Dialog Antara Seorang Antirokok dengan Seorang Perokok

kepala suku

Perokok: Jadi sebetulnya kenapa sih kamu selalu marah-marah kepada kami sebagai perokok?

Antirokok: Merokok mengganggu kesehatan!

Perokok: Lho, misalnya kesehatan terganggu, kan kami sendiri yang menanggungnya. Bukan kamu?

Antirokok: Rokok itu buruk dan menjijikkan!

Perokok: Kalau ada orang naik motor atau mobil ugal-ugalan, kenapa kamu nggak pernah menyalahkan mobil atau motornya? Kamu pasti menyalahkan pengendaranya. Begitu urusannya soal rokok, kenapa yang kamu salahkan rokoknya? Kenapa bukan perokoknya? Perokok merokok sembarangan itu salah, sebagaimana orang membuang sampah sembarangan, sebagaimana pengendara mobil atau motor berkendara sembarangan.

Antirokok: Kamu mengeluarkan asap yang mengganggu kami!

Perokok: Makanya kan ada aturan Kawasan Tanpa Rokok? Kan sudah diatur. Tinggal kita yang harus sama-sama saling menenggang rasa. Perokok jangan merokok di kawasan yang terlarang untuk merokok, tapi kalian juga jangan marah-marah sama perokok yang merokok dengan tertib di tempat yang diperbolehkan merokok.

Antirokok: Tapi kamu mengonsumsi sesuatu yang mengeluarkan asap!

Perokok: Mobil dan motormu juga mengeluarkan asap. Barang-barang yang kamu konsumsi, ketika diolah di pabrik juga mengeluarkan asap. Sate juga mengeluarkan asap. Memasak makanan juga mengeluarkan asap. Tapi kenapa yang kamu urus hanya soal rokok?

Antirokok: Pokoknya itu jelek! Kami tidak mau jadi perokok pasif!

Perokok: Kasus soal perokok pasif yang dianggap berbahaya kan sudah banyak dianulir oleh berbagai lembaga penelitian. Tapi kalau kamu tetap ngeyel, ya kan balik lagi, sudah ada tempat masing-masing. Sudah diatur dengan baik.

Antirokok: Kalau memang merokok kamu anggap nggak bahaya, coba anakmu yang masih kecil kamu suruh merokok!

Perokok: Nggak apa-apa, tapi coba anakmu yang juga masih kecil kamu suruh makan sambal. Atau kamu suruh dia naik sepeda motor. Atau kamu suruh dia kawin sekalian. Bahkan untuk mengonsumsi rokok, umur konsumennya pun jelas dibatasi.

Antirokok: Tapi banyak anak-anak kecil yang merokok!

Perokok: Tugas kita mengingatkan mereka. Sebagaimana tugas kita mengingatkan anak kecil naik sepeda motor.

Antirokok: Pokoknya kalian jahat!

Perokok: Ya enggak apa-apa, perokok dianggap jahat juga nggak apa-apa. Di dunia ini, hanya kalian para antirokok yang hidupnya tak pernah salah. Penyelamat dunia. Kalian para antirokok paling benar sendiri deh…

Antirokok: Kalian buang-buang uang! Membakar uang!

Perokok: Pertama, itu kan uang kami sendiri. Kami mencari makan sendiri. Bukan mencuri, bukan merampok, bukan korupsi. Kenapa tidak boleh memakai untuk kesenangan kami sendiri? Kecuali kamu yang kasih uang dan kasih kami pekerjaan. Kalau merokok dianggap membakar uang, berarti kamu juga mengunyah uang saat membeli tempe. Halo…

Antirokok: Kalian para perokok goblok!

Perokok: Masak? Bukannya para peraih nobel banyak yang merokok? Bukannya para inventor banyak yang merokok? Kamu yang nggak merokok malah kelihatan, mmm… maaf, terbatas pengetahuanmu… Hehe.

Antirokok: Kalian para perokok biadab!

Perokok: Ya, beri alasan dong kenapa kami dianggap biadab?

Antirokok: Pokoknya kamu biadab. Kami nggak butuh alasan!

***

Saya yakin Anda bakal memiliki kesan yang sama, atau sedikit banyak mengalami hal seperti ini. Cara-cara ‘pokoknya’ mungkin mengingatkan kita akan sikap fasistik. Tapi nggak usah heran, sebab memang ada satu politikus sekaligus diktator kejam yang begitu melarang rokok, ia bernama Adolf Hitler. Pernah dengar nama itu, kan?

Exit mobile version