampang percaya dengan laki-laki. Saya diminta menjaga diri baik-baik karena semua laki-laki itu jahat.

“Termasuk kamu?” tanya saya.

“Iya,” jawabnya pasti.

“Kenapa perempuan harus menjaga dirinya baik-baik? Kenapa nggak sama-sama menjaga saja?”

“Nggak bisa, karena memang sudah itu kodratnya,” kata dia.

[!!!!!11!!!!1!!!!!!]

Dalam sebuah hubungan PDKT, ada istilah tarik-ulur dan jual-mahal. Pada tahap ini, perempuan harus menahan diri untuk tidak terlalu menunjukkan perasaannya kepada si laki-laki. Soalnya, kalau perempuan terlalu bersemangat, laki-laki akan jadi kehilangan minat. Katanya, perempuan itu dilahirkan untuk diburu, bukan memburu. Saat perempuan terlalu aktif, laki-laki kehilangan fungsinya untuk menaklukkan.

Halaaah! Setahu saya, relasi seperti ini hanya terjadi pada hewan. Atau memang sebenarnya kita-kita ini manusia yang memiliki perilaku hewani? Hmmm?

Sungguh, deh. Kalau dipikir-pikir, menjadi perempuan itu ibarat memakan buah simalakama. Kalau terlalu ‘jago’ di tempat tidur, dibilang pelacur. Kalau ogah oral, dibilang nggak sayang suami. Ada juga beberapa ketentuan yang harus dipatuhi supaya perempuan mendapat sebutan “baik-baik”, seperti: tidak pergi ke pub, tidak minum bir, tidak tidur dengan banyak laki-laki, tidak mengirim foto seksi meski pacar yang minta, tidak merokok, harus berpakaian tertutup, dan—yang paling sering terdengar—harus tetap perawan.

Duh, rasa-rasanya, cuma malaikat saja yang bisa memenuhi kriteria tersebut! Bahkan, Lucifer saja akhirnya diusir dari surga, kan? Jadi nih, para laki-laki, sebenarnya kalian mau cari perempuan baik selevel di atas malaikat atau gimana???

Exit mobile version