Kelahiran dan Kematian Rabi’ah al-Adawiyyah

Hikayat-2019 - Mojok.co

MOJOK.CO – Rabi’ah al-Adawiyyah, seorang sufi perempuan pada masa Dinasti Umayah yang sangat zuhud. Benar-benar mengabdikan diri untuk beribadah ke Allah.

Rabi’ah binti Ismail al-Adawiyyah terlahir dalam keluarga sederhana, dan ia dijual sebagai budak sewaktu masih anak-anak. Pada akhirnya, ia tinggal di Basrah, Irak, tempat dirinya memperoleh kemasyhuran sebagai orang suci sekaligus penceramah, dan dipandang dengan penuh takzim oleh rekan-rekan saleh sezamannya.

Ada beragam pendapat mengenai tahun kematiannya, mulai dari 135 H (752 M) dan 185 H (801 M). Sufi perempuan ini hidup menjomblo seumur hidup, dan ia dianggap sebagai pelopor konsep Cinta Ilahi dalam ilmu mistik keislaman. Syahdan, makamnya berada di dekat Yerussalem.

Pada malam Rabi’ah dilahirkan ke dunia, tidak ada apa pun yang dapat ditemukan di dalam rumah ayahnya, karena ayahnya sangatlah miskin. Bahkan, tidak ada satu pun tetes minyak untuk mengurapi pusarnya; tak ada lampu, dan tak ada kain untuk membedungnya.

Dia sudah memiliki tiga putri, dan Rabi’ah adalah putrinya yang keempat; karena itulah anak itu dinamakan Rabi’ah.

“Pergilah ke tetangga kita si fulan dan mintalah setetes minyak, supaya aku bisa menyalakan lampu,” ujar sang istri.

Akan tetapi si suami telah bersumpah tidak akan pernah meminta apa pun dari orang lain. Dia tetap pergi, berpura-pura menyentuhkan tangan ke pintu rumah tetangganya lantas kembali pulang.

“Mereka tidak mau membuka pintu,” lapornya.

Istrinya yang malang itu menangis dengan susah hati. Dalam keadaan cemas, laki-laki itu menyelipkan kepala di antara lutut dan tertidur. Dia bermimpi bertemu Nabi.

“Jangan bersedih,” kata sang Nabi.

“Bayi perempuan yang baru saja lahir itu adalah ratu di antara kaum perempuan, yang akan menjadi perantara bagi tujuh puluh ribu kaumku. Besok,” lanjut sang Nabi, “datangilah Isa az-Zadan, Gubernur Basrah.

Pada selembar kertas, tulislah kata-kata berikut ini, ‘Setiap malam engkau mengirimkan seratus shalawat kepadaku, dan setiap malam Jumat sebanyak empat ratus. Kemarin adalah malam Jumat tetapi engkau lupa melakukannya. Sebagai penebus kelalaianmu berikanlah empat ratus dinar yang telah engkau peroleh secara halal kepada orang ini.”

Ayah Rabi’ah terbangun dalam keadaan bersimbah air mata. Dia pun bergegas menuliskan surat yang diperintahkan oleh Kanjeng Nabi, dan menyerahkan surat itu kepada gubernur, lewat perantaraan pengurus rumah tangga istana.

“Sedekahkan dua ribu dinar kepada fakir miskin,” perintah sang gubernur ketika membaca surat itu, “sebagai bentuk syukur karena junjungan kita mengingatkanku. Berikan juga tuan tadi empat ratus dinar, dan katakan padanya, ‘Aku harap engkau datang kepadaku sehingga aku dapat melihatmu. Tetapi aku merasa tidak pantas jika seseorang sepertimu datang menemuiku. Aku lebih suka jikalau akulah yang datang dan menyeka pintu rumahmu dengan janggutku. Namun, demi Allah, aku memohon kepadamu, apa pun yang engkau butuhkan, katakanlah kepadaku.”

Ayah Rabi’ah menerima uang itu dan membelanjakan apapun kebutuhannya.

Menurut Fariduddin Attar dalam Tadzkiratul Auliya (2018), ketika Rabi’ah agak lebih dewasa, dan ibu dan ayahnya telah meninggal dunia, kelaparan merebak di Basrah; ia dan kakak-kakaknya terpisah.

Ketika Rabi’ah ke luar rumah, ia terlihat oleh orang jahat yang menculik kemudian menjualnya seharga enam dirham. Si pembeli menyuruh Rabi’ah melakukan pekerjaan yang berat.

Suatu hari, Rabi’ah sedang berjalan-jalan ketika didekati oleh orang asing. Rabi’ah pun melarikan diri. Saat berlari, ia tersungkur dan tangannya terkilir.

“Ya Allah,” serunya sambil bersujud di tanah.

“Aku ini orang asing, anak yatim-piatu, seorang tahanan tak berdaya yang tertangkap, tanganku cedera. Namun, aku tidak bersedih hati atas semua ini; yang kubutuhkan adalah keridaan-Mu, untuk mengetahui apakah Engkau berkenan atau tidak.”

“Janganlah engkau bersedih,” Rabi’ah mendengar suatu suara. “Esok engkau akan dimuliakan sehingga malaikat-malaikat pun iri kepadamu.”

Lalu, Rabi’ah pun kembali ke rumah majikannya. Pada siang hari, ia berpuasa dan beribadah kepada Allah; pada malam hari, ia terus sembahyang sampai fajar merekah. Suatu malam, majikannya terbangun dari tidur dan, melalui jendelanya, dilihatnya Rabi’ah yang sedang bersujud dan berdoa kepada Allah.

“Ya Allah, Engkau tahu bahwa hasrat hatiku adalah untuk dapat memenuhi perintah-Mu dan mengabdi kepada-Mu. Seandainya aku dapat mengubah nasibku ini, maka aku tidak akan beristirahat barang sebentar pun dari mengabdi kepada-Mu. Akan tetapi Engkau telah menyerahkan diriku ke bawah kekuasaan seorang makhluk ciptaan-Mu.”

Demikianlah doa yang dipanjatkan Rabi’ah. Si majikan melihat sendiri sebuah lentera tergantung tanpa rantai di atas kepala Rabi’ah, cahayanya menerangi seluruh rumah.

Menyaksikan peristiwa ini, ia merasa takut. Ia lalu beranjak ke kamar tidur dan duduk merenung hingga fajar tiba. Begitu hari sudah siang, ia memanggil Rabi’ah, bersikap lembut kepadanya kemudian membebaskannya.

“Izinkan aku pergi,” pinta Rabi’ah.

Si majikan memberi izin. Kemudian Rabi’ah pun  meninggalkan rumah majikannya menuju gurun. Dari gurun, ia pergi ke tempat pertapaan yang ditinggalinya beberapa lama untuk membaktikan diri kepada Allah.

Lantas, ia berniat hendak menunaikan ibadah haji. Maka ia pun berangkat melewati gurun lagi. Ia menaruh bundelan berisi barang-barangnya di punggung keledai. Akan tetapi begitu sampai di tengah-tengah gurun, keledainya mampus.

“Izinkan kami membawakan barang-barangmu,” kata seorang anggota rombongannya.

“Kalian teruslah berjalan,” jawab Rabi’ah.

“Bukan tujuanku untuk bertawakal kepada kalian.” Para lelaki itu pun meneruskan perjalanan dan meninggalkan Rabi’ah sendirian.

“Ya Allah,” tangisnya sambil menengadah, “begitukah cara raja-raja memperlakukan seorang perempuan yang tak berdaya di tempat yang asing baginya? Engkau telah memanggilku ke rumah-Mu, tapi di tengah perjalanan Engkau membunuh keledaiku dan meninggalkanku sendirian di tengah-tengah gurun ini.”

Belum lagi Rabi’ah selesai berkata-kata, keledainya bergerak dan bangkit berdiri. Rabi’ah menaruh barang bawaannya di punggung si keledai, dan melanjutkan perjalanan. Rabi’ah melakukan perjalanan melewati gurun selama beberapa hari lagi, kemudian ia berhenti.

Allah langsung berwicara di dalam hati Rabi’ah. “Rabi’ah, engkau sedang berada di atas sumber kehidupan delapan belas ribu dunia. Tidakkah engkau ingat betapa Musa telah memohon untuk melihat wajah-Ku dan gunung terpecah-pecah menjadi empat puluh keping. Oleh karena itu, cukuplah engkau dengan nama-Ku saja!”

Syahdan, pada suatu malam ketika Rabi’ah sedang sembahyang di pertapaan, ia merasa sangat letih sehingga akhirnya jatuh tertidur. Saking nyenyak tidurnya, ketika matanya berdarah tertusuk alang-alang dari tikar yang ditidurinya, ia sama sekali tidak menyadarinya.

Seorang maling menyelinap masuk dan mengambil cadarnya. Ketika hendak pergi dari tempat itu, didapatinya jalan keluar telah tertutup. Dia meninggalkan cadar itu, dan pergi, mendapati bahwa jalannya telah terbuka. Dia mengambil cadar Rabi’ah lagi, dan kembali menemukan pintunya terhalang.

Sekali lagi dijatuhkannya cadar itu. Dia terus mengulang-ulang hal ini sampai tujuh kali; kemudian dia mendengar suatu suara dari pojok pertapaan.

“Wahai manusia, tidak usah merepotkan diri. Sudah bertahun-tahun perempuan ini mengabdi kepada Kami. Iblis sendiri tidak berani menghampirinya. Bagaimana mungkin seorang maling punya keberanian mencuri cadarnya? Enyahlah! Dasar bajingan! Tidak ada gunanya mencoba-coba lagi. Jika seorang sahabat jatuh tertidur, Sahabat-Nya terbangun dan menjaganya” (As-Sulami 1999).

Tatkala tiba waktunya Rabi’ah menjelang ajal, orang-orang yang mendampinginya semasa sakit meninggalkan ruangan dan menutup pintu. Kemudian terdengar sebuah suara yang berkata, “Wahai jiwa yang damai, kembalilah kepada Tuhanmu dengan berbahagia!”

Beberapa waktu pun berlalu dan tidak terdengar suara lagi dari dalam kamar. Mereka membuka pintu dan mendapati Rabi’ah telah tiada.

Pasca kematiannya, Rabi’ah terlihat di dalam sebuah mimpi. Rabi’ah ditanyai, “Bagaimana engkau menghadapi Munkar dan Nakir?”

Rabi’ah menjawab, “Para pemuda itu datang padaku dan berkata, ‘Siapa Tuhanmu?’ Aku menjawab, ‘Kembalilah dan sampaikan pada Allah, di antara beribu-ribu makhluk yang ada janganlah Engkau melupakan satu perempuan tua lemah ini. Ya Allah, aku yang memiliki-Mu di seluruh dunia ini tidak akan pernah melupakan-Mu, tapi mengapa Engkau mengirimkan utusan-Mu utuk menanyakan kepadaku ‘Siapakah Tuhanmu’?”

Arkian, salah satu doa terkenal dari Rabi’ah adalah sebagai berikut:

Tuhan, jika aku menyembahMu demi surgaMu, halangilah aku masuk ke sana.

Jika aku menyembahMu agar aku terhindar dari neraka, cemplungkanlah diriku di sana.

Jika aku menyembahMu karena demi mencintaiMu, janganlah halangi aku dari diriMu.


Sepanjang Ramadan MOJOK.CO akan menampilkan kolom khusus soal hikayat dan sejarah peradaban Islam dari sejarahwan Muhammad Iqbal.

Exit mobile version