Kapan Saatnya Keluar dari Pekerjaan?

es teh es kopi reshuffle kabinet gibran rakabuming adian napitupulu erick thohir keluar dari pekerjaan utusan corona orang baik orang jahat pangan rencana pilpres 2024 kabinet kenangan sedih pelatihan prakerja bosan kebosanan belanja rindu jalan kaliurang keluar rumah mudik pekerjaan jokowi pandemi virus corona nomor satu media kompetisi Komentar Kepala Suku mojok puthut ea membaca kepribadian mojok.co kepala suku bapak kerupuk geopolitik filsafat telor investasi sukses meringankan stres

MOJOK.CONasihat soal keputusan keluar dari pekerjaan, dari orang yang sering dimintai pendapat soal ini.

Mungkin karena makin tua, makin banyak orang yang bertanya atau konsultansi kepada saya, terutama soal pekerjaan. Biasanya, jika dikerucutkan pada satu pertanyaan: “Pekerjaanku sudah membosankan, bagaimana jika aku keluar dari tempatku bekerja ya, Mas?”

Dan biasanya, saya selalu menyarankan: Jangan. Kenapa? Karena jika alasannya adalah bosan, semua pekerjaan itu membosankan. Jika persoalannya adalah masalah, semua tempat kita bekerja pasti ada masalah. Jadi jika dua hal itu yang jadi pokok persoalannya, saya selalu menyarankan jangan.

Mungkin sekarang tempatmu bekerja membosankan karena kerjaannya itu-itu saja. Jika pindah di tempat lain, pekerjaanmu besar kemungkinan juga itu-itu saja. Segar hanya sementara. Karena baru saja pindah kerja. Setelah itu sama saja.

Semua tempat kerja adalah sumber masalah. Ya iyalah. Selama kita hidup pasti punya masalah. Apalagi tempat kerja. Kali ini sumber masalahnya mungkin gaji nggak naik-naik. Nanti begitu pindah kerja dengan gaji yang lebih baik, ternyata target kerja dinaikkan sehingga setiap Minggu sore selalu jadi siksaan karena besok adalah Senin yang jahanam.

Hari ini gaji kita bagus, beban kerja kita nggak berat, tapi atasan kita nggatheli. Dikit-dikit tantrum. Gebrak-gebrak meja untuk kesalahan yang masih manusiawi. Memaki hanya untuk keteledoran yang masih bisa dimengerti. Setiap kali dia datang, diri terasa jantungan.

Hari ini mungkin semua baik, gaji bagus, beban kerja oke, atasan menyenangkan, tapi lembaga tempat kita bekerja jenis yang rentan terhadap gejolak ekonomi. Hati dagdigdug setiap kali menuju bulan baru. Masih ada nggak ya? Bangkrut atau nggak ya? Bekerja kayak orang mau nembak gebetan. Serba nggak jelas.

Intinya, tempat kerja selalu jadi salah satu sumber masalah. Apa saja bisa jadi sumber masalah. Atasan, gaji, lingkungan, beban kerja, waktu kerja, dll., dll.

Tapi biasanya kalau seorang kawan bertanya kepada saya lebih dari dua kali soal keluar dari pekerjaan, biasanya terus saya sarankan: Keluarlah. Lho, kenapa?

Alasan saya ada dua. Pertama, berarti sebetulnya dia memang sudah ingin keluar dari pekerjaan. Sudah tidak betah. Masalahnya sudah parah. Lebih baik keluar daripada terancam gila, bukan? Alasan kedua, toh nanti dia akan tahu sendiri, merasakan secara nyata problem orang keluar kerja. Dari mulai sulitnya mendapatkan pekerjaan yang baru, sampai jika sudah punya kerjaan baru, ternyata tetap saja ada masalah. Walaupun berbeda dari masalah lama. Beberapa kawan saya yang bekerja di HRD menyatakan bahwa dari mulai masuk kerja di tempat baru sampai bisa merasakan ada masalah lagi, rerata butuh waktu 6 bulan saja.

Bekerja memang tidak enak. Kita mendadak punya beban dan urusan. Tapi tahukah Anda bahwa menganggur itu jauh tidak enak lagi? Ini bukan soal uang semata, tapi tekanan sosial yang besar, dan ekspresi kita sebagai manusia sebagai makhluk yang punya modus eksistensi tak punya wadahnya.

Dalam hal itu, sudah tentu butuh kelenturan tertentu di diri kita. Toh banyak pekerja yang sampai pensiun. Itu artinya mereka tahan bekerja antara 25-30 tahun. Namun, jika bekerja rutin seperti itu tetap menyiksa, ada baiknya seseorang memilih bekerja dengan model serabutan.

Saya pekerja serabutan. Sejak muda sampai sekarang. Persoalannya adalah saya memilihnya. Bukan karena terpaksa.

Kerja serabutan itu bukan aib. Untuk orang-orang tertentu, mungkin ini pilihan cocok. Masalahnya adalah serabutan punya konsekuensi ekonomi yang tidak mudah. Siapkah?

Ada baiknya, sebelum memilih kerja sebagai serabutan, Anda membuat semacam analisis diri sederhana. Terutama: apa keterampilan Anda, di mana kekuatan Anda, bagaimana dengan jaringan Anda? Siapa saja yang punya potensi untuk menerima ketrampilan Anda. Dll.

Lalu mulailah membuat riset kecil-kecilan. Misalnya, Anda punya kemampuan menerjemahkan dan menyunting. Jaringan Anda adalah orang-orang penerbitan. Oke. Berarti yang Anda harus hitung adalah berapa banyak penerbit yang menerima jasa penerjemahan dan penyuntingan. Berapa harga atas jasa sunting dan penerjemahan. Jangan lupa hitung kebutuhan Anda per bulan. Lalu selamat bekerja keras….

Sepertinya enak jadi pekerja serabutan. Tapi percayalah, kalau Anda jenis orang yang maunya leha-leha, ini akan jadi siksaan berat. Memang, Anda tidak punya jam kerja tertentu, tapi bisa jadi jam kerja Anda lebih dari 8 jam dalam sehari. Harus pintar mengatur semuanya, termasuk mengatur pengeluaran. Kelak, Anda akan tahu, perbedaan menerima gaji bulanan dengan tidak menerima gaji bulanan. Yang terbiasa menerima gaji bulanan, saya jamin bakal puyeng berkali lipat begitu memutuskan bekerja serabutan. Saya tidak terlalu puyeng karena sejak dulu saya telah memilihnya. Puyengnya lain lagi. Puyengnya, sampai usia 30 tahun lebih, saya tidak yakin dengan jalan hidup yang saya pilih. Terlalu tua untuk membalikkan kemudi, memilih bekerja sebagaimana kebanyakan kawan saya.

Ada pilihan lain tampaknya yang lebih gurih. Apa itu? Berwirausaha. Apalagi banyak seruan bahwa Indonesia kekurangan wirausahawan. Dan tampaknya menyenangkan sekali jadi pengusaha. Makan apa yang dia dapatkan.

Tapi jangan lupa, Kawan… wirausahawan butuh nyali yang lebih besar lagi. Bangkrut itu hal yang mungkin akan sering dialami. Padahal sekali bangkrut, modal habis, mental terkikis. Uang yang kita kumpulkan sedikit demi sedikit, kita tabung bertahun-tahun, bisa lenyap dalam waktu sekian bulan untuk berwirausaha. Bangkrut 10 kali, bangkit 11 kali! Begitu kata para motivator. Tapi saya jamin, bangkrut sekali akan cukup membuat orang biasa trauma untuk berbisnis lagi. Apalagi bangkrut 5 kali….

Lalu jika kerja tetap itu membosankan, kerja serabutan ternyata tidak menyenangkan, berwirausaha belum tentu bisa, menganggur itu menyakitkan, lalu harus bagaimana?

Ya tidak gimana-gimana, sih. Rata-rata orang seperti kita, yang lahir dari keluarga biasa saja, tidak punya banyak pilihan di hidup ini. Bisa memilih adalah kemewahan. Satu di antara 100 orang seperti kita mungkin ada yang lolos menjadi orang yang nyaman dalam hidup ini. Setelah melewati sekian cobaan, punya kemewahan memilih dan berdiam dengan tenteram di sana.

Sisanya, alias kebanyakan orang, tinggal punya pilihan: memilih berusaha gembira sekalipun banyak masalah, atau bunuh diri agar masalah kita cepat tuntas. Tapi bunuh diri itu butuh keberanian yang luar biasa. Hanya 1 dari sekian ratus orang yang benar-benar berani bunuh diri.

Jadi ya beginilah hidup kita. Membosankan. Dan tidak pasti. Kadang keluar dari kerjaan, kadang dipecat dari perusahaan. Kadang mengumpulkan keberanian untuk keluar dari kerjaan, eh pas mau bilang keluar, malah perusahaan tempat kita bekerja mengumumkan kalau besok pagi bangkrut dan mesti ditutup.

Atau, kerja pas asyik-asyiknya, perusahaan pas berkembang dengan pesatnya, eh kena imbas pandemi. Nasib orang memang, tak ada yang tahu pasti.

Beginilah hidup ini….

BACA JUGA Cara Cepat Menjadi Kaya dan tulisan Puthut EA lainnya.

Exit mobile version