Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Kepala Suku

Kenapa Slank Dipaksa untuk Mengkritik Jokowi?

Puthut EA oleh Puthut EA
29 Mei 2021
A A
Kenapa Slank Dipaksa untuk Mengkritik Jokowi? cara mengontrol rasa marah MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Tidak adil jika kita berlebihan menuntut Slank harus mengkritik Jokowi, dan berlebihan pula mengharuskan Abdee Slank punya kapasitas untuk menjadi komisaris Telkom.

Sudah beberapa tahun ini, banyak netizen yang nyinyir terhadap grup musik Slank. Mereka bilang, Slank sudah tidak lagi kritis. Apalagi grup band ini dianggap membisu atas upaya berbagai pihak yang ingin melemahkan KPK. Tekanan terhadap Slank semakin besar ketika salah satu personel Slank yakni Abdee Negara, diangkat sebagai salah satu komisaris Telkom.

Iklan

Pertanyaan yang paling mendasar dari itu semua adalah kenapa Slank harus mengkritik Jokowi? Atas dasar apa mereka harus menjadi pengkritik Jokowi? Pertanyaan selanjutnya, kenapa Abdee Slank tidak boleh jadi komisaris Telkom?

Mari coba kita bedah satu per satu pertanyaan di atas. Kenapa Slank harus mengkritik Jokowi? Bukankah sejak pilpres 2014, mereka dikenal sebagai pendukung Jokowi? Pendukung kok mengkritik? Kalau pendukung melakukan kritik, itu berarti pendukung kritis. Atau biasa disebut loyalis-kritis. Tapi ada juga loyalis jenis lain yaitu loyalis-murni-dan-konsekuen. Kalau pun loyalis terakhir itu mengkritik, mungkin lewat jalan lain. Jalan yang tidak perlu diketahui oleh publik. Tapi istilah “kritik” dalam konteks itu tidak terlalu tepat. Istilah yang tepat adalah “memberi masukan”.

Publik terlalu menuntut Slank harus selalu kritis. Pertanyaannya adalah, yang mengharuskan itu semua siapa? Ingat, grup musik Slank beranggotakan manusia. Setiap manusia melalui tahapan-tahapan psikologisnya.

Hal yang sama juga selalu dituntut pada Iwan Fals. Padahal Iwan Fals juga manusia. Baik Slank maupun Iwan Fals, pernah berada di tahapan bengal, kritis, lalu makin melandai karena faktor usia sehingga berada di zona “bijak”.

Ibaratnya, jika waktu muda, ada orang korupsi, Slank berteriak: “Hancurkan koruptor!” Begitu sudah mulai bijak, yang muncul semacam: “Namanya juga manusia, kadang kepeleset, mungkin dia sedang khilaf sehingga korupsi.”

Netizen menuntut Slank membela KPK seperti dulu saat KPK dizalimi. Mungkin saja mereka berpikir bahwa korupsi di Indonesia itu sudah tidak separah dulu. Sudah mulai membaik. Sehingga tidak perlu teriak keras-keras. Mungkin juga para anggota Slank seperti kita, mudah lelah dalam menghadapi sesuatu. Kalau kita boleh lelah, kenapa Slank tidak boleh?

Personel Slank juga manusia. Atau mereka sudah berada dalam tahap “spiritualis-politik”, yang berpikir bahwa tidak mungkin dalam sebuah negara tak ada korupsi. Wajar kalau ada korupsi. Justru kalau tidak ada korupsi malahan tidak wajar.

“Tapi kan seniman adalah mata batin rakyat?” Begitu tuntut mereka. Kayaknya konsep itu mesti direvisi, deh… Hal seperti itu terlalu membebani seniman. Konsepnya harus diubah menjadi: Seniman adalah manusia biasa yang butuh makan. Kalau konsepnya demikian kan tidak terlalu berat.

“Tapi Slank tidak konsisten!” Teriak mereka. Lho siapa yang meminta dalam hidup ini harus konsisten? Bagi mereka, mungkin hidup ini harus luwes. Siapa yang tidak luwes maka akan susah bertahan dalam kemapanan hidup ini. Menurut saya sih Slank itu luwes, bukan inkonsisten. Luwes beradaptasi dengan zaman. Luwes mengakrabi rezim. Luwes dalam melakukan laku kesenian.

Para netizen sibuk mengutip lagu-lagu Slank yang antikorupsi, misalnya: “Hidup sederhaanaaa, gak punya apa-apa tapi banyak cintaaaa… Hidup bermewah-mewahan, punya segalanya tapi sengsaraaa. Seperti para koruptor!” Kutipan itu benar adanya. Tapi ingat… Pertama, itu hanya lirik lagu.

Namanya lirik lagu, tidak harus selalu dilakukan dan dikerjakan. Kedua, kan Slank itu grup musik. Jelas bukan koruptor. Ketiga, namanya karya seni, pasti dibuat berdasarkan konteks zaman. Mungkin di saat lagu itu dibuat, Slank memang benci banget dengan koruptor. Tapi sekarang ini kan tidak harus benci koruptor. Siapa kalian, kok mengharus-haruskan Slank? Teman tidak, keluarga juga bukan, kok mengatur-atur mereka? Lagian, ingat kan pesan bijak? Kalau benci jangan terlalu, nanti bisa cinta. Begitu…

“Apa kapasitas Abdee Negara sehingga bisa menjadi komisaris Telkom? Tahu apa dia soal Telkom?” Lho, lho, lho… Sabar, dong. Tenang. Jangan ngegas.

Iklan

Sejak kapan di negeri ini, yang namanya komisaris BUMN harus punya kapasitas? Namanya komisaris BUMN itu memang ajang untuk berbagi rezeki dari penguasa kepada pendukung atau relawannya. Relawan kan yang bersusah payah memenangkan jagoan mereka. Sementara penguasa niatnya baik, tahu rasa berterimakasih dengan cara berbagi kursi komisaris BUMN. Apa yang salah dengan itu?

Saya kira, tidak adil jika kita berlebihan menuntut Slank harus mengkritik Jokowi, dan berlebihan pula mengharuskan Abdee Negara punya kapasitas untuk menjadi komisaris Telkom. Kita harus banyak berkaca dan menyadari hidup di negeri yang seperti apa. Tenang. Tarik napas… lepaskan… Tenaaang, tarik napaas… lepaskan….

Bismillah, semoga dengan tulisan ini, saya ditelepon untuk jadi komisaris apa gitu, yang mudah kerjanya tapi dapat fasilitas yang nyaman, dan uang yang melimpah. Sebab kerja keras itu tidak enak. Amin….

BACA JUGA Menonton Tarian Politik Puan Maharani dan tulisan lainnya dari Puthut EA di rubrik KEPALA SUKU.

Terakhir diperbarui pada 29 Mei 2021 oleh

Tags: abdee negaraIwan Falsjokowikomisaris telkomKPKrelawan jokowislank
Puthut EA

Puthut EA

Kepala Suku Mojok. Anak kesayangan Tuhan.

Artikel Terkait

Nasib Yamaha Byson Baru yang Dicintai Setelah Tak Bisa Dimiliki MOJOK.CO
Otomojok

Nasib Yamaha Byson dan Paradoks Benda yang Baru Dicintai Setelah Berhenti Diproduksi dan Tak Bisa Dimiliki Lagi

2 Juli 2026
Gus Ipul, Awas Kutukan Sepatu Hitam di Sekolah Rakyat MOJOK.CO
Esai

Gus Ipul, Awas Kutukan Sepatu Hitam di Sekolah Rakyat 

11 Mei 2026
Bupati dan Walikota yang Korupsi Itu Lebih dari Sekadar Mengerikan MOJOK.CO
Tajuk

Bupati dan Wali Kota yang Korupsi Itu Lebih dari Sekadar Mengerikan

13 April 2026
Kereta Cepat Whoosh DOSA Jokowi Paling Besar Tak Termaafkan MOJOK.CO
Esai

Whoosh Adalah Proyek Kereta Cepat yang Sudah Busuk Sebelum Mulai, Jadi Dosa Besar Jokowi yang Tidak Bisa Saya Maafkan

17 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ketika Syarat "Sehat Jasmani dan Rohani Menjadi Tembok Diskriminasi yang Menjegal Difabel di Bursa Kerja.MOJOK.CO

Ketika Syarat “Sehat Jasmani dan Rohani” Menjadi Tembok Diskriminasi yang Menjegal Difabel di Bursa Kerja

17 Juli 2026
Cari kerja, lamaran kerja, Mahasiswa gap year kuliah di Unila. MOJOK.CO

Kesalahan Bikin CV dan Hal-Hal Sepele Lain yang Justru Bikin Jobseeker Ditolak Saat Melamar Kerja

16 Juli 2026
Kerajinan lokal Yogyakarta di INACRAFT. MOJOK.CO

INACRAFT Jogja: Jembatan bagi Perajin Lokal Menembus Pasar Global Lewat Karya yang Tak Biasa

15 Juli 2026
Kerjabilitas, Jembatan bagi Pencari Kerja Difabel Menembus Tembok Diskriminasi Industri.MOJOK.CO

Kerjabilitas, Jembatan bagi Pencari Kerja Difabel Menembus Tembok Diskriminasi Industri

17 Juli 2026
Ketika Menstruasi, Perempuan Harus Memilih Membeli Pembalut atau Makan MOJOK.CO

Ketika Menstruasi, Perempuan Harus Memilih Membeli Pembalut atau Makan

19 Juli 2026
Ilustrasi - Cerita bapak dulu bungah antar anak wisuda sarjana dari PTS Jogja, kini nelangsa antar anak susah cari kerja meski modal ijazah S1 MOJOK.CO

Cerita Bapak Dulu Bahagia Antar Anak Wisuda Sarjana, Kini Nelangsa Antar Cari Kerja Pakai Ijazah SMA karena S1 Tak Guna

19 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.