Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Kepala Suku

Pesan dari Meja Makan

Puthut EA oleh Puthut EA
31 Januari 2021
A A
es teh es kopi reshuffle kabinet gibran rakabuming adian napitupulu erick thohir keluar dari pekerjaan utusan corona orang baik orang jahat pangan rencana pilpres 2024 kabinet kenangan sedih pelatihan prakerja bosan kebosanan belanja rindu jalan kaliurang keluar rumah mudik pekerjaan jokowi pandemi virus corona nomor satu media kompetisi Komentar Kepala Suku mojok puthut ea membaca kepribadian mojok.co kepala suku bapak kerupuk geopolitik filsafat telor investasi sukses meringankan stres
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Makan sebagai sebuah aktivitas primer manusia yang ada sejak manusia itu sendiri ada, tentu menjadi sebuah prosesi yang telah mengalami banyak sekali medan pemaknaan. Tentu saja seiring dengan konteks, dinamika zaman, dan progresi kultural manusia. Bahkan saya setuju jika ada adagium yang menyatakan bahwa “semua perang bermula dari urusan makan”, sampai adagium lain, “damai dimulai dari meja makan”. Tentu Anda masih ingat satu frasa yang kerap dipakai melukiskan bagaimana politik balas budi dengan meminjam kata makan, yakni “tidak ada makan siang yang gratis”.

Pesan, simbol, pemaknaan, dalam hal makan, saking purbanya prosesi itu, menjadikannya begitu variatif. Saya ambil contoh mudah. Kebanyakan di Jawa, jika Anda makan sambil berkecap atau berkecipak, dianggap melanggar aturan kesopanan. Tapi di luar Jawa, ekspresi makan dengan cara berkecipak, jika Anda tamu, justru menunjukkan rasa puas dan karena itu sering dianggap sebagai ekspresi rasa terimakasih. Terimakasih telah menghidangkan menu yang membuat saya kenyang dan puas, begitu kira-kira. Nah, dari situ coba bayangkan betapa mungkin terjadi “salah sangka” jika ada orang yang menganggap berkecipak ketika makan sebagai ekspresi puas—bahkan ungkapan terimakasih—ketika bertemu dengan orang yang memahami bahwa makan yang santun adalah dengan tenang tanpa suara….

Teman kecil saya, anak seorang pedagang di pasar, akan dimarahi habis-habisan oleh kedua orangtuanya jika menyisakan satu butir nasi saja di meja makan. Hal itu dianggap tindakan mubazir. Termasuk dianggap tidak menghormati susah-payah orangtua dalam mencari rezeki. Namun salah satu guru mengaji saya waktu kecil, mengajarkan untuk menyisakan sedikit nasi seusai makan. Karena menurut beliau, itu “jatah” buat ayam dan kucing. Kalau kita memakannya hingga tandas, berarti kita tidak menjadi bagian dari insan yang berbagi rezeki dengan makhluk lain. Mertua laki-laki saya lain lagi. Sebelum makan, beliau menyingkirkan sekepal makanan di pinggir piring, yang tidak akan ikut dimakan. Kepal nasi itu “dihadiahkan” kepada makhluk lain yang tidak kasatmata sebagai ekspresi berbagi rezeki juga. Terkait dengan hal itu, saya dulu cukup sering ikut acara minum arak bareng di Bali. Sebelum sloki diputar, sloki tersebut diisi penuh arak, lalu ditumpahkan. Itu untuk banten. Semacam sesaji untuk menghormati makhluk lain.

Kalau kita mau teliti lebih detail, varian semacam itu akan semakin banyak. Seorang kawan saya diajari bapaknya, di sendok atau kepalan atau pulukan makan pertama, tidak memakai lauk. Hanya nasi putih saja. Itu semacam pesan bahwa dalam hidup ini, kita harus belajar dari yang tidak enak duluan. Mudahnya, berakit-rakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Ini ada kisah agak ganjil tapi benar-benar terjadi. Seorang sahabat saya menikah dengan orang berbeda suku. Di kampungnya, makan sambil minum itu hal biasa. Ketika usai menikah dan mesti tinggal beberapa bulan di rumah mertua, hal pertama yang dipelajari oleh kawan saya adalah jika kita minum padahal makanan belum habis, itu artinya kita memberi “kode” bahwa telah selesai makan. Walhasil, ketika sahabat saya minum air, sementara piringnya masih ada separuh porsi yang belum makan, mertua laki-lakinya segera ikut minum dan meninggalkan meja makan. Sementara mertua perempuannya segera membereskan piring dan lauk-pauk di atas meja. Setiap kali dia menceritakan hal itu, saya selalu tertawa ngakak. Bukan menertawakan kode sosial yang hidup di meja makan mertuanya, melainkan membayangkan akhirnya sahabat saya itu harus berjuang ekstrakeras untuk tidak minum selama prosesi makan. Dan saya tahu, itu tidak mudah baginya karena sudah menjadi kebiasaan.

Sebagai seorang peneliti yang cukup sering datang ke berbagai wilayah di Indonesia, saya mengalami cukup banyak hal terkait dengan makan. Saya sering dijamu tuan rumah atau narasumber saya dengan dihidangkan babi sebagai penghormatan. Padahal saya seorang muslim, dan sebagaimana lazimnya muslim, saya tidak makan. Tentu mereka tidak sedang mengerjai saya, tapi mungkin lupa bertanya agama saya apa. Saya juga pernah dijamu seporsi besar anjing di sebuah huma di pinggir hutan sebagai bagian dari penyambutan. Selesai makan, baru saya ditanya dari mana. Begitu saya jawab dari Jawa, dengan agak khawatir si tuan rumah bertanya agama saya. Tentu saja saya jawab: Islam. Mereka menjadi seperti bersalah, dan berucap kira-kira begini, “Waduh, maaf, Pak. Terus bagaimana dengan hidangan kami ini?” Saya cuma bisa tertawa sambil menjawab: Ya kan sudah habis, saya sudah selesai makan. Kami semua akhirnya tertawa. Suasana cair. Tak perlu diperpanjang.

Itu belum seberapa jika saya, misalnya, akan memasukkan unsur ikan dalam tulisan sederhana ini. Bagi nelayan wilayah tertentu, kepala ikan itu bagian yang paling penting, paling mahal, dan paling berharga. Sehingga kalau ada tamu, kepala ikan selalu disajikan untuk sang tamu. Sementara ada banyak masyarakat yang menganggap kepala ikan adalah bagian paling tidak berharga, untuk makanan kucing. Coba kalau orang yang berpaham semacam itu, lalu bertamu ke daerah yang menganggap kepala ikan sebagai bagian paling berharga dan karena itu disuguhkan kepada sang tamu….

Saya jadi teringat sesuatu. Di Rembang, kampung halaman saya, kepiting diharamkan oleh sebagian besar ulama di sana. Karena sejak kecil sudah diajari seperti itu, maka saya termasuk yang tidak makan kepiting. Tidak usah melompat ke pulau lain, di Pati yang berbatasan dengan Rembang, kepiting tidak dianggap haram oleh sebagian besar ulama di sana. Sehingga santri makan kepiting ya biasa saja. Sehingga Anda bisa membayangkan bagaimana jika seorang kiai dari Rembang bertandang ke Pati, apa yang terjadi? Itu pernah dikisahkan oleh Gus Baha’ di salah satu sesi kajiannya.

Sekarang saya ajak Anda untuk masuk ke meja makan sewaktu saya kecil. Bapak saya mengajari sejak kecil, kalau makan ambil porsi secukupnya, kalau kurang baru tambah. Dan tambahan makanan itu sebaiknya dilakukan sebelum makanan di piring saya habis. Kata Bapak, itu semacam “harapan” kelak rezeki saya ketika belum habis, akan ditambah oleh Gusti Allah. Bapak juga melarang keras saya menggunakan dua piring dalam sekali makan. Piring yang sama digunakan dari awal sampai akhir. Karena itu tradisi makan sup atau kuah dengan mangkuk yang berbeda, tidak ada dalam tradisi keluarga kami. Bapak menekankan itu karena jika saya memakai dua piring atau piring dan mangkuk untuk makan, maka itu akan membuat saya kelak akan lebih mudah poligami. Sementara Bapak termasuk penentang keras poligami. Karena beliau tidak menginginkan saya berpoligami, maka sejak kecil diajari dengan ketat soal itu. Tak boleh menggunakan dua piring atau piring dengan mangkuk. Selesai. Titik. Tidak ada perdebatan.

Anda tentu bisa membayangkan bagaimana kali pertama saya makan di restoran dengan seluruh tata-krama yang biasa disebut table manner itu, dengan alat makan yang berbeda satu sama lain, dengan hidangan pembuka sampai penutup, yang ada di kepala saya waktu itu: saya berpoligami banyak sekali….

BACA JUGA Menu Ramadan di Meja Makan Komunis dan esai-esai Puthut EA lainnya.

Terakhir diperbarui pada 26 November 2025 oleh

Tags: Agamabebas iklankebiasaankulturmakanmeja makan
Puthut EA

Puthut EA

Kepala Suku Mojok. Anak kesayangan Tuhan.

Artikel Terkait

AI, ChatGPT, Kecerdasan Buatan Bisa Nggak Cerdas Lagi kalau Gantikan PNS dan Hadapi Birokrasi Fotokopi MOJOK.CO
Ragam

ChatGPT Bukan Ustaz: Bolehkah Bertanya Soal Hukum Agama kepada AI?

28 Januari 2026
Katolik Susah Jodoh Tolong Jangan Login dan Ambil Jatah Kami MOJOK.CO
Esai

Cari Pasangan Sesama Katolik itu Susah, Tolong Jangan Login dan Ambil Jatah Kami

13 November 2025
intoleransi, ormas.MOJOK.CO
Ragam

Pemda dan Ormas Agama, “Dalang” di Balik Maraknya Intoleransi di Indonesia

19 September 2025
Catatan Kritis Atas Reduksionisme Biologis Pemikiran Ryu Hasan MOJOK.CO
Esai

Catatan Kritis Atas Reduksionisme Biologis Pemikiran dr. Ryu Hasan

3 Juli 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Umur 23 tahun belum mencapai apa-apa: dicap gagal dan tertinggal, tapi tertinggal ternyata bisa dinikmati dan tak buruk-buruk amat MOJOK.CO

Umur 23 Belum Mencapai Apa-apa: Dicap Gagal dan Tertinggal, Tapi Tertinggal Ternyata Bisa Dinikmati karena Tak Buruk-buruk Amat

2 Februari 2026
Krian Sidoarjo dicap bobrok, padahal nyaman ditinggali karena banyak industri serap kerja dan biaya hidup yang masuk akal MOJOK.CO

Krian Sidoarjo Dicap Bobrok Padahal Nyaman Ditinggali: Ijazah SMK Berguna, Hidup Seimbang di Desa, Banyak Sisi Jarang Dilihat

5 Februari 2026
Pertama kali makan donat J.CO langsung nangis MOJOK.CO

Orang Berkantong Tipis Pertama Kali Makan Donat J.CO, Dari Sinis Berujung Nangis

3 Februari 2026
Toko musik analog, Dcell Jogja Store. MOJOK.CO

Juru Selamat “Walkman” di Bantul yang Menolak Punah Musik Analog

2 Februari 2026
Asriadi Cahyadi pemilik Dcell Jogja Store, toko musik analog. MOJOK.CO

Saat Musik Analog Bukan Lagi Barang Jadul yang Bikin Malu, tapi Pintu Menuju Kenangan Masa Lalu bagi Pemuda di Jogja

4 Februari 2026
Sasar Sekolah, Ratusan Pelajar di Bantul Digembleng Kesiagaan Hadapi Gempa Besar.MOJOK.CO

Sasar Sekolah, Ratusan Pelajar di Bantul Digembleng Kesiagaan Hadapi Gempa Besar

30 Januari 2026

Video Terbaru

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026
Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

31 Januari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.