Jika Milea Bertemu Dilan Tahun 2017: Sebuah Telaah Semiotika Kritis

MOJOK-Dilan-Ketilang

MOJOK-Dilan-Ketilang

[MOJOK.CO] “Alasan mengapa Dilan tampak marah ketika bonceng Milea di trailer filmnya.”

Dilan adalah ketua geng motor. Tepatnya geng motor pemberian orang tua. Yang boleh gabung adalah mereka yang dimanja orang tua masing-masing. Yang beli motor pakai duit sendiri secara kredit kayak Aa Operator Sekolah, tidak memenuhi syarat administrasi masuk geng.

Sepulang sekolah, Dilan dan teman segengnya biasa ngopi di warung Mang Ewok. Namun hari itu berbeda. Ia tidak ngopi di warung Mang Ewok karena Mang Ewok sudah mencukur berewoknya.

“Terus sekarang panggilannya apa dong, Mang?” tanya Dilan pusing melihat perubahan gaya Mang Ewok yang sudah tidak berewok.

“Belum kepikiran. Sementara warung tutup dulu ya. Sampai ketemu nama panggilan baru buat Mamang,” ucap Mang Ewok sembari mengelus bekas berewoknya yang lecet-lecet.

Dilan dan teman-temannya pun angkat kaki dari warung kopi Mang Ewok yang segera ganti nama warung untuk rebranding. Ketika mau naik motor, lambe Piyan memulai aksinya.

“Babang udah tau belum? Sekolah kita kedatangan murid baru dari Jakarta lho. Seseembak yang mendadak diperbincangkan layaknya ertong,” beber Piyan sembari memperlihatkan foto korban ghibah. “Dengan kekuatan hengpon jadul, cekrek, cekrek, paras kece seseembak berhasil tercyduk nih. Unch unch banget deh. Katanya sih seseembaknya udah punya pacar di Jakarta sono. Tapi kan di Bandung belum yes? Siapa tau mau buka waralaba cinta.”

“Namanya siapa?” Dilan mulai penasaran.

“Mi..”

“Mi ayam?”

“Bukan. Tapi Mi..”

“Milly?”

“Itu nama tetehnya di AADC.”

“Siapa dong?”

“Makanya diem.”

“Oke.”

“Namanya Milea.”

“…”

“Kok diem?”

“Katanya tadi disuruh diem.”

“Oh iya. Ya udah, deketin yes.”

“Kuy! YXGQ.”

Besok paginya, Idola kita ini menunggang motor V-ixion mencari Milea di jalan menuju sekolah. Ketika ketemu, Dilan langsung pepet. Milea naik motor Scoopy.

“Kamu Milea ya?” tokoh kita tanya.

“Iya. Kok tahu sih?” Milea tampak bingung.

“Itu,” tunjuk. “Plat nomor kamu. Di bawah nopol ada nama kamunya.”

“Oh.” Milea cengengesan.

Tampak spakbor belakang motor Scoopy Milea yang penuh dengan sticker berbunyi: “WALAUPUN RODA DUA NAMUN HATI TIDAK MENDUA”, “ WARNING! JANGAN DICURI MASIH KREDITAN”, dan “HARI GINI OPER GIGI? CAPE DECH!”.

“Nggak sekalian nempel sticker family?”

Milea hanya meringis.

“Aku ramal. Nanti kita akan bertemu di ruang TU.” 

Milea hanya pelanga-pelongo.

Dengan gaya cool, lelaki itu pergi duluan. Belum satu meter, motor Dilan ndut-ndutan, lalu mogok. Ketika dicek, bensinnya kosong. Tokoh utama kita langsung nengok ke belakang.

“Kenawhy?” tanya Milea mendekat.

“Bisa bantu stut nggak?” pintanya tanpa basa-basi. “Sampai kios bensin eceran depan aja.”

“Ya kalau sampai SPBU di Buah Batu, varises betis princess,” tukas Milea sembari menjejak knalpot motor Dilan, lalu mendorongnya dengan tenaga tak terduga.

“Wah, kuat juga ya kamu,” puji Dilan. “Sorry ya jadi ngerepotin.”

“Belum ngopi udah disuruh kerja keras. Eta terangkanlah!” Milea ngeden.

***

Siang hari, Milea menunggu di depan ruang TU tempat yang diramalkan Dilan. Namun pemuda itu tak kunjung datang.

“Kok Dilan belum datang ya? Padahal hari ini terakhir bayar SPP. Kalau belum bayar, nggak bisa ikut ujian,” Milea membatin.

Hari Senin barulah diketahui kenapa Dilan tidak bayar SPP. Kepala Sekolah menyeret anak bandel itu dan kedua temannya ke depan barisan upacara bendera.

“Teman kalian yang ada di depan ini adalah cerminan generasi micin. Uang titipan orang tua bukannya dibayarkan untuk SPP, malah dipakai foya-foya beli kopi di Starbucks!” beber Kepala Sekolah.

Di tengah upacara, Milea mencuri-curi kesempatan buka Instagram, lalu nonton instastories Dilan. Benar saja, di video itu tampak preman sekolah itu sedang ngopi bersama teman-temannya.

“Takkan terhapuskan. Takkan terlupakan, kawan. Masa-masa kita ngopi bersama pakai duit SPP,” ceracau Dilan sembari merekam kegiatannya bersama dua temannya.

“Ini brother-brother-ku yang takkan terlupakan. Ini namanya Piyan. Ini namanya Akew,” sembari mengenalkan dua sohibnya.

“Tarik lagi, Lan!” seru Piyan sebelum menyeruput Iced Caffe Americano size venti with hazelnut syrup.

“Kalau habis, beli lagi, gesek lagi, nyender lagi. Gue mager tapi otak gue seger,” pungkas Dilan.

Milea geleng-geleng kepala dengan kelakuan kidz zaman now. Tapi Milea berusaha mengerti kenakalan remaja itu. Dilan nekat ngopi di Starbucks karena warung kopi langganannya masih tutup ditinggal pemiliknya cari nama baru.

Pulang sekolah, Milea naik angkot. Sebenarnya Scoopy Milea itu hadiah pemberian pacarnya, Benny, untuk anniversary ke-3 bulan. Namun ternyata Benny hanya bayar DP saja, Milea yang lanjut nyicil. Apa daya, bayar cicilan motor itu berat, Milea nggak akan kuat. Biar ditarik dealer saja.

Tak diduga, si anak nakal itu juga ikut naik angkot, duduk di sebelah Milea.

“Milea, aku mencintaimu. Tapi kamu belum cantik. Nggak tahu kalau kamu tiap sore datang ke Natasha Clinic.” Dilan memberikan brosur skin care ke Milea. “Coba aja.”

Milea merasa tersanjung dengan ucapan Dilan yang mengaku cinta walaupun Milea belum perawatan.

***

Ketika Milea ulang tahun, teman sekelasnya yang bernama Nandan memberinya kado. Teman satu kelas yang lain pun heboh dan sibuk snapgram-in prosesi tersebut, “ciye-ciye.”

“Kadonya fidget spinner biar apa coba?” tanya Nandan.

“Biar apa?” Milea balik tanya.

“Biar kalau nggak bisa tidur, kamu bisa mainin,” jawab Nandan malu-malu. “Daripada muter-muterin obat nyamuk bakar, iye nggak?”

Tak mau kalah dengan Nandan, Dilan juga memberi kado kepada Milea, yakni sebuah akun Mobile Legend dengan rank legend, level max dan hero bejibun.

“Biar kamu nggak perlu capek-capek naikin level,” ucapnya ketika serah-terima akun dengan Milea di depan rumah Milea.

“Tapi aku nggak main Moba. Aku mainnya Ludo,” kata Milea.

Dilan senyum kecut. Begadang main game selama seminggu jadi tidak berfaedah.

“Kok tahu rumahku?” Milea heran.

“Aku juga tahu password surelmu. Aku juga tahu karakter favoritmu di Star Wars,” ucap Dilan.

“Master Yoda,” jawab Milea polos.

“May the Force be with you,” ujar tokoh kita sambil melambaikan tangan, lalu pulang.

Malamnya, Dilan menelepon Milea via WhatsApp. Milea curhat kalau dirinya baru saja ditampar dan diputusin Benni karena ketahuan dibonceng cowok lain. Padahal driver ojol.

“Jangan bilang ke aku, ada yang menyakitimu. Nanti orang itu akan aku sleding ubun-ubunnya,” katanya di seberang sana.

Kemudian Milea mengaku akan jalan-jalan bersama guru lesnya ke ITB hari Minggu nanti. Dilan diam saja.

“Kamu cemburu aku jalan sama Kang Adi?” tanya Milea.

“Cemburu itu cuma untuk orang yang nggak percaya diri,” ucap tokoh kita mantap.

“Terus?”

“Dan aku ingin sleding kepala Kang Adi,” tekad Dilan.

“Ya udah, hari Minggu aku jalan sama kamu aja,” tandas Milea.

Hari Minggu pun tiba. Tokoh utama kita membonceng Milea naik V-ixion keliling kota Bandung yang tengah diguyur hujan secara intensifies. Ketika melihat indikator bensin yang sudah kedap-kedip, Dilan tampak marah. Tepatnya, marah kepada dirinya sendiri kalau nanti Milea sampai harus dorong motor lagi.

Kenapa lupa isi bensin mulu sih?

Exit mobile version