Membaca Serial Upin Ipin Lewat Kacamata Karl Marx: Kenapa Mulut Fizi Pengen Ditabok dan Ehsan Adalah Borjuis Kampung

Membaca Serial Upin Ipin Lewat Kacamata Karl Marx: Kenapa Mulut Fizi Pengen Ditabok dan Ehsan Adalah Borjuis Kampung MOJOK.CO

Ilustrasi Membaca Serial Upin Ipin Lewat Kacamata Karl Marx: Kenapa Mulut Fizi Pengen Ditabok dan Ehsan Adalah Borjuis Kampung. (Ega Fansuri/Mojok.co)

MOJOK.COSemakin sering saya menonton Upin Ipin bersama anak-anak, semakin saya curiga bahwa Karl Marx diam-diam pernah tinggal di Kampung Durian Runtuh.

Sebagai bapak yang remote TV-nya sudah dijajah anak-anak, saya tidak punya banyak pilihan tontonan di rumah. Salah satu yang paling sering muncul tentu saja Upin & Ipin. Rasanya serial ini sudah seperti lauk harian yang kalau sehari tidak muncul, ada yang terasa kurang.

Saking seringnya menemani anak menonton, saya sampai hafal nama-nama penghuninya Kampung Durian Runtuh. Ada Upin dan Ipin si duo botak, Mail sang pejuang “dua seringgit”, Mei Mei, Susanti, Jarjit, sampai duo Ehsan dan Fizi. Belum lagi Tok Dalang, Opah, Uncle Muthu, dan Uncle Ah Tong.

Sekilas, mereka tampak seperti anak-anak biasa yang hidup damai di sebuah kampung yang nyaman. Namun, setelah ditonton berkali-kali, saya mulai curiga: jangan-jangan hubungan sosial mereka tidak sesederhana yang terlihat.

Siapa Ehsan di Upin Ipin menurut Karl Marx?

Alih-alih ikutan relaks nonton Upin-Ipin bareng anak, sebagai dosen atau akademisi skena ala-ala, otak saya nggak bisa diam. Di kepala penulis malahan nyantol hantu marxisme di balik relasi bocil di Kampung Durian Runtuh tersebut. 

Terutama ketika melihat kebiasaan Ehsan yang gemar flexing dan Fizi yang mulutnya sering membuat penonton geregetan pengin nabok.

Mari mulai dari Ehsan.

Kita perlu membedah mengapa Ehsan, sobat Kampung Durian Runtuh kita yang direpresentasi manja, suka banget makan, dan perutnya gendut itu bisa kepilih jadi ketua kelas. Jawabannya, jika kita tekun menonton serial tersebut, adalah: Kapital! 

Dalam serial tersebut, Ehsan digambarkan sebagai anak yang berasal dari keluarga berada. Kakaknya, biduan terkenal di kota yang punya gelar “Intan Payung”.

Ia punya gawai terbaru, kamera mahal, perlengkapan hobi yang lengkap, dan berbagai barang yang tidak dimiliki teman-temannya. Bahkan dalam beberapa episode, ia bisa mengajak teman-temannya berenang atau menikmati fasilitas yang tidak semua anak kampung punya akses.

Menariknya, Ehsan tidak pernah digambarkan sebagai anak jahat. Justru sebaliknya. Ia royal, suka berbagi, dan sering mentraktir teman-temannya.

Di situlah letak persoalannya!

Dominasi kuasa kapital pada sosok Ehsan di Upin Ipin

Kedermawanan Ehsan, mulai dari mentraktir teman-temannya Es ABCD di warung Uncle Muthu hingga mengajak mereka bermain di kolam renang pribadi rumahnya, tidak serta-merta menghapus jarak antarkelas. Sebaliknya, semua itu justru melanggengkan ketimpangan tersebut, tetapi dengan cara yang terasa menyenangkan sehingga jarang dipertanyakan.

Alhasil, tak ada yang bertanya kenapa Ehsan jadi orang “berpunya” daripada teman-temannya. Karl Marx menyebut hal ini sebagai mekanisme yang membuat sistem timpang terasa wajar dan bahkan baik-baik saja.

Jika kita kritis, maka kita bisa melihat bagaimana ada bias tersembunyi dibalik serial tersebut. Ehsan selalu ditunjuk jadi ketua kelas. Seolah-olah orang yang punya modal material alias kaya raya secara otomatis memiliki legitimasi sosial untuk memimpin kelas pekerja yang dalam hal ini diwakili oleh Upin, Ipin, Mail, Fizi, serta Mei Mei dan Susanti.

Untuk melihat bagaimana kemudian dominasi kuasa kapital di serial animasi ini bekerja, kita bisa membandingkannya dengan sosok Mail, yang juga sobat Ehsan. Berbeda dengan Ehsan yang kemudian menerima kekayaan sebagai takdir dari bapaknya yang kaya raya. Mail adalah representasi dari komodifikasi anak belum cukup umur yang berjuang dari bawah.

Slogannya yang epik “dua seringgit” tiap kali ada kesempatan mencari duit merupakan bentuk perlawanan kelas bawah untuk mengumpulkan modal (Capital Accumulation) secara mandiri agar tidak tergilas oleh kerasnya kehidupan di Kampung Durian Runtuh.

Fizi, gambaran orang miskin yang mulutnya pingin ditabok

Tragisnya, kesadaran ekonomi macam Mail ini berbanding terbalik 180 derajat dengan Fizi. Dalam serial animasi Upin dan Ipin, keliatan sekali jika Fizi merupakan representasi orang yang miskin papa, tapi mulutnya kepengen ditabok. Dalam banyak episode, dia tidak bisa menjaga omongan sehingga membuat temannya sakit hati.

Pertanyaannya, kenapa Fizi begitu senyablak? Kenapa ia begitu mudah melontarkan komentar yang menyakiti teman-temannya, termasuk Upin dan Ipin yang yatim piatu?

Jawabannya bisa kita cek via analisisnya Karl Marx. Dimana dalam teori Marxis, Fizi dalam hal ini mengalami kesadaran palsu (False Consciousness). Fizi direpresentasikan sebagai anak dari kelas bawah atau proletar. 

Namun, alih-alih membangun solidaritas kelas bareng Upin-Ipin dan teman-temannya yang sesama orang susah (Class Solidarity), Fizi justru memilih buat menjadi antek-antek alias ngebabu buat si “borjuis kecil” yang dalam hal ini adalah Ehsan.

Kesadaran palsu Fizi yang dekat dengan orang kaya dan merendahkan teman-temannya

Kalau kita menonton serial Upin Ipin, Fizi selalu ngikutin dan ngekor di belakang Ehsan demi kecipratan kemewahan yang ia punya. 

Ia ikut menikmati berbagai fasilitas yang dimiliki sahabatnya itu, mulai dari makanan enak, jalan-jalan, hingga mencoba mainan-mainan mahal yang tidak dimiliki anak-anak lain di Kampung Durian Runtuh.

Demi diterima di lingkaran borjuis kecil itu, Fizi kemudian meluapkan rasa amannya dengan cara merendahkan sesama kelas bawah via mulutnya yang minta ditabok tersebut.

Kita bisa melihatnya saat ia mengejek Upin dan Ipin karena tidak memiliki orang tua, atau ketika komentarnya pada ulang tahun Mei Mei membuatnya sempat diusir dari acara tersebut. Mulut Fizi yang sering bikin ingin ditabok itu seolah menjadi cara untuk menunjukkan bahwa dirinya lebih tinggi daripada teman-temannya yang lain.

Fizi seakan percaya, bahwa bersama Ehsan yang punya kuasa, maka ia bisa ketularan naik kelas dan punya privilese buat ngebuli bocil-bocil lain di lingkaran pertemanannya. Padahal mah enggak. 

Di situlah letak apa yang disebut Karl Marx sebagai false consciousness atau kesadaran palsu. Fizi tidak menyadari posisinya sendiri, lalu memilih meniru cara pandang kelompok yang lebih dominan. Alih-alih bersolidaritas dengan sesama anak kampung, ia justru mereproduksi pola merendahkan yang selama ini menguntungkan kelompok yang lebih beruntung darinya.

Secara halus, mulutnya Fizi yang rasanya kepengen ditabok itu dan bagaimana Flexing Ehsan yang sering ujar “Daddy aku beli…” itu adalah produk dari alienasi sosial yang muncul di layar kaca kita. 

Tontonan ini sukses menjadi konsumsi bocil-bocil sembari disuapin sama emak-bapaknya di rumah setiap hari. Relasi sosial timpang yang sebenarnya juga hadir di dalam realitas kehidupan nyata, namun dibungkus dengan nyaman via serial animasi nan lucu dan menggemaskan. Anjay.

Penulis: Aditia Muara Padiatra
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Meski Muak, Akui Saja Kita Bersemangat Dengar Teori Konspirasi Upin Ipin dan Teori Konyol Serupa dan tulisan lainnya di kanal Esai.

Exit mobile version