Paham Hukum Basmallah untuk Salat Agar Tak Ukur Dalamnya Air Pakai Patokan Badan Sendiri

MOJOK.COBagaimana sebenarnya hukum basmallah dalam surat Al-Fatihah? Kenapa ketika salat ada yang membaca dengan lirih, keras, dan yang tidak sama sekali?

Mas Is merasa aneh ketika ikut jamaah salat Isya’ di masjid luar kampung. Tak ada bacaan “bismillah” sebelum membaca Al-Fatihah dan ayat berikutnya. Menurut Mas Is, ini aneh sekali. Makanya, pagi-pagi Mas Is mendatangi kediaman Gus Mut.

“Gus, masjid di dekat Kantor Kecamatan itu kayaknya sesat deh. Masa waktu salat, Surat Al-Fatihah-nya nggak ada bacaan basmalahnya?” kata Mas Is tanpa basa-basi ke Gus Mut.

Gus Mut tersenyum mendengar pertanyaan Mas Is.

“Kok sesat? Patokanmu yang nggak sesat itu memang bagaimana, Is?” tanya Gus Mut lagi.

“Ya pokoknya yang nggak pakai bacaan basmallah itu berarti lain. Karena di masjid kita kan ‘bismillah’-nya dibaca kencang sekali,” kata Mas Is.

Gus Mut kembali tersenyum.

“Begini, Is. Ada beda pendapat ulama soal itu,” kata Gus Mut.

“Maksudnya? Beda pendapat soal hukum basmallah waktu salat gitu, Gus?” kata Mas Is.

“Bahkan sebelum sampai dibaca waktu salat. Mahzab Hambali, Hanafi, sampai Maliki punya pendapat kalau ayat ‘bismillah’ bukan bagian dari Al-Fatihah lho, Is. Bismillah hanya berfungsi sebagai ayat pemisah antara satu surat dengan surat yang lain,” kata Gus Mut.

“Lah, terus kenapa Gus Mut selalu pakai ada ayat ‘Bismillah’ kalau lagi imami di masjid kampung?” tanya Mas Is lagi.

“Ya karena umat muslim di Indonesia pada umumnya pakai mazhab Imam Syafi’i. Mazhab yang percaya kalau ‘Bismillah’ adalah bagian sempurna dari Al-Fatihah. Makanya ketika salat perlu dibaca keras,” kata Gus Mut.

Mas Is manggut-manggut.

“Oh, berarti masjid tempat saya salat tadi malam itu pakai Mazhab Maliki dong?” kata Mas Is.

“Ya belum tentu,” kata Gus Mut.

“Kok belum tentu?” tanya Mas Is.

“Karena posisi hukum membaca ‘bismillah’ secara lirih atau tidak dalam bacaan salat juga beda lagi pembahasannya. Mazhab Syafi’i yang kita pakai, ‘bismillah’ wajib dibaca keras karena bagian dari surat Al-Fatihah. Sedangkan Mazhab Hanafi dan Hambali dibaca lirih, meskipun tidak menganggap itu bukan bagian dari ayat Al-Fatihah. Mazhab Maliki beda lagi, tak dibaca sama sekali ketika mengawali surat A-Fatihah. Beda-beda semua,” kata Gus Mut.

“Tapi tadi malam itu benar-benar nggak ada ‘bismillah’-nya sama sekali. Kayaknya sih beneran Maliki deh, Gus? Pakai hukum basmallah yang itu,” tanya Mas Is lagi.

“Bisa jadi sebenarnya si imam salatmu itu baca ‘bismillah’ lirih banget, lalu kamunya aja yang nggak dengar?” kata Gus Mut.

“Waduh, kok jadi pusing begini sih, Gus? Buanyak banget versi hukum-hukumnya. Padahal ini baru persoalan ‘Bismillah’ aja ya? Belum dengan yang lain,” kata Mas Is.

“Makanya itu, kamu perlu belajar semuanya. Mempelajari semua perbedaan itu,” kata Gus Mut.

“Lah, buat apa, Gus? Kalau belajar semua kan malah jadi bingung. Malah bisa gonta-ganti mazhab nanti,” kata Mas Is.

“Ya belajar semua untuk memilih mana yang terbaik untuk kita dan lingkungan kita, bukan untuk gonta-ganti. Belajar mazhab yang lain juga bikin kita nggak gampang melihat orang lain itu jadi kelihatan salah atau keliru. Pada akhirnya, kita jadi melihat perbedaan sebagai kekayaan, bukan sebuah ancaman,” kata Gus Mut.

“Iya, Gus. Kayak tadi barusan, saya kira mereka sesat, hehe,” kata Mas Is cengengesan.

“Itulah, Is. Jangan mengukur kedalaman air dari patokan tinggi badan sendiri,” kata Gus Mut.

“Maksudnya gimana itu, Gus?”

“Kalau kamu tinggi, kamu bilang kedalaman air cuma seperutmu saja. Sedangkan orang lain yang pendek bilang kedalaman air seleher. Lalu kamu bertemu dengan orang itu, lantas kamu bilang kalau orang itu keliru. Kan nggak begitu, Is. Kamu harus punya ilmunya juga. Oh, kedalamannya air ini satu meter sekian. Nah, karena kamu punya ilmunya, kamu akan memaklumi kalau ada orang yang lebih pendek menganggap ketinggian airnya sampai bagian leher,” kata Gus Mut mengakhiri.

“Jadi, perkara gontok-gontokan yang pakai alasan agama ini bisa jadi karena sama-sama nggak ada ilmunya, jadi gampang menyesatkan orang lain ya, Gus?” kata Mas Is.

“Kadang-kadang bukan karena nggak ada ilmunya, tapi ogah saja mempelajari ilmu yang dianggap ‘berbeda aliran’ lalu dicap ‘sesat’ kayak kamu itu tadi. Malas mempelajari pendapat orang lain. Akhirnya terkungkung kayak jadi katak dalam tempurung. Ini yang bahaya. Hidupnya pasti nggak bisa rileks. Merasa di dunia ini semuanya salah dan menjadi ancaman, akhirnya memerangi semua orang. Ya gimana mau rileks kalau patokannya cuma dari diri sendiri. Iya kan?” kata Gus Mut.

Mas Is manggut-manggut, hanya kali ini sambil tersenyum.

 

*) Diolah sedikit dari pernyataan KH. Musthofa Bisri.


BACA JUGA DIA MURTAD KARENA KAMU KIRA IBADAH HANYA ADA DI DALAM MASJID atau tulisan rubrik KHOTBAH lainnya.

Exit mobile version