Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Kepala Suku

Alisson dan Klopp

Puthut EA oleh Puthut EA
17 Februari 2021
A A
kepala suku esensi ibadah puasa esai puthut ea mojok.co

kepala suku esensi ibadah puasa esai puthut ea mojok.co

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bahkan saking buruknya, beredar meme yang viral dengan wajah sendu kiper Liverpool itu bertuliskan “Alisson in Blunderland”, yang tentu saja adalah sebuah pelesetan dari sebuah film produksi Walt Disney yang sangat sohor: Alice in Wonderland.

Dua pertandingan termutakhir Liverpool di Liga Inggris melawan Manchester City dan Leicester berakhir dengan memalukan. Saat menjamu Manchester City, Liverpool kalah telak dengan skor 1-4, dan saat berlaga melawan Leicester, Liverpool terpaksa menyerah dengan skor yang juga cukup telak 3-1. Rentetan dua kekalahan itu makin terasa tragis karena disumbang oleh blunder Alisson.

Iklan

Persoalannya adalah Alisson merupakan bintang yang paling bersinar di Liverpool. Dengan wajahnya yang beku, nyaris tanpa punya rasa takut, sepasang matanya tak pernah berkedip sekalipun bola ditendang keras dari jarak dekat ke arah mukanya, mantan kiper AS Roma itu memang sangat bisa diandalkan untuk mengawal gawang Liverpool. Bukan hanya itu, karakter Alisson yang cepat dan agresif, sesungguhnya telah membantu benteng pertahanan Si Merah.

Sesungguhnya, dia dikagumi bukan hanya oleh para fans Liverpool namun juga para pencinta permainan atraktif. Respons dan refleknya yang cemerlang, membuat apa yang diperkirakan bakal jadi gol, seper sekian detik kemudian mata penonton sepak bola melihat hal yang berbeda. Alisson melakukan penyelamatan yang gemilang bahkan kadang di luar nalar.

Hal yang nyaris sama terjadi pada Jurgen Klopp, sang pelatih. Dengan tanpa banyak janji, Klopp membesut Liverpool. Dia tidak menciptakan keajaiban. Semua dilakukan dengan pelan tapi pasti. Hingga akhirnya bisa menggondol tropi Liga Champions, dan setahun kemudian mengobati dahaga fans Liverpool selama dua dekade lebih dengan menjunjung trofi Liga Inggris.

Klopp melakukan diferensiasi di antara dua pelatih yang juga sohor di Liga Inggris yakni Mourinho dan Pep Guardiola. Sementara Mourinho menyebut dirinya sebagai “The Special One”, Klopp menyebut dirinya “The Normal One”. Sementara Pep selalu melatih kesebelasan dengan sederet nama besar dan mahal, Klopp mulai melatih Liverpool dengan para pemain semenjana.

Berbeda dengan Alisson, Klopp punya problem yang cukup besar. Seolah semua racikan strateginya mulai mudah diendus dan diantisipasi lawan. Trio penyerangnya, Salah, Firmino, Mane, seolah sudah bukan lagi barisan penyerang yang berbahaya bagi lawan. Dan begitu serangan lebih sering kandas, Klopp seolah kehilangan akal untuk membuat taktik baru. Pelatih yang sebelumnya dikenal selalu mampu meramu strategi penyerangan, mendadak seperti dalam fase kejumudan.

Memang barusan, Liverpool menekuk Leipzig dalam kompetisi Liga Champions. Tapi tetap saja itu belum bisa dianggap sebagai sebuah langkah maju. Pertama, karena Leipzig jelas berbeda jauh secara kualitas dengan Liverpool. Kedua, permainan Liverpool masih sama dengan sebelumnya. Nyaris tidak ada rumus jitu dan Klopp untuk mengubah Liverpool menjadi kesebelasan yang berbahaya. Bahkan beberapa fans Liverpool mengakui kalau Liverpool bermain jelek tapi menang.

Sepak bola menarik bukan semata karena kalah atau menang. Sebagai permainan yang paling digemari di seluruh penjuru dunia, ia menjadi bagian dari ekspresi, emosi, dan imajinasi para penyukanya. Termasuk acapkali merefleksikan kehidupan kita sebagai manusia.

Kadang kalah, kadang menang, kadang tidak jelas apakah kalah atau menang alias hasil imbang. Sepak bola juga sering memberi kejutan, sebagaimana kejutan sering menghampiri kehidupan kita. Berharap yang baik ternyata hasilnya buruk, tak berharap apa-apa eh ternyata hasilnya baik.

Itu pula yang selalu saya ajarkan kepada Kali, anak saya yang berusia hampir 9 tahun, yang mulai menyukai sepak bola. Kalah, menang, imbang, itu biasa. Kecewa karena kalah, nikmati saja. Senang karena menang, juga mesti dinikmati.

Justru paling tidak asyik jika kesebelasan kita menang melulu. Dan tentu saja, lebih tidak asyik jika kesebelasan jagoan kita kalah melulu. Dari situ, dia bisa menikmati asyiknya mendukung AS Roma. “AS Roma itu kesebelasan biasa saja, Nak. Kadang kalah, kadang menang, kadang imbang. Sama seperti keluarga kita. Tidak selalu bisa membeli apa pun yang kita inginkan, tapi juga kadang bisa membeli yang kita inginkan. Kadang banyak rezeki, kadang tak terlalu banyak rezeki. Kadang bisa langsung menikmati kesenangan, kadang harus menunda untuk mendapatkan kesenangan.”

Dan jujur saja, apa yang dialami Alisson mungkin sering kita alami. Banyak melakukan kesalahan yang tidak perlu, dan begitu kita ingin memperbaiki kesalahan itu, yang terjadi tetap kesalahan demi kesalahan. Ada kalanya di hidup kita, memperbaiki kesalahan justru yang terjadi mengulang kesalahan. Bahkan seolah yang kita lakukan salah melulu. Hingga kelak akan tiba hal lain yang lebih baik, yang tidak bisa kita duga kapan datangnya.

Demikian juga dengan Klopp. Mungkin kita akan sering berada pada zona yang segala hal tampak mandek. Inisiatif tumpul. Variasi strategi berakhir dengan majal. Seolah kita berada dalam lingkaran kejumudan tindakan. Miskin inisiatif dan kreativitas. Kita tahu ada yang keliru, tapi tak cepat menemukan formula untuk memperbaikinya.

Tapi setiap diri kita sesungguhnya adalah pelatih kesebelasan sepak bola. Kita adalah Klopp yang lain. Harus berusaha terus-menerus menghadapi masalah dan menemukan solusinya. Walaupun tidak gampang. Tapi otak harus bergerak walaupun hasilnya tak banyak berubah. Mungkin kita akan sampai pada titik lelah dalam bergerak, tapi setidaknya dengan bergerak kita telah berusaha. Dan mungkin di saat kita sudah hampir kehabisan napas untuk bergerak, entah itu keberuntungan, entah itu keajaiban, atau entah memang itu sudah saaatnya, mendadak jalan solusi terbuka begitu saja.

Tapi hukum dasarnya, kita tetap harus bergerak. Sebab kalau tidak, kita hanya akan terus jadi bulan-bulanan kenyataan. Tidak ada keberuntungan untuk orang yang diam dan menyerah pada kenyataan.

BACA JUGA Kuliner dan Kenangan dan esai-esai Puthut EA lainnya di rubrik Kepala Suku.

Terakhir diperbarui pada 17 Februari 2021 oleh

Tags: alissonkloppLiga Championsliga inggrisLiverpoolPuthut EA
Puthut EA

Puthut EA

Kepala Suku Mojok. Anak kesayangan Tuhan.

Artikel Terkait

Harry Maguire Bek Dungu Manchester United Anti Bullying MOJOK.CO

Harry Maguire, Bek Dungu Milik Manchester United yang Mengajari Kita Makna Ketahanan Mental dan Cara Melawan Bullying

20 Oktober 2025
Menjadi penulis jika ingin sejahtera maka jangan hanya fokus menulis MOJOK.CO

Panduan untuk Calon Penulis agar Hidup Sejahtera, Karena Tak Cukup kalau Andalkan Royalti Saja

19 Januari 2025
Untung Mohamed Salah Nggak Jadi Buruh di Indonesia MOJOK.CO

Beda Nasib Mohamed Salah dan Pekerja di Indonesia saat Menyuarakan Hak: Menghasilkan Ketimpangan yang Dinormalisasi

6 Januari 2025
Ngobrol Santuy Bareng Puthut EA Selain Soal Kepenulisan

Ngobrol Santuy Bareng Puthut EA Selain Soal Kepenulisan

24 November 2024
Rokok Ilegal identik dengan Liga Inggris, yang Legal Liga Italia MOJOK.CO

Kenapa, ya, Rokok Legal Identik dengan klub Liga Italia, sementara Rokok Ilegal Lebih Dekat dengan klub Liga Inggris?

9 November 2024
Puthut EA: 25 Tahun Berkarya Rilis Buku Waktu yang Pendek untuk Cinta yang Panjang

Puthut EA: 25 Tahun Berkarya Rilis Buku Waktu yang Pendek untuk Cinta yang Panjang

24 Oktober 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Makrab, Budaya senioritas dan bullying di kampus.MOJOK.CO

Setelah 4 Kali Ikut Makrab di Kampus, Saya Percaya Budaya Ini Lebih Baik Dihapus Saja: Bukan Bikin Akrab, Malah Meruncingkan Konflik “Senior” dan “Junior”

13 Agustus 2026
JPPI, MBG, buku siswa sekolah.MOJOK.CO

RAPBN 2027: Anggaran Pendidikan Tersandera Rp240 Triliun demi Program yang Tak Penting

17 Agustus 2026
Lansia menjual aksesori kemerdekaan di Malioboro, Yogyakarta. MOJOK.CO

Kisah Istri Pensiunan BPN Turun ke Jalanan untuk Jual Aksesori Kemerdekaan di Masa Tua demi Hadiahkan Cucu

18 Agustus 2026
fisiologi pohon, walhi kerusakan lingkungan mojok.co

Hadapi Krisis Iklim, Ilmu Fisiologi Pohon Jadi Kunci Selamatkan 12 Juta Hektare Lahan Kritis

13 Agustus 2026
War Tiket Upacara 17 Agustus dan Rakyat yang Selalu Dipaksa Berebut MOJOK.CO

War Tiket Upacara 17 Agustus dan Rakyat yang Selalu Dipaksa Berebut

17 Agustus 2026
Pegawai Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih pinggir kuburan harus dibekali dengan keahlian supranatural hingga ilmu sosial MOJOK.CO

Keahlian-keahlian Vital untuk Pegawai Kopdes Pinggir Kuburan, Berguna buat Diri Sendiri dan Pembeli

13 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.