Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Kolom

Jika Tuhan Maha-Kuasa, Lantas Kenapa Manusia Menderita?

Ulil Abshar Abdalla oleh Ulil Abshar Abdalla
27 April 2020
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kalau iman sudah kokoh, kita seharusnya berani menghadapi pertanyaan soal Tuhan semacam ini tanpa gentar dan tanpa perasaan marah.

Seorang teman mengirim pesan pribadi via Whatsapp saat pandemi korona ini meruyak:

Iklan

Jika Tuhan Maha Kasih dan Kuasa, kenapa Dia menimbulkan kesengsaraan pada manusia melalui pandemi korona? Jika sungguh-sungguh berkuasa, kenapa Dia tak segera melenyapkan penderitaan ini agar manusia hidup normal kembali?

Pertanyaan “skeptis” semacam ini sangatlah wajar, manusiawi. Tuhan tak akan marah karena  pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Saya kurang setuju manakala seseorang mengajukan pertanyaan yang berbau “protes” itu, lalu dihadapi dengan “hardikan”.

Sebagaimana pernah saya katakan, iman yang kuat dan kokoh tak takut pada keraguan, pertanyaan dan skeptisisme. Kita, sebagai seorang beriman, harus berani menghadapi pertanyaan semacam ini tanpa gentar.

Dalam bagian yang lalu saya mengulas mengenai dua sifat penting, yaitu Tuhan yang Hidup (Hayyun) dan karena itu Berkuasa (Qadirun) secara mutlak. Wujud Tuhan adalah wujud pada puncak hierarki atau “maratib al-wujud”, dan karena itu, kekuasaan-Nya juga merupakan kekuasaan yang sempurna; al-qudrah al-kamilah.

Jika demikian halnya, kenapa Tuhan menciptakan dunia dalam bentuk yang penuh dengan kekurangan, penderitaan? Tidak mungkinkah Tuhan mencipta dunia yang sempurna, semacam “utopia” yang tanpa cacat sedikit pun?

Inilah pertanyaan yang dalam tradisi pemikiran ketuhanan, teologi, disebut “teodisi”. Pertanyaan ini sudah menjadi pembahasan para teolog, filosof, pemikir, dan ulama sejak dahulu. Ini adalah pertanyaan perennial, abadi.

Saya tambahkan: selain pertanyaan abadi, pertanyaan ini tak akan tuntas dijawab hingga kapan pun. Inilah bagian dari “Big Question”, pertanyaan besar dalam hidup yang akan muncul pada segala zaman.

Usaha untuk menjawabnya juga tak akan pernah berkesudahan. Ini adalah bagian dari misteri hidup yang harus kita terima; bagian dari asarru-l-asrar, yang rahasia dari segala yang rahasia. Sementara itu, hidup tanpa misteri tampaknya akan sama sekali tak menarik. Datar!

Ini tak berarti bahwa tidak ada “titik terang,” tak ada usaha mencari jawaban untuk pertanyaan musykil itu. Salah satu sarjana besar Islam yang mencoba menjawab pertanyaan ini adalah al-Ghazali dalam karya agungnya, Ihya’ ‘Ulum al-Din.

Di sana, al-Ghazaki menulis bab khusus berjudul “Kitab al-Tauhid wa al-Tawakkul”. Dalam bab inilah kita menjumpai pembahasan yang mendalam perihal teodisi ini.

Al-Ghazali melontarkan sebuah ungkapan yang kemudian menimbulkan debat panjang dan kontroversi di kalangan ulama. Ungkapan itu berbunyi: laisa fi-l-imkan abda‘u mimma kan—tak ada dunia yang lebih sempurna ketimbang dunia yang sudah ada sekarang ini.

Pernyataan ini sederhana, tetapi menimbulkan kemusykilan: Jika dunia yang ada sekarang ini sudah paling baik, artinya Tuhan “tak mampu” mencipta dunia yang lebih baik lagi; maknanya, Tuhan tidak sempurna kekuasaannya.

Imam al-Suyuti (w. 1505), seorang ulama polymath besar dari Mesir, menulis kitab berjudul “Tasyyid al-Arkan” untuk membela al-Ghazali dari serangan-serangan ulama lain gara-gara pernyataan itu.

Inti penjelasan al-Ghazali adalah sebagai berikut: Memang ada kejahatan, penderitaan, penyakit, dan kesakitan di dunia, dari dulu, hingga kapan pun. Tetapi apa yang sudah ada saat ini adalah bentuk dunia yang paling mungkin dan sempurna. Mengutip Abu Thalib al-Makki (w. 998) dalam Qut al-Qulub, al-Ghazali mengutarakan pengandaian berikut:

Andai saja Tuhan menciptakan seluruh manusia di bumi ini dalam keadaan yang paling sempurna, menjadikan mereka sebagai orang-orang dengan kecerdasan maksimal, lalu memberi tahu mereka tentang rahasia segala hal, dan kemudian meminta mereka untuk mencipta-ulang dunia ini, maka yang akan muncul kurang lebih sama dengan dunia yang sekarang ini ada. Tak kurang, tak lebih.

Dengan kata lain: tak mungkin ada dunia yang lebih sempurna dari dunia yang ada sekarang, dengan segala kekurangannya. Apa yang dalam skala kecil kita kira penderitaan, dalam “the grand scheme of things”, skala besar, bisa jadi merupakan berkah.

Iklan

Pandemi korona yang sedang melanda seluruh dunia sekarang, dilihat dari satu segi adalah penderitaan yang besar bagai jutaan manusia.

Ribuan buruh kehilangan pekerjaan karena perusahaan tak mampu lagi membayar gaji mereka gara-gara ekonomi dunia mengalami pelambatan drastis. Puluhan ribu nyawa hilang, menyisakan kedukaan yang mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan. Tetapi, tak seluruh kisah pandemi korona adalah kisah kesedihan.

Di segi yang lain, ada banyak hal baik yang tiba-tiba muncul ke permukaan. Salah satunya adalah munculnya model komunikasi baru secara online melalui platform baru seperti Zoom. Semua universitas dipaksa mengembangkan pola pembelajaran baru secara jarak jauh. Banyak orang baik muncul dengan rela menyumbangkan hartanya untuk sesama. Dan masih banyak hal baik lain.

Seorang yang beriman selalu menaruh husnuzzann, kepercayaan bahwa di balik segala penderitaan dalam skala kecil, ada hikmah besar dalam skala besar yang mungkin baru diketahui belakangan. Dengan sikap hidup semacam ini, ia tak akan putus harapan, dalam keadaan apa pun. Dia akan selalu melihat terang di ujung lorong!


Sepanjang Ramadan, MOJOK.CO akan menampilkan kolom khusus “Wisata Akidah Bersama al-Ghazali” yang diampu oleh Ulil Abshar Abdalla. Tayang setiap pukul 16.00 WIB.

Terakhir diperbarui pada 27 April 2020 oleh

Tags: al-ghazaliWisata Akidah
Ulil Abshar Abdalla

Ulil Abshar Abdalla

Cendikiawan muslim.

Artikel Terkait

Masa Depan Agama-agama Dunia

23 Mei 2020

Argumen Keberadaan Tuhan untuk ‘New Atheists’

22 Mei 2020

Kita Tak Bisa Lagi Beragama secara Solipsistik

21 Mei 2020

Masih Relevankah Doktrin Politik Sunni pada Masa Ini?

20 Mei 2020

Doktrin Politik Sunni yang ‘Quietist’

19 Mei 2020

Apakah Kita Perlu Negara?

18 Mei 2020
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

fotografer wisuda

Suka Duka Fotografer Wisuda: Senang Mengabadikan Momen Bahagia Tapi Sial Karena ‘Harga Teman’

23 Agustus 2026
Penyesalan mahasiswa kiri dan naif: tolak kerja (jadi budak) korporat karena melanggengkan kapitalisme, tapi sadar orang tua belum bahagia MOJOK.CO

Sesal Mahasiswa Sok Kiri Anti Kapitalisme dan Naif: Tolak Kerja Korporat, Tapi Sadar Belum Bantu Ekonomi Orang Tua

21 Agustus 2026
pegawai BPO

Lulusan Magister Biologi Rela jadi Pegawai BPO di Tanah Rantau Agar Tidak Dianggap Pengangguran dan Bikin Orang Tua Menderita

26 Agustus 2026
Bakpia barangkali menjadi oleh-oleh khas Jogja yang biasa saja dan gitu-gitu aja. Tapi punya nilai sosial bagi perantau Jogja asal desa MOJOK.CO

Bakpia Jogja Memang Oleh-oleh Biasa dan Gitu-gitu Aja, Tapi Sangat Berharga buat Orang di Desa

22 Agustus 2026
Warga Yogyakarta Bisa Perbarui Desil yang Tak Sesuai Data secara Mandiri Lewat Aplikasi. MOJOK.CO

Warga Yogyakarta Bisa Perbarui Desil yang Tak Sesuai Data secara Mandiri Lewat Aplikasi

21 Agustus 2026
Universitas Terbuka (UT).MOJOK.CO

Kuliah di UT Dikira Bikin Kehilangan Relasi, Mahasiswanya Malah Bisa Membangun Jejaring sampai Luar Negeri 

27 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.