Hidup Kreatif dan “Bodo Amat” di Industri Pembajakan Buku

buku bajakan dan buku asli

MOJOK.COLebih baik jangan bikin buku bagus biar karya-karyamu terhindar dari pembajakan buku. Kesehatan uripmu itu yang jauh lebih penting.

Penerbitan buku bajakan tak lagi sebagai “alternatif” karena langkanya jelajah edar sebuah buku tua di pasar perniagaan, melainkan menjadi industri dengan omset miliaran rupiah.

Pembajakan buku pun tak lagi dilakukan secara sembunyi-sembunyi, melainkan sangat terbuka. Bahkan, di kios-kios baru di sisi kiri pos polisi di KM 0 Yogyakarta, buku-buku bajakan ditampilkan di saf paling depan.

Di Shoping Center Yogyakarta, dari puluhan kios yang berjualan buku itu, barangkali lima belaka yang bertahan untuk tidak menampilkan buku bajakan di raknya. Semuanya menjual. Bahkan, ada beberapa kios yang dibeli si juragan hanya untuk memajang ratusan judul buku bajakan di raknya. Mulai dari buku komunis hingga buku-buku tarbiah.

Sebut saja penulis-penulis buku yang diminati, buku bajakannya ada dan dijual secara terbuka dengan harga yang di satu sisi membikin bungah hati pembeli, namun bisa bikin juragan buku bajakan bisa umrah berkali-kali dan setiap catur wulan ganti mobil. Dari pujangga Pramoedya Ananta Toer hingga Eka Kurniawan; dari Seno Gumira Ajidarma hingga Puthut EA; dari Dewi Lestari, Andrea Hirata, Tere Liye, hingga Agus Noor; dari Puthut EA, Edi AH Iyubenu, hingga Fiersa Besari; dari Joko Pinurbo hingga Kedung Romansa.

Pendeknya, dari buku penulis berpengalaman hingga pendatang baru dengan satu persamaan: terbukti laku! Pembajak emoh dengan buku yang enggak mendatangkan uang.

Kehidupan mereka sangatlah subur.

Artinya, masyarakat perbukuan kita sudah menerimanya dengan lapang dada dan dengan penuh kebanggaan. Saat buku kiri-bajakan dirazia tentara satu bulan mutakhir—konon, bakal didukung Kejagung—, (sebagian) masyarakat kita marah.

Yang justru diam adalah penerbit buku yang dibajak karena merasa buku yang diganyang itu beraroma “aneh”. Di kolofon masih dimiliki oleh penerbit yang bersangkutan—sebut saja Penerbit Narasi (bukan nama sebenarnya). Namun, buku di sebuah kios di Pare, Kediri, Jawa Timur, itu bukanlah buku mereka. Bingung? Iya, kasus itu mirip dengan kata-kata Khalil Gibran yang terkenal: “Anakmu bukanlah anakmu”. Bukumu bukanlah bukumu.

Namun, itulah kenyataannya. Dan, para pekerja buku dituntut berhadapan dengan realitas pembajakan buku yang ada dan bersikap kreatif di dalamnya.

Berikut ini saya bagi empat siasat berhadapan dengan industri kuno ini, namun tetap hidup sehat pada generasi milenial.

Siasat pertama: penulis, tulislah buku dengan seenaknya. Makin buruk, makin baik. Sudah benar kamu menulis skripsi secara ogah-ogahan, misalnya. Karena jika skripsi atau tesis atau disertasimu baik—baik diriset dengan tekun maupun ditulis dengan telaten—potensi untuk diterbitkan secara baik-baik sangat terbuka.

Jika naskah itu baik dengan membawa wacana baru/sosialis, penerimaan pembaca juga baik. Dan, itu soal uang. Buku model beginian yang disukai juragan pembajakan buku. Betul, nama situ dikenal pembaca luas, namun penerbit yang menerbitkan bukumu itu yang gigit jari. Laris, tapi hampa. Lalu, situ menuduh penerbit enggak bayar royalti karena kamu tahu bukumu ada di mana-mana. Penerbit pun puyeng berhadapan dengan akutansi gaib itu.

Di industri pembajakan buku secara terbuka, naskah hasil kopas sana kopas sini dan dibikin dalam waktu dua jam sudah benar adanya. Sudah sesuai dengan trek milenial pembajakan buku. Buat apa menulis yang bagus, diriset dengan tekun, tapi toh hanya menyerahkannya secara sukarela kepada para pembajak yang kaya raya dengan pekerjaan itu.

Insya Allah, pembaca enggak menuntut apa-apa kok jika tiba-tiba semua penulis menyerahkan naskah dengan kualitas “bodo amat”. Namun, jika masih ada penulis tetap keukeuh menghasilkan naskah bagus, percayalah, ia manusia berzirah malaikat. Hidupnya selalu dinaugi cinta 24 karat pada ide dan buku. Buku itu sumbangan bagi peradaban. Yang ketawanya paling lebar tentu saja juragan pembajakan buku.

Siasat kedua: bubarkan secara baik-baik komunitas yang berambisi memperbaiki kualitas buku. Komunitas yang saya maksud salah satunya adalah komunitas editor; jika ada. Jika tidak ada, malah bagus. Sebab, yang untung dari kerja bagus mereka memperbaiki kualitas sebuah buku adalah pembajak. Pembajak sudah menunggu dengan hati berbunga di depan pintu penerbitan tanpa perlu membayar jasa seorang editor. Yang bayar penerbit, yang bajet nol adalah pembajak. Untungnya lebih banyak pembajak. Asyik, ‘kan.

Dalam kondisi seperti ini, penerbit segera memecat semua editornya. Editor yang tak punya rumah itu biarlah menganggur dan mencari pekerjaan lain. Di era ketika pembajakan buku dianggap biasa-biasa saja, posisi editor hanya bikin eneg cashflow. Naskah yang dibikin secara asal-asalan, langsung cetak saja apa adanya. Enggak usah pakai filter seorang editor. Toh, sudah ditunggu si pembajak.

Jika ini terjadi, tak ada lagi obrolan yang kek gini di media sosial: “Uda L(e)anin, yang benar itu apotik atau apotek; berahi atau birahi; mucikari atau muncikari?” Uda Lanin juga menjadi ringan hidupnya tidak ditanya-tanya seperti itu oleh editor-editor muda yang bersemangat.

Hapus juga jasa pendesain isi dan sampul. Jika dua pos ini dihapus dari praktik produksi buku, lumayan membantu meringankan biaya. Cukup dengan desain sederhana dan pembuatan sampul dengan memakai aplikasi gratis dan gambar yang juga free, semuanya beres. Jika jasa itu dihapus, organisasinya pun tak dibutuhkan. Ada organisasi profesi pembikin sampul dan desain isi buku? Sepertinya tak ada. Jika tak ada, berarti sudah benar. Jangan bikin.

Jasa si proofreader juga enggak penting ada di kultur pembajakan buku. Buat apa menerbitkan buku dengan zero kesalahan tik. Toh, buku itu sudah ditunggu pembajak untuk digandakan sebanyak-banyaknya.

Komunitas penerjemah buku juga demikian. Sudah benar kondisinya tak ada lagi wacana dan perdebatan soal kualitas penerjemahan buku kita. Sebab, enggak ada gunanya. Buang-buang uang. Pemborosan.

Pemilik penerbit yang bersetia di jalan kebegawanan buku terjemahan seperti Marjin Kiri, rajin cek darah dan jantung, ya. Sebab, tak ada satu pun bukunya yang lolos dari mesin cetak si pembajak. Siapa suruh bikin buku terjemahan yang bagus; bagus temanya, bagus terjemahannya, bagus desain isi dan sampulnya, dan bagus pula kontrol kualitas akhirnya. Pembajak bilang: makasih, Bro.

Siasat ketiga: turunkan dari rak semua kamus, buku panduan menulis yang baik dan benar. Di setiap pameran buku, masih saja ada workshop bikin buku yang begini dan begitu. Masih juga ada yang bikin buku panduan menulis begini dan begitu. Itu semua tak perlu. Di hadapan industri pembajakan buku, semua itu hanya mempercepat jantung penerbit copot.

Sebagaimana di siasat satu dan dua, semua tindakan memperbaiki kualitas sebuah buku sesungguhnya adalah kerja sisipus yang memundaki batu besar naik ke bukit kemudian batu itu menggelinding lagi. Gak ada kerjaan.

Jika semua rantas produksi buku dipangkas dengan mengikuti irama industri pembajakan buku beromset miliaran rupiah itu, dengan sendirinya buku kamus untuk memperkaya bahasa si penulis atau calon penulis dan menambah kepekaan seorang editor dan proofreader, layak digudangkan. Begitu pula buku panduan menulis buku ini dan itu, juga masuk kardus karena penerbit enggak butuh kualitas di mana itu mengeluarkan ongkos.

Siasat keempat: Jika si penulis dan si penerbit tetap menerbitkan buku berkualitas, usahakan jangan diketahui orang. Bahkan, rahasiakan bahwa kamu menerbitkan buku bagus oleh orang terdekatmu sendiri.

Siapa tahu orang terdekatmu itu salah omong dan ditangkap oleh si pembajak yang berdomisili di gravitas industri pembajakan: Shoping Center Yogyakarta, Palasari Bandung, dan Pasar Senen Jakarta. Sebab, sekali buku yang dibikin bagus dan berpotensi besar mendatangkan uang itu diketahui si pembajak di tiga kota dengan ekosistem pembajakan tersehat di Indonesia ini, saat itu juga nama dan penerbitanmu berkibar, namun tak mendapatkan apa-apa dari buku itu.

Akhirul kalam, jika kamu itu penulis baik-baik, jika kamu itu penerbit baik-baik, ingatlah tesis ini: jangan pernah main ke Shoping Center bila kamu berdomisili di Yogya; jangan pernah main ke Palasari jika kamu berdomisili di Bandung; dan jangan pernah main ke Blok M atau Pasar Senen jika berdomisili di Jakarta. Kalaupun nekat, siapkan mental dan kesehatanmu. Sebab, yang lebih penting dari hidup ini adalah uripmu tetap sehat dan bahagia.

Itu.

Exit mobile version