Kalau Perempuan Jadi Korban Kekerasan Kenapa Malah Kalian Salahkan?

pelakor_selingkuh_mojok

pelakor_selingkuh_mojok

[MOJOK.CO] “Perempuan kerapkali disalahkan saat terjadi tragedi dan kekerasan.”

Untuk saudari-saudariku.

Barangkali banyak di antara kamu yang sedang dimabuk cinta. Menganggap sikap-sikap posesif dan cemburu menjadi suatu hal lucu dan menggemaskan, pemanis dalam hubungan yang dengan tersipu kamu ceritakan kepada teman-teman. Lalu ketika sang kekasih berbisik di telinga, bilang, “If I can’t have you, no-one can,” mukamu makin memerah karena percaya bahwa inilah yang orang-orang sebut sebagai tough love.

Pertanyaannya, tahukah kamu bahwa lebih dari 90% perempuan korban pembunuhan itu habis di tangan pasangannya sendiri? Bahwa 1 dari 3 perempuan berisiko mengalami kekerasan—bahkan tak segan sampai mati—yang dilakukan oleh laki-laki yang pernah bilang cinta berulang-ulang?

Bacalah berita-berita terkini. Kasus para istri yang dibunuh suaminya masing-masing senantiasa bertengger di liputan-liputan populer, sebab isunya seksi dan mampu meningkatkan keterlibatan pembacanya untuk berkomentar dan membicarakannya dalam percakapan sehari-hari. Kalau kamu berpikir itu adalah peristiwa yang “jauh” dan “tidak akan kamu alami”, maka kamu salah. Dalam lingkungan yang memelihara patriarki seperti di tempat hidup kita kini, sesungguhnya peristiwa macam itu tidaklah unik atau spesial. Kita berisiko sama seperti para korban.

Saudari-saudariku, ayo kita coba lebih hati-hati.

Bisa jadi yang kita kira sebagai tough love, malah sebenarnya adalah patriarchal terrorism—suatu buah karya masyarakat patriarkis yang membuat laki-laki butuh dan berupaya mengontrol sebuah hubungan berdasarkan gender. Perilaku ini mendukung terciptanya hubungan asimetris absolut dengan supremasi laki-laki dan perempuan sebagai pihak yang subordinat. Terkadang, situasi ini disembunyikan lewat kata-kata gombal, “Aku ingin jadi orang yang melindungi kamu, aku ingin bertanggungjawab atasmu, aku ingin yang terbaik untukmu.” Romantis? Iya, sampai dia lempar kamu dengan asbak karena tertawa pada candaan laki-laki lain, atau menolak memberi nafkah agar kamu tidak bisa keluar rumah.

Sampai di sini, tolong jangan anggap aku berlebihan. Karena nyatanya memang ada pemakluman terhadap sikap para lelaki kepada perempuan, kepada pasangannya. Toh, tanpa menyebut nama, ada pula junjunganmu yang mengizinkan suami memukul istri ketika ia “durhaka”, bukan? Dan meski nasihat tersebut sudah lewat beribu tahun lamanya, tetap saja itu terpatri dalam pondasi pernikahan masa sekarang. Bentuk validasi untuk mengancam perempuan agar tidak berlaku di luar batas, sebab sikapnya bisa diganjar oleh nyawanya.

Perempuan-perempuan yang bertahan dengan suami kasar, enggan bekerja, kerap menghilang, dan perilaku buruk lainnya sering dicap sebagai Perempuan Kuat. Bila mereka kabur dari kondisi itu, atau mengeluhkannya kepada orang lain, ia menjadi Perempuan Lemah (yang ditanya-tanya, Lalu kenapa menikah dari awal?). Bila mereka melawan dan menuntut hak-haknya, bahkan berani mengajukan perpisahan, ia digunjing sebagai Perempuan Durhaka. Jenis perempuan satu ini sering dikatakan telah melewati batas, dan tidak sedikit masyarakat berpikir bahwa mereka pantas mendapat ganjaran—dicaci, dipukul, hingga dibunuh.

Aku tidak mengatakan bahwa masyarakat segila itu untuk membiarkan laki-laki melakukan genosida terhadap perempuan. Hanya saja, ide-ide yang menggaungkan perempuan sebagai pihak yang seharusnya berperan memberi perhatian, pengertian, dan kasih sayang dalam keluarga; yang perlu menstabilkan bahtera sementara sang laki-laki menentukan arah perjalanan; membuatku pesimis berpikir masyarakat kita mampu membaca berita tentang dibunuhnya istri-istri oleh para suaminya tanpa mencuit, “Ini perempuannya pasti ada sesuatu!”

Yah, dalam ilmu yang sudah kupelajari selama ini, memang tak selalu hubungan yang melibatkan kekerasan itu diisi oleh pelaku full evil dan korban pure innocent. Ada banyak, sangat banyak aspek yang perlu dilibatkan ketika menghakimi kekerasan dalam hubungan, utamanya di pernikahan. Namun, aku tidak mau menjadi orang yang membenarkan pembunuhan sebagai upaya penyelesaian masalah, apa pun alasannya. Dan aku pun berharap saudari-saudariku bisa turut berpikir sama, lantas saling memberi kekuatan kepada saudari lainnya untuk bicara kalau-kalau sudah lihat lampu merah pada hubungan yang tengah dijalaninya.

Saudari-saudariku, kalau kamu lantas masih penasaran mengapa ada suami yang mampu membunuh istrinya (baik terencana atau tidak terencana, kecelakaan atau memang disengaja), sebenarnya jawabannya sederhana: sebab ia kehilangan kontrol. Bukan kontrol atas emosinya, tapi kontrol atas pasangannya. Atas hubungannya. Itu adalah pilihan ekstrem yang penuh keputusasaan, dan sering diikuti dengan percobaan bunuh diri oleh sang suami. Kamu tahu ke mana akarnya kembali? Pada patriarki, yang turut menuntut laki-laki agar menjadi pemegang kontrol karena maskulinitas yang dimilikinya. Akhirnya perempuan dan laki-laki sama-sama menjadi korban teror patriarki.

Aku ingin punya cinta yang hidup—tanpa usaha untuk saling menguasai, atau ketakutan bila yang satu berposisi lebih tinggi di antara lainnya. Perlukah beruntung untuk mendapatkannya? Atau bisa kita sama-sama saja perjuangkan dengan berhenti menyuburkan peran kerja berdasar gender dalam keluarga, dan menolak memaklumi segala kekerasan dalam rumah tangga?

Saudariku, ini mimpiku atau punya kita semua?

Exit mobile version