MOJOK.CO – Siswa dengan Down syndrome (sindrom Down) seharusnya tidak dituntut untuk menghafal alfabet atau rumus-rumus, melainkan diberi jembatan untuk menyalurkan emosi yang tertahan di leher dan tenggorokan mereka.
Setiap kali melihat kurikulum yang menuntut banyak hal, sejujurnya itu memilukan. Siswa saya di kelas adalah anak Down syndrome. Mengajari mereka untuk menyebutkan nama negara, provinsi, juga menghitung luas bangunan, membuat saya selalu mempertanyakannya, apakah saya sedang melakukan hal yang sia-sia?
Bagi anak Down syndrome, tantrum adalah bahasa
Saat mengajar, pernah seorang siswa tiba-tiba tidak mau mendengarkan apa yang saya jelaskan, dia hanya termenung melihat keluar. Pernah juga ada siswa yang tiba-tiba melempar buku, tas, bahkan membanting meja dan kursi ke lantai.
Orang-orang awam tentu akan berpikir itu nakal sekali, tantrum itu, dan sebagainya.
Namun, bagi saya yang selalu bersamanya setiap hari di sekolah dan kelas, yang selalu menatap matanya, saya tahu itu adalah teriakan frustrasi. Siswa tersebut tak mampu menjelaskan rasa kesal yang dirasakannya karena ada yang mengganggunya, atau karena penanya hilang atau pensil warnanya yang patah.
Di situlah saya sadar, yang dia butuhkan bukan hafalan alfabet, atau rumus-rumus, melainkan jembatan untuk menyalurkan emosinya yang tertahan di leher dan tenggorokannya.
Di mata orang dewasa, tantrum sering dibaca sebagai masalah kedisiplinan. Sesuatu yang harus segera dihentikan, ditekan, atau “diamankan”.
Padahal bagi anak-anak dengan Down syndrome, tantrum sering kali adalah satu-satunya bahasa yang mereka miliki. Bahasa yang lahir ketika kata-kata tidak cukup, ketika tubuh mereka lebih dulu berbicara karena pikiran tak sanggup menyusunnya menjadi kalimat.
Karena hati yang lembut saja tidak cukup
Anak-anak surga, itu adalah label yang diberikan kepada anak-anak Down syndrome, hal ini karena sifat mereka yang penuh akan kasih sayang, suka tersenyum, dan mudah tertawa bahkan ada yang suka memeluk. Label yang manis, tetapi menjebak. Kita menjadi lupa bahwa mereka juga manusia yang bisa merasa marah, kecewa, dan cemburu.
Label ini tanpa sadar membuat kemarahan mereka dianggap tidak pantas. Ketika mereka marah, respons yang sering muncul bukan empati, melainkan keheranan: “Kok bisa marah?”
Seolah-olah kelembutan adalah satu-satunya emosi yang boleh mereka miliki. Padahal justru dengan mengakui kemarahan mereka sebagai emosi yang sah, kita sedang memperlakukan mereka sebagai manusia utuh, bukan sebagai simbol kepolosan semata.
Masalahnya adalah hambatan mereka dalam berbicara sering membuat perasaan yang mereka rasakan menjadi “macet”. Ketika perasaan itu macet, maka mereka akan mengekspresikan perasaan itu lewat perilaku.
Entah itu diam mematung, mogok makan, memukul, atau membanting semua hal. Maka di sinilah kecerdasan emosi menjadi krusial, kita tidak bisa hanya mengandalkan kelembutan mereka, kita juga harus mengajarkan mereka cara mengelola “badai” di dalam diri mereka.
Kurikulum untuk anak Down syndrom harusnya dibikin lebih baper
Sudah saatnya pendidikan di SLB juga mendapat perhatian lebih. Contohnya untuk siswa Down syndrome, pendidikan di SLB terlalu terobsesi pada capaian akademik formal yang sering kali hanya sebatas formalitas pada selembar kertas.
Kita butuh kurikulum yang lebih “baper” atau bawa perasaan, tentunya dalam artian yang positif, seperti:
1. Visualisasi akan rasa
Karena pembelajaran untuk siswa Down syndrome umumnya pembelajaran visual, tentu kita butuh lebih banyak media, apakah itu video atau kartu bergambar emosi, daripada kartu bergambar hewan atau benda. Siswa ini perlu tahu bahwa wajah merah padam itu namanya “marah” dan itu adalah hal yang manusiawi.
2. Latihan untuk berani berkata “tidak”
Anak-anak Down syndrome sering kali dimanfaatkan untuk menyenangkan orang lain. Mereka sangat rentan dijadikan objek hiburan hanya untuk membuat orang lain tertawa. Melatih dan meningkatkan kecerdasan emosi anak-anak Down syndrome berarti mengajari mereka untuk berani menolak, dan boleh merasa tidak nyaman.
3. Rutinitas dan transisi
Kecerdasan emosi juga soal kesiapan mental. Mengajari mereka untuk siap menghadapi perubahan jadwal yang tiba-tiba tanpa harus merasa cemas adalah keterampilan hidup yang jauh lebih berharga daripada bisa mengeja kata “metamorfosis”.
Masalahnya, kurikulum seperti ini sering dianggap tidak “produktif” karena sulit diukur. Tidak ada angka rapor yang bisa langsung menunjukkan hasilnya. Padahal, justru kemampuan mengelola emosi inilah yang kelak menentukan apakah mereka bisa bertahan di dunia yang jarang bersabar dan jarang mau menunggu.
Memanusiakan anak Down syndrome, bukan jadi objek rasa kasihan
Sering kita melihat siswa Down syndrome ini hanya sebagai objek rasa kasihan yang perlu disayang-sayang. Padahal, bentuk penghormatan tertinggi kita kepada mereka adalah dengan memberikan “alat” agar mereka bisa mandiri secara emosional.
Meningkatkan kecerdasan emosi bukan berarti membuat mereka berhenti menangis atau selalu tersenyum. Justru sebaliknya, memberi mereka hak untuk merasa tidak nyaman, merasa tidak baik-baik saja, dan membekali mereka untuk mengungkapkan perasaan tidak nyaman itu secara sehat.
Dunia di luar sekolah tidak selalu lembut. Ia keras, terburu-buru, dan sering kali tidak peduli pada mereka yang membutuhkan waktu lebih lama untuk dipahami. Tanpa kemampuan mengungkapkan emosi, kemarahan mereka akan terus dianggap gangguan, bukan pesan.
Sekarang adalah saatnya untuk berhenti mengukur keberhasilan guru SLB dari seberapa banyak siswanya yang bisa menulis angka 1 hingga 100. Mari kita mulai menghitung keberhasilan itu dari seberapa mampu siswa-siswanya bisa menenangkan diri sendiri saat mereka merasa dunia itu sedang tidak adil.
Karena pada akhirnya, bagi mereka, anak-anak Down syndrome, kemampuan untuk berkata “aku sedih” atau “aku ingin sendiri” adalah tiket emas mereka untuk benar-benar diterima dalam masyarakat sebagai seorang manusia yang berdaulat, bukan sekadar “anak lucu” yang dipandang sebelah mata.
Penulis: Roberto Maswiratama
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA Menjadi Guru SD di Era ‘Skibidi Toilet’: Pertarungan Sengit Melawan Algoritma yang Tak Mungkin Saya Menangkan dan artikel lainnya di rubrik ESAI.
