Ngapain Mendoakan Jenazah yang Meninggal Dunia karena Overdosis Narkoba?

Ngapain Mendoakan Jenazah yang Meninggal Dunia karena Overdosis Narkoba?

Ngapain Mendoakan Jenazah yang Meninggal Dunia karena Overdosis Narkoba?

MOJOK.COFulan meninggal karena overdosis narkoba. Seantero kampung tahu itu. Kang Jaelani merasa keputusan Gus Mut yang mau mendoakan bisa jadi preseden buruk.

Wajar kalau Kang Jaelani merasa gelisah dengan keputusan Gus Mut yang tetap mau menggelar tahlilan di rumah almarhum Fulan. Apalagi almarhum Fulan ini meninggal dalam keadaan fasik. Setidaknya, secara dhohirnya begitu.

Ya bagaimana nggak fasik kalau almarhum Fulan ini meninggal dunia karena overdosis narkoba. Itu juga secara dhohir sudah menggambarkan bagaimana kelakuan Fulan ketika masih hidup. Sepanjang hidup, almarhum Fulan ini sering bikin resah warga sekitar. Berkali-kali masuk penjara dan pusat rehabilitasi, tapi tetep nggak kapok-kapok pula.

“Saya itu cuma nggak habis pikir, Gus. Panjenengan itu sudah menyalati jenazah si Fulan, ikut tahlilan rutin pula di rumahnya,” kata Kang Jaelani, merasa keberatan dengan kengototan Gus Mut tetap mendoakan orang yang meninggal dunia karena overdosis narkoba.

“Lah emang kenapa to, Kang? Apa itu merugikan sampeyan?” tanya Gus Mut sambil tersenyum.

“Bukan masalah merugikan atau tidak merugikan, Gus. Panjenengan itu seolah nggak bikin garis batas jelas. Kalau orang saleh dan orang fasik sama-sama panjenengan jadi imam salat jenazahnya, mimpin doanya, bahkan ikut tahlilannya itu kan bahaya,” kata Kang Jaelani.

Gus Mut mengenyitkan dahinya sejenak.

“Maksudnya, Kang?” tanya Gus Mut.

“Oke lah, secara sosial itu mungkin perlu Gus Mut lakukan, tapi panjenengan nggak perlu juga yang memimpin dong. Panjenengan kan tokoh di daerah sini. Kan bisa aja yang mimpin murid panjenengan. Apa yang Gus Mut lakukan itu bisa jadi preseden buruk soalnya, ‘Lah, si Fulan aja tetep didoain sama Gus Mut kok, jadi nggak masalah dong kita maksiat,’ begitu gimana coba? Ambyar to, Gus?” kata Kang Jaelani.

“Jadi menurut Kang Jaelani, saya nggak perlu mimpin salat jenazah dan lain-lain karena Fulan overdosis narkoba?” tanya Gus Mut.

“Iya dong, Gus. Biar itu bisa jadi pelajaran buat orang yang masih anggap enteng maksiat-maksiat berat. Ya kayak si Fulan yang mati karena overdosis narkoba itu. Biar orang lain saja yang memimpin, jangan Gus Mut biar orang maksiat lainnya nggak menggampangkan,” kata Kang Jaelani.

Gus Mut tersenyum.

“Terima kasih, Kang, kalau kedatangan sampeyan ke sini untuk mengingatkan saya,” kata Gus Mut.

Kang Jaelani merasa bungah. Merasa pendapatnya didengarkan oleh Gus Mut, sampai tiba-tiba Gus Mut kembali bersuara…

“Tapi…” kata Gus Mut kemudian.

Kang Jaelani hampir kaget karena di ujungnya Gus Mut ada kata “tapi”-nya.

“Saya ada alasan tersendiri kenapa tetap melakukan itu,” kata Gus Mut.

“Aduh, Gus Mut ini kok ada ‘tapi’-nya sih,” kata Kang Jaelani kecewa.

“Bukan gitu, Kang. Pendapat sampeyan itu ada benarnya, tapi saya juga ada pendapat sendiri soal ini,” kata Gus Mut.

Kang Jaelani mendengarkan, belum mau membantah.

“Saya itu cuma mempertahankan tradisi yang baik. Mendoakan orang lain. Perkara orang lain itu secara dhohir kok fasik karena overdosis narkoba, ya tidak mengapa karena itu bisa mencegah tradisi yang lebih buruk lagi,” kata Gus Mut.

Kang Jaelani bingung.

“Ma, maksudnya ‘tradisi yang lebih buruk lagi’, Gus?” tanya Kang Jaelani.

“Ya, sampeyan tahu sendiri. Kira-kira Fulan yang bertahun-tahun kayak begitu, punya temen orang saleh nggak?” tanya Gus Mut.

“Ya nggak tahu sih, Gus. Tapi kayaknya sih kecil kemungkinan si Fulan punya teman ‘alim atau saleh,” kata Kang Jaelani.

Gus Mut membenarkan letak duduknya sejenak.

“Nah, sekarang sampeyan bayangkan, Kang. Orang yang meninggal karena overdosis narkoba kayak Fulan ini, kalau nggak ada tokoh yang mau datang ikut mendoakan, kira-kira yang bakal datang ke kediamannya untuk mendoakan atau—katakanlah—mengantarkan ke peristirahatan terakhir siapa?” tanya Gus Mut.

Kang Jaelani tak menjawab, ada keraguan dikit untuk nyeletuk.

“Ya mungkin ya teman-teman deket si Fulan, Gus,” kata Kang Jaelani.

“Sekarang, kalau orang-orang itu bikin kumpul-kumpul di kediaman Fulan. Barangkali demi menghormati Fulan yang dulu dianggap sebagai teman baik, berapa kemungkinannya kumpulan semacam itu akan jadi kumpulan yang baca doa bareng-bareng atau ngadain tahlilan?” tanya Gus Mut.

“Ya kecil sih kemungkinannya, Gus,” kata Kang Jaelani.

“Dan orang saleh betulan yang mau mendoakan kayak tetangga-tetangga Fulan juga bakal risih kalau mau datang. Karena rumahnya udah dipenuhi teman-teman Fulan. Kan jadi nggak baik,” kata Gus Mut.

Kang Jaelani masih terdiam.

“Beda soal kalau orang kayak sampeyan yang datang—misalnya, teman-teman Fulan tetep akan datang, lalu akan mengikuti tradisi yang ada pula. Ikut tahlilan, ikut mendoakan, meski cuma amin-amin aja tapi kan lumayan. Meskipun dhohirnya kelihatan fasik, tapi kan bagus jadi ikutan tradisi yang bagus. Ketimbang kumpul-kumpul tapi malah berisiko bikin kemaksiatan baru, mending dibikin tahlilan aja sekalian,” kata Gus Mut.

Kang Jaelani terdiam sejenak. Mencoba mencerna maksud kata-kata Gus Mut.

“Tapi kan orang-orang ini memang tak perlu kita doakan, Gus. Orang mereka nggak taat sama Gusti Allah kok malah minta orang lain ikut mendoakan temennya yang meninggal,” kata Kang Jaelani.

Gus Mut tersenyum.

“Kang, justru dengan kita mau menerima teman-temannya Fulan, ini agar mereka sadar kita nggak galak-galak amat kok sama mereka. Kita ini terbuka sama orang kayak mereka. Kalau mau berubah, biar nggak kayak almarhum Fulan, ayo silakan. Nggak perlu malu-malu. Tunjukkan ke mereka kalau mau tobat itu gampang. Nggak perlu gengsi karena kita ini nggak jauh-jauh amat sama mereka,” kata Gus Mut.

“Ya tapi kan kalau kita bergaul sama teman-teman Fulan, kita bisa ketularan terus berubah jadi fasik gimana, Gus? Jadi lebih baik orang-orang kayak gitu jangan dikasih tempat aja sekalian. Nggak usah deket-deket kampung sini,” tanya Kang Jaelani.

Gus Mut tersenyum.

“Kang, hal-hal yang menurut sampeyan tidak cocok secara agama, itu bukan untuk disingkirkan tapi untuk dihadapi. Cara menghadapinya pun macem-macem. Mau pakai jalur bil makruf apa jalur bil mungkar. Kalau sampeyan maunya semua orang taat semua ke Gusti Allah, lalu menyingkirkan orang yang nggak taat. Memberi garis batas sampai mau bikin mereka nggak layak hidup berdampingan dengan sampeyan, ya itu sampeyan sama aja mau melampaui Tuhan, Kang,” kata Gus Mut.

“Lah kok gitu?”

“Ya iya. Lah wong Gusti Allah aja lho nggak pernah masalah hamba-Nya mau taat atau nggak, kok sampeyan malah yang ngotot. Kita ini nggak pernah diajak pertimbangan sama Gusti Allah kok malah mau ngurusin hidayah orang,” kata Gus Mut.

Kang Jaelani tercekat, meski akhirnya tersenyum cengengesan mendengar kata-kata terakhir Gus Mut sambil manggut-manggut.


*) Diolah dari penjelasan Gus Baha’.

BACA JUGA Cara Kiai Kholil Bersaksi ketika Melayat ke Ahli Maksiat atau kisah GUS MUT lainnya.

Exit mobile version