Mencuri Kotak Amal Masjid karena Anggap Allah Maha Kaya

mencuri kotak amal hukum islam sumbangan anak yatim sedekah Guru PNS di Lampung Diduga Galang Dana Terorisme JI lewat Ribuan Kotak Amal mojok.co

MOJOK.CODi dalam masjid, seorang pria diikat di tiang masjid. Maling kotak amal masjid ini menangis hebat. Bukan, bukan karena mukanya bonyok, tapi karena malu.

“Gus, Gus Mut, ke masjid sekarang, Gus. Ada maling ketangkap warga,” kata Fanshuri terengah-engah di depan rumah Gus Mut.

Gus Mut yang masih duduk santai di teras rumahnya kaget.

“Astaghfirullah. Maling? Maling apa, Fan?” kata Gus Mut.

“Maling kotak amal. Dihajar habis-habisan malingnya sama warga. Udah bonyok sekarang,” kata Fanshuri.

“Waduh,” kata Gus Mut.

Dengan masih mengenakan kaos singlet dan sarung, Gus Mut langsung menyusul ke masjid bersama Fanshuri.

Karena jarak rumah Gus Mut dengan masjid tak terlalu jauh, hanya dalam beberapa menit mereka berdua sudah sampai di halaman masjid. Benar saja, kerumunan warga sudah menyemut di pelataran masjid. Ramai sekali. Bahkan jauh lebih ramai ketimbang jamaah salat jumat.

Melihat Gus Mut datang, beberapa warga memberi jalan agar Gus Mut bisa segera masuk ke dalam.

“Mana malingnya?” tanya Gus Mut.

“Itu, Gus, di dalam masjid. Diiket di tiang,” kata Mas Is yang sudah di masjid dari tadi dan langsung mengantarkan Gus Mut masuk ke dalam masjid.

Di dalam, seorang pria paruh baya diiket menggunakan tali tambang di tiang masjid. Maling ini menangis hebat di sana. Wajahnya sudah bonyok dihajar warga. Meski begitu kelihatan benar kalau bukan luka di wajahnya yang bikin dia menangis, melainkan karena rasa malunya sudah ketahuan mencuri kotak amal masjid.

Tanpa pikir panjang, Gus Mut mendekati si maling.

“Kok diiket di tiang begini, Is?” tanya Gus Mut ke Mas Is.

“Ya tadi sama warga, kita sepakat untuk diikat di tiang masjid dulu biar jadi tontonan warga. Biar kapok,” kata Mas Is.

“Belum lapor polisi ini?” tanya Gus Mut.

Tiba-tiba ketika Gus Mut menyebut kata “polisi” si maling langsung mengiba sambil menangis hebat.

“Ampuuun, Paak, jangan dibawa ke polisi, Pak,” kata si maling.

“Ya kalau nggak mau urusan sama polisi jangan maling, Setan,” kata Mas Is sambil bersiap kasih bogem mentah ke muka si maling.

Sebelum tangan Mas Is sampai ke muka si maling, Gus Mut menahannya.

“Tunggu dulu, Is, tunggu dulu,” kata Gus Mut.

“Tunggu dulu gimana, Gus. Orang ini benar-benar maling. Tadi saya lihat orang ini bawa kotak amal masjid yang paling gede itu ke toilet. Saya udah curiga, saya ikutin, saya tunggu di luar kamar mandi. Begitu orang ini keluar, langsung saya tangkep. Dan bener, ternyata dia kuras habis itu isi kotak amal. Rencananya kotaknya mau ditinggalin gitu aja di dalam kamar mandi. Duitnya mah dikantongin aja. Ini duitnya, ini kotaknya, Gus,” kata Mas Is menujukkan kedua barang bukti.

Gus Mut terdiam sejenak.

“Jangan lapor polisi dulu. Tolong bawa orang ini ke rumah saya dulu. Sama tolong panggilin Dokter Rizki dari kampung sebelah,” kata Gus Mut mulai melepaskan ikatan tali.

“Lho, Lho, Gus, kok malah mau dilepas talinya?” teriak Mas Is sama beberapa warga. Keadaan semakin riuh.

“Saya yang jamin. Saya yang jamin,” teriak Gus Mut ke warga.

“Pak, janji ya, Pak? Kalau talinya saya lepas, Bapak nggak kabur? Kalau Bapak sampai kabur malah tambah bahaya. Bapak bisa diamuk warga,” bisik Gus Mut ke si maling.

Si maling cuma mengangguk. Tangisnya sudah reda pelan-pelan.

“Tolong, Fanshuri dan Mas Is yang jadi saksi ikut ke rumah, sambil ikut membawa bapak ini. Yang lain silakan ke rumah masing-masing. Mohon, ya, Pak, Bu, Mas, Mbak. Tolong, jangan begini. Masjid jangan jadi tempat jagal. Saya mohon,” teriak Gus Mut ke warga lagi.

Beberapa warga cukup banyak yang protes. Merasa kehilangan tontonan. Namun karena yang meminta Gus Mut, tokoh setempat, mereka tak berani macam-macam. Cuma mengguman tidak sepakat, tapi mereka beneran bubar.

Usai dibawa ke rumah Gus Mut bersama Fanshuri dan Mas Is, Dokter Rizki dari kampung sebelah datang. Meski sudah diminta bubar, beberapa warga masih ada saja yang mondar-mandir di depan rumah Gus Mut, ingin melihat apa yang bakal dilakukan Gus Mut.

Setelah diperiksa Dokter Rizki dan memastikan bahwa tak ada bagian vital yang cedera, Gus Mut baru berani mengajak bicara si maling. Bahkan Fanshuri dan Mas Is diminta keluar rumah Gus Mut, agar Gus Mut bisa bicara secara khusus dengan malingnya.

Cukup lama si maling berada di rumah Gus Mut. Warga yang mulai bosan menunggu di depan rumah Gus Mut, satu demi satu pulang ke rumah. Semua, kecuali Fanshuri dan Mas Is. Mereka berdua masih penasaran setengah mati, apa yang bakal dilakukan Gus Mut.

“Fan, Is, ke sini bentar,” teriak Gus Mut dari teras rumahnya.

Mas Is dan Fanshuri buru-buru mendekat.

“Tolong antar bapak ini keluar kampung. Sejauh mungkin, pokoknya jangan sampai terlihat sama warga sini,” kata Gus Mut.

“Lho? Nggak jadi diantar ke polisi?” tanya Fanshuri.

“Jangan. Pokoknya antar saja bapak ini jauh-jauh keluar kampung. Kalau perlu antarkan ke terminal,” kata Gus Mut.

“Lho, Gus Mut ini bagaimana sih? Orang ini jelas-jelas maling lho, Gus. Masa Gus Mut mau melepaskan maling gitu aja? Masih mending tadi saya melindungi maling itu dari amuk massa, makanya saya iket di tiang masjid. Lha kok sekarang malah mau dilepas. Bisa tambah ngamuk warga, Gus,” kata Mas Is nggak terima.

“Sudahlah, kalian jangan bawa dendam begitu. Aku sudah cek semuanya. Bapak ini maling karena memang terpaksa. Anaknya sakit leukimia ternyata. Dia nggak ada biaya. Bingung cari pinjeman sana-sini juga. Akhirnya usai salat di masjid, dia kepikiran maling kotak amal.”

“Gus Mut memang tahu dari mana? Bisa jadi orangnya bohong, Gus. Maling kotak amal masjid aja berani kok, kenapa takut bohongin orang ya kan?” tanya Mas Is.

“Aku tadi sudah minta nomor telepon yang bisa dihubungi. Kebetulan nomor yang dikasihkan ke aku nomor Pak RT di kampungnya. Dan kampung di daerah itu ada orang yang aku kenal juga. Nah, di kenalanku itulah aku tanya-tanya. Cek, soal bapak ini. Ternyata memang betul begitu,” kata Gus Mut.

Mendengar cerita latar belakang maling kotak amal masjid dari Gus Mut ini, tiba-tiba amarah keduanya reda begitu saja. Hasrat untuk menghajar maling seperti sebelumnya runtuh tak berbekas. Meski begitu, Fanshuri masih penasaran.

“Kok bisa ya, Gus? Orang habis salat malah kepikiran maling kotak amal masjid. Maling duitnya Allah secara langsung lho. Aneh banget itu menurut saya, Gus,” kata Fanshuri.

“Dia mikir kalau Allah itu Maha Kaya paling, jadi mikirnya, ‘ah, aku minta duit dari Allah aja yang di masjid ini aja deh’,” kata Mas Is nimpali.

“Harusnya pertanyaannya bukan kayak gitu, Fan,” kata Gus Mut.

“Lah, emang gimana, Gus?” tanya Fanshuri.

“Harusnya pertanyaanya, kenapa kita bisa bangun masjid bagus-bagus, tapi sampai kita luput kalau ada orang yang sampai terpaksa harus mencuri kotak amal masjid karena begitu miskinnya?”

“Padahal—benar kata Mas Is tadi—Allah itu kan udah Maha Kaya. Kenapa kekayaan kita malah diarahkan membangun masjid, bukan membangun manusianya? Makanya itu, ini tadi uang masjid yang diambil si bapak itu biar dibawa saja, nanti biar saya yang ganti.”

Mendengar itu Fanshuri dan Mas Is terkejut. Sebelum keduanya protes, Gus Mut melanjutkan.

“Soalnya beliau jauh lebih membutuhkannya ketimbang untuk nambahi kas duit masjid kita. Di sisi lain, Gusti Allah juga sudah jelas nggak butuh duit itu. Karena kita aja yang sebenarnya butuh, lalu tanpa sadar suka bawa-bawa nama Allah untuk urusan duit masjid.”

Mas Is dan Fanshuri terdiam. Keduanya sudah tidak berani mendebat lagi.


BACA JUGA Dia Murtad karena Kamu Kira Ibadah Hanya Ada di Masjid atau tulisan KHOTBAH lainnya.

Exit mobile version