Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Nyatanya, Malioboro Kini Tak Lagi Sama dan Kata “Istimewa” bagi Jogja Hanya Pencitraan Semata

Wiji Nurasih oleh Wiji Nurasih
9 Desember 2024
A A
Malioboro, Jogja, aksi demo.MOJOK.CO

Ilustrasi - Jalan Malioboro (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Malioboro kini bukan Malioboro yang dulu. Kini, ia tak punya nyawa dan gairah. Persis seperti kata “istimewa” dari Jogja yang ternyata pencitraan semata.

Dengan dalih mencari referensi untuk skripsi, pada 2019, saya seorang diri menempuh perjalanan dari Purwokerto ke Jogja. Kala itu ada kali kedua saya datang ke Jogja dan menjadi satu titik dalam pusaran kerumunan yang tersedot citra “Istimewa”. 

Destinasi pertama saya jelas Taman Pintar untuk mencari buku di lapak-lapak yang koleksinya bertumpuk-tumpuk. Beberapa buku berhasil saya beli berbekal ilmu menawar yang sungguh payah.

Usai memburu buku, salah satu kawan saya yang di ada Jogja menghampiri. Olehnya, aku di ajak ke Masjid Kauman. Kami mengobrol selayaknya kawan yang lama tidak bertemu, sembari menikmati cilok seharga lima ribu. Sayang, kawan saya tak bisa berlama-lama. Dia mahasiswa yang aktif berorganisasi, harus rapat dan ini itu. Jadi, saya kembali seorang diri.

Merasakan Malioboro yang bukan main ramainya

Lantaran hanya sendirian, saya memutuskan untuk jalan-jalan di Malioboro. Bukan main ramainya. 

Para penjual begitu bergairah di sisi kanan kiri pinggir jalan. Pelancong dari berbagai daerah dan luar negeri lalu-lalang. Pengamen tunanetra mengamen dengan speaker di dekatnya. Para nenek penjual sate ayam dan sate telur mengisi tempat kosong di sela-sela bangku-bangku Malioboro. 

Seniman-seniman jalanan tak kurang kreatif. Penari diiringi musik tradisional berjoget dengan lincahnya. Baju-baju, pernak-pernik, makanan semuanya ada! 

Malioboro memang penuh dengan seni kehidupan. Semakin larut, pengunjung semakin padat. Hingga pukul 6 pagi saja, Malioboro masih ramai. Orang-orang menyeringai dengan berbagai gaya menghadap kamera. 

Beberapa bangku terisi orang-orang yang terlelap dengan damainya. Saat sarapan gudeg di emperan, si ibu penjual bilang, “Malioboro baru mulai akan lengang sekitar jam 10 pagi.”

Covid menghantam Jogja

Pada 2020, pemerintah memberlakukan lockdown karena Covid-19 di banyak tempat. Termasuk Jogja dan Malioboro.

Saya melihat dari layar televisi, Malioboro begitu lengang, begitu kosong, dan terlihat petugas sedang menyemprotkan disinfektan. Melihat itu batin saya seketika terguncang.

“Ke mana ribuan orang yang menggantungkan hidup di Malioboro? Bagaimana cara mereka melanjutkan hidup? Apa kabar para nenek penjual sate, para pengamen, seniman, dan pedagang kaki lima di sana?” 

Agak sulit membayangkan keadaan mereka. Ketidaksiapan menghadapi situasi ini terlihat di mana-mana, tidak hanya di Jogja dan penghuni Malioboro.

Bergeser 2 tahun kemudian, pada 2022, Covid mereda. Apakah kesejahteraan kembali memeluk PKL Malioboro seperti sediakala? 

Iklan

Pada 2022 itu, saya kembali ke Jogja dan menetap selama 2 tahun. Dan sampai saat ini, saya belum memutuskan untuk tinggal lebih lama atau benar-benar meninggalkannya. 

Setelah 2 tahun tinggal di Jogja, saya masih sempat menilik Malioboro, meski tidak sering. Malioboro masih ramai, dan selalu ramai. Terlebih malam Minggu, ketika naik motor saja sulit untuk menembus kemacetan di depan Stasiun Tugu. 

Ternyata, orang-orang masih penasaran dengan Istimewanya Jogja di Malioboro. Antusiasme para penikmat romantisme tak berkurang sejak dulu, mungkin malah bertambah. Terlebih kalau mendengar lagu Adhitia Sofyan “…terbawa lagi langkahku kesana, mantra apa entah yang Istimewa, kupercaya selalu ada sesuatu di Jogja.” 

Baca halaman selanjutnya: Jogja tidak istimewa, Malioboro tak lagi sama.

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 10 Desember 2024 oleh

Tags: jalan malioboroJogjamalioboroMalioboro Jogjateras malioboro
Wiji Nurasih

Wiji Nurasih

Mbak-mbak penutur dialek Ngapak yang belum tahu kapan akan meninggalkan Jogja.

Artikel Terkait

Bisnis coffe shop, rumah dekat kafe, jogja.MOJOK.CO
Urban

Derita Punya Rumah Dekat Tempat Nongkrong Kekinian di Jogja: Cuma Bikin Emosi dan Nggak Bisa Tidur

26 Februari 2026
5 Hal Wajar di Pati yang Ternyata Nggak Lumrah di Jogja, Bikin Syok Saat Pertama Kali Merantau Mojok.co
Pojokan

5 Hal Wajar di Pati yang Ternyata Nggak Lumrah di Jogja, Bikin Syok Saat Pertama Kali Merantau 

25 Februari 2026
Pertama kali merantau ke Jogja: kerja palugada di coffee shop dengan gaji Rp10 ribu MOJOK.CO
Urban

Pertama Kali Merantau ke Jogja: Kerja di Coffee Shop 12 Jam Gaji Rp10 Ribu Perhari, Capek tapi Tolak Pulang karena Gengsi

24 Februari 2026
Destinasi Baru Wisata Jogja: Dari Klitih hingga Perang Sarung, Harusnya Masuk Wonderful Indonesia MOJOK.CO
Esai

Destinasi Baru Wisata Jogja: Dari Klitih hingga Perang Sarung, Harusnya Masuk Wonderful Indonesia

23 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Perempuan Jawa Timur kerja di luar negeri rata-rata menjadi ART dan perawat lansia (Caregiver) di Taiwan karena mudah dan gaji besar MOJOK.CO

Susah Payah Kerja di Taiwan: Gaji Rp13 Juta tapi Hampir Gila, Keluarga Tak Pernah Peduli Kabar tapi Cuma Peras Uang

24 Februari 2026
Destinasi Baru Wisata Jogja: Dari Klitih hingga Perang Sarung, Harusnya Masuk Wonderful Indonesia MOJOK.CO

Destinasi Baru Wisata Jogja: Dari Klitih hingga Perang Sarung, Harusnya Masuk Wonderful Indonesia

23 Februari 2026
THR belum cair, tapi sudah ludes dalam hitungan di kalkulator. Mudik lebaran memang tidak menyenangkan MOJOK.CO

THR Belum Cair tapi Sudah Jelas Ludes buat Dibagi-bagi, Yang Pasti Tak Ada Bagian untuk Diri Sendiri

23 Februari 2026
Culture shock mahasiswa Kalimantan dengan budaya guyub Jawa di Jogja

Culture Shock Mahasiswa Kalimantan di Jawa: “Dipaksa” Srawung, Berakhir Tidak Keluar Kos dan Pindah Kontrakan karena Tak Nyaman

26 Februari 2026
Mekanisme beasiswa LPDP untuk kuliah di luar negeri masih silang sengkarut, awardee cemas jadi "WNI" MOJOK.CO

Mekanisme dalam Beasiswa LPDP (Masih) Silang Sengkarut: Awardee Cemas Jadi WNI, Negara Punya PR yang Harus Diberesi

23 Februari 2026
KIP Kuliah di Jogja.MOJOK.CO

Ironi Penerima KIP Kuliah di Jogja: Uang Beasiswa Habis Buat Bayar Utang Keluarga, Rela Makan Rp20 Ribu per Hari Demi Tak Putus Kuliah

27 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.